My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Merebut Soda



Perlahan sepatu hak tinggi dilepaskannya, menggerakkan lehernya kelelahan. Berjalan menatap pelayan yang tengah membersihkan rumah, dengan sarapan di atas meja yang belum tersentuh.


Amel menghela napas kasar, "Dimana anak-anak?" tanyanya.


"Masih belum ada yang bangun, tuan muda dan nona muda pulang pukul 3 pagi..." jawab sang pelayan, menunduk.


Amel hanya menghela napasnya, berjalan sembari mulai menghubungi guru homeschooling Scott, Ferrell dan Febria agar datang lebih siang. Sekolah melalui online mengadakan pertemuan wajib dengan guru pembimbing beberapa kali.


Kemampuan akademik anak-anaknya tidak perlu diragukan lagi. Mereka tidak senang bermain dengan teman sebayanya, hanya bersama kakak-kakaknya, alasannya anak lain terlalu bodoh. Sebuah kebohongan sejatinya yang diketahui Amel, Ferrell dan Febria tidak ingin ada yang menanyakan tentang ayah mereka.


Tidak ingin merasa iri mendengar teman-temannya membicarakan tentang liburan keluarga mereka. Dua orang anak yang berpura-pura baik-baik saja, walau sejatinya merindukan ayah yang tidak pernah mereka temui.


Hingga sampai di kamarnya, Amel melepaskan pakaiannya, meletakkan pada keranjang pakaian kotor. Berjalan tanpa sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.


Matanya terpejam, usai mengisi sabun cair dalam bathtub kemudian berendam, menghapus penatnya. Dirinya hanya ingin hidup normal besama keluarga kecilnya anak kembarnya, anak angkat yang menyayanginya dan Kenzo, namun sayangnya Ferrell dan Febria dianugerahkan IQ yang tinggi. Serta, kelima anaknya angkatnya juga memiliki kecerdasan yang tidak dapat dianggap remeh.


Ini bukan impiannya, tapi menyenangkan memiliki mahkota yang berat dan indah. Bagi seorang gadis, kesucian adalah mahkota berharganya. Namun, bagi seorang ibu, anak dari rahimnya atau pun bukan adalah kemuliaan sekaligus mahkota bertahtakan berlian di kepalanya.


Hingga pada akhirnya Amel keluar dari bathtub membasuh tubuh indahnya di bawah derasnya air shower. Menatap dirinya di cermin,"Dia Kenzo..." gumamnya tersenyum, mengingat sosok Dava.


Mengetahui? Tentu saja, pria mana yang dapat memancing emosinya. Menindasnya dengan segala kata-katanya. Namun, tidak dipungkiri hatinya berdebar hingga kini, mata di baik softlens itu benar-benar Kenzo. Tapi apa sebenarnya yang terjadi...


Jubah mandi menutupi keindahan tubuhnya, rambutnya yang basah mulai dikeringkan. Berfikir tentang suatu hal, kemudian tersenyum.


Laptop mulai dinyalakannya, beberapa perangkat di pasangnya. Heaker? Kemampuannya tidak berkurang sama sekali. Jemari itu bergerak dengan cepat, satu persatu data dibukanya. Beberapa web dibobolnya, hingga berbagai informasi didapatkannya tentang sosok pemuda bernama Dava.


Namun, wajah di foto berbeda dengan costplayer yang ditemuinya. Jemari tangannya bergerak lebih cepat lagi, mencari informasi hal-hal yang terjadi 7 tahun yang lalu. Hingga nama sebuah rumah sakit berada disana.


Wanita itu menghela napas kasar, kembali harus menelusuri lebih jauh lagi. Terakhir data rekam medis pasien ditemukannya.


"Amnesia Disosiatif?" gumamnya. Tanpa menemukan rekam medis rekonstruksi wajah. Namun dalam keterangan pergantian foto identitas terdapat alasan rekonstruksi wajah disana.


Sebuah celah besar yang ditemukannya, Amel merebahkan tubuhnya sembari tersenyum."Kenzo akan pulang..." gumamnya merenggangkan otot-ototnya meraba, area samping tempat tidurnya yang kosong. Merindukan wajah hangat makhluk penindas yang membuatnya berani menatap dunia.


***


Sore menjelang, Amel tersenyum, usai menyajikan juice buah serta cemilan untuk guru pembimbing dan anak-anaknya. Memakai pakaian rapi, berdandan semenarik mungkin, sembari mengirimkan berkas pada Frans yang masih berada di negara lain, melalui fax.


"Mama setelah ini mau kemana?" Scott yang tengah mengerjakan berkas yang dikirimkan Elisha mengenyitkan keningnya menyadari ada yang tidak beres dengan senyuman Amel.


"Ssst.... berkencan," Amel mengedipkan satu matanya berjalan pergi.


Scott menahan tawanya,"Dasar wanita genit..." sudah mengetahui kemana tujuan sang ibu.


***


Taman hiburan...


Dava membawa beberapa permen gratis yang memang disediakan oleh pihak taman bermain, memakai kostum badut kali ini. Tidak banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Hingga seorang wanita datang, dengan kekasihnya.


Wanita berpakaian minim mengibaskan rambut kecoklatannya memperlihatkan leher putih jenjangnya. Leher yang mengundang pria maupun untuk membuat tanda padanya.


Dengan sengaja melewati Dava, seakan mencoba membuatnya cemburu.


Namun...


"Ini untuk kalian, selamat menikmati permainan..." ucapnya tersenyum.


Apa maunya orang aneh ini? Bahkan ibu dua anak lebih cantik dari... gumaman Dava dalam hatinya terhenti, mengenyitkan keningnya. Terus-menerus berfikir kenapa dirinya sering terbayang, istri orang.


"Masih menjadi badut?" cibir Kiki.


"Masih menjadi j*lang?" Dava tersenyum, menyindir balik.


"Sayang, sudah dia itu mantan pacarku. Cuma sekarang jatuh miskin, dan iri pada kita..." Kiki bergerak cepat, terlihat manja memelas, menghentikan kekasihnya.


"Awas kamu!!" ucap Baron (kekasih Kiki) penuh ancaman berjalan ke dalam.


Sementara Dava menghela napas kasar, mengibaskan pakaiannya yang sempat ditarik Baron."Bisa dia pindah dari dekat rumahku? Tidak sering-sering datang ke taman hiburan? Wanita virus..."


Hanya ini? Tidak, dirinya juga berkeliling menghibur anak-anak. Berjalan hingga telah lelah, duduk sendiri di kursi taman hiburan yang berada di dekat danau buatan. Memakan-makanan siang yang dibuatkan ibunya.


"Hai badut..." seorang wanita tiba-tiba duduk disampingnya.


"Ka...kamu!? Kenapa bisa ada disini?" Dava mengenyitkan keningnya.


"Membawakan minuman..." Amel yang memang melihatnya makan dari jauh, membawa tiga kaleng soda yang dibelinya dari mesin minuman, merah, orange, bening.


"Tidak perlu..." Dava mengenyitkan keningnya, berusaha tersenyum.


"Mungkin kamu tidak ingat, aku pernah merebut setengah kaleng soda mu, ketika ingatanmu belum menghilang..." Amel tersenyum, membukakan sekaleng soda untuk Dava. Malam pertama? Setiap detik yang tidak pernah dilupakan olehnya.


"Kita pernah saling mengenal?" Dava mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menerima kaleng soda yang sudah dibuka oleh Amel.


Wanita itu terdiam tertunduk sejenak tidak menjawab, raut wajah kesepian dari suaminya, walaupun berbalut riasan badut, tidak terlihat. Suaminya terlihat lebih bahagia,"Apa kamu bahagia?" tanyanya dengan bibir bergetar, berharap suaminya menjawab, tidak.


"Aku bahagia, walaupun terkadang menjadi cosplayer atau badut, aku memiliki orang tua yang menyayangiku. Kebahagiaan bukan hanya soal kekayaan..." ucapnya, menatap ke arah langit.


Air mata Amel tiba-tiba mengalir, segera diseka olehnya,"Kamu benar, kebahagiaan bukan hanya soal uang..."


Tapi kedua orang tua yang dari dulu kamu impikan... wanita itu mengepalkan tangannya, tidak ingin kehilangan suaminya.


"Omong-omong kemana suamimu? Kenapa tidak hadir saat ulang tahun anakmu? Hanya adikmu yang hadir..." tanyanya.


"Dua orang itu bukan adikku tapi anak angkatku. Suamiku, dia sedang bekerja..." jawab Amel menatap ke arah Dava.


Dia hadir, bekerja sebagai costplayer... aku merindukannya, ingin memeluknya... gumamnya dalam hati, merindukan Kenzo, suami yang berjanji akan menemaninya hingga ajal menjemput mereka.


"Bekerja?" Dava mengenyitkan keningnya.


"Benar, bekerja...dia sedang bekerja..." suasana yang teduh dan sepi. Menatap mata pemuda itu lebih dalam, tengkuk Dava ditariknya, bibirnya diciumnya secara paksa. Seakan tidak mempedulikan riasan badut yang menutupi wajah pemuda itu. Sama seperti Kenzo yang dahulu tidak mempedulikan kulitnya yang kusam, tubuhnya yang gemuk.


Ini Kenzo, benar-benar Kenzo... perasaan berdebar yang sama dirasakan Amel. Merindukan sosok pemuda yang dicintainya.


Dava membulatkan matanya, ingin mendorongnya. Namun, perasaan ini sungguh nyaman, istri orang? Dua kata yang sempat dilupakannya. Melumpuhkan logikanya, mulai membalasnya perlahan. Sapuan lidah yang perlahan saling membelit dengan mata sayu yang terpejam.


Hingga...


"Dava dia siapa!?" bentakan seorang wanita, mengembalikan kesadarannya.


Sial aku lupa ini bukan Paris... Amel mengenyitkan keningnya kesal, setelah didorong Kenzo yang benar-benar melupakan dirinya.


Bersambung


...Fikiranku melupakan segalanya, mengunci diri bersembunyi dalam kegelapan, melindungi diriku sendiri... ...


...Rasa sesal tentang masa lalu, betapa sakitnya ketika Tuhan mengambil satu persatu orang dari sisiku, melihat tanah pekuburan dengan orang-orang baik bersemayam di dalamnya, semua ingin aku lupakan......


...Termasuk rasa sakit dan rendah diri, ketakutan akan kehilanganmu, ketakutan jika aku tidak dicintai oleh satu-satunya milikku......


...Namun satu hal, hatiku akan menemukan jalan untuk kembali pulang, pada satu-satunya rumah yang aku miliki......


...Jika Tuhan mengijinkan, aku akan pulang......


Kenzo...