
Tiga hari sebelum Kenzo menjatuhkan dirinya di lautan...
Air mata seorang pemuda mengalir, meminum sebotol anggur mahal di tangannya. Keluarga yang tiba-tiba jatuh miskin? Semua membuatnya tertekan. Dalam hidupnya hanya ada kesenangan, bermain di atas tubuh wanita, memiliki kekasih seorang fotomodel majalah dewasa.
Namun, semua berubah ketika ayahnya mengatakan perusahaannya pailit. Sebuah pukulan telak baginya. Sertifikat rumah dan tanah dijualnya, walaupun kedua orang tuanya melarang. Semua hal dilakukannya hanya untuk mempertahankan tunangan yang dapat memuaskannya di ranjang.
Hari ini dirinya melakukan lagi dan lagi, diatas tempat tidur sebuah kamar di kapal Ferry. Berlibur ke beberapa pulau bersama tunangannya hingga uangnya hampir habis.
Pemuda itu kini memakai sweater tebal berwarna putih, berjalan seorang diri di geladak kapal dalam kondisi mabuk. "Kiki..." panggilnya pada sang kekasih.
"Kenapa belum ada uang yang masuk ke rekeningku?" tanyanya menatap tajam.
"Uangnya habis, semua sudah aku berikan padamu..." Dava tersenyum dengan wajah memerah, dalam pengaruh alkohol.
"Minta lagi pada ayahmu!!" bentak Kiki meninggikan intonasi suaranya.
"Sayang, perusahaan keluargaku pailit. Semua aset yang tersisa sudah aku jual untuk liburan kita, membelikan semua keinginanmu. Ayo kita menikah..." ucapnya, memegang jemari tangan kekasihnya.
Kiki tersenyum sinis, menepisnya,"Siapa yang mau dengan pengangguran yang taunya cuma menghabiskan uang sepertimu..."
"Kiki..." Dava memegang lengannya. Namun dengan cepat Kiki menarik kembali. Mendorong tubuh anak pengusaha yang dahulu selalu memanjakannya.
Dalam kondisi mabuk, keseimbangan yang tidak terlalu baik. Tubuh itu mundur, terjatuh dari kapal Ferry, menuju lautan gelap yang dingin.
Air mata pemuda itu mengalir, mungkin diakhir hidupnya dirinya baru menyadari. Teringat akan semua dosa yang dilakukannya. Tidak pernah menjadi anak yang baik, benalu bagi kedua orang tua yang menyayanginya. Kini, kekasih yang dicintainya lah yang menyebabkan kematiannya. Wanita yang dibela dengan hidupnya.
Aku tau tidak akan mendapatkan surga-Mu, tapi tolong kirimkan seseorang untuk menjaga kedua orang tuaku. Kiriman seseorang untuk membalas Kiki yang bahkan pernah meludahi ibuku...ini doa terakhirku pada-Mu yang sempat aku lupakan. Tidak akan ada surga untukku aku menyadarinya...
Dava tersenyum, tubuhnya yang mulai tenggelam, terkoyak terkena baling-baling kapal Ferry. Tubuh yang rusak, napas yang telah menghilang.
***
Damian meneteskan air matanya tiada henti, setelah menerima kabar putra tunggalnya jatuh dari kapal Ferry. Sudah tiga hari dirinya mengikuti tim SAR, bahkan menyewa kapal nelayan saat tim SAR tidak mengijinkannya ikut dalam pencarian, akibat cuaca buruk.
Sudah tiga hari... sudah tiga hari... dirinya menyadari semuanya, kecil kemungkinan putra tunggalnya selamat. Namun, dirinya masih ingin tetap berharap. Tidak ada harta miliknya yang tersisa, semua dilarikan oleh putranya. Namun, tidaklah mengapa, dirinya akan tetap memaafkan dan tetap mencintainya. Jika putranya dapat kembali pulang dalam keadaan hidup.
Hingga, ketika malam menjelang di hari ketiga pencarian, entah ada firasat apa, dirinya memaksa salah satu kapal tim SAR mencari. Mungkin sebuah firasat dari almarhum putranya, tubuh dengan baju putih mengambang ditengah lautan, pakaian yang terakhir dikenakan Dava terlihat.
"Dava..." ucapnya lirih dari jauh. Namun jazad itu perlahan bagaikan terbawa arus. Membimbing kapalnya yang bergerak mendekat ke suatu tempat.
Byur....
Dan benar saja, beberapa puluh meter sebuah kapal expedisi terlihat. Dengan seseorang yang jatuh dari atasannya. Ditinggalkan kapal expedisi yang sejatinya melaju dengan kecepatan penuh, akibat mengindari keberadaannya terlacak kepolisian federal.
Jenazah Dava bagaikan membimbing ayahnya untuk melihat semuanya. Tim SAR segera menolong, mengangkat sang pemuda yang baru terjatuh, serta mengangkat mayat Dava yang telah tidak utuh ke dalam kapalnya.
"Masih bernapas..." ucap Tim SAR, usai mengeluarkan air dari dalam paru-paru Kenzo. Memberi napas buatan berkali-kali.
Damian meraba wajah dingin putranya yang telah tidak utuh, air matanya mengalir tiada henti. Memeluk tubuh kaku yang hampir membusuk itu erat.
"Ayah sudah memaafkanmu, ayah mencintaimu..." ucapnya mengecup kening putranya. Yang telah beristirahat dengan tenang.
Putra yang diajarinya berjalan, bermain di sela waktu lelahnya mengurusi perusahaan. Putra yang baik hati, walau semua berubah setelah kehadiran Kiki, wanita yang dicintainya. Menjadi anak pembangkang, menghabiskan segalanya untuk tunangannya.
Namun, dirinya yakin di dasar lubuk hatinya yang terdalam. Dava putranya yang lugu dan berbakti, masih ada. Walau, kini sang anak nakal telah dijemput oleh-Nya.
"Ayah memaafkanmu..." kata-kata itu terulang, dengan derai air matanya yang terus mengalir. Menenangkan putranya untuk pergi ke sisi-Nya.
"Kita buat laporan tentang orang hilang saja, nanti akan ada pihak keluarga yang mencari..." gumam salah satu Tim SAR, memberi selimut pada tubuh Kenzo yang tidak sadarkan diri.
Damian terdiam sejenak, jemari tangannya mengepal, entah apa yang ada difikirkannya saat itu. Usia yang sama dengan putranya Dava, mungkin ini permintaan putranya untuk menolong pemuda itu.
Dua orang tim SAR saling melirik, mungkin ini akan mempermudah tugas mereka. Tidak perlu membuat pembekuan pengeluaran biaya rumah sakit serta laporan orang hilang.
***
"Amnesia Disosiatif?" tanya Damian pada dokter memastikan pendengarannya, menatap pemuda yang tersadarkan diri dalam keadaan bingung.
Sang dokter mengangguk,"Kami sudah melakukan berbagai tes dan pemeriksaan. Tidak ada cidera di bagian kepala, atau kerusakan otak akibat virus dan bakteri,"
"Amnesia Disosiatif, bisa terjadi akibat trauma psikologis yang membuat alam bawah sadarnya mengunci semua ingatan menyakitkan, sebagai bentuk pertahanan diri," jelasnya.
"Jadi dia tidak ingat apapun?" tangan Damian gemetar, menatap pemuda yang masih duduk di tempat dengan jarum infus di tangannya."Apa ingatannya bisa kembali?"
"Bisa, tapi dengan lingkungan yang mendukung, ingatan itu dapat kembali, serata melakukan beberapa konsultasi. Walaupun tidak menjamin, hasilnya akan maksimal," jawab sang dokter, berjalan perlahan meninggalkan ruang rawat.
Damian menitikkan air matanya tiada henti, menatap jemari tangannya yang kini telah keriput. Tidak memiliki keturunan, putra tunggalnya pun kini telah pergi.
Pria paruh baya itu mulai berjalan, dengan langkah lemas, menatap istrinya yang masih terisak, di hadapan jenazah putra mereka yang tertutup kain putih.
"Dava bangun!! Ibu akan bekerja keras, lebih bekerja keras lagi!! Bangunlah ibu mohon...!!" ucapnya mengguncang tubuh yang tidak utuh hampir membusuk itu.
"Ibu tidak marah lagi, ibu tidak akan marah lagi! Jika kamu butuh uang, ibu akan meminjam pada tetangga. Tapi ibu mohon bangunlah...." teriaknya terisak.
Pasangan suami istri yang hanya memiliki anak tunggal. Anak tunggal yang menjadi satu-satunya harapan, menjaga mereka di usia tua, memberikan cucu-cucu yang manis. Kini Dava satu-satunya harapannya terbaring dengan tubuhnya yang kaku, tidak bergerak.
"Vanya..." Damian mendekati istrinya."Makamkan Dava segera di kampung halaman kita..." ucapnya dengan air mata berlinang tiada henti.
"Ke... kenapa!? Dava hanya tidur!! Dia akan bangun!!" Vanya berteriak histeris.
Damian menggeleng,"Relakan Dava..."
"Apa maksudnya!! Kita tidak punya anak lagi, semenjak rahimku diangkat..." teriaknya, mencengkram kerah pakaian suaminya.
"Kita punya anak...kita akan punya anak..." Damian mengepalkan tangannya, tidak ingin kesepian di usia tuanya.
***
Sang pria paruh baya membimbing istrinya, ke depan ruang rawat pemuda yang tidak memiliki identitas sama sekali. Wanita itu terdiam menatap dari luar kamar.
"Dia siapa?" tanyanya tidak mengerti.
"Dia Dava mulai sekarang," Damian berusaha tersenyum, mengepalkan tangannya.
"Dava di ruang mayat dan..." kata-kata Vanya terhenti.
"Karena itu... karena itu... biarkan Dava tenang. Dia bukan Dava, aku tau, tapi aku tidak ingin kesepian di usia kita yang semakin tua," ucapnya lirih.
Damian menghela napasnya, menatap ke arah istrinya. "Dia tidak ingat siapa keluarganya. Selama kita membawanya keluar dari kota ini tidak akan masalah. Memperlakukannya seperti Dava, memberinya ingatan dan kenangan baru, agar dia mencintai kita layaknya orang tuanya. Jika dia bertanya kenapa wajahnya berbeda dengan foto Dava, kita bisa memberi alasan, wajahnya sempat direkonstruksi karena terkena baling-baling kapal Ferry..."
"Tapi..." Vanya terlihat ragu.
"Kita anggap saja ini hadiah dari almarhum Dava. Tubuh putra kita yang mengantarkanku untuk menemukannya terjatuh ke dasar laut..." Damian meyakinkan istrinya.
Bersambung
...Terkadang kita abai, melupakannya, menepis kasih sayangnya. Namun sejatinya orang tua adalah satu-satunya tempat untuk pulang......
...Satu-satunya orang yang dengan sabar akan memaafkan apapun kesalahan anak-anaknya. Anak-anak yang dibesarkan dan dicintai oleh tangannya yang penuh kasih......