My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Jaring Laba-laba



Amel mulai mengumpulkan kesadaran, usai mengirim membaca beberapa dokumen dari kantor pusat semalaman. Pandangan matanya menelisik mengamati suaminya yang tersenyum padanya,"Steven akan berangkat ke Singapura sore nanti. Dia sedang menghibur Febria yang menangis semalaman. Memang mereka selalu seperti ini?" tanyanya, menyodorkan segelas susu pada istrinya.


Amel menghela napas kasar,"Steven akan melakukan apapun untuk terus tinggal berdampingan dengan Febria. Sedangkan Febria terlalu bergantung pada Steven. Mereka tidak pernah berpisah satu hari pun,"


"Tapi ada yang aneh, entah kenapa sikap Steven sedikit berubah. Dia tiba-tiba ingin tinggal dengan Joe dan Elina di Singapura," lanjutnya, mengambil potongan club sandwich.


"Mereka seperti pasangan..." Kenzo tertawa kecil, mulai berjalan ke arah jendela.


"Itu hanya perasaan ketika kecil, mereka tetaplah saudara," Amel masih mengunyah dengan mulut penuh.


"Steven tidak pernah menganggap Febria sebagai adiknya..." gumam Kenzo, menatap ke arah ayunan dari jendela lantai dua kamarnya.


***


Air mata anak itu mengalir tiada henti, menatap wajah putih pucat di hadapannya."Jangan pergi..." rengekannya terdengar.


"Maaf, tapi jadilah anak yang baik. Aku harus melindungi dunia karena aku adalah Ultraman," ucapnya berjongkok di hadapan Febria yang tengah menangis duduk di sebuah ayunan.


"Aku ikut ke Singapura!!" ucapnya dengan nada tinggi.


Namun Steven menggeleng, berusaha untuk tidak menangis. Mengetahui jejaknya cepat atau lambat akan diketahui. Singapura? Hanya sebuah alasan, sampai di bandara dirinya akan menarik semua uang tabungan yang diberikan Amel padanya, mencari tempat tinggal sementara. Tidak membiarkan keluarga Kenzo menemukannya lagi.


Masih teringat jelas dibenaknya, bagaimana karakter ayah kandungnya. Akan mendapatkan segala yang diinginkan. Alasan sebenarnya dari kepergiannya? Tidak ingin keluarga yang menyayanginya terluka, karena itulah Steven harus bersembunyi di tempat lain.


"Febria, jangan menangis...kamu bisa memanggilku kakak mulai sekarang," ucapnya dengan nada suara bergetar.


"Steven!!" tangisan anak itu semakin menjerit, tidak bersedia memanggil kakak saat diminta. Memeluk tubuh Steven erat.


"Aku kakakmu mulai sekarang..." jemari putih pucat pemuda itu, kembali bergerak menghapus air mata Febria.


"Tidak mau!! Steven berkata kakak dan adik tidak bisa terus bersama, harus menikah dan memiliki pasangan masing-masing!! Aku tidak mau menjadi adik!!" teriaknya masih menangis.


"Tidak mau?" tanyanya meyakinkan.


Febria mengangguk,"Aku tidak mau menjadi adikmu. A... aku..."


"Anak kecil, aku kakakmu..." Steven tetap tersenyum, menahan perasaan sakitnya. Inilah saatnya merelakan Febria, yang mungkin tidak akan pernah ditemuinya lagi. Menyimpan kenangan pada anak itu sebagai seorang kakak yang menghilang di masa kecilnya.


Hingga tiba-tiba Febria mengecup singkat bibirnya, Steven tiba-tiba membulatkan matanya, meraba bibirnya sendiri.


Febria menatap tajam padanya,"Mama terkadang mencium bibir papa. Pasangan yang sudah menikah di Eropa juga..."


"Anak kecil!! Kamu tau apa!? Ini balasan karena mencuri ciuman pertamaku..." ucapnya tersenyum, memiringkan kepalanya, mencium bibir seorang anak yang baru berusia 7 tahun. Air mata itu mengalir juga pada akhirnya.


Febria maaf...aku tidak tau, akan tetap hidup atau harus mati di tangan ayah kandungku nanti. Tapi aku akan tetap mengingatmu sebagai cinta pertamaku, bukan adikku...


Sementara Kenzo yang melihat dari jendela kamar lantai dua mengenyitkan keningnya."Bocah tengik!! Berani-beraninya mereka berciuman..." komat-kamit kemarahan Kenzo, berjalan menuju tempat dimana ayunan itu berada.


"Benarkan? Cepat atau lambat mereka harus tinggal terpisah. Jika tidak, saat usia 20 tahun, Febria sudah akan mengandung anak Steven..." gumam Amel dengan mulut penuh.


***


Saran dari Diah untuk membeli buket bunga dan oleh-oleh? Sama sekali tidak dilakukan olehnya. Hingga akhirnya pintu dibukakan seorang pemuda, berdarah Jepang.


"Kamu siapa?" tanya Scott dengan roti tawar yang telah digigit setengah di tangannya.


"Perkenalkan namaku Praba, apa Amel ada?" tanyanya.


Mata Scott menelisik dari atas hingga bawah."Gelandangan..." cibirnya berjalan masuk. Satu kata menusuk bagaikan langsung mengenai di hatinya.


"Mama!! Ada yang mencarimu!!" teriaknya, bagaikan villa luas itu merupakan hutan belantara. Meninggalkan tamu yang baru datang tanpa ada niatan memberi perintah pada pelayan untuk membuatkan minuman.


Praba yang memang baru lulus dari salah satu universitas ternama di Inggris menghela napasnya berkali-kali. Menatap villa yang bahkan lebih besar dari rumahnya, aset yang dimiliki janda kaya ini? Menurut Diah bukan cuma ini saja, saham hotel, club'malam bahkan tanah yang luas, menurut penuturan salah satu sosialita yang mengagumi sosok Amel.


Jemari tangan Praba mengepal yang akan turun dalam bayangannya adalah wanita gemuk dengan riasan makeup tebal, rambut pirang ala rambut jagung terurai, memakai pakaian dengan warna mencolok.


Pemuda itu benar-benar melupakan, walaupun bukan ori tapi second. Tetap saja, istri second dari seorang Kenzo. Pengusaha muda yang keji, namun dalam liputan media memiliki umur yang pendek.


Istri jelek seperti dalam imajinasi Praba? Apa benar...


"Seharusnya aku ke kampus sekarang minta maaf pada..." gumamnya terhenti, menatap ke arah tangga tanpa berkedip.


Siluman rubah putih, maaf salah maksudnya janda cantik dengan masih menggunakan piama hitam berbentuk yukata tipis dan pendek turun. Kulit halus seputih susu, wajah itu terlihat cantik alami. Ukuran tubuh, tentu saja membuat semua pria menginginkan untuk menggiringnya ke atas ranjang.


"Maaf, kamu siapa?" tanyanya mulai duduk di hadapan Praba. Dengan cepat, sang pelayan membuat ice lime tea untuk Amel. Mengingat kebiasaan majikannya.


"Aku Praba, ibuku bernama Diah..." ucapnya cepat, mengulurkan tangannya. Seakan tidak sabar untuk berjabat tangan, dengan tangan halus sang janda muda.


"Amel..." Amel menyentuh sedikit tangganya, dengan cepat menariknya.


Mata pemuda itu menelisik, benar-benar kecantikan tanpa celah, bahkan ibunya mengatakan, Amel merupakan wanita cerdas serta berkelas. Dihormati para sosialita kelas atas.


Milik Dava? Pemuda itu ingin melampauinya? Sekali pecundang tetap pecundang. Tidak akan pernah bisa.


"Maaf, aku masih berantakan. Tadi malam ada beberapa data yang harus dikerjakan hingga hampir pagi..." ucapnya tersenyum, sembari menghisap sedotan, dengan minuman dingin di dalamnya.


Bibir pink alami yang tidak begitu tipis ataupun tebal. Kuku tajam yang indah, hingga otak Praba berfikir. Bagaimana cara mendekatinya.


"Ada sedikit sarang laba-laba yang jatuh ke rambutmu..." dustanya, Amel dengan cepat berusaha membersihkannya.


"Masih ada, biar aku saja!" Praba semakin dekat, seolah mengibas-ngibaskan rambut Amel.


Hingga dirinya membuat dua pasang mata itu saling bertemu...


"Sakit!!" pekik dua orang anak yang telinganya di tarik sang ayah, hingga langkah Kenzo terhenti. Menatap Praba yang ingin menggoda istrinya.


Bersambung