
Berkencan? Hal apa yang pertama terfikirkan saat mendengar kata itu. Memanjakannya, itulah satu kata yang mengikutinya dalam diri Ferrell.
Tempat yang paling sering dikunjungi siswi SMU, tentu saja mal. Satu persatu area permainan mereka masuki, dengan Ferrell yang masih memakai maskernya.
Hup...
Beberapa bola dilemparkannya ke dalam keranjang, berhasil masuk dengan baik. Sedangkan Glory hanya dapat menghela napas kasar berjalan mengikutinya ke tempat area permainan lainnya.
Tidak ada, yang tidak bisa dilakukan seorang Ferrell, pria bermasker yang menjadi pusat perhatian orang-orang disana. Mengikuti permainan dance, bahkan menenangkan skor tertinggi.
Kembali melanjutkan, menarik tangan Glory ke tempat permainan simulasi gitar. Melodi dengan ritme cepat, tidak membuatnya panik. Semua orang yang kebetulan melintas bahkan kagum pada sang pemecah skor itu. Mengedipkan sebelah matanya ke hadapan Glory, berharap dapat menarik perhatiannya.
Namun gadis itu malah berjalan menuju mesin capit boneka, membeli beberapa koin berusaha menenangkan boneka Teddy bear kecil.
Tiga kali mencoba, gadis itu gagal, menghela napas kasar, hendak pergi.
"Kamu menyukainya? Biar aku ambilkan," ucap Ferrell penuh percaya diri tingkat tinggi, membeli beberapa koin.
Dan hasilnya, beberapa puluh menit kemudian, Glory membawa dua kaleng soda berwarna merah. Menatap Ferrell yang hendak kembali membeli koin. Entah sudah berapa kali pemuda itu mencoba tapi hasilnya masih sama saja.
"Ayo kita pergi..." Glory menyodorkan satu kaleng soda yang dibawanya.
"Aku bilang!! Aku akan mengambilkannya untukmu!! Karena aku Ferrell!!" tegasnya, kembali memasukkan koin, hasilnya tetap gagal lagi."Mesin sialan!!" bentaknya menendang mesin di hadapannya.
***
Apa Ferrell menepati janjinya? Sangat, pemuda itu sangat menepati janjinya. Tersenyum senang dengan keberhasilannya dalam membahagiakan Glory.
Sementara Glory menatap jenuh, dirinya ingin boneka seukuran telapak tangan, tapi yang kini dibawanya boneka sebesar manusia dewasa lebih gemuk darinya, berbentuk beruang dengan warna sama persis.
"Ayo kita ke sana," ucap Ferrell tersenyum di balik maskernya. Menuntun Glory memasuki area bioskop, guna membeli tiket. Tempat duduk paling pojok belakang menjadi tempat mereka bertiga saat ini, boneka beruang, Glory dam Ferrell yang tengah menyaksikan film adult romance.
"Mau mencoba hal baru?" bisiknya, memegang jemari tangan Glory.
"Hal baru?" Glory mengenyitkan keningnya tidak mengerti.
"Ini..." tengkuk Glory diraihnya, menahannya, berciuman penuh hasrat. Glory mencoba mendorongnya namun percuma, pemuda itu tengah haus dengan asupan nutrisinya.
Ciuman yang perlahan juga dinikmati oleh Glory. Membuai Ferrell lebih dalam, ketakutan akan ada orang yang menyadari hal yang mereka lakukan. Adrenalin yang benar-benar terpacu, menginginkan lagi dan lagi. Sedikit mengintip tidak ingin ada orang yang mengetahui perbuatan mereka.
Hingga seseorang yang duduk di kursi paling depan bangkit hendak berjalan menuju toilet. Barulah ciuman itu terlepas.
Apa itu tadi? Dirinya dikendalikan lagi, otaknya terasa kelu. Bisa-bisanya orang ini, menciumnya di ruangan publik.
"Aku mencintaimu," kata-kata dari sang selebriti idola. Kata-katanya yang membuat tubuhnya bagaikan limbung dapat rubuh kapanpun. Namun, sejenak kemudian terdiam, tidak mempercayainya.
"Aku sudah mengatakan aku menyukai pria lain," Glory menghela napas kasar.
"Aku tidak peduli," Ferrell yang tidak memakai maskernya tersenyum, memakan popcorn dengan tenang.
Tampan? Sangat, hatinya juga berdebar setiap berhadapan dengannya. Tapi sekali lagi Ferrell mungkin hanya akan mempermainkannya, pemuda yang sulit digapai.
***
Akhir sebuah kencan yang benar-benar indah baginya. Api unggun kecil menyala di tepi pantai. Suara gitar akustik terdengar, dengan nyanyian seorang pemuda.
Glory hanya tersenyum mendengarnya, membakar jagung, memberi bumbu, kemudian memakannya tanpa canggung sedikitpun.
"Kamu boleh menanyakan apa saja padaku," ucap Ferrell tiba-tiba, menghentikan permainan gitarnya.
"Iya, tanyakan apa saja," jawabnya tersenyum.
"Kamu pertama kali pacaran saat usia berapa?" tanyanya Glory penasaran.
"Tidak pernah, aku belum pernah pacaran," jawaban dari mulut Ferrell, terus terang.
"Aku ganti pertanyaannya, berapa wanita yang pernah tidur denganmu?" tanyanya lagi.
"Dua, ibuku dan adikku," Ferrell menyimpan gitarnya kembali ke dalam tas.
"Pembohong..." cibirnya.
"Ciuman pertamaku beberapa minggu yang lalu, aku berikan padamu," ucap Ferrell tersenyum, mulai bangkit berjalan menjauh, beberapa kembang api dipasangnya. Mempersiapkan, menyalakannya bersamaan.
Ledakan ledakan indah di langit malam mulai terlihat. Hanya bertahan beberapa menit saja.
Glory tertegun kagum berjalan mendekatinya, tersenyum menatap kembang api yang menghiasi langit malam.
"Aku mencintaimu, bisa kamu menerimaku?" tanyanya, memegang tangan Glory.
Gadis itu terdiam menarik tangannya, tertunduk tidak tau harus apa. Playgirl? Mungkin teman-temannya benar itulah kepribadian buruk yang mungkin disimpannya.
"Jangan menjawab, jika jawabanmu tidak. Tetaplah menjadi Glory, rajin-rajinlah belajar..." ucap Ferrell berusaha tersenyum, ditolak? Mungkin itulah yang terjadi, namun dirinya masih dapat bersama dengan Glory menggunakan sosok Ken. Menjadi sahabat dari wanita yang dicintainya.
Tidak menyadari tangan Glory gemetar melihat wajah itu. Fikirannya mengelak tidak dapat mengenali, tapi hatinya mungkin mengenali dua orang pria, sosok yang berbeda adalah satu orang di hatinya. Terlalu sakit rasanya menatap senyuman terpaksa di wajah Ferrell.
Namun apa yang dapat dilakukannya, dirinya telah memilih Ken. Setuju untuk hadir hanya karena adik Lily.
Ini tidak bisa, tidak boleh terus begini."Banyak wanita yang akan mengejarmu. Memiliki orang tua dari kalangan atas, terlalu menakutkan untuk masuk ke pergaulan kalian bagiku,"
"Karena itu, orang yang aku sukai, ingin aku jadikan kekasih. Seorang pria sederhana, dari keluarga biasa, dengan wajah yang biasa-biasa saja. Kamu mungkin tidak mengenalnya, dia orang yang baik. Teman yang duduk di belakangku. Dia baru saja pindah sekolah beberapa minggu yang lalu," ucap Glory.
Seketika Ferrell yang awalnya tertunduk kecewa, telah menunjukkan semua pesonanya tapi berakhir di tolak, membulatkan matanya. Menoleh ke pada sang gadis centilnya.
Jantungnya berdegup cepat, itu dirinya, Glory menyukainya dengan menggunakan sosok Ken?
"Maaf..." ucap Glory tertunduk.
Hujan tiba-tiba turun dengan lebat, mematikan api unggun kecil yang mereka buat. Ferrell masih tertegun mengira dirinya salah mendengar.
"Aku menyukai teman sekelasku yang bernama Ken," lanjut Glory.
Ini sebuah lelucon, gadis ini menyukai Ken? Bagaikan bisa? Suara petir tiba-tiba terdengar, dengan cepat Ferrell menarik Glory mendekati emperan toko terbengkalai di pinggir pantai, guna berteduh mengingat mobilnya yang terparkir cukup jauh.
Berteduh, berharap hujan segera berhenti. Perlahan pandangan mata Ferrell beralih pada gadis genit yang dicintainya.
"Tau cara menghangatkan diri? Kita coba cara yang berbeda kali ini, ini benar-benar ciuman perpisahan," ucapnya tersenyum.
"Tapi..." kata-kata Glory terhenti, pinggangnya diraih sang pemuda, menatapnya beberapa saat, dalam dekapannya.
"Aku tidak akan menemui lagi, tapi berikan ciuman perpisahan yang dalam. Gunakan hatimu..." bisiknya menatap mata itu lebih dalam, di tempat berpenerangan yang minim.
Sepasang tubuh yang sama-sama basah, dalam deru napas tidak teratur. Bahkan sebelum mereka memulai ciuman mereka.
Sesuai keinginanmu, maka aku akan menjadi Ken untuk memilikimu...
Bersambung