My Kenzo

My Kenzo
Balonku



Jendela kaca transparan yang besar, sinar matahari menembus nya dengan bebas. Meja besar tanpa pajangan, notaris berada disana, uang dalam jumlah besar telah di transfer George. Sedang, Cindy tengah menandatangani berkas penuh senyuman.


23% saham, jumlah uang yang didapatkannya tidaklah sedikit. Hal yang akan dilakukannya? Melakukan investasi yang lebih stabil. Harga saham W&G Company jauh lebih tinggi, mungkin jika menggunakan seluruh nilai jual sahamnya Cindy hanya dapat membeli kurang dari 10%.


Namun, itu cukup untuknya, menjaga status sebagai kalangan atas, tidak ingin terjebak dalam perusahaan yang akan pailit. Banyak celah dan lubang di perusahaan tersebut. Penyusup yang dimasukkan Kenzo, data beberapa proyek yang telah dibocorkan pada perusahaan pesaing, bahkan karyawan yang akan meminta pertanggungjawaban perusahaan.


'Mampus!!' Satu kata yang menggambarkan nya, rasanya Cindy cukup bersyukur dirinya diikuti oleh Amel ketika di halte bis. Wanita gemuk berpakaian office girl, ternyata wanita yang disukai oleh Antagonis yang bersembunyi di FIG Group.


Siapa sangka dirinya akan mengenal Imposter terkejam di dunia bisnis. Bahkan akan bergabung dalam perusahaannya.


"Dimana kamu akan berinvestasi?" tanyanya, menghela napas kasar.


"W&G Company, aku membeli saham disana," Cindy menjawab penuh senyuman, menyodorkan dokumen yang telah ditandatanganinya.


"W&G Company? Bukannya cukup sulit untuk membeli saham disana, tidak ada pemegang saham yang bersedia menjual. Karena nilai investasinya yang terus naik. Atau kamu hanya berinvestasi dana pada salah satu proyeknya saja?" George meminum seteguk air putih dari gelas di hadapannya.


"Aku punya koneksi orang dalam, dia akan memberi informasi pemegang saham yang berniat menjual sahamnya. Anggap saja aku mengenal calon istri bos besarnya..." dengan enteng Cindy berucap sembari tersenyum, bagaikan wanita bodoh yang akan ditipu.


George memijit pelipisnya sendiri, istri yang terisolasi, sudah lima tahun tidak terjun ke perusahaan, bahkan mengikuti pesta kalangan atas pun juga sudah berlalu lebih dari lima tahun. Tidak mungkin mengenal orang penting dalam dunia bisnis, setidaknya itulah pemikirannya.


"Kamu sudah selidiki? Dia bukan penipu kan? Jangan salah paham, aku hanya tidak ingin suatu saat nanti kamu menuntutku agar membiayai hidupmu, Agam, serta Agler," George berucap dengan tenang.


"Dia bukan penipu, aku bertemu dengannya di halte. Dia gemuk, bukan orang suka berpakaian elite, baik dan ramah..." kata-kata itu keluar dari mulut Cindy.


George kembali mengenyitkan keningnya, semakin yakin jika Cindy bertemu dengan penipu. Setua apapun, sejelek apapun, pemilik perusahaan besar seperti W&G Company tidak mungkin memilih pasangan yang tidak sempurna. Setidaknya mereka akan memilih sekelas model atau selebriti, mungkin wanita cantik anak konglomerat kalangan atas.


Tapi wanita gemuk, berpenampilan biasa?


"Terserah kamu, itu uangmu. Yang jelas jika terjerat penipu, jangan pernah meminta kekasihku menanggung hidup kalian..." Sera yang baru datang, mendengar semuanya menyela.


Senyuman cerah menyungging di wajah Cindy, "Aku tidak akan meminta uang pada orang yang berada di bawahku. Karena akulah wanita kalangan atas, bukan wanita murahan yang membuka pakaian dan pahanya pada semua pria..." Cindy bangkit dari tempat duduknya, mengibaskan rambutnya penuh ego. Berjalan keluar dari ruangan.


"Honey, Cindy keterlaluan..." Sera melangkah mendekati George naik ke pangkuannya.


"Tenanglah, kamu bukan wanita murahan. Kamu hanya mencintai dan mengurusku, jadi yang dikatakannya tidak benar. Tenang ya..." ucapnya membelai rambut Sera.


"Tapi apa Cindy benar-benar mengenal calon istri pemilik W&G Company?" tanya Sera, mengenyitkan keningnya tidak yakin.


"Tidak mungkin, dia hanya bertemu dengan penipu. Aku saja sampai sekarang masih tidak dapat bertemu dengan pemiliknya, walaupun menggunakan koneksi. Imposter itu selalu berpindah dari satu negara ke negara lainnya..."


"Lagi pula, pemilik W&G Company tidak buta untuk memilih wanita gemuk sebagai pasangannya..." ucapnya tertawa kecil, mengecup bibir Sera.


Tidak ada yang menyadari seorang pemuda memakai earphone mendengar semua kata-kata mereka. Mendorong troli kebersihan.


Mataku masih sehat, aku tidak buta, pengantinku cantik dari segala sisi... Amel tidak gemuk!! Dia hanya chubby... batinnya kesal melepaskan earphonenya.


"Pasangan menjijikkan..." cibirnya.


"Siapa?" Amel menghentikan langkahnya, mengenyitkan keningnya. Di depan ruang rapat yang hendak mereka bersihkan.


"Ketuk pintu dulu, agar matamu tidak ternodai," komat-kamit mulut Kenzo hanya dapat bersembunyi sementara waktu menjadi cleaning service.


Tok...tok...tok...


"Cleaning service..." ucap Amel sembari mengetuk pintu.


Tidak ada yang istimewa, Amel membersihkan jendela. Sementara Kenzo merapikan beberapa gelas air mineral di meja, serta membersihkan tumpahannya.


George kembali menarik Sera ke dalam pangkuannya. Mencium bibirnya bringas, bagaikan dunia hanya milik mereka berdua, sedangkan Kenzo dan Amel patung hidup yang bergerak.


Aku tidak lihat, aku hanya cicak di dinding... gumam Amel, dengan tangan gemetaran.


Sedangkan Kenzo hanya terdiam, dengan wajah dinginnya. Membersihkan meja dan beberapa helai tissue di atas meja. Seakan tidak peduli. Hingga tonton live itu berakhir.


"Ayo kita kembali..." ucap Sera, turun dari pangkuan George.


George mengangguk, memimpin jalan meninggalkan ruangan, hingga ambang pintu. Office boy rupawan yang tengah memegang cairan pembersih itu dilirik oleh Sera. Mengedipkan sebelah matanya, tertarik dengan sosok cleaning service, satu-satunya pemuda rupawan yang terlihat acuh pada tubuh dan rupanya yang menggoda.


"Kenzo dia tertarik padamu..." Amel yang berdiri di samping jendela, berjalan mendekati pemuda itu.


"Lalu? Setelah tonton live tadi dari tidak tertarik, berubah menjadi jijik..." ucapnya masih konsentrasi membersihkan. Cukup menjijikkan menang baginya, sebuah kontaminasi hidup.


"Wanita seperti apa yang kamu sukai?" Amel mengenyitkan keningnya penasaran.


Wajah mereka berdekatan, Kenzo semakin mendekat. "Menurutmu wanita seperti apa?" bisiknya di telinga Amel.


Situasi tidak kondusif, jantung Amel tidak dapat dikondisikan lagi. Berdegup lebih cepat menatap bibir lembut yang baginya entah berapa wanita yang telah mencicipinya. Namun dirinya tiba-tiba menginginkan untuk mendapatkan hukuman, hukuman yang hangat...


Aku sudah gila... jeritnya dalam hati.


Dengan gerakan secepat kilat, Amel kembali ke posisinya membersihkan jendela...


"Balonku ada lima rupa-rupa warnanya. Hijau, kuning, kelabu, merah muda, dan biru. Meletus balon hijau...dor....Hatiku sangat kacau, balonku tinggal empat ku pegang erat-erat," teriaknya bernyanyi sekencang-kencangnya, mengalihkan perasaan berdebar di hatinya.


Sementara itu Kenzo mengenyitkan keningnya, bergumam sendiri,"Suatu penderitaan, ketika menyentuh sedikit saja melayang ke surga rasanya. Tapi ketika tidak dapat kembali menyentuh, aku ingin..." gumamnya dengan suara kecil.


"Kamu bilang apa!?" Amel yang sibuk bernyanyi tidak mendengar kata-kata Kenzo dengan jelas.


"Aku bilang, nanti malam, ganti sprei, selimut dan gorden kamar!! Langsung cuci!!" perintah Kenzo, mengenyitkan keningnya.


"Kan sudah ada pelayan?" Amel menghela napas kasar.


"Sebagai majikanmu, aku berkata harus kamu yang ganti. Berarti harus kamu.... Nanti malam kita berdua mencuci bersama!!" ucapnya, mengambil vakum cleaner.


Makhluk penindas... Amel berusaha tersenyum, menahan kekesalannya.


***


Sera berjalan menelusuri lorong mengikuti langkah George. George tampan? Tentu saja, namun dirinya sudah mulai jenuh dengan permainan yang hanya begitu-begitu saja.


Pemuda rupawan yang tertunduk dengan wajah dinginnya tanpa menatap dirinya, terlihat lebih menarik untuk diajak bermain dengan cara yang berbeda.


Hanya bermain, karena hanya George yang cukup memiliki banyak materi untuk menjadi suaminya...


Menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, memikirkan alasan untuk pulang lebih cepat, guna berkenalan dengan sosok Kenzo.


Bersambung