
"Apa yang kamu sukai darinya!?" kemarahan George benar-benar tidak tertahankan lagi. Mengepalkan tangannya, tidak terima, mungkin begitulah dalam hatinya. Bagaikan seorang suami baik tanpa dosa, yang lelah bekerja, sedangkan sang istri berselingkuh menggunakan uangnya.
"Semuanya, aku menyukai semuanya. Wajahnya yang tampan, orang yang tidak memiliki banyak ambisi. Hanya belajar terus-menerus. Seharusnya dialah yang menjadi ayah dari kedua putraku. Bukan orang sepertimu yang bahkan menepis tangan mereka, semenjak lahir!!" Cindy menatap sinis.
"Ibu!! Paman monster!!" Agler melepaskan diri dari gandengan tangan pengasuhnya yang memang berada di sekitar taman sanatorium. Memeluk Cindy erat.
"Agler, ibu dan ayahmu ingin bicara. Kita ke kamar Agam ya..." Roy tersenyum ramah mendekap tubuh kecil Agler bagaikan putranya sendiri.
Sakit? Tentu saja, perasaan ayah mana yang tidak sakit. Sang anak bahkan tidak memanggil namanya. Namun, memanggil sang dokter yang tidak memiliki hubungan darah dengannya? Bagaikan dirinya tidak ada sama sekali disana.
"Agler..." panggil George pada sang anak.
Anak itu terdiam dalam dekapan Roy yang mengangkat tubuh kecilnya. Memilih memeluk dokter yang dahulu ditakutinya, dokter dengan wajah bagaikan monster. Dari pada sang ayah ber jas, yang terlihat tampan dengan kharismanya. Namun, siapakah sebenarnya yang monster?
Dokter yang ditakutinya, menyayangi dan memperhatikannya. Bahkan memberikan semangat pada saudara kembarnya untuk hidup. Sedangkan sang ayah meninggalkan mereka, selalu menepis tangannya, mengatakan dirinya sibuk.
'Ayah, aku sudah bisa menggambar gunung, dan rumah. Ini...'
'Ayah sedang sibuk, tunjukkan pada ibumu saja!! Jangan manja...' tangannya ditampik kala itu.
'George!! Agam mimisan, badannya panas tinggi...' sang ibu, yang mengkhawatirkan saudara kembarnya. Telah menggedong Agam yang lemas dalam dekapannya. Wajah pucat yang tidak bertenaga, bagaikan malaikat maut dapat menjemputnya kapan saja.
'Beri penurun panas saja! Apa susahnya!! Sudah! Malam ini aku harus bertemu klien!' kata-kata Cindy tidak dihiraukan kala itu. Hingga akhirnya, sang ibu membawa dirinya ke rumah sakit bersama Agam untuk pertama kalinya.
Kata-kata sang dokter yang menangani Agam masih diingatnya,'Syukurlah, langsung di bawa ke rumah sakit. Jika terlambat satu jam saja, Agam dapat berada dalam kondisi kritis. Anak anda menderita leukimia,'
Kritis? Leukimia? Kata-kata yang tidak dimengerti anak berusia 3,5 tahun. Namun, setelah hampir dua tahun berkeliaran di rumah sakit dan sanatorium menemani ibu dan adiknya. Istilah medis itu perlahan diketahui artinya.
Kritis? Agam hampir mati jika menuruti kata-kata sang ayah untuk hanya memberi obat penurun panas. Leukimia? Dirinya tidak begitu mengetahui apa sebenarnya penyakit adiknya. Namun, perlahan dirinya paham jika Agam dapat meninggalkan nya kapan saja, untuk pergi ke sisi-Nya.
Agler mengepalkan tangannya, "Paman monster aku ingin turun..." ucapnya.
Roy menghela napas kasar menurunkannya. Agler berbalik berjalan mendekati sang ayah.
Bahagia? Itulah perasaan George kala sang anak ingin turun dan berjalan menemuinya.
Namun...
"Aku mohon, jangan temui ibu dan Agam lagi. Agam bisa muntah darah lagi, badannya akan kembali panas jika bertemu denganmu. Seperti beberapa hari yang lalu saat kami kembali ke rumah, Agam bertemu dengan mu kan? Dia harus memakai alat bantu pernapasan..." ucap Agler menatap mata ayahnya, air matanya mengalir tidak dapat dihentikan olehnya.
Anak berusia lima tahun, telah memiliki pengetahuan medis? Sang ibu selalu menginap bersamanya dua tahun ini di rumah sakit atau sanatorium. Agler yang seharusnya bermain dengan teman-teman sebayanya, selama dua tahun ini menemani ibu dan adiknya, dirinya dewasa sebelum waktunya.
"Agler ayah..." kata-kata George terhenti.
Cindy menarik tangan Agler, mendekapnya agar berhenti menangis,"Agam melihatmu di tempat tidur dengan Sera. Kondisinya sempat memburuk setelahnya,"
"Kamu membawa Agam untuk memergoki ku!? Kamu sengaja ingin menjauhkan mereka dariku!? Wanita picik!!" Bentaknya dengan nada tinggi seakan tidak mempedulikan Agler yang tengah menangis dalam dekapan ibunya.
"Agler, kita kembali ya?" Roy mencoba meraihnya dari dekapan Cindy. Tidak ingin psikis anak itu mengalami gangguan, menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya.
Tangisan Agler semakin kencang, merasakan lengannya dicengkram terlalu erat. "Sakit!! Ayah memukul ibu!! Mengatakan sibuk bekerja!! Kembalikanlah bekerja! Jangan pulang!" ucapnya menitikan air matanya.
"Ayo Agler..." Roy kembali meraihnya, tangan George lemas, menurunkan jemarinya pada lengan putranya, meninggalkan bekas kebiruan pada lengan kecil itu.
Ayah yang buruk? Itulah dirinya, tapi memangnya kenapa? Agam dan Agler dibiayai olehnya. Darah dagingnya sendiri, dirinya juga berhak untuk mereka.
"Aku ingin menuntut hak asuh, kamu tidak mengijinkanku menemui mereka..." ucapnya tegas.
"Sekretarismu tersayang tidak mengatakan rangkap terakhir dari surat yang kita tandatangani? Rangkap tambahan?" tanyanya, George hanya diam tidak mengerti.
"Rumah utama, dan beberapa tanah warisan orang tuaku, tidak akan dibagi. Semua menjadi milikmu, dengan ketentuan kamu tidak dapat menuntut hak asuh..." jawab Cindy menghela napas kasar.
"Cindy, kamu berubah!! Aku pernah menyelamatkan nyawamu setidaknya..." kata-kata George terhenti, mendengar tawa dari mulut Cindy.
"Aku tidak pernah berubah, aku memang dari dulu seperti ini, wanita arogan kalangan atas. Menyelamatkan nyawaku? Kamu tidak ingat pada dokter yang menggendong Agler? Apa wajahnya tidak familiar?" Cindy mengenyitkan keningnya, menatap sinis.
George terdiam terpaku sejenak, ingatan 10 tahun yang lalu kembali berkutat. Sisa wajah yang tidak terbakar masih diingatnya. Pemuda itulah yang menyerahkan tubuh Cindy padanya dalam peristiwa kebakaran.
"Sudah ingat? 21% saham tidak pantas kamu miliki. Bahkan tidak seharusnya menjadi menantu pemilik FIG Group. Selama dua tahun aku berusaha belajar mencintaimu!! Menolak semua pria yang mendekatiku, termasuk dia!! Hanya untuk membalas budi..." Cindy pada akhirnya meneteskan air matanya.
Jemari tangannya mengepal, amarah yang benar-benar tertahan. Belajar mencintai tidaklah mudah. Setelah menyerahkan hatinya, selama lima tahun Cindy tidak pernah disentuh lagi, bahkan dianggap bagaikan orang asing. Agam dan Agler yang darah dagingnya, sekalipun tidak pernah dibawa berlibur bersama, olehnya. Setidaknya, menghabiskan waktu bersama di rumah. Namun itu pun tidak pernah dilakukannya.
Ayah? Anak kandung? Apa yang dilakukan Agler salah? Salah, karena tidak mengakui ayahnya. Ayah keji yang hanya menanam benih, tanpa mencintai mereka sama sekali. Ego mungkin hanya itu yang mempengaruhi seorang George berdiri disini, mempertanyakan putra yang tidak mencintainya.
Tidak mencintainya? Cindy tidak pernah mempengaruhi kedua putranya. Namun, mereka berkembang dan mengetahui semuanya perlahan. Apa yang dimaksud menemui klien oleh ayah mereka, apa yang dikatakan jangan manja oleh sang ayah. Jangan manja? Mereka benar-benar tidak ingin bersandar lagi pada George, ayah yang berkali-kali menepis tangan mereka.
"Aku masih ayah kandung dari Agam dan Agler!! Darah lebih kental dari pada air..." ucapnya menatap wanita di hadapannya.
"Tidak merasa bersalah sudah berbohong tentang menyelamatkan nyawaku? Tidak merasa bersalah setelah menjadi ayah yang buruk?" tanya Cindy menghapus air matanya menatap sinis.
"Wanita murahan!!" tangan itu bergerak hendak menamparnya. Namun seorang pemuda ber-jas putih, menegang pergelangan tangannya.
"Aku bodoh, aku menyesal saat itu mempercayakan Cindy pada orang yang salah. Cindy benar, siapapun kamu, tidak lebih dari seorang penipu, barang imitasi yang palsu..." mata tajam sang dokter itu menatapnya, menghempaskan pergelangan tangannya.
Roy mulai berbalik, melangkah membimbing Cindy pergi tanpa menoleh ke belakang. Tidak mempedulikan keberadaan George lagi.
"Agam!! Cindy kamu hanya akan membuat Agam mati!! Menanam saham W&G Company, kamu hanya bertemu dengan penipu! Biaya pengobatan Agam sangat besar, selain itu hanya aku yang berkemungkinan terbesar memiliki kecocokan pada sumsum tulang belakangnya. Berlutut dan minta maaf padaku!! Maka aku akan menyelamatkan nyawa Agam..." senyuman menyungging di bibir George, merasa telah menang.
"Anak dijadikan tumbal keegoisan?" Cindy tertawa kencang tanpa berbalik, "Tidak perlu repot-repot menunggu hasil tesmu yang belum tentu cocok. Agam sudah mendapatkan donor. Untuk masalah materi, kita lihat siapa yang akan jatuh ke dasar..."
Wanita itu melangkah dengan bahu yang dirangkul Roy, sang dokter dengan luka bakar di pipi kanannya. Meninggalkan George tertegun seorang diri.
"Kita lihat saja!! Pada akhirnya kamu akan berlutut di bawah kakiku!! Mengemis uang untuk hidup kalian!!" amarah yang tidak dapat diterima ego seorang George. Melangkah pergi menuju mobilnya, meninggalkan area sanatorium.
Bersambung