My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Sekretaris



...Ada kalanya manusia, terlalu pandai menyembunyikan luka, dalam topeng wajah tersenyum....


...Seperti sebuah boneka Teddy bear yang tersenyum, agar selalu dapat bermain dengan pemilik yang dicintainya. Memendam perasaannya dalam pelukan....


Hitoshi...


"Dia tidak ada?" tanyanya pada sahabatnya.


"Mungkin belum pulang, kenapa aku harus berpura-pura menjadi pacarmu!?" wanita itu mengenyitkan keningnya penasaran.


"Agar dia bersedia dekat dan berteman denganku. Mengatakan menyukainya maka keluarga kami akan segera mengatur perjodohan. Karena itu dia akan melarikan diri semakin menjauh, jika aku mengatakannya terus terang. Aku ingin dicintai perlahan," Hitoshi duduk di hadapan piano putih, pemuda berdarah Jepang-indonesia, dengan anting kristal di sebelah kiri telinganya. Mengenakan sweater biru tua, dengan buku lagu yang berserakan di sekitar pianonya.


"Romantisnya!! Andai saja aku belum menikah aku akan mengejarmu," tawa wanita itu terdengar.


"Sayangnya, dia tidak mencintaiku. Dia menyukai orang lain, aku berharap orang itu tidak muncul lagi dalam hidupnya," Hitoshi terdiam sejenak, mulai memainkan pianonya, sembari mencatat nada menggunakan pensilnya.


Beg...


Nada sumbang terdengar beberapa tuts piano ditekan secara acak,"Katakan perasaanmu padanya!!" kata-kata yang keluar dari mulut sahabatnya, menghentikan permainan Hitoshi.


Hitoshi meletakkan pensilnya berjalan meraih foto kecil kebersamaannya dengan Febria,"Dia masih mencintai Steven, kakak angkatnya,"


"Jika aku mengatakannya, dia akan menjauh seperti burung kecil yang tengah dibidik menggunakan peluru. Tidak apa hanya aku yang mencintainya, karena semenjak aku mulai tumbuh dan menyukainya. Aku menyadari, cinta sesungguhnya memberi... melihat dan memperhatikannya sudah membuatku bahagia," gumamnya tersenyum.


Tempat Hitoshi berada saat ini? Yayasan seni yang didirikan Aika untuknya. Profesi? Hitoshi merupakan ketua yayasan, pemuda ramah mempesona wanita manapun yang menatapnya.


Dirinya mulai mengambil mikrofon yang dapat menempel di telinga, biasa digunakan untuk pertunjukan, musikal. Jemari tangannya menari di atas tuts piano, nada indah mulai terdengar.


Bersamaan dengan suaranya melantunkan lagu sedih, lagu yang indah menceritakan tentang seorang pria yang menunggu seorang wanita untuk mencintainya, menatapnya dalam senyuman, bergurau bagaikan sahabat, hati wanita yang telah dimiliki orang lain, ingin diraihnya.


Hitoshi tertunduk tersenyum kecil, menghayati setiap nada yang dimainkannya. Setiap kata yang terucap di bibirnya, lagu yang diciptakan sang komposer itu sendiri.


Cahaya melewati jendela ruang musik itu, membawa kehangatan dan harapan dalam hatinya. Tidak dapat melupakan pertemuan pertama mereka.


Hingga deretan nada terakhir dimainkannya, dalam akhir lagunya.


"Aku mencintaimu..." lirik terakhir bagaikan bisikkan, tanpa melodi dari piano.


Pemuda yang tersenyum, merasa puas dengan lagu yang baru diciptakannya. Perasaan nyata yang dirasakan sang komposer.


Frans menghela napas kasar, tersenyum menatap putranya dari pintu yang sedikit terbuka."Sudah aku duga, wanita itu bukan pacarmu. Ayah akan membantumu..." gumamnya berjalan pergi menelusuri lorong, menghubungi mertuanya dan Amel.


***


Sementara itu di tempat lain, Febria masih berusaha menutupi tubuhnya dengan busa. Menatap tajam pada pemuda di hadapannya.


"Kamu bilang akan membangunkan aku, saat bala bantuan datang. Kenapa kita ada disini? Dan dimana bajuku?" bentak Febria, gemetar ketakutan.


"Kamu tidak bisa dibangunkan sama sekali, jadi aku langsung membawamu ke rumahku. Pakaianmu kotor sedang dicuci..." jawaban dari mulutnya, meraih shower dan shampo samping bathtub, hendak mencuci rambut Febria.


"Biar aku sendiri saja!!" ucap Febria cepat, meraih shower dan shampo yang dipegang Steven.


"Aku mandi dulu, pakaianmu ada di luar..." Steven berjalan mendekati ruangan bersekat kaca dengan shower besar yang ada disana.


"Tidak tau malu," ucap Febria kesal, menggerakkan kakinya merasakan pangkal pahanya tidak terasa perih. "Aku masih perawan..." gumamnya yakin.


Matanya sedikit melirik ke arah ruangan bersekat kaca, samar-samar tubuh pemuda itu terlihat. Tubuh atletis yang biasanya berbalut sweater, menyegarkan diri dibawah derasnya air shower.


Mini dress baru dilihatnya berada di atas meja, diraihnya segera memakainya, kemudian menyisir rambutnya yang basah. Ingin segera pergi itulah yang ada di fikirannya saat ini.


Mengendap-endap namun satu hal yang menarik perhatiannya. Laptop yang ditinggalkan dalam keadaan menyala.


Mungkin jika dirinya nanti tertangkap, dapat mengirim pesan pada orang lain yang akan menyelamatkannya, mengingat dirinya yang tinggal jauh dengan keluarganya. Jemari tangannya bergerak cepat, menggunakan laptop milik Steven. Hingga satu fakta ditemukannya. "Ternyata dia si br*ngsek yang mengirimkan pesan mesum!!" geramnya, kembali fokus, mengirim pesan pada Hitoshi.


Kemudian, Febria mulai bangkit, membuka pintu kamar, berjalan menelusuri lorong. Rumah yang cukup luas, mungkin sama luasnya dengan kediaman utama yang dibangun ayahnya 10 tahun lalu.


Hingga sebuah pintu putih dilihatnya. Perlahan dibuka, matanya menelisik, mengamati kamar gelap dengan lampu berwarna merah. Kamar yang biasanya dipergunakan fotografer untuk mencetak foto dari kamera film.


Beberapa foto diamatinya, satu-persatu tidak ada yang begitu menarik perhatiannya. Hingga foto white hair yang tidak bahagia ditatapnya, mengalihkan perhatiannya.


Dirinya segera membawa foto itu keluar ruangan, agar dapat menatapnya dengan lebih jelas. Seorang anak berusia sekitar 5 tahun yang mirip Steven, bersama belasan saudara laki-laki dan perempuannya. Mata biru, rambut putih yang dimiliki Steven dahulu.


Febria kembali masuk ke dalam kamar gelap, menatap satu-persatu foto disana. Terdapat beberapa foto anak dengan rambut putihnya.


Tangan seorang pemuda tiba-tiba terulur di pinggangnya memeluknya erat. "Sedang apa?" bisiknya di dekat telinga Febria tersenyum.


"Hudson!! Kamu mengenal Steven!?" bentaknya, menatap tajam, menepis tangan Hudson, yang dianggapnya sudah berbohong.


"Jika aku mengenalnya, apa yang akan aku dapatkan untuk informasi tentangnya?" ucap Steven menggigit bagian bawah bibirnya sendiri.


"Steven, apa dia anggota keluargamu?" tanya Febria, wajah anak-anak dan remaja yang mencapai belasan orang itu memang sedikit mirip satu sama lain. Namun, hanya Steven yang memiliki rambut putih.


"Iya..." jawaban singkat dari Steven.


"14 tahun yang lalu, a...apa dia menghilang untuk kembali ke keluarga kalian?" satu pertanyaan lagi yang terlontar dari mulut Febria.


"Benar, tapi pertanyaan berikutnya aku tidak akan menjawab, kecuali kamu menunjukkan kesungguhan untuk mencari kakakmu tersayang," Steven tersenyum, menyenderkan tubuhnya pada dinding ruangan yang gelap.


Febria mengepalkan tangannya,"Dimana saudara-saudaramu yang lain!? Kalian ada belasan orang!?"


"Sudah aku bilang tunjukkan kesungguhanmu," Steven memakan salah satu potongan jeruknya.


"Aku mohon..." Febria memelas, memegang lengan jubah mandi yang dipakai sang pemuda.


"Tidak terpengaruh," Steven tersenyum mengejek.


Sudahlah!! Anggap saja aku sedang mengigit *njin... gumam Febria berjinjit mencium bibir Steven tanpa aba-aba.


Pemuda itu membulatkan matanya terkejut, perlahan dua pasang mata mulai terpejam. Menahan tengkuk dan pinggang Febria. Menikmati setiap sentuhan dan lilitan, perasaan berdebar yang nyata.


Hingga, bermuara pada deru napas tidak teratur dari sang pelakunya. "Apa cukup untuk menunjukkan kesungguhanku?"


"Aku tidak memintamu untuk menciumku, tapi rasanya manis..." jawab Steven tertawa kecil.


"Jadi dimana saudara-saudaramu yang lain?" Febria kembali bertanya penuh kesungguhan, ingin mengetahui keberadaan Steven.


"Sebagian besar sudah meninggal, di keluargaku jika ingin ikut bergabung atau mewarisi bisnis, harus menunjukkan dirinya mampu. Melewati uji coba, dan melawan saudara sendiri..." Steven terlihat tenang menjawabnya, memakan jeruknya kembali.


Jemari tangan Febria mengepal air matanya menggenang tertahan. "Apa Steven masih hidup?"


"Akan aku jawab, tapi jadilah sekretarisku,"


Bersambung