My Kenzo

My Kenzo
Menyadari



"Kenzo, menurutmu apa arti orang tua?" tanya Amel, ditengah kegiatan sarapan mereka.


"Emmm..." Kenzo meletakkan secangkir kopinya berfikir sejenak,"Mungkin orang yang paling dibutuhkan seorang anak. Orang yang lebih tua darinya, dapat memberikan kasih sayang dan menjaganya..." ucapnya tersenyum, menatap wajah Amel. Sembari sesekali melihat pesan e-mail di tab-nya.


"Jawabanmu aneh, kenapa tidak menjawab suami istri yang memiliki hubungan darah, membesarkan dan..." kata-kata Amel terpotong, Kenzo mengelap saus tomat di bibir kekasihnya. Kemudian kembali tersenyum.


"Tidak semua orang beruntung memiliki orang tua yang lengkap. Bagaimana dengan Sany, kamulah ibunya dan aku ayahnya..." jawabnya.


"Benar juga..." Amel tersenyum, mulai memakan potongan daging ham.


"Tiga minggu lagi kita ke Afrika. Aku akan mengenalkanmu pada anak-anakku. Sebelum kita pulang nanti..." ucap Kenzo kembali fokus pada tab-nya.


"Anak?" Amel mengenyitkan keningnya. "Kamu pernah menikah?" tanyanya lagi.


Kenzo menggeleng,"Mereka diperdagangkan di pasar gelap untuk organ tubuh atau dipekerjakan sebagai buruh. Sebagian besar korban penculikan. Aku membelinya di pasar gelap. Kemudian mengadopsi mereka secara legal..."


"Membelinya? Kenapa tidak melaporkan pada kepolisian?" Amel mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Kenzo mulai mengupas buah apel, memotongnya berbentuk potongan kelinci,"Tidak bisa, ada beberapa hal dan tempat yang tidak bisa kita sentuh. Terutama dunia bawah, pengusaha hanya memiliki uang, sedangkan mafia memiliki orang-orang terlatih yang rela mati, dukungan finansial dari orang-orang berkuasa,"


"Ingat ini, semua musuh di bidang bisnis tidak boleh ditakuti. Terkecuali orang-orang yang memiliki keterlibatan dengan dunia bawah, peradangan narkotika, senjata, bahkan human trafficking (perdagangan manusia)," lanjutnya.


"Kenapa? Bukannya mereka lebih keji dari orang-orang yang perusahaannya kamu akuisisi?" tanya Amel.


Kenzo kembali tersenyum, menyuapi Amel dengan potongan buah apel yang telah dikupasnya."Tidak ada yang mengetahui tentang masa depan. Tapi jika suatu hari nanti aku menghilang atau umurku pendek. Kamu dan Frans lah yang aku percayai untuk meneruskan W&G Company,"


"Besarkan anak kita dengan baik, sehingga dapat menjadi generasi selanjutnya," Kenzo tiba-tiba membungkuk mengelus perut rata istri, maaf pacarnya.


Amel mengenyitkan keningnya,"Di dalam sana hanya ada roti, dan buah apel..."


"Aku tau... setelah menikah aku akan mengeluarkan banyak kecebong di dalam sana..." Kenzo tertawa kecil, mencairkan suasana.


"Kecebong...?" Amel menghentikan kunyahannya.


"Bercocok tanam, menyemai benih, yogurt..." entah bagaimana caranya menjelaskan lagi pada Amel, arti dari kata kecebong.


"Kenzo!!" Amel kesal memukulnya menggunakan bantal. Kenzo tertawa berjalan mundur beberapa langkah, akhirnya jatuh di atas karpet. Menarik tangan Amel yang hendak menolongnya, hingga gadis itu ikut terjatuh ke atas tubuhnya.


Wajah gadis yang berada di atas tubuhnya ditatapnya."Cantik..." gumamnya.


Amel terdiam, tertegun diatas tubuh sang pemuda. Menatap mata itu lekat, menelusuri bibirnya perlahan, bagaikan sebuah kebutuhan tetap bagi mereka. Gerakan bibir yang memabukkan, sapuan lidahnya bergerak seakan bingung mencari kepuasan. Hingga berakhir dengan beberapa kecupan singkat yang diberikan Amel.


"Aku mencintaimu..." bisiknya seakan kata yang dahulu enggan diucapkannya, kini menjadi mantra untuk meyakinkannya. Untuk terus menggenggam tangan Kenzo, hingga kematian memisahkan mereka nanti.


"Aku juga..." Kenzo tersenyum, merubah posisi menjadi lebih konyol lagi. Memeluk erat tubuh Amel diatas karpet bulu kamar hotel tersebut.


Tempat tidur? Mereka tidak mengingat hal purba itu. Dimana pun, kapan pun, tidaklah mengapa, asalkan tetap bersama.


"Kenzo, aku ingin terus bersamamu. Apa bisa?" tanyanya.


Kenzo mengangguk semakin mendekap amel yang kini berbaring di sampingnya. Dalam pelukannya,"Kita akan bersama..."


"Tapi kenapa mengatakan aku harus melanjutkan W&G Company?" tanya Amel menonggakkan kepalanya.


"Jika, aku berkata...jika.... Terkadang aku memikirkan apa yang dikatakan Tomy dan Farel. Jika umurku pendek, bagaimana denganmu dan anak kita nanti..." ucapnya, menatap lekat mata Amel.


"Aku akan membesarkannya dengan baik, mendidiknya agar menjadi antagonis seperti ayahnya. Menjadi janda kaya, tidak akan pernah menikah lagi..." Amel berucap penuh keseriusan, menatap dalam mata pemuda yang dicintainya,"Jika kamu mati, aku tidak akan pernah dapat menerima kematianmu. Menganggapmu, masih hidup di suatu tempat. Menunggumu kembali hingga aku tua dan mati,"


"Terimakasih..." Kenzo menitikan air matanya, memejamkan matanya, tidak mengenal tempat menautkan bibir mereka. Tangan Amel mengalung, mencengkram punggung kemeja yang dipakai kekasihnya. Menegaskan hatinya, pada rasa kasih di hadapannya.


Bagaikan kunang-kunang kecil yang menemukan pasangannya. Hinggap di atas dedaunan hijau kecil di pinggir danau yang gelap. Menemukan kebahagiaan sederhana.


Senyuman menyungging di bibir keduanya, hanya untuk menghirup napas. Bahasa dari mata mereka yang bicara, hingga senyuman tulus berubah menjadi tawa. Saling memeluk erat penuh kasih.


"Dari proses penanaman bibit hingga masa panen memerlukan waktu berapa lama? Aku harus mengeluarkan berapa banyak kecebong nanti, agar dapat anak kembar...?" tanyanya.


"Kenzo!!"


***


Frans menghela napas kasar, hari ini supir yang biasanya, tidak datang. Dirinya yang memberi tumpangan pada Kenzo dan Amel, dua orang yang menginap di hotel yang sama dengannya.


Mobil mulai melaju, kali ini bukan hanya ada satu tapi dua makhluk astral dalam mobil, tepatnya Frans dan supir yang biasa mengantarnya. Dua makhluk yang duduk di kursi belakang itu tidak henti-hentinya menguji kesabaran jiwa para jomblo.


Tertawa, terkadang berbisik-bisik entah apa yang mereka ucapkan. Kenzo bahkan mencium tangan Amel.


Lebih agresif? Amel mengalungkan tangannya di leher Kenzo dengan mata keduanya terpejam, bibir yang mendekat.


"Aku tau ini Prancis, banyak orang-orang yang berciuman di sembarang tempat. Tapi bisakah kalian menghargaiku!!" bentak Frans bagaikan singa jantan yang wilayahnya diganggu.


Ciuman bibir yang urung, kedua pasangan itu masih menggenggam tangan, namun saling melihat ke jendela masing-masing menahan rasa canggungnya.


Bukan seperti ini maksudku, disuruh dekat terlalu menempel. Di suruh berpisah malah terlalu jauh... Frans menghela napas kasar, mulai membuka pembicaraan. Mengusir perasaan canggung.


"Amel, aku dengar-dengar kamu memiliki hoby baru. Bagaimana jika diganti saja, memelihara hamster atau menanam bunga misalanya..." ucapnya dari kursi penumpang bagian depan.


"Aku ingin menjadi heaker, kenapa jadi memelihara hamster..." Amel mengenyitkan keningnya.


"Jangan salah paham, aku hanya ingin kamu tidak stres dan kecewa kalau memiliki hobi yang terlalu sulit dipelajari. Lagi pula IPK mu..." Frans menghentikan bicaranya, mengingat nilai Amel saat melamar pekerjaan sebagai pelayan pribadi Kenzo sangat rendah.


"Itu hanya IPK, kemarin dia bahkan meretas kamera keamanan di ruanganku. Aku mulai berfikir kita memerlukan tim IT. Bagaimana jika rekrut Lorenzo, cari beberapa ahli lainnya lagi..." Kenzo menatap kearah Frans penuh keseriusan.


"Baik... Amel apa juga akan bergabung di perusahaan?" tanyanya lagi.


"Tidak, sebelum aku menikah dan menanam kecebong di perutnya. Setelah kembali pulang... nanti..." Kenzo tersenyum, mengelus perut Amel.


"Apa sudah ada kecebongnya?" Frans mengenyitkan keningnya.


"Sudah aku bilang! Isinya hanya roti dan apel!!" bentak Amel kesal.


***


Indonesia...


Marina menghela napas kasar, setelah menghubungi tunangannya. Dirinya kini menjadi desainer bidang konveksi, bekerja di salah satu anak cabang perusahaan Bold Company.


Tunangan? Marina menerima perjodohan dari keluarganya, mulai menata hidupnya dari awal. Bukan kaya, hanya seorang PNS golongan rendah, berkulit sawo matang, tubuhnya sedikit kurus, memakai helm BMC dengan motor bebek berwarna merah tua.


"Marina...ayo pulang..." ucapnya menyodorkan helm. Dijawab dengan anggukan oleh Marina.


Namun, tiba-tiba kepergian mereka di hentikan, sebuah mobil hitam berhenti di dekat mereka."Marina!! Aku ingin bicara denganmu, bisa kita ke cafe dulu? Aku yang traktir, ajak tunanganmu sekalian..." ucap Gilang tersenyum, membuka jendela mobilnya.


***


Tidak begitu canggung, mereka saling mengenal, tidak ada lagi perasaan pada Marina. Begitu juga sebaliknya. Gilang? Mungkin dianggapnya sebagai calon saudara ipar yang sempurna. Mengingat dirinya dan Amel yang cukup dekat, mungkin setelah pertolongan Amel, Marina menganggap Dugong sebagai saudaranya. Sedangkan Gilang, calon ayah yang sempurna untuk Sany, anaknya yang telah diadopsi Amel.


Menyatukan mereka berdua adalah tujuannya, apapun halangannya. Dirinya hanya ingin Amel dan putrinya bahagia. Dan kebahagiaan itu bisa didapatkan dengan menyatukan sepasang sahabat yang dahulu saling mencintai.


"Sebentar, aku angkat telepon dulu..." tunangan Marina melangkah pergi menjauhi mereka sejenak.


Gilang masih terdiam, memikirkan sesuatu,"Marina, apa Amel mempunyai saudara kembar?" tanyanya ragu.


"Tidak, hanya kakak sambungnya Glen dan adiknya Nindy," Marina, menyendok sedikit tiramisu nya."Memangnya kenapa?"


"Terlalu mirip, atau perasaanku saja..." gumamnya,"Saat di Singapura, aku melihat sekilas, wanita dengan cara makan yang sama dengan Amel. Memakan cup cake dari sisi samping, baru ke tengah bagian toping..."


"Mungkin aku terlalu banyak berfikir..." lanjutnya, mengingat wanita cantik yang duduk satu meja dengan kakaknya.


Cara makan yang sama? Amel adalah tipikal orang yang memiliki kebiasaan makan, bagian terenak paling belakang. Jika roti dengan isian, maka rotinya akan dihabiskan terlebih dahulu baru isiannya. Bahkan jika makan nasi pun, lauknya akan dimakan sedikit, hingga nasinya habis, barulah sisa lauk yang masih banyak akan dimakannya.


"Ada banyak orang yang memiliki cara makan yang serupa..." Marina menghela napas kasar.


Gilang tersenyum meminum secangkir kopi di hadapannya, "Tapi jika dia memang Amel, dan dia mengenal kakakku akan lebih mudah. Kenzo akan menolongku agar kami kembali bersama,"


Bersambung