
Dengan ragu Dava menginjakkan kaki di tempat itu lagi, menghela napas kasar guna mengambil ijazah-nya mencari pekerjaan di tempat lain. Hingga senyuman aneh menyungging di wajah saudara sepupunya yang terlihat babak belur.
"Tumben terlambat datang, sini biar aku yang membawakan tasmu," ucap Romi merebut tas yang dibawa sepupunya."Nanti kita makan siang bersama, biar aku yang teraktir, sekalian sisa gajimu biar aku kembalikan..."
Aneh? Tentu saja, Romi sejatinya tidak berniat buruk. Hanya saja dirinya benar-benar membenci Dava. Seluruh biaya pendidikannya di tanggung oleh Damian dahulu, ketika perusahaan Damian masih maju.
Namun, dirinya melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana sepupunya itu sebelum terjadi kecelakaan, selalu menyakiti hati kedua orang tuanya. Bahkan Romi yang baru bekerja di perusahaan milik Damian saat itu, harus kehilangan pekerjaannya. Aset Damian yang seharusnya dapat dipergunakan untuk menyelamatkan perusahaan dijual oleh Dava yang asli, hanya untuk bersenang-senang dengan Kiki.
Jengkel dan benci? Tentu saja, seperempat gaji Dava dikumpulkan Romi untuk deposit yang akan ditujukannya pada Damian. Tidak ingin sang paman tidak memiliki tunjangan hidup di masa tuanya nanti.
Tapi ternyata Dava sudah meninggal? Dan dirinya salah sasaran? Kenzo, seseorang yang sudah ditindasnya selama 7 tahun bukanlah Dava yang sebenarnya. Kali ini Romi akan bersikap baik pada orang yang sudah menemani pamannya dengan baik selama 7 tahun ini.
"Bukannya aku akan dipecat?" tanya Dava tidak mengerti.
"Siapa yang berani memecatmu!? Omong-omong kamu tidak pernah mengambil cuti, bagaimana jika hari ini mengambil cuti saja. Biar aku yang urus ke bagian HRD..." Romi berbicara dengan cepat tidak membiarkan Kenzo menjawab."Pulanglah!! Habiskan waktu dengan paman, bibi dan pacar barumu..."
"Tapi aku..." kata-katanya disela.
"Dengar, apapun hal buruk yang aku lakukan 7 tahun ini, percayalah itu bukan karena aku membecimu. Aku membenci Dava yang lain..." ucap Romi ambigu, memberikan amplop yang dipenuhi uang. Seperempat gaji Dava yang selama ini ditahannya.
"Aku boleh libur? Dan tidak jadi dipecat?" Dava memastikan, dijawab dengan anggukan oleh Romi.
"Aku pulang..." Dava kembali meraih tasnya, dengan tatapan aneh.
"Pulanglah..." Romi masih saja tersenyum padanya.
Pemuda itu kembali berjalan pergi, aneh? Benar-benar terasa aneh baginya. Hari yang benar-benar aneh. Tapi hari ini libur bukan? Dirinya dapat menghabiskan waktu dengan istri orang, itulah yang ada di fikirannya.
Pesan dikirimkannya pada Amel dengan ragu, hingga akhirnya batal dikirimkannya. Kembali memasukkan phoncell ke dalam sakunya.
"Tidak boleh, itu istri orang, perbuatan tidak beradab, selain itu suaminya terlalu mengerikan. Aku harus mengembalikan semua pemberiannya..." gumamnya, yang akhirnya menghabiskan waktu liburnya dengan pergi ke sebuah warung kopi pinggir jalan. Menemui satu-satunya teman bicaranya.
***
Dava mulai melangkah, mengenakan pakaian serta jam tangan milik Kenzo. Yang dipaksakan Amel untuk memakainya ketika meninggalkan villa. Dompet? Entah kenapa wanita itu juga memaksanya untuk membawa dompet yang dipenuhi balck card tersebut.
Memalukan? Tentu saja, dirinya perlahan telah mulai mencintai istri orang. Aib yang benar-benar besar, tapi perasaan yang juga sulit dielaknya.
"Barang bermerek..." Bagus yang duduk di warung tertawa tiada henti.
"Diam!! Kamu kira menjadi pria simpanan itu menyenangkan!?" wajahnya terlihat gusar, menghela napasnya berkali-kali, mulai duduk di samping temannya.
"Kenapa? Bukannya bagus? Istri pengusaha yang membiayai seluruh hidupmu. Kita tiru saja YouTubers ternama, 'Jam tangan satu milyar? Murah banget!!'," tawa Bagus makin kencang saja.
"Omong-ngomong kenapa kamu bisa menjadi pria simpanan?" lanjutnya.
"Ini dimulai saat aku menjadi cosplayers di pesta ulang tahun sepasang anak kembar. Dua orang anak yang manis,"
"Ibu mereka tiba-tiba memelukku, begitu juga kedua anak itu..." ucap Dava menghela napas kasar.
"Lalu?" Bagus memasang telinganya baik-baik penuh rasa penasaran.
"Aku mendorongnya, walaupun cantik, bodynya bagus tetap saja istri orang..." Dava, kembali menghela napas.
"Lalu...lalu ..." pemuda itu seolah ingin bujangan lapuk itu melanjutkan cerita perselingkuhannya. Mendamba istri orang lain, dosa indah yang dilakukannya.
"Ayahku membuat masalah lagi, setelah berhutang besar akibat temannya menjaminkan namanya untuk meminjam uang. Temannya melarikan diri setelahnya..."
"Lalu...lalu..." Bagus bertambah antusias mendengarkan ceritanya.
"Dia membawaku ke sebuah villa, menyuruhku membuka kemeja. Meraba bekas luka di perut dan punggungku. Dia berkata 'Aku mencintaimu,' setelahnya menangis terisak. Menciumku... kemudian... kemudian..." Dava mengacak-acak rambutnya sendiri, merutuki hal bodoh yang dilakukannya.
"Kemudian tidak tahan dengan godaannya, menerkamnya tanpa ampun. Menikmati segalanya hingga pagi..." pemuda itu tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana kamu bisa tau, a...aku sampai heran dengan diriku sendiri..." Dava mengacak-acak rambutnya frustasi. Tidak pernah menyentuh tubuh wanita selama ini. Namun dengan istri konglomerat itu rasanya berbeda. Menatap wajahnya dari dekat saja rasanya ingin memeluknya. Hatinya bagaikan berdebar tiada henti, darahnya berdesir, bagaikan tidak dapat mengendalikan tubuhnya.
Dan sialnya perbuatan dosanya itu sudah terjadi berulang kali."Aku harus mengakhiri ini..." lanjutnya.
"Kenapa harus diakhiri? Hidup sebagai pria simpanan tidak buruk. Ibumu dapat berobat, ayahmu yang sering membuat masalah, kamu tidak perlu mencemaskannya lagi. Bahkan bisa menginjak-injak mantan tunanganmu yang tidak setia," Bagus yang berpakaian security menghela napas kasar.
"Aku takut... suaminya memiliki reputasi seperti iblis..." tangan Dava gemetar, mengetahui tentang suami dari wanita yang selalu menggodanya di ranjang.
"Siapa?" Bagus mulai meminum kopi susu ABC, yang disuguhkan penjaga warung.
"Kenzo, pemilik W&G Company. Kamu pasti tidak pernah mendengarnya kan? Perusahaan itu tidak memiliki cabang di negara ini. Desas-desus yang beredar, karena suaminya, salah satu jaringan mafia tertangkap kepolisian federal, pria itu juga menghancurkan beberapa perusahaan besar. Beberapa waktu ini W&G semakin berkembang pesat, karena iblis bernama Kenzo..." wajah Dava pucat pasi, mengingat sosok yang sempat dicari informasi tentangnya di internet.
Walaupun tidak dapat menemukan satupun fotonya. Namun, dari artikel yang dibacanya bisa dibayangkan. Betapa mengerikian suami dari wanita yang menjadikannya pria simpanan.
Mungkin dalam bayangan Dava, sosok Kenzo bagaikan pengusaha muda, membawa senjata laras panjang bersiap untuk menebak dirinya. Yang berani meniduri istri seorang Kenzo.
"Pemilik W&G Company? Anak kembar yang berusia 7 tahun bukan?" tanya Bagus dengan wajah pucat pasi. Dijawab dengan anggukan polos oleh Dava.
"Anak kembar itu bahkan lebih mengerikan, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Mereka mendatangi club'malam, mencari orang yang berani menyamar menggunakan nama 'Kenzo' ayah mereka, bersama dua orang kakak angkat mereka, dan dua orang bodyguard. Orang gemuk yang menggunakan nama Kenzo itu dihajar hingga masih berada di rumah sakit sampai saat ini..." ucapnya yang memang bekerja sebagai security di club'malam.
"Satu lagi, aku dengar-dengar ibu mereka bahkan lebih sadis daripada kedua anaknya..." lanjutnya.
Dava mengenyitkan keningnya,"Mereka anak yang baik dan manis. Amel juga, dia pandai memasak, dan baik hati..." ucapnya tidak mengerti dengan penjabaran sahabatnya.
Hingga sebuah mobil berharga fantastis berhenti di depan warung. Menurunkan sepasang anak kembar, laki-laki dan perempuan.
"Paman Dava, aku membuatkan kue untukmu. Tapi maaf kuenya terlalu matang..." mata Febria berkaca-kaca, membawa sebuah paperbag.
"Paman, menginap lah di villa, kita main PS bersama..." Ferrell memegang tangan Dava.
Dua iblis ini, kenapa jadi jinak... Bagus hampir saja menjatuhkan gelas kopinya.
Tin...tin...tin...
Wanita rupawan bertubuh menggoda membuka kaca jendela mobil,"Sayang, ayo kita bersenang-senang malam ini..."
Wajah Bagus seketika pucat pasi, singa betina dan dua parasit pembunuh menjadi jinak di hadapan pria polos yang bekerja sebagai cosplayer di taman hiburan?
"Aku harus mengakhiri semua ini, sebelum iblis bernama Kenzo memenggal kepalaku..." gumam Dava, menghela napasnya berkali-kali.
Takut akan permainan yang dimulainya dengan istri orang lain. Permainan panas yang membuatnya kesulitan berhenti. Perlahan menginginkan keluarga itu menjadi miliknya sendiri.
"Nikmati, dan matilah dalam bahagia, karena malam ini kamu tidak akan dapat menahan diri. Berakhir pasrah di tempat tidur, menikmati tubuh istri iblis... kemudian mati dipenggal oleh suaminya..." teman Dava kembali tertawa tiada henti.
Namun, Dava berusaha benar-benar tegas kali ini berjalan mendekati Amel. Diikuti Ferrell dan Febria.
Aku harus mengakhiri ini, walau bagaimanapun dia istri orang lain...
Bersambung