
Moments yang terhenti, Amel yang telah memejamkan matanya, kemudian memanyunkan bibirnya. Tidak menemukan keberadaan bibir Kenzo, pemuda yang tengah menghela napas kasar menatap ke arah Nindy.
Akhirnya Amel membuka matanya, ikut menatap keberadaan Nindy, bagaikan makhluk astral yang datang tiba-tiba.
"Kalian akan berciuman!? Maaf menyela, tapi ini darurat..." Nindy tersenyum tanpa dosa.
***
Butik sudah akan tutup, Brandon, maaf salah Brenda kini tengah mengatur pembekuannya. Menekan-nekan tombol keyboard di komputer meja kasir.
"Akhirnya selesai, kalian boleh pulang..." ucapnya pada karyawan dan manager butik miliknya. Hingga tiba-tiba sebuah taksi berhenti di depan area butik menurunkan seorang tamu VVIP.
"Tunggu..." ucap Brenda masih mengingat wajah wanita yang turun dari taksi, memberi instruksi pada karyawannya,"Sambut dia ..." ucapnya.
Para karyawan, telah bersiap kembali, membukakan pintu untuk Amel,"Amel... semakin cantik saja..." ucapnya berjalan berlenggak-lenggok menghampiri, cium pipi kanan dan pipi kiri tanpa ragu. Merangkul pinggang Amel, berjalan menuntunnya masuk.
Hingga hawa dingin terasa, Kenzo yang berdiri di belakang Amel mengenyitkan keningnya,"Pria dan wanita harus menjaga jarak. Mengetahui batasan, hanya sebagai seorang kenalan,"
"Maaf... pacarnya Amel kan? Perkenalkan aku Brenda, sahabat Amel. Amel memilihkan setelan jas untukmu, apa ukurannya cocok?" tanyanya, mengulurkan tangannya penuh senyuman. Jemari pria dengan hiasan cat kuku, wajahnya? Brenda termasuk pria cantik.
Pria cantik? Mungkin bagaikan anggota boy band Asia timur yang memiliki kulit lebih halus dari pada kulit wajah seorang wanita. Tubuh yang sama tingginya dengan Kenzo. Namun bedanya pria ini lebih suka berpenampilan layaknya wanita. Lagaknya bahkan juga bagaikan wanita.
Kenzo menyambut jabatan tangan Brenda,"Kenzo....Dengar!! Dengan pakaian pria atau wanita. Jangan berani, menyentuh pacarku sembarangan lagi. Jika tidak aku benar-benar akan mengirim mu untuk operasi pergantian alat kelamin..."
Brenda mengenyitkan keningnya, memendam kekesalannya. Dirinya memang berpenampilan layaknya seorang wanita, bertingkah layaknya seorang wanita. Namun tidak memiliki penyimpangan sekssual, Brenda memiliki alasan menjadi seperti sekarang ini...
Mungkin akibat masa kecilnya yang buruk...
Brandon, itulah nama aslinya. Ibunya seorang nona muda, sedangkan ayahnya seorang pegawai kecil di sebuah perusahaan. Dirinya hidup dengan seorang pengasuh, di tengah orang tuanya yang terus-menerus berdebat.
Sang ibu terus-menerus menerima uang pemberian kedua orang tuanya yang dari kalangan atas. Membuat ego sang suami tidak dapat menerimanya. Walaupun hidup sederhana, dirinya masih bisa menghidupi anak dan istrinya. Apa yang kurang?
Brandon terus-menerus menangis dalam diam. Ibunya yang memang terbiasa dengan pergaulan ala sosialita, meninggalkannya di rumah setiap hari dengan sang pengasuh. Pengasuh yang bagaikan wanita panggilan, membawa kekasihnya ke rumah majikannya.
Membentak, bahkan mengunci Brandon di kamarnya. Sementara dirinya bersenang-senang berbuat tidak senonoh di rumah majikannya.
Anak itu meringkuk, sembari menangis menunggu sang pengasuh di kamarnya. Duduk menyender di pintu, dengan sabar hanya terdiam, menanti tubuh sang pengasuh usai dijamah. Menunggu dengan sabar, walaupun mulutnya terasa haus, perutnya terasa lapar.
Barulah pintu dibukakan, menyuapinya menggunakan sendok. Antara ikhlas dan tidak ikhlas, pasalnya jam makan siang Brandon membuat kegiatannya terganggu.
Sang kekasih telah pergi. Lega? Sudah usai? Sudah memiliki perhatian dari pengasuhnya sepenuhnya? Tidak, usai memberi dirinya makanan, sang pengasuh menyuruhnya tidur siang. Tidak segan-segan mencubit atau memukulnya jika tidak menurut.
Sang anak meringkuk berpura-pura tertidur, tidak ingin mengalami luka dan rasa sakit lebih banyak lagi. Hingga akhirnya sang pengasuh pergi, dengan pakaian minim. Menaiki mobil entah siapa yang menjemput.
Brandon yang memang belum tidur, mulai berjalan. Meringkuk di pojok ruangan, "Mama...papa ...aku takut sendirian di rumah ...." gumamnya menangis seorang diri.
Sore mulai menjelang, anak berusia lima tahun itu berusaha mandi seorang diri. Mencari remahan biskuit di lantai dan bawah sofa, memungut kemudian memakannya. Menjadi cemilan dari perutnya yang lapar. Membuka kulkas pun tidak ada apa-apa disana kecuali air, sayuran dan daging mentah.
Hingga suara mobil terdengar, sang pengasuh berlari menggati pakaiannya minimnya. Berpenampilan layaknya pengasuh profesional,"Jangan mengadu pada ayah dan ibumu!! Jika tidak, besok tidak akan ada yang memberimu makan siang!!" ancamnya.
Brandon hanya menangis, menghapus air matanya seorang diri. Mengingat sang ayah yang sibuk bekerja, sementara ibunya pulang ke rumah kakek dan neneknya, berjalan-jalan di mall, minum bersama teman-temannya di cafe. Layaknya wanita singgel yang tidak memiliki seorang putra.
Suara mobil kembali terdengar, pertanda ayah dan ibunya telah pulang. Senang, terlepas dari sang pengasuh?
Tidak, perdebatan itu terdengar lagi, Brandon mendekati mereka.
"I...ibu kita bermain..." pintanya.
"Ibu lelah, cepat tidur sana!!" bentak ibunya.
Tidur? Kenapa semua orang menyuruhku tidur... keluh seorang anak polos dalam hatinya.
"Ibu aku ...aku kita bermain...aku..." kata-katanya terhenti.
Sang ibu membentak penuh penekanan,"Kamu mengerti tidak! Ibu sudah kelelahan!! Bermain dengan pengasuhmu seharian, tidak cukup!! Anak tidak tau diuntung!! Ibu menyesal sudah hamil di luar nikah dengan ayahmu yang tidak bertanggung jawab!! Ibu menyesal menikah dan melahirkan anak pembangkang!!" ucapnya.
Melampiaskan rasa kesalnya pada sang suami, pada putranya yang tidak mengetahui apapun. Brandon hanya tertunduk, menahan tangisnya.
Bukannya berhenti untuk menghibur sang anak, ayahnya menyulut pertengkaran lebih besar lagi. Membanting sebuah vas bunga,"Kamu bilang apa!? Aku tidak bertanggung jawab!? Aku sudah menikahimu!! Apa yang kurang!! Andai kamu tidak hamil, aku sudah dapat beasiswa di universitas ternama!! Aku bekerja, tidak melanjutkan kuliah, mengorbankan semuanya untuk kalian!! Apa tidak cukup!? Andai Brandon dulu tidak ada di kandunganmu, mungkin jabatanku lebih tinggi sekarang!!"
Siang dan malamnya tidak pernah tenang, ketika pagi kembali menyapa, dirinya sarapan seorang diri di meja yang besar.
Sang pengasuhnya bahkan lebih berani lagi. Melakukan ciuman panasnya, di hadapan Brandon dengan membawa kekasihnya ke rumah majikannya.
Mengunci sang anak di kamar hingga siang, memberi makan, setelah itu memaksa sang anak untuk tidur siang dengan kasar.
Krieeet...
Brandon yang sejatinya tidak dapat tidur, mengintip keluar kamar. Sang pengasuh tidak memakai pakaian di ruang tamu, dengan kekasihnya yang duduk tanpa busana di sofa.
Tangan yang memegang sendok untuk menyuapinya tadi siang, bergerak. Membuat kekasihnya meracau merasakan kenikmatan. Bahkan menggunakan mulutnya.
Jijik, Brandon benar-benar merasa jijik. Anak itu berlari ke kamar mandi yang berada di kamarnya. Dirinya benar-benar muntah dengan ulah sang pengasuh pada kekasihnya.
Anak berusia 5 tahun menyaksikan hal yang menurutnya menjijikkan. Anak itu bahkan berkumur berulang kali, mengingat ilusi dari tangan sang pengasuh yang memegang sendok. Tangan yang sama dengan tangan yang memegang...
"Uuueeekk..." anak itu kembali muntah.
Air matanya mengalir, menatap pantulan dirinya di cermin. Dirinya suatu hari nanti akan menikahi wanita, melakukan hal yang menjijikkan. Memiliki anak, kemudian menyesali kehadiran anak mereka.
Hal yang terjadi setelahnya? Anak itu tidak pernah mau disuapi sang pengasuh lagi. Menyimpan roti sarapannya untuk makan siang. Sang pengasuh bagaikan tidak peduli, kembali membawa kekasinya setiap hari.
Mengunci Brandon ketika pagi hingga siang, dan memaksanya tidur setelahnya. Setiap hari Brandon yang hanya dapat tidur siang selama 30 menit, mendengar suara, bahkan adegan itu terlihat dari pintu kamarnya yang setengah terbuka. Hal-hal menjijikkan yang membuatnya ingin muntah.
Pria yang dibawa pengasuhnya menggunakan jari, bibir dan lidahnya pada...
"Aaggh..." racauan pengasuhnya yang mengerang tanpa busana di ruang tamu.
"Uuueeekk..." setiap siang, Brandon akan lemas di kamar mandi. Muntah tanpa ada yang mengetahuinya.
Mengadu? Satu kata yang diucapkan pada ibunya dijawab dengan bentakan, beralasan sudah lelah. Begitu pula dengan ayahnya, tidak ada yang mendengarkan kata-kata dari mulut kecilnya.
Hingga rasa jijik mejadi anti untuk menjalin hubungan bagaikan pasangan kekasih, tumbuh. Usianya sudah menginjak 17 tahun, sang pengasuh telah lama diberhentikan semenjak Brandon berusia 10 tahun, sedangkan kedua orang tuanya telah bercerai saat usianya 12 tahun.
Dirinya mengikuti, dan tinggal dengan sang ayah. Wajah Brandon yang rupawan, sifatnya yang supel membuatnya menjadi incaran banyak wanita. Namun, satu kata dalam dirinya, menjalani hubungan? Sama dengan bersedia melakukan hal yang menjijikkan suatu hari nanti. Bertukaran liurnya, bahkan tanpa busana, menjilati... Dirinya tidak dapat membayangkan, bagaimana akan menjijikkannya.
Hal yang membuatnya ingin muntah, setiap adegan itu terbayang.
Hingga, seorang gadis menyatakan cinta padanya, mengancam untuk bunuh diri jika ditolak.
Hal yang dilakukan Brandon? Pria itu tidak tega untuk menolak, tapi terlalu jijik untuk menerima. Hingga, berjanji memberikan jawaban esok harinya.
***
Dalam kamarnya Brandon terus berfikir, bagaimana caranya menolak sang gadis. Hingga satu cara difikirkannya, pemuda itu tersenyum, meraih kunci mobilnya guna membeli pakaian wanita.
Cantik? Benar-benar cantik sebagai seorang pria yang mengenakan pakaian wanita. Berjalan menghampiri gadis yang menyatakan cinta padanya,"Namaku Brenda mulai sekarang, maaf... inilah diriku yang sebenarnya," Brandon tersenyum, lebih baik malu, dari pada harus melakukan hal menjijikkan yang terbayang di benaknya hingga sekarang.
Sang gadis kehilangan kata-kata,"Ka ...kamu gay?" tanyanya.
"Menurutmu?" Brandon yang telah resmi menjadi Brenda tersenyum.
Lebih nyaman seperti ini. Berteman, tidak ada wanita yang akan mengejarnya atau berniat melewati batasan teman dengannya. Memiliki kekasih? Berumah tangga? Melihat orang berciuman saja, masih membuatnya jijik.
Hingga, setelah bertahun-tahun, kebiasaan memakai pakaian wanita dan bertingkah seperti wanita melekat dalam dirinya. Menjadi desainer? Mungkin karena dirinya sudah terbiasa, merancang pakaian, perlahan menjadi hoby, kemudian profesi.
Semua wanita memandang mencemooh pada dirinya. Para pria normal tidak ingin bersahabat dengannya. Dan pria tidak normal, mengejar dirinya, menyangka dirinya juga gay.
Tapi apakah Brandon gay? Tentu tidak, jiwanya masih laki-laki tapi, lebih nyaman berpenampilan menjadi wanita, untuk menutup hatinya. Tidak ingin memiliki kekasih, istri, atau anak. Berhubungan layaknya suami-istri...satu kata... menjijikkan...
***
Brenda menghela napas kasar, kemudian tersenyum,"Maaf, aku akan jaga jarak. Menjaga pisangku agar tidak di potong habis..." ucapnya.
Bersambung