
Dengan secepat kilat Kenzo menyelesaikan pekerjaannya, tanpa menjawab pertanyaan Amel. "Ayo pergi bersama!! Disini sudah selesai!!" ucapnya mendorong troli, sembari memakai masker, mengenakan sarung tangan karet super tebal, berjalan menaiki lift, menuju lantai 5
"Aneh..." cibir Amel berjalan mengikutinya.
Hingga sampai disana, Amel mengetuk pintu, dibukakan seorang wanita yang terlihat ramah, dengan bekas kemerahan di pipinya.
"Kami dipanggil kesini untuk membersihkan..." kata-kata Amel terhenti.
George tiba-tiba melangkah keluar, berjalan dengan cepat,"Aku ada meeting..." ucapnya melangkah pergi, meninggalkan Cindy di ambang pintu.
Wanita itu hanya tertunduk,"Masuklah, aku harus pulang. Tolong kalian bersihkan..." ucapnya, tersenyum dipaksakan, melangkah meninggalkan Amel dan Kenzo yang mulai masuk.
Sebuah meja dengan papan nama diatasnya bertuliskan 'George Herry', yogurt sialan itu terlihat pada akhirnya, di bagian bawah meja. Noda yang harus dibersihkan seorang Kenzo. Namun, apa pemuda itu bersedia?
"Ayo kita bersihkan, setelah itu istirahat makan siang!!" ucap Amel penuh semangat.
Namun Kenzo mencegahnya, "Kontaminasi..." ucapnya merogoh handphone di sakunya, menghubungi Frans yang tengah makan siang.
"Tuan..." ucap Frans dengan mulut penuh, tengah makan siang di area cafetaria.
"Ke ruangan George sekarang!! Dalam lima menit harus sampai," suara Kenzo terdengar dari sana, segera mematikan panggilannya.
"Baik..." Frans segera bangkit, berjalan cepat, menekan tombol lift menuju lantai 5.
Apa dia ketahuan? Semoga saja tidak, sudah satu tahun kami merencanakan ini... cemasnya dalam hati, sesekali berlari kecil.
Hingga ruangan George terlihat juga, dua makhluk itu berdiri tanpa pergerakan sama sekali. Bagaikan menanti kedatangan Frans.
"Ada apa?" tanyanya penuh keseriusan, menelan sisa makanan dalam mulutnya tanpa minuman.
"Ada kontaminasi, tolong bersihkan..." ucap Kenzo memberikan sarung tangan tebal pada Frans.
"Jika kamu tidak mau, kenapa tidak suruh Amel saja..." komat-kamit Frans tidak mengerti dengan isi fikiran Kenzo.
"Aku sudah mengatakan ingin membersihkan nya, tapi dia bersikeras menunggumu," Amel menghela napas kasar.
"Sudah aku bilang, jangan menyentuhnya, ini kontaminasi..." ucap Kenzo tegas, kembali menyodorkan sarung tangan karet tebal pada Frans.
Bukannya meraih sarung tangan, pemuda itu dengan santainya, mengambil beberapa lembar tissue. Mengelap sesuatu yang katanya tumpahan yogurt. Kemudian membuang tissuenya ke tempat sampah.
"Beres kan?" ucapnya tersenyum mencibir, memperagakan dengan gerakan tangan sedikit mengejek.
Kenzo mengenyitkan keningnya, "Aku salut pada rasa tidak jijik sama sekali, milikmu. Seharusnya kamu memakai sarung tangan. Itu tadi bukan yogurt... tapi..." kata-kata Kenzo terhenti, membisikkan sesuatu pada Frans, tidak ingin Amel mendengarnya.
Seketika wajah Frans pucat pasi, mengetahui segalanya. "Kenzo sialan!!" teriaknya berjalan berlari meninggalkan mereka berdua, mencari toilet terdekat yang ada di lantai tersebut, guna membersihkan tangannya.
"Dia kenapa?" tanya Amel tidak mengerti.
"Tangannya terkontaminasi perlu distrilisasi. Jika perlu diamputasi sekalian," Kenzo mati-matian menahan tawanya. Menarik Amel meninggalkan ruangan, sebelum Amel melanjutkan untuk mengepel sisa yogurt yang katanya tumpah.
***
Hari mulai sore, tidak ada yang terjadi setelahnya, Kenzo dan Amel menunggu bis di depan halte. Seorang yang mereka pernah temui duduk di sana, beberapa kali mencoba menghubungi seseorang.
Perlahan wanita itu mulai menangis terisak. Kenzo mengalihkan pandangannya, seolah tidak melihat apapun, sedangkan Amel tidak, mendekati wanita itu memberikan sekaleng soda yang selalu berada dalam tasnya. Sesuatu yang dimiliki Kenzo.
"Minumlah agar lebih tenang, omong-ngomong bibi kenapa?" tanyanya penuh rasa penasaran. Pasalnya raut wajah Cindy memang terlihat kurang begitu baik, sedari tadi siang saat berpapasan dengan mereka.
Cindy yang sudah tidak memiliki orang tua atau sahabat sebagai tempatnya bersandar, atau sekedar bicara, menghela napas kasar, berusaha untuk tenang,"Aku sudah berjanji akan membawa ayah dari anak-anakku menemui dan bermain bersama mereka. Tapi suamiku harus menemui klien malam ini, jadi..."
"Bagaimana jika aku yang menemui mereka, aku bisa menjadi badut berkostum," ucapnya tersenyum, raut wajah Cindy yang dimengertinya, bagaikan raut wajah Wina yang membesarkannya, merawatnya ketika sakit.
"Perkenalkan aku Amel, aku pernah bertemu bibi saat di kantor tadi siang..." ucapnya tersenyum mengulurkan tangan.
"Cindy, kamu office girl yang tadi siang aku..." kata-kata Cindy terhenti, Kenzo mendekati mereka, menatap tajam pada Amel.
"Tidak boleh ikut campur urusan orang lain, kita harus pulang..." tegasnya.
"Aku hanya ingin membantu menghibur anaknya. Dasar kaku!! Pulang saja sendiri!!" komat-kamit Amel tidak dapat menahan kekesalannya lagi.
Kenzo memejamkan matanya sejenak, meredam emosinya,"Jangan lupa pulang dan tidur denganku..." hanya itu kata-kata yang terucap dari bibirnya. Kala bis dengan jalur tujuan mereka sudah sampai.
"Iya aku akan pulang!!" bentak Amel kesal. Menatap bis yang telah melaju membawa makhluk penindas itu pergi.
Entah kenapa, raut wajah Amel terlihat kecewa. Harapannya? Kenzo akan memutuskan untuk mengikutinya. Menguji, mungkin itulah yang ada difikirkannya. Apa Kenzo benar-benar menyukainya? Atau sekedar omong kosong untuk menganggu nya saja.
"Pria keji..." cibirnya.
"Dia pacarmu?" Cindy mengenyitkan keningnya, sedikit tersenyum, menatap pertengkaran mereka. Perang dingin, namun dari tatapan matanya Kenzo terlihat tidak pernah lepas dari Amel. Bahkan ketika bis sudah melaju pun Kenzo masih menatap wajah Amel, bagaikan mencemaskan, namun menyembunyikan perasaannya.
"Tidak, aku adalah boneka Teddy bear-nya yang mahal. Dia hanya mencemaskan tidurnya yang berkualitas saja..." geram Amel.
"Kalian pasangan yang serasi," Cindy tersenyum, bukan dari fisik. Tetapi sifat, dua orang yang mungkin terlihat akan saling melengkapi. Memiliki keterikatan.
***
Amel yang mudah akrab dengan orang lain, akhirnya merasa memiliki teman baru. Cindy tipikal orang yang cukup ramah untuk diajak bicara. Pergi bersamanya menuju sanatorium, membawa kue, tentunya dengan Amel memakai kostum beruang.
Kriet...
Pintu itu terbuka, terlihat seorang anak kecil dengan wajah pucat, tanpa rambut di kepalanya serta satu anak lagi yang memiliki wajah serupa. Terlihat lebih sehat, itulah sosok Agam dan Agler.
"Ibu, ayah...apa dia..." tanya Agam penuh harap, matanya menelisik, namun hanya ada seseorang berkostum beruang disana, tanpa sosok sang ayah.
"Maaf, mungkin lain kali, ayah kalian ada pekerjaan lain," Cindy menatap iba pada wajah kedua putranya yang tertunduk.
"Apa ayah tidak menyayangiku lagi? Apa karena aku sakit..." Agam mengepalkan tangannya, menitikan air matanya.
"Bukan seperti itu, ayah kalian mencari uang untuk kalian..." kata-kata Cindy terhenti, Agler berucap penuh amarah padanya.
"Warisan kakek dan nenek sudah cukup banyak!! Tidak bisakah ayah, tidak menjual waktunya semalam saja!! Agam kesakitan setiap menjalani kemo!! Tapi ayah dimana!? Bahkan menjenguk sekalipun tidak pernah!!" bentaknya.
Cindy hanya menunduk dan terdiam tidak dapat menjawab. Dirinya cukup berusaha, namun hanya dirinya.... Sang anak juga akan merindukan ayah yang tidak merindukan mereka.
Amel menitikan air matanya di balik kostum, menyaksikan segalanya. Mendekati mereka berusaha tersenyum. "Aku adalah beruang, jangan menangis lagi, ayo kita makan kue!!" ucapnya penuh ceria.
Namun, semua hanya terdiam, suasana hening, Apa yang harus aku lakukan... canggung... gumam Amel dalam hatinya.
Hingga...
Plak...
"Boneka Teddy Bear-ku ternyata berada di sini. Apa kalian mencurinya..." suara seorang pemuda terdengar, memukul kepala Teddy Bear.
"Kenzo..." Amel mengenyitkan keningnya.
"Tidak, dia melarikan diri seorang diri kemari, dasar Teddy Bear nakal!! Bagaimana jika sebagai ganti sudah menjaga Teddy Bear-ku yang bodoh, kami akan menemani kalian bermain semalaman..." ucapnya tersenyum ramah.
Kedua anak tertegun, mulai berhenti menitikan air matanya. Tersenyum, menahan tawanya...
Bersambung