
🍀🍀🍀🍀Plot ini sebenarnya ingin aku tahan dulu. Tapi karena ada yang tanya tentang Keyla, kita bahas sekilas dulu...ok...😉🍀🍀🍀🍀
Saat ini, Singapura, hotel yang disewa Keyla...
Plak...
Satu tamparan membuat pipinya terasa kebas, seorang wanita tertunduk dengan rambut panjangnya. Sudut bibirnya berdarah setelah dipukuli sang suami.
Suami hasil dari perjodohan almarhum kedua orang tuanya. Mika, seorang wanita berusia 50 tahun, harus menerima kenyataan yang lebih pahit lagi. Dirinya rela dimadu demi anak perempuannya, tidak ingin sang anak kehilangan sosok ayah.
Tapi kini? Bukan hanya berbagi cinta sekali saja, dengan yang lebih muda. Kali ini bertambah satu lagi, istri simpanan sang suami.
Lelah... dirinya sudah cukup lelah dengan menyusul sang suami ke Singapura.
Istri yang mulia harus mengikuti kata-kata suami, istri yang mulia tidak boleh membantah kata-kata suami, istri yang mulia harus menemani sang suami susah maupun senang.
Itulah petuah almarhum kedua orang tuanya, petuah yang diturutinya hingga kini. Selama 20 tahun batinnya merasakan sakit, seorang madu yang 10 tahun lebih muda darinya, Mika kira sudah cukup. Tapi ini? Wanita yang bahkan terlihat berusia sekitar 25 tahun, seusia dengan putrinya.
Bercinta dengan suaminya, menjadi istri simpanan. Uang? Tidak adil sama sekali, Mika yang bersetatus istri pertama hidup di rumah kecil dengan kiriman uang 1.000.000 per bulan. Istri ke dua tinggal di rumah mewah dengan pekarangan luas, beserta banyak pelayan. Uang bulanan yang didapatkannya? Entahlah...
Kini ditambah lagi dengan istri ke tiga, berbalut perhiasan serta pakaian bermerek, berlibur ke Singapura.
Mika memegangi pipinya yang bengkak, menangis tiada henti. Sudah lima tahun Antoni (suami Mika) tidak menemuinya, mengatakan terlalu sibuk dengan perusahaan batu baranya.
Hingga Kristin, sang anak yang bekerja di sebuah toko kue, mengumpulkan uang untuk ibunya yang renta. Ibu yang sejatinya, memiliki penyakit liver. Berharap sang ibu dapat bertemu dengan ayahnya.
Sebelum ajal menjemputnya, mengingat dokter yang sudah tidak memiliki solusi. Cangkok hati? Tidak dapat dilakukan, kerusakan organ berada terlalu dekat dengan pembuluh Vena, terlalu beresiko. Selain, tidak ada donor yang cocok, setelah bertahun-tahun menunggu.
Kristin sudah berusaha, menatap sang ibu yang semakin lemah setiap harinya. Menanti sang suami menemuinya hanya untuk sekedar melepas kerinduan sebelum ajal menjemputnya, hingga pada akhirnya Kristin menggunakan seluruh uangnya untuk menemui sang ayah yang berada di Singapura.
Namun tidak disangka, wanita cantik nan menggoda menampar ibunya yang renta. Bahkan sang ayah bukan menghadiahi mereka dengan pelukan hangat, namun tinjuan yang melukai sudut bibir ibunya.
"Ayah...ibu sakit, ayah tidak merindukannya?" tanya Kristin berurai air mata, membantu sang ibu untuk bangkit dari lantai.
"Sakit? Tapi masih bisa menyusul ke Singapore. Sayang, mereka hanya ingin menipumu, meminta uang untuk berobat, padahal uangnya dipakai bersenang-senang..." Keyla, memegang erat, lengan suaminya. Dengan wajah tidak berdosa, meyakinkannya.
"Tau kenapa aku menikah lagi!? Lihat ke kaca wajah ibumu yang keriput!! Lulusan sekolah dasar!! Bahkan jika dia benar-benar sakit...aku hanya ingin berkata.... Dasar penyakitan! Lebih baik cepat mati daripada menyusahkan semua orang..." ucap pria itu, pria yang berusaha dicintai Mika dahulu.
Air mata Mika mengalir, apa sebaiknya dirinya memang mati saja?
Datang merantau dari desa ke kota bersama suaminya, menjalani hidup yang sulit. Bahkan sempat memakan nasi aking, satu piring berdua. Hidup yang benar-benar sulit dengan seorang anak balita bernama Kristin.
Menyaksikan semakin pria yang dicintainya itu mapan, semakin berubah dingin pula sifatnya. Semakin, tidak mencintainya lagi, keriput? Semua manusia akan berakhir membusuk di bawah tanah. Apa hanya keriput yang menjadi alasannya?
Dipoligami dengan istri kedua, kembali di poligami dengan istri simpanan yang masih muda, mungkin seumuran putrinya. Rasanya menyakitkan, benar-benar menyakitkan, menjadi wanita yang tertunduk tanpa harga diri.
Mika tidak menjawab masih terus menitikan air matanya. Tubuhnya benar-benar lemah akibat perjalanan jauh, beban fikiran, luka pada pipinya yang bengkak akibat hantaman dan tamparan. Bicarapun dirinya selalu salah di mata sang suami. Bahkan diamnya juga salah.
"Kristin! Kamu sudah cukup dewasa, jadi ayah tidak akan mengirimkan uang untukmu dan ibumu lagi. Belajarlah mandiri..." ucap Antoni menatap putrinya.
"A...ayah apa ayah tidak mencintaiku dan ibu lagi?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca. Masih teringat jelas dibenaknya, kala mereka menjual makanan ringan di pinggir jalan di masa kecilnya. Kala sang ibu yang dengan sabar membatu ayahnya, membuatkan kopi.
Hari-hari yang bahagia bagi Kristin. Tapi kini dirinya dan sang ibu terbuang. Kasih sayang mereka kalah oleh tubuh molek dan kecantikan, membuat sang ayah melupakan orang-orang yang menggenggam jemari tangannya kala hanya dapat memakan nasi berlaukkan mie rebus satu bertiga, di tengah hujan deras, atap yang bocor, dalam keluarga yang hangat.
"Anak tidak berbakti!! Aku membiayai sekolahmu!! Sekarang begini prilakumu!!" Antoni mengangkat tangannya hendak menampar Kristin.
Plak...
Namun tanpa diduga, Mika menjadi perisai baginya. Kembali menerima tamparan dari sang suami. "Antoni, aku minta maaf..." Mika berusaha tersenyum, kemudian menunduk.
"Kita berpisah sampai disini. Jalan kita untuk melangkah beseberangan. Jangan memaki Kristin lagi... rumah dari hasil jeri payah kita dahulu. Aku kembalikan padamu, sebagai gantinya tolong jangan menganggap Kristin putrimu lagi..." lanjutnya dengan tangan mengepal, air matanya mengalir.
Sudah terlalu lelah, tidak ingin kehidupan putrinya terusik oleh istri ke dua sang ayah dan anaknya. Atau istri simpanannya yang lebih keji.
"Mereka hanya akan mempersulit hidupmu.... Percayalah padaku..." Keyla meyakinkan.
Antoni mengepalkan tangannya, Keyla benar, seorang anak lulusan SMU, istri sakit-sakitan membutuhkan biaya besar. Sedangkan Keyla yang masih muda dan rupawan ada di sampingnya.
Anak? Dirinya memiliki seorang anak lain dari istri keduanya yang masih cantik dengan biaya perawatan tidak sedikit, jadi istri pertama yang sakit-sakitan hanya akan menyusahkan hidupnya."Kita berpisah, biar kalian mati dijalanan!! Aku akan segera menyuruh orang mengurus perceraian..."
Kristin menitikan air matanya. Jemari tangannya mengepal, melemparkan kutukan,"Demi wanita ini ayah tidak menginginkanku dan ibu lagi?" tanyanya meyakinkan.
Air matanya mengalir deras,"Jal*ng!! Siapapun namamu. Ingat sumpahku, aku tidak akan pernah membiarkanmu bahagia. Dan ayah... maaf, salah tuan Antoni,"
"Almarhum nenekku mewariskan sebidang tanah untukku. Aku akan segera mengirimkan sertifikatnya...itu biaya karena sudah menggedong dan menyuapi nasi pada mulutku. Mulai hari ini, aku adalah anak yatim!! Ayahku yang seorang pedagang keliling, sudah dipanggil oleh Tuhan!!" senyuman dalam derai air mata mengalir di pipinya. Membimbing sang ibu, menggenggam erat jemari tangannya.
Tangan Antoni mengepal ingin rasanya menghentikan putrinya. Namun, Keyla mengecup pipinya penuh senyuman, kembali membuatnya terbuai hingga melupakan semua masalahnya.
Sudah mati? Mungkin Kristin benar, Antoni yang membimbingnya dan ibunya berkeliling menjual snacks dan kopi sudah dipanggil Tuhan. Pria baik hati itu sudah tidak ada, rupanya telah berganti menjadi pengusaha batubara kaya yang mencintai rupa cantik.
Ayahku sudah tidak ada lagi.... Kristin masih merangkul tubuh lemah ibunya dengan air mata terurai. Tangisan yang seakan menyiratkan rasa sakit teramat dalam, lebih memilih menganggap ayahnya sudah mati, daripada berdosa karena membenci tuan Antoni.
Berjalan memanggil taksi menuju kembali ke bandara. Kembali ke bandara? Kenapa harus sekarang mereka baru sampai di Singapura?
Uang mereka tidak banyak, mengharapkan sang ayah untuk menjadi tempat mereka tinggal di Singapura selama beberapa hari, tapi tidak mungkin bukan? Hingga dari pada tidak memiliki tempat berteduh, lebih baik langsung kembali ke bandara pulang ke negaranya.
Namun, tubuh itu memang sudah tidak kuat lagi. Sesekali Mika terbatuk-batuk dengan mulut mengeluarkan darah segar.
"Ibu... bertahanlah, satu jam lagi kita pulang. Pesawat akan take off..." Kristin menggengam jemari tangan ibunya erat, takut kehilangan? Itulah perasaannya saat ini. Mencium wajan keriputnya berkali-kali, mendekap wajah yang semakin pucat saja.
Tidak dapat membawanya ke rumah sakit di Singapura. Sekali lagi, uang menjadi alasannya. Merangkul bahu sang ibu,"Maaf aku tidak berguna, tidak memiliki banyak uang..." ucapnya lirih, tidak tega pada kondisi ibunya.
Mika menggeleng, kemudian tersenyum,"Semua keinginan ibu sudah berusaha kamu penuhi. Jika ibu tidak ada nanti, lupakan semuanya, mulailah hidup yang baru..." ucapnya dengan bibir memutih.
Kristin mengganguk dalam derai air matanya. Tidak memberikan semangat hidup lagi? Kristin menginginkannya, namun telah tiga tahun ibunya menderita akibat penyakitnya. Dirinya menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri.
Siapa yang menginginkan ibu yang melahirkan serta membesarkannya tiada? Tapi jika bisa memohon, Kristin ingin ibunya tetap hidup, bisa tertawa dan tersenyum bersamanya seperti dahulu. Namun, Tuhan seperti sedang mengujinya, sang ibu sering muntah, panas tinggi, mengeluarkan darah dari mulutnya.
Wanita yang takut pada jarum, harus berkali-kali diinfus.
Lama menunggu, akhirnya pesawat take off juga. Menyisakan padangan ibu dan anak dengan luka di hatinya.
Tiga bulan kemudian...
Surat putusan perceraian ibunya telah keluar, bersamaan dengan pemakaman sang ibu.
Ibunya telah terlepas... terlepas dari statusnya sebagai seorang istri, yang hanya dapat menitikan air matanya setiap hari. Merindukan suaminya, merindukan punggung pria yang datang ke kota bersamanya dari kampung.
"Ibu...apa ibu bahagia?" tanyanya berurai air mata, membelai batu nisan di hadapannya."Tidak merasakan sakit lagi. Aku menyayangi ibu, karena itu pergilah dengan tersenyum..." ucapnya menitikan air matanya tiada henti.
Gadis itu menggenggam tanah pekuburan ibunya yang masih basah,"Aku sudah bersumpah, tidak memiliki ayah lagi. Dan rubah itu, aku bersumpah akan menghancurkan hidupnya, tidak akan pernah membiarkannya tersenyum..."
Bersambung
...Sejatinya kemuliaan seorang ibu dari anak yang dididik dan dibesarkannya penuh kasih....
...Semakin berbakti dan berbudi luhur sang anak, semakin pula sang ibu dapat mengangkat kepalanya di hadapan Tuhan nanti......
...Sayangilah ibumu saat dirinya masih dapat melihatmu, masih memijak bumi, masih bernapas......
...Jika dia telah pergi menghadap-Nya. Sampaikan salam kerinduanmu melalui malaikat, katakan dengan doa yang tulus... ...
...Anaknya akan selalu mencintainya, dimana pun dirinya berada......
Author...