My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Adikku Yang Malang



Elina menarik kopernya, tidak mengatakan kedatangannya pada satupun anggota keluarganya. Wanita karier cantik nan menggoda, pria mana yang tidak tertarik padanya, melewati area bandara, menjadi pusat perhatian para hidung belang.


Putri Kenzo yang paling sulit diatur itulah dirinya. Bahkan Elisha yang duduk di kursi roda kini telah menikah dengan seorang jaksa. Cinta yang berawal dari sebuah kasus, sang jaksa berhati dingin mendatanginya Elisha yang memiliki keahlian di bidang IT meminta bantuannya menyelidiki beberapa kasus, berjanji akan melindunginya sebagai saksi. Tidak disangka sang jaksa tampan nan tangguh, melawan beberapa pejabat yang memiliki kekuasaan tinggi. Bertaruh nyawa melindungi Elisha. Hingga akhirnya mereka berhasil menjebloskan beberapa beberapa politikus ternama ke dalam penjara.


Tidak ada wanita yang berhasil berada di samping sang jaksa, kecuali Elisha, yang tulus padanya, saling mengasihi dan melindungi. Perlahan perasaan itu tumbuh diantara mereka, hingga akhirnya menikah dan kini adiknya yang seumur hidupnya duduk di kursi roda itu telah memiliki dua orang anak yang sehat. Suami yang menyayangi dan menjaganya.


Joe? Pria dengan rambut pirangnya itu menikahi seorang dokter gigi. Berawal dari kebiasaannya yang sering pergi ke klinik sang dokter wanita cantik. Hingga sang dokter jenuh, menatap giginya yang sehat tersusun rapi. 'Kali ini apa alasanmu datang?' tanyanya saat itu.


Joe datang dengan beberapa musisi berlutut memberikan cincin. Menikahi sang dokter wanita cantik tanpa sempat berpacaran terlebih dahulu. Adik laki-lakinya itu juga telah dikaruniai seorang anak perempuan yang manis.


Apa yang salah dengan sang kakak tertua yang paling cantik dan sempurna? Semua adik-adiknya telah menikah, diawali dengan pernikahan Scott, Elisha dan Joe.


"Syukurlah Febria dan Ferrell masih kecil belum menikah. Si Ultraman rambut putih, dimanapun dia bersembunyi, pasti juga belum menikah, dia terobsesi pada Febria..." gumamnya, walaupun singgel berusia hampir 40 tahun dirinya tetap percaya diri. Alasannya? Masih ada tiga orang adiknya yang belum menikah.


Father complex, mungkin itulah yang dialaminya. Ingin memiliki pasangan seperti ayahnya Kenzo, karena dirinya sesempurna ibunya Amel. Tidak ada satu pria pun yang dapat memikat hatinya, kecuali tentunya mengagumi sosok sang ayah yang bagaikan pahlawan berhati dingin. Membeli dirinya kala akan dijual untuk menjadi wanita penghibur. Pria yang memakai setelan hitam lengkap dengan topinya.


Awalnya dirinya mengira akan menjadi remaja di bawah umur pemuas napsu di tempat tidur. Tapi tidak, Kenzo tersenyum, 'Mulai sekarang, aku adalah papamu...' ucapnya saat itu, memperkenalkan dirinya pada Scott yang berusia lebih muda namun diadopsi lebih dulu.


Satu persatu, Kenzo membawa anak-anak lainnya. Membuatnya benar-benar mengangumi sang papa, yang tidak melecehkannya. Hingga dirinya menatap kedatangan Amel, wanita cantik, pintar yang diperkenalkan Kenzo sebagai kekasihnya. Sekaligus calon ibu dari mereka.


Dirinya tidak iri, tapi bahagia dengan kehadiran Amel, ayahnya semakin sering tersenyum. Hingga hari itu tiba, sang ayah tiba-tiba dinyatakan menghilang, lebih tepatnya meninggal terjatuh ke laut. Rasa takut menghampiri dirinya, apa setelah menghilangnya sang ayah, Amel akan mengusir mereka? Menguasai seluruh harta peninggalan ayah angkat mereka untuk dirinya sendiri.


Namun, ternyata tidak Amel menangis memeluknya dan adik-adiknya. Berkata jika kita harus kuat dan menunggu Kenzo kembali. Saat itulah dirinya benar-benar kagum, ingin menjadi seperti Amel dan menemukan sosok seperti Kenzo.


Sebuah impian yang membuatnya bertahan sebagai perawan tua cantik nan menggoda. Semua sertifikat telah dimilikinya sebagai calon istri yang baik, memasak, mengurus bayi, merangkai bunga, menjahit, pemegang sabuk hitam karate, ahli dalam latihan menembak. Walaupun dalam IT bukan keahliannya, tapi dirinya lebih mampu memegang tanggung jawab mengendalikan perusahaan besar di bandingkan adik-adiknya yang lain.


Wanita sempurna sepertinya pantas mendapatkan pria yang sempurna...


Hingga langkahnya terhenti, mencoba menghubungi Febria, setelah menggati nomor phoncellnya sesuai kode akses negara.


***


Suara phoncell berdering terdengar di atas meja ruang tamu rumah yang dibeli Steven. Seorang pemuda baru sampai disana sekitar satu jam yang lalu. Tujuannya? Menyambut Febria sebagai adik iparnya, sarapan bersama usai upacara pernikahan.


Namun, angan tinggal angan, tidak ada satu orangpun yang menjawab panggilannya. Pintu kamar utama juga terkunci, pertanda keinginannya terwujud. Penerus keluarga Hudson tengah dibuat adiknya tersayang.


Keturunan keluarga yang mewarisi gen unggulan mereka, seperti saudara-saudara mereka yang telah meninggal. Semuanya berwajah mirip, hanya berbeda usia, model rambut, dan tinggi badan. Mungkin yang paling jauh berbeda rupanya hanya Steven ketika kecil, karena mengidap sebuah kelainan, istilah lainnya Albinisme. Kelainan yang membuatnya dikucilkan, oleh kakak-kakaknya. Tidak dipungkiri dirinya juga ikut andil saat itu merundung sang adik.


Rambutnya yang putih, kulit pucat, mata biru, membuat dirinya bagaikan siluman ular putih, dalam serial drama Asia Timur yang sering ditonton almarhum ibu mereka. Memiliki fisik yang paling lemah dan hati yang paling baik. Steven yang tidak tahan melihat pembunuhan, melarikan diri dari rumah yang dijaga ketat.


Entah siapa yang membatunya melarikan diri. Yang pasti ayah mereka, Victor Hudson sangat murka saat itu. Mencari di wilayah sekitar, juga sulit, mengingat daerah sekitarnya terdapat konflik bersenjata. Tidak ada orang yang meminta tebusan, atas hilangnya adik bungsu mereka.


Pada akhirnya, saat tersisa hanya dirinya yang lumpuh. Seluruh daya upaya dikerahkan sang ayah, berbagai negara ditelusurinya. Hingga jejak akhir sang adik mengirimkan pesan dirinya berada di salah satu jembatan di Singapura. Menyerahkan diri, atas suatu alasan, entah apa ...


Tangan Eden mulai mengangkat panggilan di phonecell Febria yang berdering, tidak ingin Steven terganggu melakukannya,"Febria! Dimana kamu tinggal saat ini? Ini aku Elina, aku ingin menginap..." ucap seseorang dari seberang sana tanpa jeda.


Eden mengenyitkan keningnya,"Febria sedang sibuk, berada di ranjang pimpinan kami," ucapnya ambigu.


Seketika, Elina terdiam sejenak, dengan wajah pucat pasi."Pe... pemimpin?" tanyanya.


"Benar, aku Eden Hudson dari Dark Wild. Jangan ganggu adikku, yang sedang memuaskan tubuh adikmu," jawabnya mematikan panggilannya sepihak.


Tangan Elina yang masih berada di bandara seketika gemetar. Keluarga Hudson? Dark Wild? Salah satu kelompok mafia yang cukup memiliki pengaruh. Kini pemimpin mereka sedang meniduri adiknya.


Tubuh memar penuh luka tanpa sehelai benangpun dari seorang Febria. Pemain Harpa yang manis, kini tersiksa dipaksa melakukan hubungan layaknya suami istri berkali-kali, bahkan dipaksa melakukan sesuatu yang tidak lazim dalam berhubungan. Itulah imajinasi liarnya.


Elina mengepalkan tangannya tidak terima, adiknya disekap dan hanya dipaksa dijadikan pemuas. Mengikuti imajinasi liarnya.


Dirinya mulai mengeluarkan earphone, menghubungi seseorang,"Halo, ini aku Erlina. Tolong selidiki dimana saja kediaman keluarga Hudson di negara ini, cepat!!" perintahnya, pada seseorang informannya.


Tangannya mengepal, tidak dapat menerima adiknya yang polos di lecehkan secara paksa. Menerima perlakuan tidak manusiawi.


***


Sementara itu di dalam kamar, "Kamu tidak lelah?" tanya Steven tersenyum, merapikan anak rambut Febria yang kini ada diatas tubuhnya.


"Diam! Dan lakukan saja..." bisiknya di dekat leher Steven.


Pemuda itu kemudian diduduk diatas tempat tidur. Memposisikan Febria agar ada di pangkuannya, mata mereka saling menatap, dalam senyuman.


"Ah..." pekik Febria, merasakan penyatuan kembali.


Bibir mereka bertautan, tepat tidur kembali berguncang pelan. Hingga deru napas tidak teratur dari mereka. Steven bergerak lebih intens, mempermainkan dua benda di hadapannya menggunakan mulut dan lidahnya.


Febria menjambak pelan rambut coklat pemuda itu. Steven benar-benar pandai melakukannya.


Hingga pada akhirnya mereka benar-benar kelelahan, usai perasaan hangat kala benih-benih itu menyelami rahim sang ibunya. Sebuah pekikan panjang yang terjadi bersamaan, membuat sekujur tubuh mereka bagaikan bergetar.


Hingga pada akhirnya berbaring berdua dengan tubuh yang hanya ditutupi selimut. Mulai tertidur, melupakan sarapan mereka yang ditinggalkan Steven di atas meja.


Bahagia? Tentu saja, berharap benih yang berada dalam rahim istrinya segera berkembang. Penyakit yang menyerangnya? Gagal jantung kongestif. Dirinya sudah mengetahui dari dua tahun lalu, mencari donor transplantasi secara legal dengan mendaftarkan dirinya ke rumah sakit. Menggunakan inisial nama lain.


Tidak ingin semua ini diketahui Eden yang mungkin akan membeli di tempat peradangan manusia. Atau mungkin melakukan tes pada orang-orang mereka, memaksanya mengakhiri hidup jika menemukan yang cocok. Agar dirinya dapat hidup.


Steven tidak ingin, tidak membutuhkan itu. Dirinya akan menunggu, pasien mati otak atau seseorang yang mewasiatkan untuk mendonorkan seluruh organnya. Walaupun dirinya sadar, akan sangat sulit menemukan yang sesuai.


Silent Killer, itulah julukan untuk penyakitnya, dapat sewaktu-waktu membunuhnya. Bahkan ketika dirinya terlihat tersenyum di meja makan bersama istri dan anaknya nanti. Atau bahkan dapat membunuhnya detik ini juga, dengan atau tanpa rasa sakit.


"Aku mencintaimu, terimakasih sudah memberikanku kesempatan untuk menjadi seorang suami..." ucapnya, menitikkan air mata, mencium pucuk kepala Febria yang tertidur lelap dalam dekapannya.


Bersambung


...Maaf......


...Hanya sesal yang akan ada nanti, kala waktuku untuk menemanimu telah usai......


...Aku tetap ingin berharap memiliki umur yang sedikit lebih panjang. Bertambah satu hari, juga aku sudah sangat bahagia......


...Hari dimana aku ingin mendekapmu setiap saat. Mendengarkan anak kita yang akan tumbuh dalam rahimmu......


...Tapi apakah akan sempat? Aku bahkan tidak tau. Satu jam lagi aku akan masih hidup atau sudah mati untuk meninggalkanmu......


...Percayalah... aku mencintaimu, walau akan pergi ketika Tuhan meminta nyawaku......


Steven...