
Kecerdasan istrinya, serta orang-orang dari Dark Wild yang sebelumnya hanya membuat obat-obatan terlarang kini berada di bagian penelitian obat, orang-orang yang terlihat lebih bersemangat memproduksi obat untuk menyembuhkan dan menyelamatkan banyak nyawa dari pada obat-obatan terlarang. Berpengaruh besar pada perusahaannya. Ini bulan ke tiga perusahaan itu berdiri namun berkembang cukup pesat, ditambah dengan Zen yang memiliki koneksi dan pengalaman.
Bagaikan semua rencana Steven akan berhasil tersusun sempurna. Tinggal pabrik senjata yang cukup rumit mengurus perijinannya.
Febria kini ada dipangkunya, disuapi makan siang olehnya. Tersenyum menikmati waktu makan siang dengan lebih berkualitas.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, pertanda makhluk penggagu itu kembali datang. Febria merapikan penampilannya, termasuk lipstiknya yang berantakan akibat ciuman panas sebelum makan siang. Dengan cepat menjadi sekretaris kaku berpenampilan biasa-biasa saja, duduk di kursi mejanya sembari menikmati makan siang. Sementara Steven menipiskan bibir menahan tawanya.
"Masuk..." ucap Steven, kembali tertunduk konsentrasi memakan makanan siangnya.
Dan benar saja wanita berlekuk tubuh indah itu masuk. Memakai mini dress yang memperlihatkan belahan dadanya, benar-benar pendek di bagian pahanya. Seolah-olah bersiap-siap untuk melakukan adegan dewasa di ruangan Steven. Kotak bekal dibawanya, berisikan beberapa jenis makanan.
"Sayang, aku membawa makan siang untukmu! Kenapa kamu malah sudah makan!?" ucapnya manja bagaikan penuh kekecewaan.
Steven menghela napas kasar, sebenarnya sudah jenuh namun harus tetap berpura-pura tersenyum demi keselamatan Febria. Apalagi kala wanita itu mendekatinya, hendak menciumnya.
"Sayang!! Ada Febria disini!" seperti biasa Steven akan menjadikan istri rangkap sekretarisnya sebagai perisai. Mendorong wajah yang sudah memejamkan mata, memanyunkan bibirnya, bagaikan siap sedia menyerang Steven.
"Suruh saja dia keluar kamu kan bosnya. Lagipula Febria sudah dewasa, dia akan mengerti. Iya kan Febria?" bisik Fransisca, menyenderkan kepalanya di bahu Steven.
Sial, alasan apa lagi sekarang... gumam Steven dalam hati.
Hingga Febria pada akhirnya bangkit, tidak bisa menahan emosinya lagi. Berjalan mendekati mereka, senyuman terpaksa menyungging di wajahnya. "Maaf, tuan orang-orang dari tempat penelitian ingin bahan dengan kwalitas lain. Kita harus ke pabrik 10 menit lagi..." ucapnya menunduk memberi hormat.
"Steven aku baru saja sampai, aku..." kata-kata dengan nada manja dari Fransisca terpotong.
"Maaf, tapi perusahaan ini baru berdiri. Belum begitu stabil. Kamu pulang dan belanja, membeli pakaian agar kelihatan lebih cantik ya...," bualan Steven, mengelus rambutnya.
*njing peliharaanku yang baik, pulang ya? Jangan mengundang kemarahan majikanmu... batinnya.
Fransisca mengangguk, lalu melangkah pergi. Tidak melawan pada pria terbanyak yang memberinya uang. Pria terbanyak? Tentu saja, setelah ini dirinya akan menemui salah satu produser mencari job di acara TV mempertahankan kariernya sebagai selebriti terkenal. Caranya? Tentu saja transaksi yang sama-sama menguntungkan dirinya memberi, sedangkan sang produser mendapatkan kepuasan.
"Aku pulang dulu. Jangan nakal..." ucap Fransisca manja.
"Aku tidak akan nakal," Steven mengedipkan sebelah matanya, seolah membalas godaan Fransisca.
Wanita yang berlalu pergi, merasa telah mendapatkan segalanya. Tidak menyadari melewati mantan suaminya yang sengaja memasuki lorong lain. Tidak ingin Fransisca meminta Steven untuk memecatnya. Apalagi dirinya baru diangkat menjadi seorang manager satu minggu yang lalu. Dapat menyewa apartemen dan pengasuh untuk putrinya. Pengasuh yang mengawasi Aqila selama dirinya pergi bekerja.
Berpisah mungkin keputusan terbaik yang diambilnya. Namun, Steven? Pemuda ini terlalu baik untuk terjerat oleh Fransisca. Perlahan Zen mengepalkan tangannya, melangkah mendekati ruangan Steven.
Tok...tok...tok...
"Masuk," perintah orang yang ada di dalam sana.
Perlahan Zen membuka pintu, wajah bos dan sekretaris itu terlihat tenang. Dua kotak makan siang kosong ada di meja Febria. Sedangkan satu kotak makanan yang belum tersentuh ada di atas meja dekat sofa.
"Ada apa?" tanya Steven dari kursi meja kerjanya.
"Aku..." Zen tertunduk, terlihat ragu mengatakannya. Hingga akhirnya dirinya mengepalkan tangannya. Dirinya tidak akan dapat membiarkan seseorang yang baik padanya terjerumus,"Aku, aku adalah mantan suami Fransisca, kami resmi bercerai dua minggu yang lalu. Aku mengatakan ini, bukan karena aku cemburu, atau menyebarkan kebohongan agar kalian berpisah. Tapi Fransisca bukan wanita yang baik..."
"Kamu tidak takut dipecat!?" Steven mengenyitkan keningnya. Mencari bawahan yang setia cukup sulit untuknya.
Steven tersenyum, mendapatkan karyawan yang menurutnya tidak akan berkhianat, pemuda itu menghela napas kasar,"Aku sudah memiliki pelindung. Febria kemari..." perintahnya.
Wanita itu segera berdiri di samping Steven. Namun, dengan cepat Steven menarik tangannya hingga jatuh ke dalam pangkuannya."Ini adalah Febria, sekretaris sekaligus istriku. Fransisca cukup bodoh hingga tidak menyadari ada cincin di jari manis kami,"
"Jadi kamu sudah menikah?" tanya Zen mengenyitkan keningnya.
Steven mengangguk membenarkan,"Fransisca? Dia adalah umpan untuk melindungi istriku. Karena itu aku memenuhi semua keinginannya,"
Febria segera turun dari pangkuan Steven, menghela napas menatap prilaku suaminya."Jadi kamu mantan suami Fransisca, bagaimana dia menjeratmu?" tanyanya penasaran.
"Dulu aku memiliki perusahaan sendiri, mempunyai tunangan dari keluarga baik-baik. Hingga Fransisca datang sebagai salah satu brand ambassador perusahaanku. Mengajakku minum di kantorku sendiri, tapi entah kenapa kesadaranku mulai berkurang. Hingga melakukan hubungan di luar nikah dengannya,"
"Aku tidak tinggal diam, aku meminta maaf dan memberikan kompensasi yang cukup besar saat itu. Tapi beberapa hari sebelum pernikahanku dia mengatakan tengah mengandung," jelasnya.
"Trik lama," Febria lagi-lagi menghela napasnya, tertawa kecil. Mengambil kotak bekal yang dibawakan Fransisca untuk Steven, kemudian membuangnya ke tempat sampah.
"Kenapa dibuang?" Steven menipiskan bibir menahan tawanya.
"Mungkin ada obat di dalamnya. Dia ingin mengandung anakmu kan? Jangan mimpi.." ucap Febria bersungut-sungut penuh rasa cemburu.
***
Sedangkan di tempat lain Fransisca tengah berada di area sebuah cafe. Duduk menunggu seorang produser disana. Tidak menyadari seorang pria berbadan tegap berada di hadapannya.
"Kamu Fransisca!? Tuan kami ingin bertemu..." ucap sang pria berbadan tegap diam-diam mengacungkan senjatanya.
Pengawal Steven yang mengawasi Fransisca diam-diam? Mereka sudah dikalahkan dengan mudah.
Tangan Fransisca gemetar, akhirnya menurut memasuki sebuah mobil minibus yang terparkir di dekat cafe. Ada beberapa orang berbadan tegap yang duduk di sampingnya. Tujuan mobil ini? Tidak diketahui olehnya.
Hingga beberapa jam perjalanan sampai di villa yang cukup mewah. Seorang pria berusia sekitar 45 tahun ada di sana, duduk mengupas apel dengan pisaunya.
"Tuan, dia sudah sampai," ucap seorang pengawal tertunduk.
Pria itu mendekat,"Cantik, badannya juga bagus. Pantas saja, anak Victor menyukaimu," ucapnya menyentuh dagu Fransisca.
"A... apa mau kalian!? Tolong lepaskan aku!! Berapa pun akan aku bayar!!" ucapnya ketakutan.
Doom kembali duduk, meminum air putih dingin. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Fransisca."Aku ingin membuat penawaran denganmu. Jika kamu setuju, maka kamu akan selamat. Jika tidak maka aku terpaksa menjadikanmu pancingan untuk membunuh Steven dan berakhir tidak memiliki apa-apa setelah Steven mati,"
"A...a...apa penawaranmu?" tanyanya, mencoba untuk tenang.
Doom tersenyum,"Villa ini, status sebagai istriku selaku pimpinan Dark Wild setelah kematian Steven, ketenaran, uang, apapun yang kamu perlukan. Asalkan berikan nyawa Steven padaku..."
"Apa maksudnya?" Fransisca mulai tertarik.
"Bunuh Steven dengan tanganmu sendiri..."
Bersambung