
Ferrell menitikkan air matanya untuk seorang wanita? Ini baru pertama kali terjadi dalam hidupnya. Terasa menyakitkan baginya, tidak pernah menerima siapapun dalam hidupnya.
Pada akhirnya gang rumah itu terlihat juga, masih memakai identitas Ken, dirinya tetap mendatangi rumah itu berharap yang Hasan berbohong. Kekasihnya ada di sana tidak pergi kemana pun.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, buket bunga yang cukup besar masih ada padanya.
Hingga akhirnya pintu itu terbuka. Kamila ada disana menghela napas kasar."Ada apa?" tanyanya acuh.
"Apa Glory ada?" tanya Ferrell dengan ragu.
"Glory sudah tidak tinggal disini lagi. Dia tinggal di tempat kost sendiri dekat kampus dan tempat pekerjaan barunya..." jawab Kamila, menghela napas kasar.
"Boleh aku minta alamatnya?" Ferrell mengepalkan tangannya menahan air matanya yang hendak kembali mengalir.
Wanita itu menggeleng."Pulanglah! Ini keputusan Glory sendiri. Hubungan kalian sudah berakhir, entah bagaimana caranya kamu bisa membuat Glory menyerah. Tapi terimakasih, anak itu memang keras kepala jika ada yang benar-benar diinginkannya. Glory sudah melepaskanmu, jadi lepaskan juga Glory..." pintanya tersenyum.
"Bibi, setidaknya aku ingin bertemu dengannya, aku hanya ingin mengetahui alasannya ingin berpisah," ucap Ferrell menghentikan pintu rumah yang hendak tertutup.
"Kamu sudah membuat putriku menangis! Apa tidak puas sudah menyakitinya!!" kesalnya berusaha mendorong Ferrell sekuat tenaga.
Pada akhirnya Ferrell menyerah, membiarkan pintu di hadapannya tertutup rapat. Air matanya mengalir, dadanya terasa sesak. Buket bunga yang pada akhirnya ditinggalkannya di depan rumah.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Glory? Kenapa dalam beberapa hari saja keputusannya berubah? Apa Glory tidak mencintainya lagi?
Sakit? Tentu saja untuk pertama kalinya Ferrell menyukai seorang wanita, jadi ini rasanya terluka? Terlalu menyakitkan."Aku merindukanmu..." gumamnya tertunduk, masih mengingat tingkah polos dan lucu sang bocah SMU.
Ferrell kembali melangkah ke dalam mobilnya yang terparkir di tepi jalan raya. Bingung harus bagaimana, duduk menyandar dalam mobilnya. Selama ini dirinya hanya konsentrasi pada pendidikan dan pekerjaan. Tidak memiliki koneksi dan kekuasaan seperti anggota keluarganya yang lain.
Jika menghubungi keluarganya. Maka, semuanya akan kembali dari luar negeri, menyandera gadis itu untuk menikah dengannya. Hal yang benar-benar memalukan, mengubungi keluarganya adalah pilihan terakhir. Hingga dirinya yang tengah terdiam menatap ke arah sungai, menghela napas kasar."Meminta bantuan kakek..." gumamnya, dengan terpaksa.
Tidak ingin menjadi bahan olok-olok Steven lagi, jika pemuda itu mengetahui gadis yang disukainya memutuskan hubungan sepihak. Bahkan melarikan diri, Steven akan membantunya, namun tertawa kencang, terlebih dahulu.
Keputusan sudah diambil Ferrell tidak ingin kehilangan wanita pertama yang menyandang status sebagai kekasihnya. Cinta dan obsesi yang menjadi satu? Mungkin sifat yang diwariskan dari ayahnya. Jika sudah menemukan target, sampai mati pun tidak akan dilepaskannya.
***
Kediaman yang cukup besar berada di pusat kota, mejadi tempat mobilnya tertuju saat ini. Rumah yang cukup besar dan luas, perlahan pintu utama dibukanya, sudah merupakan hal yang biasa, mengingat dirinya juga tinggal disini. Namun, kali ini berbeda harga diri seorang Ferrell akan benar-benar jatuh di hadapan Damian.
Perlahan berjalan mendekati sang kakek yang tengah duduk di ruang keluarga rumah tersebut. Sang kakek yang terlihat tengah menonton TV sembari memakan beberapa cemilan serta secangkir kopi yang terhidang di sana.
"Kakek..." ucapnya duduk di samping Damian, benar-benar canggung rasanya.
"Em?" Damian meminum seteguk kopi hangat miliknya, masih melihat berita yang tayang di televisi.
"Kakek aku ingin..." kata-katanya terhenti sejenak, bingung mau melanjutkannya bagaimana.
"Kawin..." jawabnya ragu.
Prrrthhh...
Kopi hitam itu menyembur tepat pada wajah Ferrell yang masih menggunakan make up efek khusus. Bagaikan mbah dukun yang menyemburkan kopi hitam, ingin mengusir makhluk halus di hadapannya.
"Kakek!!" Ferrell segera berjalan menuju wastafel di ruang keluarga. Wastafel yang biasa dipergunakan untuk mencuci tangan saja. Membasuh wajahnya, melepaskan kacamatanya, wajah rupawan itu kembali terlihat seperti sediakala.
"Bagaimana kakek tidak terkejut, kamu bilang ingin kawin! Apa kamu sudah kawin?" tanyanya penasaran, akan perbuatan cucunya pada seorang remaja. Tidak bisa menasehati, tidak bisa menghentikannya karena tidak ingin Ferrell membeli rumah atau apartemen, memutuskan tinggal terpisah dengan mereka. Kalau begitu jalan satu-satunya adalah ikuti alur saja.
"Belum, karena itu aku meminta bantuan kakek," ucapnya kembali duduk, meraih tissue, mengeringkan wajahnya.
"Kenapa minta bantuan kakek!? Kawin itu mudah, kamu pernah menonton video dewasa. Kakek melihat ada banyak di laptopmu, prakteknya tinggal mengikuti tutorial di video..." ucap Damian menipiskan bibir menahan tawanya.
Ferrell menghela napas kasar, memijit pelipisnya sendiri."Wedding, kawin, maksudku menikah!!"
"Kenapa tidak bilang dari tadi..." Damian ikut-ikutan menghela napas kasar."Beri kabar dulu pada kedua orang tuamu, dan ke 6 saudaramu. Jangan lupa beri kabar pada Sany, walaupun nenekmu sudah meninggal dan dia tinggal terpisah di seberang pulau dengan suaminya. Kalian tetaplah saudara..." ucapnya kembali meraih remote.
Ferrell kembali berusaha mendekati tempat Damian duduk lagi, namun Damian menggeser dirinya ke samping. Sang cucu kembali bergeser mendekati kakeknya, kakeknya kembali bergeser duduk menjauh. Begitu terus, hingga Damian terpojok di ujung sofa."Apa!?" tanyanya kesal.
"Kakek, dia melarikan diri, setelah memutuskan hubungan secara sepihak..." ucapnya ingin meminta pertolongan untuk menemukan Glory dengan ragu.
Beberapa saat Damian terdiam, menatap baik-baik wajah cucunya. Kemudian mengendus dekat area tubuhnya, memeriksa dahinya.
"Kakek sedang apa!?" Ferrell mengenyitkan keningnya.
"Mencari tau apa ada bau alkohol, atau badanmu panas hingga meracau asal bicara. Mana ada gadis yang menolakmu. Status, wajah, bukan tipikal pria playboy, seorang dokter muda, memiliki rumah sakit sendiri..." jawabnya heran.
"Ada, nenek tidak cerita? Remaja SMU yang ingin aku hamili, yang aku bawa ke kamar," Ferrell mulai mengambil salah satu kue kering memakannya tanpa ragu.
"Kamu ingin menikah dengannya? Tunggu dia cukup umur, kuliah dan berkarir dulu, menjalin hubungan boleh. Tapi..." kata-kata sang kakek disela.
"Dia dijodohkan dengan calon perawat. Setelah usianya 19 tahun dia akan menikah. Kemudian meninggalkanku seorang diri, aku akan patah hati, menyibukkan diriku dengan pekerjaan. Hingga akhirnya menderita stroke di usia muda, badanku bertambah kurus, hanya dapat duduk di kursi roda. Ibu dan ayah akan membawaku tinggal di luar negeri dengan mereka. Kakek mau tinggal hanya dengan nenek disini?" tanyanya dengan mulut dipenuhi biskuit.
Dengan cepat Damian menggeleng."Kakek akan melamarnya untukmu..."
"Bukan itu masalahnya sekarang, aku membutuhkan asupan nutrisi..." Ferrell menghentikan kata-katanya sejenak merasa salah berucap."Maksudku aku harus menemuinya, hanya menemuinya. Ibunya memisahkan kami, dia tinggal sendiri entah dimana sekarang,"
Aku ingin memeluknya, mencium bibirnya dan... batinnya, mengigit bagian bawah bibirnya sendiri, memikirkan asupan nutrisi yang akan didapatkannya dari seorang gadis yang tinggal seorang diri di tempat kost.
"Kakek akan mencarikan alamatnya. Tapi ingat! Jangan pernah berfikir untuk tinggal terpisah! Makan-makanan yang sehat dan tidur yang cukup," ucap Damian, meraih phonecellnya.
Dengan cepat Ferrell mengangguk."Namanya Glory, fotonya ada di wallpaper laptop ruang kerjaku. Usianya 18 tahun,"
Bersambung