
Alasan? Wanita itu mulai mencari lawan main sampingan, mengenakan riasan wajah menggoda. Cantik? Dirinya memang cantik dengan kulit eksotisnya, tubuh yang benar-benar menantang. Mungkin membuat para pria pemain cinta akan memujanya.
"Cantik... kamu mau kemana?" puji George, bertanya padanya.
"Aku akan pulang ke apartemen duluan. Selain itu ada party tertutup..." jawabnya, mengoleskan pink lipstick pada bibirnya.
"Love you..." Sera mengecup bibir George, berjalan berlalu meninggalkannya.
"Love you too..." ucap George, kembali melanjutkan pekerjaannya.
Tak...tak... tak...
Sera melangkah cepat, menyalakan mesin mobil sportnya. Berharap menemukan sosok Kenzo yang sering terlihat menaiki bis bersama seorang wanita gemuk.
Sekitar 200 meter dari tempat itu dan benar saja pasangan itu terlihat. Pemuda yang membukakan ubi rebus panas untuk Amel. Wajah yang dingin, namun nampak cerah bersama sang wanita gemuk.
Sera tersenyum, mendapatkan seorang rival yang mudah ditangani. Rival? George sudah tidak menarik, hanya mesin penghasil uang?
Narsistik, kelainan kepribadian yang dimilikinya, menganggap lebih menantang memiliki hubungan dengan seseorang yang telah memiliki pasangan.
Untuk Sera, semakin dalam rasa cinta sang pria pada sang wanita. Maka semakin menarik untuk merebut sang pria. Begitu pula dengan George, menyayangi Cindy pada awal kehamilannya. Dengan perlahan dirinya dapat menaklukkannya, hingga kini berhasil bercerai. Setelah bercerai George sudah tidak menarik lagi. Tidak menantang, untuk terus menguasainya. Hanya uangnya saja yang menarik.
"Aku yang tercantik, tidak ada pria yang tidak menyukaiku..." gumamnya tersenyum, menghentikan mobilnya di depan halte.
"Makan setengah saja!! Sisanya aku yang makan..." ucap Kenzo ketus, setelah mengupas ubi bakar yang mereka beli dalam perjalanan ke halte.
Meminta setengah sisanya? Anggaplah dirinya aneh. Tidak dapat berciuman secara langsung, secara tidak langsung pun tidak apa-apa. Menunggu sepotong ubi bakar sisa gigitan Amel.
"Pelit..." Amel mengenyitkan keningnya. Makan dengan mulut sedikit kepanasan.
Sungguh pasangan yang terlihat bahagia dimata Sera. Mobil sport berwarna kuning itu terhenti di hadapan mereka, Sera melangkah turun,"Kamu office boy yang tadi siang kan? Namaku Sera..." tanyanya mengulurkan tangannya, dijawab dengan anggukan oleh Kenzo, menyambut uluran tangan Sera.
Pasangan miskin yang bahagia, apa Sera dapat merebutnya dari si wanita gemuk? Tentu bisa, dirinya percaya diri, tantangan yang tidak menarik untuknya. Tapi menatap Kenzo yang tadi siang acuh, itulah yang menarik perhatiannya. Bagaimana membuat pemuda ini berada di ranjangnya, meracau kesenangan atas permainannya. Takluk pada dirinya seorang, hanya memiliki cinta yang besar padanya.
"Kenzo..." ucap Kenzo tersenyum, sedikit melirik pada Amel yang membulatkan matanya. Berhenti mengunyah sesaat...
Ayo cemburu lah... gumamnya dalam hati.
Namun tidak ada respon, Amel kembali mengunyah, seakan hanya berperan sebagai penonton.
"Sudah hampir hujan, mau aku antar?" tawar Sera pada Kenzo.
"Terimakasih," Kenzo mati-matian masih berusaha tersenyum mulai bangkit, berharap Amel akan menghentikannya. "Amel, nanti kamu pulang sendiri, aku pulang bersama Sera..." lanjutnya.
"Em..." jawab Amel dengan mulut penuh seolah acuh.
Ayo hentikan aku...ayo hentikan aku...ayo hentikan aku... komat-kamit kata-kata dalam hatinya. Namun, hingga dirinya menaiki mobil, dan mesin mobil menyalapun tidak ada yang terjadi.
Mobil akhirnya melaju kencang, melewati tikungan. Berjalan beberapa ratus meter, tidak terlihat lagi.
Dia belum menyukaiku... karena itulah dia tidak cemburu sama sekali... Kenzo menghela napas kasar, dengan rambut yang tertiup angin dari dalam mobil sport, yang bagian atasnya terbuka. Wajah rupawan kalangan atas yang membuat Sera kagum. Penuh rencana untuk menguasainya malam ini, membuat sang pemuda takluk, terus menerus menginginkan tubuhnya diatas ranjangnya.
***
Tidak cemburu? Amel membulatkan matanya, situasi yang cukup sepi di dekat sana. Ubi mulai diletakkan pada bangku halte. Berlari mengejar mobil yang baru saja melewati tikungan. Geram, tidak terima, protektif, tidak ingin pemuda itu disentuh...tapi ingat ini bukan cemburu bagi Amel.
Jadi untuk mempermudah istilah kita sebut saja jealous...
"Kenzo playboy!! Penindas..." teriaknya kala kehabisan napas setelah berlari lebih dari seratus meter. Melempar sepatunya pada jalanan lenggang.
Sejenak kemudian, menitikan air matanya,"Aku tidak menangis..." gumamnya masih juga menyangkal dengan perasaan sesungguhnya. Berjalan kembali mengambil sepatunya, yang tadinya dilempar karena emosi.
Kembali terengah-engah membalik badannya mendekati halte. Duduk disana memakan ubi, tidak terasa hujan mulai turun, Amel masih menunggu bis. Kenapa dirinya mengejar? Kenapa rasanya sesak? Tidak mungkin kan dirinya mulai menyukai tuan penindas kejam...
"Tidak mungkin..." Amel menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih menyangkal perasaannya.
***
Sementara satu kilometer dari sana. Atap mobil mulai tertutup, mengingat hujan deras yang turun, traffic light menunjukkan lampu tengah merah. Tanda semua mobil berhenti...
"Terimakasih, aku turun..." Kenzo hendak membuka pintu mobil.
"Kenapa turun, diluar masih hujan..." Sera berusaha menghentikannya.
"Dengar, jangan salah paham, aku hanya ingin menguji pacarku akan cemburu atau tidak, jika aku naik ke mobilmu..." senyuman menyungging di wajahnya. Mulai kembali membuka pintu mobil.
"Kamu percaya cinta pada pada pandangan pertama. George? Dia yang berinisiatif, mengejarku. Jika tidak menuruti keinginannya maka aku akan dipecat, keluargaku akan dihancurkan. Tapi kamu... pertama kali bertemu denganmu...aku... aku..." kata-katanya penuh bujuk rayu mengundang simpatinya, terpotong.
"Aku dipermainkan olehnya. Rivalku wanita gemuk? Aku akan merebutmu, hingga kamu hanya dapat memujaku..." ambisinya, melajukan mobilnya kembali, saat lampu kembali hijau.
***
Hujan deras disertai petir, Amel seorang diri disana. Mengunyah ubi bakarnya, hingga perlahan perhatiannya teralih...
Makhluk penindas itu kembali, berdiri dengan pakaian basah kuyup. Napasnya terengah-engah mungkin karena berlari sejauh satu kilometer. Menunggu Amel mengejarnya, namun gadis itu masih duduk di tempatnya. Menatap heran pada kedatangannya.
"Kenapa kembali?" tanya Amel tidak mengerti, tapi semua rasa sakit dan kekhawatiran dalam hatinya pudar menatap keberadaan Kenzo.
"Ubinya belum habis kan?" tanyanya, merebut sisa setengahnya dari Amel.
"Karena ubi?" Amel mengenyitkan keningnya. Dijawab dengan anggukan oleh Kenzo.
Karena sisa cap bibirmu pada ubi... anggaplah aku mencium mu saat memakannya... gumamnya dalam hati.
Amel perlahan berjinjit, rambut Kenzo yang basah, membuat bekas luka di dahi yang tertutup model rambutnya terlihat jelas."Apa sakit? Kenapa bekasnya tidak kamu hilangkan saja? Uang-mu pasti cukup..."
Kata-kata Amel terpotong, jemari tangan yang hampir menyentuh luka di dahi Kenzo dihentikan tangan dingin pemuda itu.
"Bukan begitu cara menyembuhkannya," Kenzo menarik tangan Amel, mencium keningnya perlahan.
Lakukan ini padaku suatu hari nanti, mungkin semua lukaku akan pudar...
Perlahan menatap matanya yang sayu. Hingga akhirnya mengecup bibirnya. Hanya kecupan singkat dari dua bibir yang dingin bersentuhan.
"Jangan sembarangan menciumku," ucap Amel perlahan, namun tidak pernah ada penolakan.
"Aku tau... ayo naik..." Kenzo menarik tangan Amel, memasuki bis yang berhenti di hadapan mereka.
Gadis itu terdiam menatap jendela yang basah, ditengah guyuran air hujan. Berdiri berpegangan dalam bis. Jantungnya berdebar tidak karuan, namun semua disembunyikannya. Cinta? Cemburu? Tidak mungkin bukan? Kenzo hanya seorang playboy, psikopat, aneh, penindas. Itulah yang ada di benak Amel saat ini yang bingung dengan dirinya sendiri.
Bersedia menerima ciuman dari Kenzo bahkan menginginkannya. Apakah ini pesona seorang playboy? Tidak boleh jatuh cinta padanya... ketakutan terbesar seorang Amel.
Tidak menyadari Kenzo, memakan sisa ubi bakar sampai habis sembari tersenyum.
Amel belum mencintainya, hingga tidak mengejar atau mencegah kepergiannya. Namun, dua tahun masih panjang, perlahan Amel akan mencintainya, itulah harapannya.
Jemari tangan Kenzo menggengam jemari tangan Amel. Dua makhluk yang aneh, pangeran antagonis yang berdiri dibelakang Dugong, menggengam jemari tangannya erat, takut kehilangannya.
Sang pangeran sedikit membungkuk, berusaha melihat wajahnya. Sedangkan makhluk gemuk itu, membiarkan tangannya di genggam, pura-pura tidak tahu. Memendam perasaan sesungguhnya.
Dalam bis yang melaju di tengah guyuran hujan...
***
Sera tidak berada di kantor, George menghela napas kasar. Mungkin untuk pertama kalinya dirinya tidak memiliki rutinitas, seusai pekerjaannya.
Perlahan melajukan mobilnya di tengah derasnya air hujan. Sendiri, kesepian, begitulah perasaannya saat ini.
Tanpa tujuan, hingga entah kenapa mobil miliknya berhenti di depan area sanatorium.
"Kenapa aku kesini..." gumamannya, menyenderkan tubuhnya di kursi pengemudi. Tempat parkir bawah tanah.
Hingga pemandangan tidak terduga terlihat, seorang dokter dengan wajahnya yang rusak, berjalan keluar dari mobil bersama Cindy, membawa kantung berisikan kotak makanan.
Namun, hal yang membuatnya mencengkram erat stir, terlihat. Cindy berjinjit, memegang kemeja putih, mencium singkat bibir sang dokter muda.
Dokter dengan sudut wajahnya yang terlihat mengerikan. Entah kenapa kemarahan George tidak tertahankan lagi.
Dengan cepat George turun, berjalan menyusul langkah mereka,"Jadi ini yang kamu lakukan dengan berkedok menjaga Agam!!" bentaknya, mencengkram lengan mantan istrinya.
"Palsu..." senyuman menghina menyungging di bibir Cindy. Tidak membela dirinya, sama sekali.
Palsu? Roy-lah yang seharusnya ada diposisi George, menantu pemilik FIG Group. Orang yang mengorbankan hidupnya, untuk Cindy. Bahkan, lebih mempedulikan Agam dari ayah kandungnya sendiri.
Donor cangkok sumsum tulang belakang? Berkemungkinan lebih besar didapatkan dari keluarga. Cindy tidak memiliki kecocokan, sedang usia Agler terlalu muda, George sendiri menolak melakukan tes, dengan alasan terlalu sibuk.
Namun, Roy yang bukan anggota keluarganya, melakukan tes diam-diam. Memiliki hasil kecocokan, satu berbanding dari jutaan orang. Suatu keberuntungan bagi Cindy, putranya dapat diselamatkan. Seseorang yang bukan anggota keluarganya.
Penyelamatnya yang sesungguhnya, pria rupawan yang mengorbankan wajahnya.
Bersambung