
"Aku tidak ingin membuatmu cemburu..." Amel tersenyum,"Tapi dia memang salah satu orang pernah menjagaku dan Nindy saat aku masih sekolah dasar. Familiar karena dia orang yang menyenangkan..."
"Salah satu orang?" Kenzo mengenyitkan keningnya, dijawab dengan anggukan oleh Amel.
"Glen harus bekerja sepulang sekolah, sedangkan aku terkadang membawa order jahit ibu ke rumah tetangga. Nindy tidak ada yang menjaga, karena itu kak Glen yang lumayan memiliki banyak teman, membawa mereka pulang ke rumah, meminta tolong untuk sekedar menjaga Nindy..." ucap Amel tersenyum, mulai mengambil phoncell di atas mejanya.
"Jadi hanya sekedar kenal?" tanya Kenzo, kembali dijawab dengan anggukan kepala oleh Amel yang hendak menghubungi sang kakak.
"Dia yang paling lugu dan lucu diantara teman-teman Glen..." jawab Amel tersenyum. Hingga panggilannya diangkat oleh sang kakak.
Profesi Glen saat ini? Pemuda itu menjadi wartawan di sebuah media cetak. Memiliki istri dan seorang anak berusia tiga tahun. Bekerja keras untuk mendapatkan bonus? Itulah yang dilakukannya hingga kini tengah menahan rasa mualnya menatap proses otopsi jenazah.
"Amel...?" gumamnya menatap nama yang tertera di phoncellnya, mengangkat panggilan, meninggalkan ruangan.
"Amel? Kenapa menghubungiku malam-malam? Aku dengar kabar tentang meninggalnya Kenzo 7 tahun lalu sudah tersebar. Apa kamu mau mengangkat karierku dengan wawancara eksklusif?" tanyanya beruntun, tidak ingin kehilangan kesempatan menaikan jabatannya.
"Kamu kakak ipar Kenzo, kenapa tidak mewawancarai dirimu sendiri?" Amel mengenyitkan keningnya.
Glen tertawa kecil,"Aku juga berfikiran sama, harusnya aku membawa segulung tissue toilet. Kemudian berjalan ke kantor atasanku, mengatakan Kenzo adalah adik iparku sambil menangis berpura-pura sedih. Tidak perlu surat peringatan lagi, aku akan langsung dipecat karena dikira berbohong..."
"Jadi kenapa tahu bulat digoreng 500 an menghubungi kakaknya ini?" lanjutnya.
"Kakak ingat Dava?" tanya Amel dari seberang sana.
"Dava? Dava yang mana?" Glen malah balik bertanya.
Amel menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bingung bagaimana harus bertanya pada kakaknya yang begitu populer di masa SMU.
"Yang 'bim salabim abakadabra...' pesulap amatir yang selalu gagal..." jelas Amel.
"Yang mana?" tanya Glen kembali.
"Yang selalu membawa monopoli," Amel tidak menyerah.
"Owh..." beberapa saat Amel tersenyum, mendengar kata 'Owh' dari sang kakak pertanda Glen mengingatnya. Namun...
"Owh, bukannya yang sering membawa monopoli Sony ya?" tanyanya, belum juga ingat.
"Aku ganti, yang sering kamu bully dengan memanggilnya curut pencuri, karena pernah menghabiskan sekaleng biskuit yang kamu simpan di kamar," ucap Amel kembali berusaha bersabar.
"Owh...." kembali kata-kata itu yang keluar, dilanjutkan dengan kata,"Aku tidak ingat..."
"Jika kali ini, kamu tidak ingat juga aku tidak membiarkanmu bertemu Kenzo," geram Amel dari seberang sana.
"Dia masih hidup? Adik ipar gilaku tersayang masih hidup!?" tanyanya antusias, namun beberapa saat Glen menghela napas,"Kamu tidak menjadi gila karena kelebihan kerja dan terlalu merindukannya kan? Jika iya, kita hubungi psikiater ya? Lepaskan Kenzo, biarkan dia tenang di sisi-Nya,"
Amel mengenyitkan keningnya, beginilah jika dirinya bicara dengan Glen. Entah masalah jaringan otak atau kabel yang terputus, dia tidak pernah dapat bicara dengan serius dengan kakaknya.
"Sudahlah, kita bicarakan masalah Kenzo lain kali saja. Dava... anak orang kaya yang sering mencium dan mencubit pipi Nindy. Kakak pernah mengusirnya," Amel benar-benar di ambang batas kesabarannya saat ini.
"Owh... bedebah yang berani mencium adikku yang dibawah umur!? Dia benar-benar br*ngsek!" cibirnya sebagai kakak yang protektif.
"Dia hanya gemas, saat itu pipi Nindy memang menyenangkan untuk dicium. Aku juga sering menciumnya..." wanita itu menghela napasnya, setidaknya Glen sudah sedikit ingat tentang almarhum Dava."Dava sudah meninggal 7 tahun lalu. Bisa kakak usut tentang kematiannya?"
"Jatuh dari kapal Ferry, karena naik ke geladak dalam kondisi mabuk. Saat berliburan dengan tunangannya..." jelasnya.
"Aku akan menyelidikinya. Tapi jika kamu bersedia di wawancarai secara eksklusif..." tawaran dari Glen.
"Aku akan membeberkan fakta yang lebih besar, tapi tidak sekarang. Mungkin sekitar beberapa minggu lagi... kakak bisa menungguku untuk wawancara eksklusif...?" pintanya.
"Siap!! Berita internasional, siapa yang tidak tertarik. Aku akan mulai menyelidiki kematian si bedebah yang mencium pipi Nindy..." ucap Glen penuh semangat, mematikan panggilannya.
Amel terdiam sejenak hingga Kenzo kembali mencium bibirnya, sebuah kecupan singkat."Apa yang kamu lakukan 7 tahun ini? Apa mendekati pria lain?" tanyanya tersenyum.
Amel menggeleng, kemudian membalas senyumannya, mengalungkan tangannya pada leher Kenzo,"Apa yang kamu lakukan hingga pulang pukul 4 pagi? Apa menghabiskan waktu bersama Kiki?"
"Iya... jika kamu cemburu ketika mendengarnya..." jawaban dari mulut Kenzo, dengan tatapan yang mulai sayu. Perlahan sedikit menunduk, mata itu tertutup mendekat.
"Aku cemburu..." Amel berjinjit, ikut menutup matanya, menyambut bibir suaminya.
Tidak ada yang terjadi setelahnya, tautan hangat yang hanya berakhir dengan senyuman. Perlahan berbaring di tempat tidur berbahan kapuk. Tertidur saling mendekap menghapus rasa lelah mereka. Merindukan? Tentu saja, hanya beberapa jam namun rasa nyaman kala melihat wajah itu diinginkan, kala mendekap tubuh itu penuh kehangatan.
Kenzo hidup sebagai Dava selama 7 tahun, tidak pernah mencintai wanita manapun. Kini dirinya tahu kenapa, dirinya memang tidak mampu mencintai, selain wanita dalam dekapannya.
Kepingan memori itu sedikit teringat...
Menatap wajah wanita gemuk yang tertidur di atas sofa, mencari rasa kasih darinya, mendekap tubuh itu erat. Perlahan satu persatu terbayang, kala dirinya mengikuti Amel yang memberi tempat duduk pada seorang wanita hamil dalam bis, ketika mereka baru tiba di Malaysia. Wanita baik hati yang semakin ingin dimilikinya.
Mengingat dengan jelas, wanita cantik memakai yukata biru, duduk di atas salju. Mencicipi bibirnya tanpa ragu dengan dalih hukuman.
Dari awal dia adalah milikku... gumamnya tersenyum, terlelap dalam tidurnya. Mendekap tubuh wanita yang dicintainya.
***
Hari ini juga sama, dirinya belum sempat menemui Dava. Kiki menghela napas kasar, perlahan senyuman menyinggung di bibirnya. Masih teringat jelas, kala pria bodoh itu masih memanjakannya.
Sifat yang berubah? Tidaklah masalah, perlahan akan kembali seperti semula. Usai ingatannya kembali.
Kunci pintu diputarnya, ruangan gelap terlihat.
Tak...
Sakelar dinyalakannya, samar-samar seorang pemuda terlihat duduk di sofa. Seolah menunggu kedatangannya.
"Pr... Praba?" ucap Kiki gugup.
"Seharusnya kamu memberi racun pada minumannya saja. Atau sekalian menusuk jantungnya saat kalian sedang berhubungan,"Praba tertawa kecil, mencemooh,"Mendorongnya dari geladak kapal? Dia jadi memiliki kesempatan hidup kan!?" teriaknya.
"Di...dia hanya mencintaiku, walaupun masih hidup dia tetap dari kalangan bawah. Tidak akan..." kata-kata Kiki disela.
Praba tersenyum pada wanita di hadapannya,"Dia sudah merebut hati istri almarhum pemilik perusahaan multinasional. Tidak ingat sedikitpun tentangmu. Tunanganku yang seorang putri rektor bahkan tidak sebanding dengan janda dua anak..."
"Aku membencinya!! Aku membenci si bodoh angkuh itu!!"
Bersambung