My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Roti Yang Gagal



"Bagaimana kabarmu?" Amel menghela napas kasar, menatap riasan kukunya. Hal yang ada difikirkannya? Apa dirinya harus mencakar Kenzo lagi? Agar suaminya mengingatnya.


"Aku dengar suamimu Kenzo sudah kembali, apa benar?" tanya seseorang di seberang sana.


"Iya... jangan kenari dan menggodanya...!!" ucap Amel posesif.


***


Kota lain, 6 tahun yang lalu...


Satu tahun bukan waktu yang singkat, si br*ngsek Tomy belum juga menampakkan batang hidungnya. Apa dirinya akan terus seperti ini? Tuan muda yang diusir sepupunya menjadi tukang parkir?


"Kamu sudah makan?" Firman, seorang pria paruh baya yang memberinya pekerjaan menyodorkan sebungkus nasi dengan lauk sayur kangkung dan tahu.


"Aku tidak lapar!!" pemuda itu masih tetap saja acuh hingga, kriuk... bunyi perutnya terdengar.


Perut sialan, tidak bisakah kita negosiasi... gumamnya dalam hati, menolak tapi akhirnya tangannya meraih bungkus nasi yang diberikan.


"Dasar..." Firman tersenyum, tertawa kecil menatap pemuda arogan yang makan dengan lahap.


"Gilang, bapak besok akan pindah kembali ke kampung," ucapnya menghela napas kasar.


Kunyahan Gilang terhenti menatap pria paruh baya disampingnya. Rasa kesepian menyeruak dalam dirinya,"Ke... kenapa?" tanyanya lirih.


"Tidak apa-apa, hanya merindukan anak dan istri di kampung," jawabnya.


"Bapak tinggal disini ya? Sa...saya sudah bilang saya anak orang kaya. Nanti jika sepupu saya sudah tidak marah, saya akan..." kata-katanya terhenti.


Pak Firman menghela napas kasar,"Uang tidak penting, tanpa keluarga kita akan hidup kesepian..." petuahnya, menepuk pundak Gilang, berjalan meninggalkannya. Punggung pria paruh baya, yang wajahnya berkumis itu masih terlihat. Perlahan Gilang menangis menitikkan air matanya. Tidak akan ada orang yang menemaninya saat ini.


Hingga...


"Pak!! Tinggal disini dengan saya!! Saya akan berusaha menghubungi ayah saya untuk mengirim uang...!!" teriaknya. Membuat pak Firman hampir terjatuh.


"Ingat, keluarga yang terpenting..." petuah terakhirnya segera berbalik tidak menatap Gilang lagi. Berjalan dengan cepat, hingga tidak terlihat lagi.


"Pak Firman, br*ngsek!!" Tangisannya menjerit.


***


Sementara itu di tempat lain, pak Firman segera memasuki sebuah mobil berharga fantastis. "Tuan..." ucapnya tertunduk.


"Aku berharap banyak, tapi setelah satu tahun dia tidak belajar apapun..." Tomy memijit pelipisnya sendiri. Firman merupakan orang suruhannya untuk menjaga sekaligus menguji Gilang. Satu tahun sudah, tapi hasil mengecewakan yang didapatkannya.


"Dia masih mengagungkan keluarga besarnya, tidak mengerti artinya satu orang yang terpenting. Ketika orang itu pergi..." lanjutnya.


"Lalu sekarang bagaimana tuan?" tanya Firman tertunduk.


"Kamu kembali menjadi security di kantor cabang. Aku akan mengutus orang lain mengawasi dia dari jauh..." jawab Tomy sudah kehilangan akal untuk mendidik sepupu manjanya.


Mungkin lebih baik aku kirim dia ke kuil Shaolin, mencukur rambutnya, menjadi biksu sekalian ... gumamnya dalam hati menendang-nendang udara kesal.


***


Hari ini, air mata Gilang mengalir terus menerus, mandi di toilet umum, kemudian kembali ke tempat tinggalnya satu tahun ini. Gudang belakang toko roti yang pernah dicibirnya dahulu. Pemilik yang benar-benar pelit, perhitungan.


"Uang sewa 250.000," pinta wanita paruh baya pemilik toko roti, menadahkan tangannya.


"Ini!!" Gilang mengenyitkan keningnya kesal, memberi uang sewa, tempatnya sekedar singgah untuk tidur. Matanya sedikit teralih, menatap seorang gadis yang masih mengolah adonan roti hingga larut."Kamu belum pulang?" tanyanya untuk pertama kalinya setelah satu tahun tinggal disana setiap malam.


"Belum..." Kristin masih tersenyum, mengolah adonan, membantingnya. Kemudian mengoleskan kuning telur pada roti lain yang telah mengembang sempurna, kemudian memanggangnya.


Bukan seorang gadis cantik penuh perawatan, namun gadis biasa yang memiliki senyuman manis. Tangannya cekatan sebagai pegawai yang bekerja bertahun-tahun disana.


Gadis itu memang sering lembur, karena itu Kristin menjadi pegawai andalan, kepercayaan sang pemilik toko roti.


"Kristin!! Ini kuncinya, ibuk pulang dulu!!" sang pemilik toko roti melemparkan kunci toko, segera ditangkap oleh Kristin. Wanita paruh baya sang pemilik toko segera meninggalkan tempat tersebut.


Tidak memiliki teman bicara selain Firman, pada akhirnya dari pada sendiri, lebih baik bicara dengan gadis aneh ini bukan? Mungkin itulah yang ada di benak Gilang, hingga mulai mendekati Kristin yang tengah mengolesi telur, sembari menunggu roti di panggangan matang.


"Bekerja seperti kuda siang dan malam, kamu tidak pulang?" tanyanya ketus.


"Tidak ada alasan untuk pulang, tidak ada yang menungguku di rumah..." jawab Kristin tersenyum.


"Tidak ada? Jika tidak ada, seharusnya beristirahat sekali saja. Kamu itu manusia bukan robot..." cibir Gilang, tidak mengerti dengan gadis yang tidak pernah sekalipun libur, bahkan bekerja hingga larut.


Jemari tangan Kristin yang tengah mengoleksi telur terhenti,"Aku kesepian ketika di rumah, karena itu lebih baik terus bekerja dari pada pulang. Selain itu, aku ingin membunuh seseorang..."


"Me... membunuh?" Gilang tertawa kencang, menganggap itu semua adalah lelucon.


Gilang terdiam sejenak, senyuman yang sama dengan kakaknya Kenzo. Tersenyum? Kenzo hanya pura-pura tersenyum, membohongi dirinya agar terlihat bahagia. Tapi...


"Balas dendam bukan jalan yang baik..." Gilang kembali berucap.


"Kamu tau apa? Apa ibumu pernah dicampakkan oleh ayahmu? Apa ayahmu pernah mengacuhkan istrinya yang berjuang dari nol?" tanyanya.


Gilang terdiam tidak bisa menjawab, hingga gadis yang tetap tersenyum itu membuka oven. Harum aroma roti hangat tercium menyeruak ke seluruh ruangan.


"Wangi bukan? Tapi sayangnya, satu diantaranya gagal mengembang, itulah aku..." ucapnya melepaskan sarung tangan."Hanya produk gagal,"


"A...aku akan memakan yang gagal mengembang!" Gilang meraih roti panas yang dihina wanita itu. Namun jemari tangannya sendiri segera ditariknya, benar-benar panas, tangannya bagaikan terbakar."Aaaa..." ucapnya mengibas-ngibaskan tangannya.


"Itu panas..." Kristin tersenyum, meraih putih telur, memberinya di jari Gilang.


Pemuda itu ikut tersenyum, entah kenapa. Sosok gadis ini bagaikan Kenzo, seseorang penuh ambisi dan dendam. Namun, dibaliknya, mengasihinya tanpa pamrih.


Air matanya mengalir, mengingat sang kakak yang tenggelam di laut karena kata-katanya,"Kenzo..." gumamnya.


"Kenapa menangis? Kamu itu laki-laki!! Luka bakar sedikit saja sudah menangis..." cibir Kristin.


"Aku menangis karena rotinya beraroma bawang!!" alasan tidak logis, tidak masuk akal, mengalir dari mulutnya.


"Bawang kepalamu!!" Kristin memasukkan salah satu roti yang sudah dingin dalam mulut Gilang.


Teman? Itulah mereka mungkin mulai saat itu. Setiap sore hingga menjelang malam, menemani gadis itu bicara penuh senyuman dengannya.


Hingga beberapa bulan berlalu, hujan lebat melanda. Angin kencang bertiup, Kristin tidak bisa pulang, menghela napas kasar.


"Ayo, ikut tidur disini..." Gilang menarik tangannya. Membawanya duduk di pojok gudang belakang, memakai selimut yang sama untuk menghangatkan diri.


"Roti yang gagal, tidak dapat mengembang, untukmu..." ucapnya tersenyum menyodorkan sepotong roti pada Gilang.


"Terimakasih," Gilang tersenyum padanya,"Aku lebih suka roti yang gagal mengembang, karena lebih padat dan enak,"


Kristin tersenyum menatapnya, bibirnya berusaha tersenyum, tidak pernah dekat dengan pria manapun,"Kalau aku? Apa kamu menyukaiku?" tanyanya ragu.


"Iya, aku tidak memiliki teman bicara, kamu sahabat yang baik ..." jawabnya dengan mulut penuh.


Jemari tangan Kristin mengepal... Rupanya hanya teman...


"Ibu pemilik toko roti ingin menjodohkan aku dengan putranya," Kristin terdiam menunduk sejenak, berusaha tersenyum.


Kunyahan Gilang terhenti,"A... apa kamu menerimanya?" tanyanya, dengan perasaan sakit yang asing. Tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


"Belum tau...dia kaya, untuk membalas dendam aku memerlukan uang jadi..." kata-kata Kristin terhenti, gadis itu menghela napasnya.


"Aku belum pernah bilang, aku anak orang kaya, aku akan membantumu, jika hanya untuk balas dendam..." Gilang menghentikan kata-katanya, menatap Kristin yang menggeleng.


"Aku hanya ingin membuktikan satu hal..." ucapnya tersenyum, untuk pertama kalinya, gadis itu mencium bibir seorang pria. Membelai dengan bibirnya perlahan, berharap bibir dingin itu terbuka untuk membalasnya. Namun, Gilang yang terkejut hanya terdiam.


"Ternyata memang benar hanya seorang teman..." gumam Kristin, mulai bangkit berjalan meninggalkan Gilang yang masih tertegun.


"Anggaplah tadi hadiah sebagai seorang teman..." lanjutnya, berjalan meninggalkan gudang. Berlari menerobos hujan tanpa mempedulikan pakaiannya yang basah.


Gilang masih terdiam, meraba bibirnya sendiri,"A...aku apa aku menyukainya?" gumamnya berfikir, entah kenapa setelah kepergian Amel dari rumah sakit dirinya bagaikan melupakan perasaannya. Melupakan? Setelah dua tahun sejatinya perasaan itu telah memudar, namun egonya lah yang tidak membiarkan Kenzo memilikinya. Hingga sebuah keegoisan yang membuat sang kakak pergi.


Gilang masih berfikir, kenapa dirinya tidak mendorong Kristin, mengambil roti yang tersisa setengah kembali memakannya, kemudian tersenyum. Menatap potongan roti.


Sedangkan di tempat lain Kristin kembali berteduh dengan bajunya yang basah, menatap guyuran hujan di hadapannya, wajahnya tersenyum. Namun siapa yang tau isi hatinya di balik matanya yang memerah.


Entah pipinya basah karena air hujan atau air matanya...


Bersambung


...Cinta sejati? Itu tidak ada......


...Perasaan berdebar? Merindukannya? Bukanlah cinta......


...Tau kenapa? Karena semua tidak akan berbalas hingga akhir. Seperti seorang Antoni (Ayah Kristin) yang membenci ibuku kala dirinya telah memiliki segalanya......


...Apa Antoni masih merindukannya? Tidak, itulah jawabannya... yang dirinya rindukan hanya lenguhan suara wanita yang mengguncang ranjangnya......


...Begitu pula aku, akan sepenuhnya mengabaikan perasaan ini, berjalan menikahi pria lain, membalas semua perlakuan istri-istri Antoni pada ibuku... kemudian mati dengan tenang, mengikuti tempat ibuku berada saat ini......


...Karena, orang yang aku cintai, tidak membalas perasaan ini......


Kristin...