My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Ajaran Sesat



Deru napas yang tidak teratur, diikuti kecupan singkat yang bersambut beberapa kali. Bukan karena kehabisan napas, namun tidak ingin perasaan ini terlarut terlalu dalam lagi. Takut tidak dapat menahan dirinya, untuk menghujam gadis ini sebelum waktunya.


Apa Ferrell benar-benar telah takluk oleh sang remaja? Entahlah, namun jika diminta untuk menikahinya juga tidak apa-apa. Akan menyenangkan kala gadis ini menjadi penghiburnya di hari yang melelahkan.


Jika saja gadis cerewet ini bisa ada di kamarnya 24 jam sehari. Akan menyenangkan melihat wajahnya di bangun dan tidurnya. Menggengam jemari tangannya, menatap matanya yang terpejam kelelahan akibat perbuatannya. Tubuh yang sama-sama tanpa busana saling berpelukan erat, menghangatkan diri.


Sungguh imajinasi liar dari sang dokter muda, dirinya tidak pernah seperti ini. Hanya karena sebuah ciuman dirinya dapat membayangkan malam pertama? Mengguncang tubuh gadis ini yang meracau berteriak memanggil namanya dengan suara serak.


Ini semua karena Steven yang meledeknya tidak pernah berciuman. Siapa yang tau sensasinya dapat membuatnya mabuk seperti ini.


Apa dengan wanita lain akan sama? Tentu saja tidak, walaupun Ferrell belum pernah mencobanya dengan wanita lain. Hanya bocah ini yang membuatnya tertarik, membuatnya gemas hingga benar-benar mencapai ke tahap yang gila, untuk dapat membuat hatinya yang kaku berdebar cepat.


"Su... sudah, boleh aku pulang?" ucapnya turun dari pangkuan Ferrell, tertunduk penuh rasa bersalah, menyukai Ken tapi menikmati ciumannya dengan Ferrell. Seakan tidak dapat lepas dari jeratannya.


"Ini uang jajan untukmu, gunakan dengan baik, untuk membeli lebih banyak buku. Isi otakmu yang kosong dan jangan pernah sekalipun ke club'malam. Kamu tidak akan pernah tau apa saja yang ada di sana, untuk menjerat gadis kecil sepertimu..." ucap mulut pemuda itu, komat-kamit memasukkan 15 gambar cetak tokoh proklamator ke dalam tas Glory.


Tidak ingin memberi lebih banyak, agar gadis centil ini tidak berbuat hal macam-macam. Bagaimana jika dia menggunakannya untuk berdandan, menggoda pria lain? Tentu saja tidak boleh.


"Aku tau!! Kamu juga termasuk orang yang menjerat wanita muda kan!?" cibirnya menatap sinis, mengetahui statusnya saat ini sebagai gadis murahan.


"Akan aku tunjukkan bagian tubuhmu yang dapat dipergunakan untuk berproduksi, dan bagian tubuhku yang harus disatukan untuk dapat membuahi sel telurmu yang akan..." kata-kata Ferrell terhenti.


"Aku mengerti!! Kamu orang baik yang hanya memberikan uang jajan untuk sebuah ciuman!! Bukan kakak-kakak mesum!! Hanya orang baik..." ucapnya memelas, takut? Tentu saja, bagaimana jika orang ini nekat dan dirinya tidak dapat menolak? Siapa yang dapat menolak pesona menyengat miliknya.


"Pintar," Ferrell tersenyum, mengacak-acak rambutnya."Ingat! Bibirmu hanya milikku, tidak boleh terkontaminasi pria lain. Atau aku akan menyingkirkan pria yang berani mendekatimu,"


"I...ini," tangan Glory gemetar, mengembalikan uang yang diberikan Ferrell."Aku menyukai pria lain, tidak bisa terus begini, akan banyak fansmu yang..."


Ferrell tersenyum, kembali meraih uang dan meletakkannya ke dalam tas Glory, bibir gadis itu kembali dikecupnya,"Jadikan aku simpanan, jika kamu menyukai pria lain tidak masalah. Asalkan jangan menciumnya, saat menjadi kekasihnya," candaannya yang terus mengawasi gadis ini dengan identitas Ken.


Glory terdiam, bingung harus bagaimana, apa pemuda ini benar-benar akan menyingkirkan Ken?


"Kenapa tidak keluar juga? Tidak ingin pulang? Apa kamu ingin aku membuka pakaianmu dan belajar pelajaran praktek biologi bagaimana bayi disusui oleh ibunya bersamamu..." tanyanya tanpa tahu kata malu sedikitpun. Tidak ingin gadis itu membuat keputusan, hari ini. Ingin menggodanya lebih banyak lagi, mempermainkannya bagaikan layangan yang ditarik ulur olehnya.


"Ti... tidak!!" ucap Glory cepat, menyilangkan tangan di dadanya. Membayangkan hal yang akan dilakukan si mesum ini. Mengambil ranselnya, lalu melarikan diri keluar dari mobil dengan cepat.


Sementara Ferrell menghela napasnya, masih duduk seorang diri di kursi penumpang bagian belakang mobilnya."Aku harus bagaimana?" gumamnya tertawa, tersenyum-senyum seorang diri, masih ingin mempermainkan hati gadis ini lebih banyak lagi


***


Menyukai Ferrell sekaligus uangnya, khilaf sesaat yang membuatnya sesat, mengambil jalur pesugihan. Tidak, tidak boleh, dirinya sudah seperti wanita bayaran. Tapi bagaimana caranya lepas dari jeratannya? Sedangkan tubuhnya merespon, selalu gagal menolak tergoda olehnya dan uangnya.


Ini harus didiskusikan dengan teman-temannya untuk mendapatkan solusi. Tapi juga akan mempertaruhkan harga dirinya di hadapan Ken. Namun, jika terus-menerus seperti ini, mungkin selebriti itu akan berbuat lebih buruk suatu hari nanti dan dirinya juga tidak akan dapat menolak.


Hingga keputusan diambilnya, tidak apa harga dirinya menghilang di hadapan Ken. Lagipula Ken sudah pernah mendengar dirinya dibayar untuk berciuman dengan Ferrell. Yang terpenting bagaimana caranya terlepas dari sang selebriti idola.


***


Hari ini Glory melangkah dengan cepat, sedikit melirik ibunya yang tengah berbicara dengan Ratna tentang Grisella yang belajar kelompok hingga menginap di rumah temannya.


Tidak peduli lagi, tidak meminta uang jajan dari ibunya, mengingat jumlah uang di tasnya. Berjalan cepat hingga sampai di kelasnya. Satu persatu temannya mulai berdatangan termasuk Ken.


"Sudah membuat tugas praktek..." kata-kata Ita disela. Glory mengeluarkan seluruh uang yang diberikan Ferrell tadi malam, hasil pesugihannya.


"Dapat berapa?" Caca mengambil uangnya kemudian menghitungnya."1,5 juta, beruntungnya!!"


"Aku ingin berhenti, sebelum keperawananku direbut suatu hari nanti. Bisa membantuku? Ini untuk kalian jika bisa membantuku, untuk berhenti melakukan pesugihan, sebelum aku habis menjadi tumbal," ucapnya menelan ludah, penuh kesungguhan. Putus asa, sudah membulatkan tekad, namun tetap kesulitan mengendalikan diri di hadapan Ferrell.


Sementara Ferrell yang duduk di belakangnya, berpura-pura berwajah serius. Padahal dalam hatinya tertawa tiada henti, tidak menyesal rasanya, menerima hukuman liburan sebagai anak SMU oleh Damian.


"Kenapa berhenti? Coba fikirkan lagi, cium! Ambil uangnya! Tabung! Hingga dia bosan dan mencari wanita lain! Lalu uang tabungannya, bisa untuk kuliah mengambil jurusan hukum. Ingat biaya kuliah itu mahal, isi celenganmu cuma uang koin, uang kertas yang paling besar juga cuma lima ribu,"


"Nah, sekarang merah semua, lagipula hanya ciuman, bukan adegan ranjang. Dengan artis pula!" Ira menghela napas kasar, jika dirinya tidak dibayar pun dicium sekali saja akan berjingkrak-jingkrak kegirangan.


Glory menghela napas kasar, tertunduk sesaat,"Ada orang yang aku sukai, karena itu ingin melepaskan diri dari Ferrell. Tapi entah kenapa setiap diiming-imingi uang dan dicium olehnya aku tunduk tidak ingin atau dapat melawan. Tolong aku..." ucapnya memilin jemarinya, mengatakan dengan penuh kejujuran.


Ferrell mengenyitkan keningnya, lebih tertarik lagi, sekaligus kesal."Jadi benar-benar ada bocah lain yang disukainya?" gumamnya dengan suara kecil, masih berusaha tersenyum.


"Ken, tadi kamu bilang apa?" tanya Caca, mendengar tidak jelas.


"Bukan apa-apa, hanya saja aku penasaran siapa yang disukai Glory..." jawabnya tersenyum canggung. Namun matanya menelisik, wajah pria mana, siapa saja yang memiliki kemungkinan disukai oleh gadis centilnya.


"Benar, siapa yang kamu sukai, sampai-sampai ingin terlepas dari Ferrell?" tanya Budi antusias.


Glory terdiam, menatap ke arah teman-temannya,"Dia baik, lembut dan pemalu. Juga cerdas, tidak urakan, bukan tipikal pria agresif. Jika berhasil menjadi pacarnya, aku akan merasa bersalah seumur hidup, karena sudah melakukan pesugihan..." jawabnya ambigu.


Bersambung