My Kenzo

My Kenzo
Musim Ketiga : Siluman Ular Putih



Wajah seorang pria perlahan terlihat, seiringnya asap tebal yang mulai lenyap, "Ka... kamu siapa?" tanyanya, masih tersungkur di lantai.


"Namaku? Kenzo, mau bicara di tempat yang lebih aman?" Kenzo tersenyum, salah seorang pengawalnya mulai mengangkat tubuh Victor.


Sang pengawal berjalan mengikuti langkah Kenzo menelusuri lorong. Pria dengan earphone di telinganya,"Phil, kirimkan ambulance! Dalam waktu 7 menit harus sudah tiba di hutan. Sediakan juga satu set pakaian dokter dan dua set pakaian perawat perawat," perintahnya pada seseorang di seberang sana.


"Baik tuan..." jawaban orang tersebut mematikan panggilan Kenzo.


"Tunggu..." Kenzo yang berada paling depan, menghentikan kedua pengawalnya yang membawa Victor. Matanya menatap ada pergerakan disana, beberapa bahan peledak dipasang dekat bubuk mesiu oleh orang-orang dari Dark Wild yang setia pada Doom.


Satu pengawal mengekor waspada di bagian belakang. Pengawal yang menggedong Victor di punggungnya ada di bagian tengah, sementara Kenzo ada di paling depan."Mundur! Bersembunyi di lorong kiri," instruksinya kembali.


Mereka bergerak sesuai perintah Kenzo dan benar saja, orang-orang Doom yang masih tersisa di markas berniat meledakkan markas. Membuat Victor mati bersama orang-orang dari kelompok Dragon.


Orang-orang Doom yang berniat meledakkan markas mulai pergi, menyelamatkan diri."Tuan?" seorang pengawal menunggu perintah.


"Akses belakang dekat ruangan Viktor yang terbuat dari besi akan ditutup, agar tidak ada yang dapat melarikan diri. Kita keluar melalui pintu depan," ucapnya.


"Tapi..." sang pengawal hendak menyela.


"Kita tidak akan berhadapan dengan mereka, pakai ini!! Sumbat telinga kalian!!" perintahnya memberikan sobekan kertas yang dipungutnya dibentuk memanjang.


"Efek gelombang kejut dari ledakan dapat merusak pendengaran. Mereka akan pergi lebih jauh, baru meledakkan markas. Jadi melewati pintu depan pun kita tidak akan berhadapan dengan mereka," ucapnya tersenyum.


Victor hanya dapat terdiam tetap berusaha terjaga dalam keadaan sadar. Siapa pria ini? Apa tujuannya? Entahlah, namun hanya satu orang yang dapat membobol keamanan markasnya seorang diri.


Orang itu adalah pemilik W&G Company, yang entah kapan masuk mencuri database perusahaan yang bekerja sama dengannya. Kejadian yang baru diketahuinya setelah beberapa hari Steven kecil menghilang. Apa orang ini adalah si pengusaha gila yang memasuki markas mafia?


Memastikan mobil orang-orang Doom telah pergi. Kenzo benar-benar berpacu dengan waktu, melepaskan engsel pintu utama yang dikunci menggunakan gembok.


Brak...


Pintu terbuka, ketiga orang itu segera berlari sekencang-kencangnya.


"Tengkurap!!" perintah Kenzo.


Kedua pengawalnya menjatuhkan dirinya berbaring di tanah dalam posisi tengkurap, melindungi kepala mereka.


Dhuar...


Ledakan besar terjadi, api berkobar menghancurkan markas Dark Wild. Gelombang kejut yang benar-benar terasa hampir menghempaskan tubuh mereka.


Beberapa ledakan kecil terjadi, bersamaan dengan Kenzo yang bangkit membersihkan tanah dan daun yang menempel di pakainya. Kertas yang digunakannya untuk menyumbat telinganya dikeluarkannya.


Kedua pengawalnya melakukan hal serupa, namun membiarkan Victor terbaring dengan posisi tengkurap seorang diri. Hanya melepaskan kertas yang menyumbat telinganya saja.


"Ka... kamu kenapa menolongku?" tanya Victor.


Kenzo mengamati keadaan sekitar terdapat cahaya lampu dari sebuah mobil yang mendekat."Orang-orangmu sudah datang, berpura-puralah tidak sadarkan diri. Maka kita bisa bicara lebih banyak lagi nanti," ucapnya tersenyum.


Melambaikan tangannya, memberikan instruksi pada kedua pengawalnya untuk memasuki hutan mengikutinya.


Victor tersenyum, mengikuti perintah Kenzo, berpura-pura tidak sadarkan diri. Bersamaan dengan mobil Jeep milik Eden yang sampai, membawa beberapa pengawal,"Ayah..." panggilnya menatap tubuh itu bersimbah darah dengan luka di kepala dan punggungnya.


Para pengawal segera menaikkannya ke atas mobil Jeep. Tapi ditengah perjalanan, yang cukup jauh dari rumah sakit, mungkin menempuh sekitar 2 jam perjalanan. Sebuah ambulance terparkir di depan rumah kecil dengan sirene yang menyala.


"Ambil alih ambulance itu, cepat!! Ayah harus segera mendapatkan pertolongan pertama!!" perintah Eden.


"Ada pasien lain! Yang harus kalian selamatkan jika ingin hidup!!" perintah salah satu pengawal Eden, menodongkan senjata.


Sang dokter diam-diam tersenyum di balik maskernya. Ini sudah direncanakan olehnya, dalam waktu singkat. Jika pun Eden tidak membajak ambulance mereka, mungkin mereka sendiri yang akan menawarkan diri untuk menyelamatkan Victor.


Pada akhirnya Victor dibawa masuk kedalam ambulance dengan pengawal Eden yang menyetir ke rumah sakit. Sedangkan mobil Jeep milik Eden mengikuti ambulance dari belakang.


Dari sanalah, pembicaraan Victor dengan Kenzo yang berpenampilan bagaikan dokter dimulai.


"Aku sudah mengikuti perintahmu, apa keinginanmu sebagai ganti menyelamatkan nyawaku?" tanya Victor Hudson.


"Steven Hudson, aku menginginkannya," Kenzo tersenyum, membuka maskernya, kemudian meraih sekaleng sodanya.


"Steven? Hanya tinggal dia yang sesuai untuk menjadi pewarisku. Apa yang kamu inginkan dari putraku!?" Victor kembali bertanya dengan nada tinggi.


"Dia anak angkatku, tinggal denganku dari usia 6 hingga 14 tahun," Kenzo menghela napas kasar,"Dan sialnya dia selalu menggoda putriku,"


"Lalu? Kamu akan melukainya!? Atau memintaku agar menjauhkan mereka!? Jangan harap!! Steven satu-satunya harapanku memilki keturunan, tapi tidak pernah tertarik dengan wanita. Jika putrimu dapat membuatnya tertarik, aku akan melempar putrimu, ke rajang putraku..." ucapnya dengan arogansi tinggi.


Kenzo memijit pelipisnya sendiri, menekan emosinya, berbicara dengan pria yang ingin melepar Febria ke ranjang Steven. Tanpa dilempar pun dua orang aneh itu jika bertemu akan saling menggiring ke tempat tidur.


Andai, jika saja Febria menyukai Hitoshi semua akan lebih mudah. Tidak terjerat pramugara playboy bernama Benjamin. Hanya Steven harapannya, agar Febria meninggalkan Benjamin, setidaknya Steven yang dahulu dibesarkannya lebih dapat menyayangi Febria.


"Aku tidak suka memiliki menantu seorang mafia. Karena itu, kita membuat taruhan saja. Aku adalah pemilik W&G Company, dapat menjadi pendukung finansial Dark Wild jika aku kalah. Taruhannya, kamu harus berpura-pura tidak sadarkan diri, jika Steven bergerak merestorasi bisnismu, menjadi bisnis legal, dan memiliki hasil memuaskan. Aku menang dan kita berbesan..." ucap Kenzo, meminum beberapa teguk dari kaleng sodanya.


"Baik, tapi jika kamu kalah, Steven gagal merestorasi bisnisku atau tidak berniat merestorasi sama sekali. Kamu harus menjadi pendukung finansial Dark Wild, sekaligus menerima putrimu untuk masuk ke dalam keluarga mafia," jawaban dari Victor Hudson.


"Deal..." kedua orang yang tersenyum penuh rasa percaya diri.


Sebenarnya tidak masalah bagi Victor Hudson. Dirinya juga sudah cukup lelah untuk menatap pembunuhan setiap harinya. Hal yang membuatnya mendirikan Dark Wild? Menatap kematian para karyawannya yang dibunuh kelompok mafia. Memiliki niat ingin balas dendam, namun dendam akan menimbulkan dendam lainnya. Keluarganya dan orang-orang terdekatnya terancam. Karena itulah dirinya mendirikan Dark Wild untuk melindungi diri.


Tapi perlahan sifatnya berubah, penuh ambisi, melatih belasan putranya. Membiarkan mereka bertarung hanya untuk memperebutkan tampu kekuasaan. Hingga yang tersisa adalah Eden dan Steven.


Suatu penyesalan baginya, dirinya terlalu angkuh. Membubarkan Dark Wild? Itu artinya mencari mati, mengingat banyaknya musuh kelompoknya. Mungkin jika Steven berhasil merestorasi bisnisnya, orang ini (Kenzo) selaku mertuanya dapat membantu menjaga dirinya dan keluarganya.


***


Saat ini, satu tahu kemudian, kediaman milik Eden...


Pria yang tengah memakai baju pasien itu makan dengan tenang. Ditemani air putih dingin dan segelas red wine.


"Tuan Hudson, Eden datang!!" ucap seorang perawat berlari dari luar.


Dengan cepat Victor meminum air putihnya, "Sembunyikan makanannya dibawah tempat tidur!!" perintahnya dalam kepanikan.


Sang perawat meletakkannya asal, sedangkan Victor kembali membuka mulutnya, memasukkan selang sebagai alat bantu pernapasan, dibantu perawat lainnya.


Eden memasuki kamar tempat ayahnya dirawat, menatap tubuh yang begitu rapuh baginya,"Ayah..." ucapnya mendekat, menggerakkan kursi rodanya. Wajah sang ayah dibelainya.


"Ayah segeralah bangun siluman ular putih menikah pagi ini. Dia dalam proses pembiakan anak-anaknya. Mungkin akan mengeluarkan puluhan anak. Ayah harus bangun..." pintanya terisak.


Menikah? Steven menikah? Lalu bagaimana dengan perjanjianku dan Kenzo. Pengusaha gila itu mungkin akan menghancurkan bisnisku hingga tidak bersisa, mengira aku hanya mempermainkannya...


Bersambung