My Kenzo

My Kenzo
Bunga Matahari



"Kamu akan pergi?" tanyanya menatap ke arah Amel.


"Iya, Kenzo akan ke Singapura malam ini. Ini...Aku membawakan cup cake untukmu. Setiap aku ke Jepang, aku akan menjengukmu, semoga saja aku dapat mengumpulkan uang untuk kemari lagi..." Amel tersenyum pada gadis yang kini memakai pakaian tahanan.


Aiko perlahan membalas senyumannya, bibirnya bergetar,"Kamu tidak membenciku? Aku hampir membunuhmu dan pacarmu..." air matanya akhirnya mengalir tidak tertahankan.


"Aku membencimu, sangat..." cibir Amel masih tersenyum,"Bahkan dalam cup cake ada obat pencaharnya..." dustanya.


"Aku akan tetap memakannya..." Aiko menghapus air matanya.


"Kenapa memakannya? Apa kamu mengalami sembelit?" gurau Amel tertawa kecil.


Aiko ikut tertawa, kemudian menggeleng,"Jika aku memakannya, aku ingin kita tetap menjadi teman..."


Amel mengangguk, kemudian tersenyum,"10 tahun, 20 tahun, berapa tahun pun hukumanmu setelah keluar, hubungi aku melalui e-mail. Kita bermain bersama lagi..."


"Terimakasih..." Aiko kembali tertunduk menitikan air matanya.


Entah kenapa wanita ini memahaminya, kondisi psikologis Aiko perlahan sudah mulai pulih. Menyadari apa yang diperbuatnya salah, seberapa berharganya nyawa manusia.


Kasih sayang? Setiap makhluk yang diciptakan Tuhan terlahir untuk dicintai. Berbagi kasih sayang, dengan orang-orang yang benar-benar mengasihinya. Tidak serakah akan rasa kasih, karena bukan hanya dari satu atau dua orang, banyak orang lain yang sejatinya mengasihinya.


Seperti rasa kasih satu orang yang memiliki wajah serupa dengannya. Duduk di tempat tidur rumah sakit, menerima kata-kata permintaan maaf adiknya melalui surat. Air matanya mengalir, meraba sketsa wajahnya di atas kertas yang terlipat.


"Maaf...dan terimakasih..." Aika menitikan air matanya tiada henti.


Semua kata-kata psikiater dan Hiasi tentang kondisi psikologis saudarinya telah didengar olehnya. Andai dirinya yang berwatak keras dibawa oleh sang ibu, mungkin dirinya akan mengalami nasib lebih mengenaskan. Dianiaya tanpa henti, menjadi sosok yang lebih keji.


Maaf, tidak pernah mengunjungi Aiko yang dahulu tinggal dengan sang ibu. Dan terimakasih sudah mengalah meninggalkan rumah ayah dahulu.


Tidak menyalahkan Aiko ataupun membenarkannya. Ingin memeluk merangkulnya, menghapus rasa ketidak pedulian pada saudarinya.


***


Malam semakin larut, gadis cantik itu berjalan menyeret kopernya menuju area keberangkatan penumpang. Kenangan hampir satu tahun lalu diingatnya, kala seorang gadis berpakaian XL pria menarik koper dengan napas putus-putus, mengikuti langkah kaki panjang seorang pemuda. Pemuda tidak waras yang bahkan tidak dapat berbahasa Jepang.


Mengikuti punggung kokoh pemuda itu terasa sulit. Namun kali ini berbeda, Amel mengimbangi, melangkah bersamanya. Jemari tangan mereka bersinggungan, bagaikan keduanya melakukan dengan sengaja. Ingin saling bergandengan, tapi enggan untuk memulai hingga Kenzo pada akhirnya yang menggengam tangan Amel terlebih dahulu. Meninggalkan negara yang hampir satu tahun ini mereka tinggali.


***


Pesawat perlahan mulai lepas landas, pemandangan malam Okinawa terlihat dari atas. Lampu-lampu indah dari deretan gedung pencakar langit. Rumah-rumah kecil bersinar samar mungkin berisikan sebuah keluarga yang tengah memakan makanan hangat.


"Tidurlah..." Kenzo menarik Amel, menyenderkan kepala Amel pada pundaknya.


"Menurutmu apa yang terjadi pada Tatewaki?" tanya Amel ragu.


"Entahlah, jangan memikirkannya... Ayo kita tidur..." jawabnya.


Amel hanya terdiam, memejamkan matanya, bersamaan dengan Kenzo yang mendekap tubuhnya. Bersandar bersama dalam ruang gerak yang sempit.


Jet pribadi? Atau kursi kelas bisnis? Tidak, mereka berada di kursi kelas ekonomi. Jarak tempat duduk yang berdekatan, terasa hangat. Kala tidak perlu membuat alasan agar Amel tidur menyender pada dirinya.


Kenzo merasa bahagia, itulah yang terpenting. Dua orang kasmaran yang menjalani hubungan tanpa status.


***


Tatewaki mulai memakai jas kerjanya, bunga lavender masih berada di vas kamarnya. Mengenakan jam tangan dan tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Tidak lupa sebuah kacamata terkesan minimalis, melekat padanya.


"Seina ...aku berangkat..." ucapnya meninggalkan apartemen, bagaikan seseorang berada di dalam sana.


Angin menerpa gorden jendela yang cukup besar, menghadap langsung ke arah langit. Kupu-kupu putih, yang semula hinggap di bunga lavender mulai mengepakkan sayapnya yang lemah.


Sayup-sayup sayap itu mencoba bertahan di tengah angin yang semakin kencang. Menembus teriknya sinar matahari yang menerpa sayap tipisnya.


Melewati indahnya guguran sakura di musim semi. Entah kemana tujuannya, seakan tidak ada yang menyadari, beberapa orang tertawa, membawa bekal, meminum sake menikmati guguran sakura.


Kupu-kupu putih kecil yang terus terbang tidak kenal menyerah.


Seorang wanita terbaring, sudah mengalami koma selama dua tahun. Tidak ada harapan lagi baginya, orang tuanya telah menandatangani surat persetujuan untuk mencabut alat penunjang kehidupannya, hari ini.


Mungkin roh-nya sudah menyerah akan hidup ini. Mencoba bunuh diri, setelah ditipu kekasihnya, gagal menikah setelah menyebar undangan. Bahkan menyadari kehamilannya, melahirkan tanpa memiliki suami. Mencoba menenggelamkan dirinya usai melahirkan putranya.


Anak tunggal, dari sepasang suami-istri yang tua renta. Sepasang suami istri yang tengah membawa cucu mereka, anak manis berusia dua tahun. Tubuh koma yang terbaring bernama Yuri, itulah anak tunggal mereka.


"Yuri...ibu mohon bangun, untuk terakhir kalinya, ibu memohon padamu, kasihanilah putramu!! Dia masih membutuhkanmu..." tangisan seorang ibu yang tidak tertahankan.


Air mata sang ibu mengalir,"Jika Tuhan itu adil!! Tolong buat putriku bangun, agar ada yang mengurus kami di masa tua. Agar ada yang membesarkan cucu kami..." doanya, tangan sang suami yang juga telah keriput, menepuk pundak istrinya ikut menitikan air matanya. Disamping sebuah kereta bayi.


Sayap kupu-kupu putih sedikit bersinar, bagaikan telah lelah. Memasuki tirai jendela rumah sakit, hinggap diatas tangan sang wanita yang tengah koma.


Kupu-kupu putih, berhenti bersinar, tiba-tiba jatuh ke lantai. Tidak bergerak lagi, kaku bagaikan telah mati.


Sang wanita membuka matanya perlahan, "A...ayah...i..ibu..." ucapnya lirih, mencoba menggerakkan tangannya yang lemah.


"Yuri...!!" sang ibu menangis penuh rasa haru,"Sayang!! Cepat panggil dokter..." lanjutnya pada sang suami yang segera menghapus air mata, berlari dengan cepat. Setelah menekan sakelar di tepi tempat tidur berkali-kali.


"Ibu akan menjagamu!! Kamu ingin melupakannya bukan? Tidak apa-apa gagal menikah! Setelah kamu sembuh kita akan memulai hidup baru bersama putramu. Kita akan pindah rumah, agar tidak melihat nya (kekasih Yuri) dan istri jal*ngnya lagi..." ucap sang ibu, menangis tiada henti memegangi jemari tangan putrinya.


Wanita itu berusaha tersenyum, menatap ke arah bunga lavender di meja samping tempat tidur. Air matanya mengalir, entah kenapa,"O...Oki... Okinawa," ucapnya terbata-bata.


"Kamu menyukai Okinawa? Kita akan tinggal disana?" sang ibu tersenyum dalam tangisannya.


Wanita di atas tempat tidur berusaha keras, menggengam jemari tangan keriput sang wanita tua. Bagaikan berjanji pada Tuhan untuk menjaga sang wanita tua dan putra Yuri, dengan baik. Anak yang sejatinya telah ditinggalkan ibunya pergi.


***


Singapura...


Frans menghela napas kasar, otaknya Benar-benar buntu kali ini. Menatap pemuda di hadapannya yang tengah mengerjakan beberapa berkas.


"Kenapa mengundang Kenzo!?" bentaknya benar-benar kesal.


"Walaupun pertunangan untuk menarik investor, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk bertemu dengan kakak. Aku pintar bukan?" Gilang kembali mengerjakan berkasnya sembari tersenyum.


Frans mencoba menetralkan dirinya, tersenyum pada Gilang,"Kenapa tidak menjadikannya pertunangan resmi saja, sungguh-sungguhlah mencintainya!! Dia dari perusahaan yang bekerja sama dengan Bold Company, bukan!? wajahnya juga lumayan," tanyanya, berharap Kenzo tidak akan pernah mengetahui rahasia yang disembunyikannya.


"Materialistis, bahkan bagaikan wanita malam, memiliki banyak kekasih, tidak mandiri sama sekali. Setiap bicara berbau rokok dan alkohol. Sudah hampir dua tahun semenjak berpisah dengan Keyla, aku sudah cukup pintar menilai wanita," Gilang kembali meletakkan berkasnya berbicara pada Frans.


Semakin pintar? Aku malah cemas, jika kamu semakin pintar... gumam Frans dalam hatinya.


"Aku akan segera menemukan Amel, meminta maaf padanya dan menerima perasaannya..." lanjutnya.


Mampus!! Kamu akan membunuhku... Frans menghela napas berkali-kali mentralkan kekesalannya.


Seorang pemuda memasuki ruangan, membawa secangkir kopi hangat, tersenyum pada Gilang."Frans, kamu disini?" tanyanya.


Tomy, itulah indentitas pemuda itu. Komisaris dari Bold Company, sepupu Gilang. Cucu Suki dari Adrian yang tidak melewatkan masa kecilnya di rumah utama.


"Apa Kenzo juga ada?" tanyanya dengan mata menelisik.


"Dia dalam perjalanan..." Frans tertunduk menghela napas kasar.


Tomy duduk perlahan, menatap ke arah Gilang, mengenyitkan keningnya,"Tidak perlu bertunangan untuk menaikan nilai investasi. Bagaimana jika wanita yang kamu sukai mengetahui dan salah paham?" tanyanya meraih berkas.


"Amel tidak mungkin kebetulan berada di Singapura. Dia tidak akan mengetahuinya, ini hanya untuk dua bulan. Setelah proyek berakhir begitu pula kesepakatan pertunangan palsu antara dua perusahaan..." jawabnya, tersenyum.


"Jangan tersenyum seperti itu, tidak hanya kamu pria di dunia ini," Tomy meminum kopi miliknya memberi nasehat. Sebenarnya masih ada jalan lain, mencari investor satu persatu, namun menelan waktu cukup lama.


"Amel tidak memiliki pria lain di hatinya, sahabat baiknya (Marina) yang mengatakannya. Dia selalu menungguku bahkan ketika Keyla menjadi kekasihku, aku berjanji ini terakhir kalinya... karena aku sudah menyadari, hanya dia yang tulus padaku..." ucapnya.


Tidak ada yang menyadari Frans meraih setangkai bunga Matahari.


Mencabut kelopak bunganya satu persatu sambil bergumam dalam hati...


Mampus...


Berhasil kabur...


Mampus...


Berhasil kabur...


Mampus...


Berhasil kabur...


Bersambung