
Pagi menjelang, Ferrell merenggangkan otot-ototnya yang kaku, mengecup kening Glory yang masih tertidur nyenyak. Perlahan berjalan mengambil handuk, dan ember kecil berisikan peralatan mandi sang gadis, tidak menyadari hal yang terjadi di luar sana.
***
Tetangga kost Glory sudah kasak kusuk dari pagi, membicarakan gadis yang katanya baru mengikuti ujian masuk universitas membawa seorang pria ke kamarnya.
Dipenuhi rasa ingin tahu yang tinggi, benar-benar kreatif, dengan imajinasi setinggi langit, disertai sifat inovatif, itulah wanita. Mendorong insting alami mereka untuk mengumpulkan informasi, bak detektif swasta yang hebat, dengan istilah kebenaran hanya ada satu.
"Si anak baru (Glory) membawa laki-laki menginap?" tanya seorang gadis berambut panjang.
"Iya, aku melihatnya sendiri, tapi karena gelap, wajahnya tidak terlihat jelas..." jawab wanita berambut ikal.
"Aku bersebelahan kamar dengan Glory, semalaman aku tidak tidur karena mengerjakan skripsi. Tapi tidak ada suara ***-***, mungkin yang menginap kakaknya..." wanita berambut pendek menyela.
"Atau mungkin begini, mereka saudara yang memiliki ikatan darah. Tinggal terpisah, bertemu ketika dewasa, saling jatuh cinta. Tapi sayangnya perasaan mereka harus diakhiri karena hubungan darah mereka. Mereka dipisahkan oleh kedua orang tua mereka. Masih saling merindukan hingga diam-diam bertemu..." ucap sang wanita berambut lurus.
Keempat mahasiswi yang telah membawa handuk dan embernya guna mengantri di depan kamar mandi mulai berimajinasi...
"Kamu bilang, kamu mencintaiku kan!?" seorang pria memeluk Glory erat dalam kamar kost, menitikan air matanya.
"Itu sebelum aku tau kamu adalah kakakku. Hubungan ini tidak bisa dilanjutkan. Aku adalah adik kandungmu..." tangisan Glory lirih.
Sang pria melonggarkan pelukannya, menghapus air mata Glory."Jika itu maumu, aku akan menjagamu sebagai seorang kakak. Mencintai tanpa bisa memilikimu,"
Tubuh Glory tiba-tiba diangkatnya ala bridal style, mata yang saling menatap penuh kasih, masih ada perasaan cinta disana walaupun cinta yang sejatinya terlarang. Tubuh yang diletakkan di atas tempat tidur, rambut gadis yang dielus lembut olehnya. Pemuda yang hanya duduk di tepi tempat tidur."Tidurlah...aku mencintaimu... akan berusaha mencintaimu bagaikan seorang kakak," ucapnya mengecup kening Glory berurai air mata.
Aku tidak bisa mencintaimu sebagai seorang kakak... karena itu, aku hanya dapat menahan rasa sakit ini seorang diri ... batin sang pria.
Itulah imajinasi liar dari empat orang mahasiswi tentang kakak tampan, dewasa, penyayang, yang harus mengalami dilema cinta terlarang dengan adiknya.
"I love you bang..." Gadis berambut lurus, berteriak dengan imajinasinya sendiri.
"Dari pada cinta terlarang, dedek mau sama abang..." ucap gadis berambut pendek.
Sedangkan dua orang lainnya masih terpaku akan imajinasi mereka menghela napas kasar bersamaan.
Seorang gadis yang berada di dalam kamar mandi keluar, menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mengerti, menatap keempat tetangga kostnya masih bengong tidak ada yang masuk ke kamar mandi.
Kakak tampan, maaf salah Ferrell berjalan dengan rambut acak-acakan. Bukannya jelek, pemuda itu malah terlihat lebih rupawan lagi. Berjalan menguap beberapa kali mendahului antrian.
"Boleh aku masuk duluan?" tanyanya pada keempat wanita yang memunggunginya.
"Iya..." salah seorang dari mereka menoleh sesaat, setelah itu kembali pada imajinasinya menoleh ke arah lain.
Ferrell mengenyitkan keningnya, memasuki kamar mandi, dengan handuk besar milik Glory di bahunya. Pintu kamar mandi tertutup...
Bug...
Barulah kesadaran orang yang menyahut kembali."Tadi yang masuk ke kamar mandi bukan wanita kan? Tapi seorang pria..." gumamnya dengan wajah pucat."Tadi Ferrell!!" teriaknya baru menyadari.
***
Suara gaduh yang tiba-tiba terdengar, teriakan dari beberapa orang wanita, membuat Glory terbangun.
Bug...
Mengejar-ngejar menggoda dirinya yang hanya mengenakan handuk di pinggang. Sedangkan celana panjang dan kemejanya di pegang olehnya. Mengingat letak kamar Glory yang berada di dekat kamar mandi luar.
Wanita-wanita yang kini mengendor-gedor pintu kamar Glory meneriakkan nama Ferrell.
"Aku ingin berhenti menjadi penyanyi..." ucapnya ketakutan.
"Ke... kenapa kamu malah keluar!?" Glory yang baru terbangun, berusaha tersenyum memendam kekesalannya.
"Aku punya kebiasaan, kalau sudah bangun ya harus mandi! Kalau kepanasan harus mandi! Bahkan saat pertama kali datang ke rumahmu, masih menjadi Ken, aku pernah mandi di rumahmu. Tapi ibumu tidak bereaksi seperti apapun..." ucapnya mulai duduk di tepi tempat tidur.
"Pantas saja ibuku pernah menganggap dirinya mengalami ilusi." Glory memijit pelipisnya sendiri.
***
Rumah Glory...
Kamila menghela napas kasar, setelah kepergian Samun. Gin membatalkan perjodohan? Itulah yang dikatakan olehnya, pemuda itu telah memiliki kekasih lain saat ini.
Tapi tetap saja, membiarkan Glory bersama dengan pria pilihannya sendiri? Hasan berjalan mendekati istrinya, menghela napas kasar."Kenapa tidak menyetujui pilihan Glory?"
"Aku takut, bagaimana jika nanti Ferrell berselingkuh. Kita tidak memiliki apa-apa, cucu kita mungkin akan direbut. Glory akan..." ucap Kamila.
Kata-katanya disela, Hasan menghela napas kasar."Jangan khawatirkan hal yang belum terjadi. Kita hanya dapat mendukung keputusannya, jika memang Ferrell orang yang baik. Coba fikirkan sekali lagi, jika kamu tidak menyetujui hubungan mereka,"
"Mereka masih muda, mungkin akan nekat untuk berhubungan di luar nikah jika tidak disetujui. Atau Glory mungkin akan frustasi setelah ditinggalkan Ferrell. Mencari kekasih asal-asalan, untuk melampiaskan sakit hatinya,"
"Mereka masih terlalu muda, dihentikan akan memberontak. Dinasehati terkadang dianggap ocehan. Jika Ferrell memang terlihat baik, jangan memandang apapun yang dimilikinya. Kita tidak dapat memprediksi masa depan, yang dapat kita lakukan hanya mendukung Glory, dan menjaganya saat terpuruk..." lanjut Hasan menghela napas kasar.
Kamila berfikir sejenak."Aku akan setuju, tapi ada satu syarat sulit..."
"Apa?" Hasan mengenyitkan keningnya, menatap istrinya yang memang terkadang keras kepala.
Kamila berjalan ke dapur, kemudian keluar dalam waktu beberapa menit, membawa jamu lengkap dengan kuning telur ayam kampung di dalamnya."Ini..."
"Ini?" Hasan mengenyitkan keningnya.
Wanita itu mengangguk, melepaskan ikatan rambutnya, menurunkan sebelah tali dari daster rumahan yang dipakainya."Jangan kerja ya hari ini..." pintanya memeluk tubuh kerempeng suaminya, menempelkan tubuh indah kencang dengan kulit putihnya.
Hasan tertawa kecil, kemudian tersenyum. Meminum jamu buatan istrinya."Tidak pakai jamu saja kamu sudah kalah," ucapnya mengusap bibir Kamila dengan jemarinya.
"Kita coba cara baru..." bisik Kamila, tanpa aba-aba, mencium bibir suaminya.
Tidak serasi? Tapi itulah, selera setiap orang berbeda-beda. Termasuk Kamila yang hanya mencintai suaminya. Dengan rupa fisiknya, mungkin saat muda dirinya dapat mencari suami yang lebih terlihat sempurna. Atau saat ini meninggalkan Hasan mencari pria kaya.
Namun sekali lagi, dirinya hanya dapat menurut dan mencintai Hasan, entah kenapa."Apa kamu memakai guna-guna, sehingga aku yang keras kepala bersedia menurut?" tanya Kamila.
Hasan menggeleng kemudian tersenyum."Tidak, hanya saja ...aku mencintaimu..."
Bersambung