
Hari berlalu, Gilang mengenyitkan keningnya pemuda menyebalkan itu terlihat lagi, berusaha mengganggu Kristin. Lancang? Tentu saja pipi wanita itu dikecupnya kala menguleni adonan.
Tidak tampan, lebih pendek dari Kristin, badannya sedikit bulat, bibirnya tebal, bahkan terlihat bagaikan pria yang sering mempermainkan wanita.
Pinggang Kristin hendak dirangkulnya, namun dengan cepat Gilang menepisnya.
"Jangan berbuat mesum, ini toko ..." kata-kata Gilang disela.
"Dia sudah menjadi kekasihku dari siang tadi. Sekarang sudah malam, dapur bukan wilayahmu, jadi tidurlah di gudang..." ucap Kristin acuh, hanya konsentrasi pada roti di hadapannya. Seolah tidak mempedulikan apapun. Mati rasa? Itulah yang terjadi padanya, ibu... hanya itu yang ada di fikirannya.
"Kristin dia..." kata-kata Gilang terhenti, gadis itu memberinya sepiring roti yang dipenuhi roti yang mengembang bukan roti gagal lagi.
"Ini untukmu, sudah dapat makanan sebaiknya, jangan menggangguku..." ucapnya menatap tajam.
"Baik!!" Gilang melangkah pergi dengan cepat, sementara pemuda yang kini menjadi kekasih Kristin tersenyum.
"Kita akan segera bertunangan jadi..." kata-kata sang pria disela.
Kristin menatap tajam padanya,"Selama kita belum menikah, aku akan paham..." ucapnya menunjuk lehernya sendiri yang tanpa noda sedikitpun.
Memberi isyarat leher pemuda di hadapannya yang memiliki bekas kecupan wanita. Bukan bekas kecupan biasa, menimbulkan warna keunguan. Mungkin pertanda betapa ganasnya wanita lain yang berhubungan badan dengannya.
"Maaf aku..." kata-kata pemuda itu lagi-lagi disela.
"Aku mengerti, tidak akan marah, tapi aku ingin kamu menyentuhku hanya saat malam pertama nanti," ucapnya pada putra sang pemilik toko roti.
"I...iya... sebaiknya aku pulang," sang pria gelagapan meninggalkan toko roti milik ibunya.
Kristin hanya tersenyum, semua pria seperti Antoni (ayah Kristin), itulah anggapannya. Mengangkat wanita, mengagungkannya, setelahnya, melempar ke lumpur usai tidak menarik lagi. Seperti yang terjadi pada Mika.
Hingga tiba-tiba perutnya terasa sakit, terjatuh menggengam adonan tepung. Sakit? Tentu saja, bagaikan akan mati rasanya.
***
Dalam gudang, Gilang nampak kesal bersungut-sungut, melempar roti yang mengembang sempurna. Panas itulah rasa hatinya, hingga dirinya mengacak-acak rambutnya frustasi.
Imajinasi liar terlintas dalam benaknya...
Adonan roti jatuh di lantai dapur berantakan, tubuh Kristin dinaikkan di atas meja oleh si buntalan kolang-kaling itu.
"Hentikan..." Kristin menepis tangan sang buntalan kolang-kaling yang ingin memasuki pakaiannya.
"Aku kaya, jadi kamu dapat membalas dendam dengan sesuka hati..." bisiknya, membuat Kristin refleks membuka kancing kemejanya, membuka pahanya lebar-lebar.
Imajinasi aneh yang membuat wajah Gilang pucat pasi. "Aa....aaa...aku sudah gila!!" teriaknya.
Hingga jemari tangannya mengepal, memutuskan untuk membuat alasan yang lebih tidak masuk akal untuk kembali ke dapur. Roti yang sempurna itu dipungutnya dari lantai,"Benar, aku hanya menyukai roti bantet yang gagal..." gumamnya, berjalan menuju dapur.
"Aku tidak suka roti..." kata-kata Gilang terhenti, menatap ke arah lantai.
Kristin berusaha menahan rasa sakit di perutnya, "Ka ... kamu tidak apa-apa..." tanyanya.
"Sakit..." lirih Kristin, memegangi perutnya.
Gilang segera menghubungi ambulance, menggunakan telepon toko roti. Mengangkat tubuh Kristin, "Aku akan membawamu ke rumah sakit..." ucapnya ketakutan.
Takut? Takut akan kehilangan gadis ini? Tapi kenapa harus takut? Karena dirinya kini tidak memiliki siapapun selain Kristin.
***
Aroma obat, alkohol, khas rumah sakit tercium. Gadis itu segera dibawa ke UGD, ditemani Gilang yang tetap berada di sampingnya.
Kamu tidak boleh mati ...kamu tidak boleh mati... gumamnya menangis tiada henti entah kenapa.
Hingga sang dokter yang melakukan pemeriksaan menghela napasnya,"Ini kemungkinan usus buntu, kami harus melakukan pemeriksaan lebih menyeluruh. Sebaiknya anda tunggu diluar..."
Gilang mengganguk, menunggu di luar dengan sabar. Namun beberapa saat kemudian dokter keluar, memberi keterangan ternyata memang benar-benar usus buntu. Memintanya mendatangi bagian administrasi, untuk keperluan mengurus biaya operasi nantinya.
"11 juta?" Gilang tertegun, mendengar total deposit 50% yang harus dibayarnya sebelum dilakukan tindakan operasi nantinya.
"Benar, ini kebijakan rumah sakit. 11 juta sisanya bisa anda bayarkan setelah operasi berakhir..." ucap sang pegawai administrasi.
Jemari tangannya gemetar, tidak ingin kehilangan Kristin, hanya itulah yang terfikir saat ini. Tidak tega menatap wajah itu meringis mengeluarkan keringat dingin. Air matanya mengalir, uang yang dimilikinya sebagai tukang parkir tidak seberapa, hanya 300.000 rupiah, itupun harus dipergunakannya untuk membayar uang sewa 250.000 besok.
"Bo... boleh saya pinjam telponnya?" tanyanya yang sudah hampir dua tahun hidup tanpa phoncell pintarnya. Dijawab dengan anggukan oleh pegawai administrasi.
Otaknya mencoba-coba mengingat nomor phoncell sepupunya. Hingga pada akhirnya tersambung.
"To... Tomy bisa bantu aku, aku memerlukan uang. Temanku Kristin..." ucapnya menghapus air matanya sendiri.
"Temui aku di Dark hotel kamar nomor 367, maka akan aku pertimbangkan," sambungan telepon diputuskan Tomy sepihak.
"Tapi ini darurat...halo? Halo? Br*ngsek!!" kesalnya.
***
Dark hotel tempatnya berada saat ini, berjalan menelusuri lorong. Hingga kamar dengan nomor 367 dilihatnya. Dengan cepat pintu dibukanya.
Seorang pemuda duduk masih memakai jubah mandinya, dengan seorang pengawal berada di belakangnya,"Perlu uang?" tanyanya.
"I...ini untuk biaya operasi temanku, jika terlambat dia akan..." kata-kata Gilang terpotong, Tomy berjalan mendekatinya.
"Dia temanmu, bukan temanku..." cibirnya tersenyum mengerikan.
Gilang mengepalkan tangannya,"Jadi bagaimana caranya agar kamu membantuku?"
"Kamu menyukai temanmu layaknya pria pada wanita?" Tomy kembali bertanya.
"Tidak..." jawab Gilang cepat.
"Tidak boleh!!" bentak Gilang, tidak dapat menerimanya.
"Kenapa?" tanya Tomy kembali.
"Aku...aku..." kata-kata Gilang terhenti.
Tomy menyelanya,"Kamu membunuh kakakmu sediri, tidak pantas bersanding dengannya. Sebaiknya dia denganku saja..."
Air mata Gilang mengalir, mendengar kata-kata sepupunya, kenapa harus Tomy? Kenapa sepupunya bertindak begini?
"Tidak boleh!! Aku menyukainya, sebagai pria yang menyukai wanita!! Dia satu-satunya orang yang menemaniku..." ucapnya tegas.
"Kalau begitu apa yang bisa kamu tawarkan? Bagaimana jika jari telunjuk di tangan kananmu? Aku membencimu, tidak ingin kamu menjadi salah satu kandidat pewaris Bold Company. Aku akan memberimu uang, tapi biarkan pengawalku memotong jari telunjuk di tangan kananmu..." Tomy tersenyum bagaikan iblis tanpa hati.
"A...aku..." kata-kata Gilang terhenti, air matanya mengalir.
"Waktumu tidak banyak, mungkin wanita itu sudah mati sekarang..." ucap Tomy meminum segelas orange juice diatas meja.
"Aku setuju!!" jawabnya, terus menitikkan air matanya, tanpa satu jari dirinya masih bisa tetap hidup. Namun, jika tidak dioperasi Kristin akan mati dalam beberapa jam.
"Ulurkan jari telunjukmu di atas meja..." perintah Tomy, memberikan pisau bedah yang ada diatas meja pada pengawal di belakangnya, bagaikan sudah disediakan olehnya dari awal.
Gilang menurut sembari menutup matanya. Takut? Tentu saja, siapa yang tidak akan ketakutan jika satu jarinya akan dipotong dengan sengaja.
Namun ini demi nyawa Kristin satu-satunya orang yang mau berteman dengan tukang parkir sepertinya. Satu-satunya orang yang membuat perasaan tidak karuan saat ini.
Trang...
Suara beberapa benda metal berbenturan terdengar, bukan rasa sakit yang luar biasa dirasakannya.
"Sudah belum? Ke ... kenapa lama? Kristin akan..." kata-kata Gilang yang mencoba membuka matanya guna mengintip, terhenti.
Hal yang dilihatnya? Beberapa kunci, dan dompet, sebuah surat resmi dari Bold Company di dekat jari telunjuknya. Matanya beralih menatap pengawal Tomy yang mengupas Apel menggunakan pisau bedah milik tuannya.
"Aku tidak perlu jarimu, apel lebih enak..." ucap Tomy tersenyum.
"Hukumanmu dicabut, CEO pengganti (Leon) sudah banyak membuatku pusing hampir dua tahun ini. Dia berteriak setiap hari, kapan putra tunggalnya akan pulang..." lanjutnya.
"Ini berarti, aku..." kata-kata Gilang terhenti, Tomy menyelanya.
"Benar, selaku kepala keluarga aku mencabut hukumanmu. Temanmu sudah dioperasi, tenang saja, ada seseorang yang aku tugaskan mengawasimu diam-diam selama 24 jam. Berliburlah!! Beberapa minggu sebelum kembali ke kantor!" Tomy melempar beberapa kunci yang ada di atas meja,"Hadiah rumah dari ayahmu jika berhasil melewati hukuman sulit yang aku berikan..."
"A...aku kembali kaya? Kembali menjadi anak konglomerat?" tanyanya tersenyum, dijawab dengan anggukan oleh Tomy.
"Sepupu br*ngsekku..." Gilang berjalan cepat memeluk Tomy erat, mencium pipi dan keningnya.
"Lepas!! Jangan menciumku!! Jika istriku mencium aromamu dia akan mengira aku berselingkuh dengan pria!!" bentak Tomy berusaha mendorong Gilang.
***
Satu hari berlalu, Kristin hanya ditemani Gilang disana, dalam ruangan kelas 3 rumah sakit swasta.
"Pulanglah, kamu harus bekerja..." ucap Kristin lirih.
Gilang menggeleng,"Aku ingin mengatakan ini sebelum terlambat. Aku menyukaimu jadi..."
"Aku ingin menikah denganmu..." ucap Kristin tersenyum, menyela kata-kata Gilang, menggenggam jemari tangan pemuda dihadapannya.
"Aku hanya tukang parkir..." Gilang mengenyitkan keningnya.
"Bukan masalah, tinggallah di tempat kost ku setelah kita menikah. Kita mulai dari awal, kita jalani bersama, hanya berdua..." air mata Kristin mengalir dalam senyumannya,
"Ta...tapi aku mohon, berjanjilah, bagaimanapun keadaan kita nanti miskin, kaya, sehat ataupun sakit. Tetaplah bersamaku hingga tua dan ajal menjemput kita nanti," lanjutnya.
Takut? Tentu saja, Antoni meninggalkan Mika (ibu Kristin) setelah mulai menjadi orang yang memiliki segalanya. Meninggalkan istri dan anaknya yang menemaninya, mulai dari menjadi pedagang minuman dan snack keliling. Hingga menjadi pengusaha batubara ternama.
Apa Gilang juga akan sama? Perasaan yang begitu terburu-buru, dirinya tidak ingin kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya di dunia ini. Hingga memberanikan diri meminta Gilang menikahinya.
"Aku berjanji..." Gilang menarik tengkuk Kristin, menggerakkan bibirnya perlahan, ciuman yang dimulai darinya.
Sentuhan bibir, decapan mulut, serta belitan lidah, bagaikan menyembuhkan hati yang terluka penuh dendam. Melenyapkan perasaan egois seorang pemuda.
Hingga pangutan itu berakhir,"Terimakasih, aku akan melupakan dendamku. Hidup untuk suami yang sudah menyelamatkan nyawaku," gadis itu kembali tersenyum.
Siapa yang membuatmu begitu terluka? Aku akan membalasnya untukmu... Cinta karena rasa terimakasih, aku merasakannya saat ini. Dan menginginkannya, lagi ...dan lagi...cinta yang membuatku gila...
Gilang kembali menatap mata itu lebih dalam, memangut bibirnya, dua pasang mata kembali terpejam, menikmati gerakan bibir yang perlahan...
Angin berhembus, meniup tirai jendela ruang rawat...
Bersambung
...Cinta karena rasa terimakasih? Itu ada dan nyata......
...Bukan hanya karena perasaan berdebar semata, namun kasih tulus yang menyentuh hati di tempat terdalam......
...Nyaman? Saling melengkapi? Begitulah hubungan kasih sejatinya. Takut kehilangan satu orang itu, satu orang yang terasa lebih penting dari nyawa ini......
...Ketakutan berjalan seorang diri dalam dunia yang sepi, tanpa kehadirannya......
...Aku baru menyadarinya...kakak... maaf......
...Aku yang membunuhmu......
...Ini kesalahanku......
Gilang...