
Diah menghela napas kasar, berusaha tersenyum dua buah paperbag berisi hadiah dengan nilai yang tidak murah ada di tangannya. Hal yang dilakukannya? Tentu saja, mengambil hati Vanya kembali, tidak ingin janda dua anak yang diketahuinya kemungkinan besar adalah kekasih Dava mempersulit keluarganya. Mengingat perlakuannya pada Ferrell dan Febria.
Menantu yang sempurna telah dimilikinya, masih gadis, cantik, anak rektor sebuah universitas ternama. Namun, kesempurnaan itu sekali lagi dikalahkan oleh kekuasaan uang.
Janda dua anak? Bisa dibayangkan wanita jelek dengan...
Khayalan buruknya terpotong dengan pintu yang dibukakan oleh Vanya. Wanita yang baru usai berkemas-kemas, Amel menginginkan mereka pindah ke villa mengingat beberapa wartawan sudah mulai pergi dari villa milik suaminya.
"Vanya, untuk kemarin aku ingin minta maaf..." Diah berusaha tersenyum, menyodorkan paperbag yang dibawanya.
Vanya menatap sinis, masih teringat dengan perlakuan buruk Diah pada kedua cucunya."Aku tidak akan..."
Kata-katanya terhenti sebuah mobil sport berhenti di depan gang rumah sempit. Mobil mulai terbuka, pakaian tertutup ala wanita karier dengan rok selutut, rambut digerai, wajah rupawan dengan riasan terkesan natural. Sepatu hak tinggi dengan stoking krem, bentuk tubuh? Jangan ditanya, membuat wanita manapun iri, membuat pria manapun menginginkan untuk mendapatkan wanita rupawan itu.
Super star? Top model? Entah apa yang sesuai untuk menjabarkannya. Namun yang pasti wanita itu telah menjadi milik seorang Kenzo.
"Ibu mertua, apa sudah semuanya?" tanyanya, masuk tanpa ragu, meraih dua buah tas yang hanya berisikan pakaian.
"Sudah, Damian akan menyusul nanti, dia sedang bekerja..." jawab Vanya.
Janda dua anak? Diah mengira seorang wanita tidak terlihat cantik sama sekali, mengingat harus mengurus dua anak dan harta almarhum suaminya. Tapi ini? Bahkan mengenalkan sebagai menantu akan menjadi sebuah kebanggaan, wanita karier rupawan dengan jumlah kekayaan yang pastinya tidak sedikit.
Vanya mulai mengunci pintu, bersamaan dengan senyuman yang mengembang di wajah Diah,"Kamu Amel Anggraini!? Maaf, aku sudah tidak sopan pada kedua anakmu. Aku..."
"Tidak apa-apa... tidak perlu sungkan," ucap Amel penuh senyuman.
"Namaku Diah, saudara jauh Vanya..." ucapnya mengulurkan tangan.
"Amel, lain kali tidak perlu sungkan, keluarga ibu mertua juga keluargaku," Amel meletakkan salah satu koper, membalas jabatan tangannya."Ibu mertua akan pindah ke villa milikku, bagaimana jika bibi ikut berkunjung..." ucapnya berjalan membawa kedua koper, bersama Diah.
"Terimakasih, omong-ngomong kedua anakmu sangat cerdas, apa mereka sekolah di sekolah bertaraf internasional? Andai aku memiliki cucu seperti mereka..." gumam Diah tertawa, diikuti dengan tawa Amel.
Meninggalkan Vanya yang tertegun, tidak mengerti dengan sikap menantunya.
***
Hingga ketika mobil melaju kini, Amel duduk di kursi pengemudi, sedangkan Diah duduk di kursi penumpang bagian depan. Dirinya duduk di kursi penumpang bagian belakang.
Banyak tawa dan pembicaraan yang tidak bisa diikutinya. Dirinya hanya terdiam, mendengarkan pembicaraan Amel dan Diah. Mereka bagaikan pasangan mertua dan menantu kalangan atas.
"Kamu suka tas kulit? Ada keluaran terbaru, buaya albino. Tante sempat melihatnya, limited edition..." gumamnya.
"Aku tidak begitu tertarik, adikku memiliki butik sendiri, cabangnya lumayan banyak. Jadi aku lebih sering menggunakan desainnya..." ucap Amel tersenyum, masih konsentrasi pada jalanan di hadapannya.
Diah tertegun, jemari tangannya mengepal. Apa kelebihan Dava sehingga mendapatkan keberuntungan yang lebih besar daripada putranya? Apa kelebihan anak durhaka yang hanya bisa membuat gerabah itu? Tidak, walaupun bukan gadis, tapi memiliki menantu seperti Amel adalah impian baginya.
Keluarga yang memiliki beberapa butik, uang? Bagaikan tinggal menjentikkan jari. Praba tidak akan keberatan, bahkan kecantikan Amel jauh melebihi Selly.
"Amel sebaiknya kita membeli bahan makanan dulu. Ferrell dan Febria menyukai..." ucap Vanya menatap mereka hampir melewati pasar tradisional.
Amel menghela napas kasar,"Ibu mertua, tempat itu tidak bersih. Lagipula di villa ada koki pribadi biar mereka yang memasak. Begitulah sistemnya, apa ibu mertua belum mengerti juga!?" tanyanya sinis.
Vanya tertunduk, apa ini sifat Amel yang sebenarnya? Apa hanya berpura-pura baik di hadapan Kenzo? Namun, hanya Kenzo yang dimilikinya dan Damian kini.
Senyuman menyungging di bibir Diah, mengetahui semuanya. Betapa tidak baiknya hubungan Amel dengan Vanya. Bagaimana tidak, wanita kelas atas dengan orang kaya yang telah bangkrut...
***
Mata Diah menelisik, berbagai benda bernilai tinggi berada disana. Semakin kagum dan menginginkan semuanya. Matanya melirik ke arah Vanya, iri? Tentu saja, dari pada merebut perhatian Vanya seperti perintah Virgo. Kenapa tidak merebut perhatian Amel saja untuk menjadi menantunya?
Diah mulai tersenyum,"Amel kamu di negara ini tidak lama, bagaimana jika tante menginap saja? Besok kita bisa mengunjungi butik adikmu, dan berkeliling, wisata kuliner. Sekalian tante kenalkan dengan Praba..."
"Ide bagus, kita bisa ke club bersama. Nanti malam aku kenalkan pada teman-temanku, yang sebagian besar berasal dari Singapura..." ucap Amel tersenyum, meletakkan koper milik Vanya diatas sofa.
"Tapi..." Vanya memegang jemari tangan Amel, hendak memperingatkan.
"Ibu mertua sebaiknya jaga rumah!! Hanya akan mempermalukan kami," Amel melepaskan tangan Vanya bagaikan enggan bersamanya.
Senyuman di wajah Diah semakin lebar,"Kalau begitu tante pulang untuk mengambil koper dulu..." ucapnya berjalan keluar dari villa dengan antusias, jemarinya bergerak cepat memesan taksi secara online.
Senyuman di wajah Amel yang tertuju pada Diah mulai pudar. Berjalan menuju dapur, membuka lemari es berukuran besar.
"Amel, Diah sebenarnya..." kata-kata Vanya disela.
"Bersabarlah, kita harus sabar jika ingin membuat orang terpuruk hingga tidak dapat bangkit lagi..." ucapnya ambigu.
Vanya mengenyitkan keningnya, menatap menantunya mulai tersenyum ramah seperti biasanya,"Maksudnya?"
"Makin tinggi mimpinya, makin besar juga dia rela berkorban melihat peti emas di depan matanya...Ini..." Amel tersenyum, menyodorkan kartu debit atas nama Vanya.
"Besok aku akan memberikan mimpi terindah padanya (Diah). Pura-puralah menjadi ibu mertua rangkap pelayan, untuk membuat mimpinya bertambah tinggi,"
"Setelah aku dan wanita itu pergi, ibu mertua bersenang-senanglah dengan Ferrell dan Febria. Gunakan uang dalam kartu debit ini, ke taman hiburan, kemanapun yang kalian inginkan... tenanglah ini hanya sementara. Untuk menginjak leher wanita yang berani menghina cucumu..." ucapnya tersenyum ramah, dengan nada mengerikan bagaikan iblis.
"Ja... jadi..." Vanya bertambah gugup.
"Jadi kita sekarang ke pasar tradisional membeli bahan makanan. Untuk menyambut Kenzo dan ayah mertua saat pulang nanti..." Amel kembali tersenyum seperti biasanya.
Vanya hanya menghela napas membalas senyumannya. Untuk pertama kalinya bertemu wanita picik dengan hati yang baik. Mungkin inilah menantu yang diinginkannya.
***
Semakin tinggi memiliki cita-cita semakin banyak juga berani bertaruh. Itulah yang terjadi, kala Diah sampai di rumahnya. Berjalan melewati ruang tengah menatap Selly yang berada di sana menunggu kedatangan Praba.
"Tante, aku bawakan oleh-oleh..." ucapnya tersenyum.
"Tidak perlu!! Kamu tidak ada pekerjaan lain, selain menunggu Praba. Wanita itu harus berguna bagi suami!!" cibirnya berkata sinis.
"A...aku bekerja mengajar, hanya sampai siang hari ini, jadi..." ucap Selly yang berprofesi sebagai dosen.
"Jadi bisa leha-leha? Berlagak seperti konglomerat!! Memasak tidak bisa, apa-apa tidak bisa. Praba seharusnya, berfikir terlebih dahulu sebelum memiliki tunangan sepertimu..." ucapnya dengan sengaja, lebih memilih Amel menjadi calon menantunya.
"Tante, kenapa berubah begini? Apa kesalahan Selly?" tanyanya berusaha bersabar.
"Salah mu? Praba terlalu bodoh untuk memilih pasangan!! Tante akan mendiskusikan dengan Praba untuk memutuskan pertunangan kalian..." ucapnya berjalan menaiki tangga menuju lantai dua rumahnya.
Jemari tangan Selly mengepal, tangannya gemetar, air matanya mengalir. Bahkan ayahnya sendiri bangga padanya. Namun, hanya calon ibu mertua, menghujat dirinya?
Praba, bahkan acuh padanya usai acara pertunangan yang kacau balau. Apakah Praba mencintainya? Atau mencintai status ayahnya yang menjadi rektor sekaligus pemilik kampus.
Bersambung