
Amel mengenyitkan keningnya, menghela napas kasar. Enggan menjawab kata-kata aneh dari Kenzo. Hingga dirinya penasaran dengan satu hal.
"Kenzo apa pekerjaanmu?" tanyanya.
"Pengangguran, aku baru saja berhenti menjadi office boy. Kamu tidak lihat..." jawabnya dengan mulut penuh.
Yang waras harus banyak-banyak besabar dan mengalah... gumamannya dalam hati menatap jenuh.
"Jadi setelah ini pekerjaan kita apa?" Amel, meraih segelas air. Berbicara mengikuti cara pemuda di hadapannya.
"Kita liburan selama beberapa bulan di Jepang. Kamu suka?" tanya Kenzo tersenyum.
"Jepang?"
Apa lagi yang akan dilakukan makhluk penyiksa ini padaku... Amel meletakkan garpunya, memikirkan nasibnya nanti akan seperti apa.
***
Beberapa bulan kemudian...
Tidak banyak hal yang terjadi, Kenzo masih tinggal sementara di Malaysia guna mengambil alih FIG Group, setelah harga saham benar-benar anjlok.
Benar-benar banyak masalah yang harus dihadapinya. Menangani karyawan pabrik, dengan memberikan asuransi jaminan kesehatan. Serta bagi yang terkena penyakit akibat zat kimia, perusahaan akan menerima salah satu anggota keluarganya bekerja, serta memberikan jaminan biaya pengobatan 30%.
Sistem keamanan karyawan juga diperbaiki. Masalah plagiat? Kenzo menuntut balik perusahaan lain, dengan akal busuknya menyimpan beberapa bukti seorang diri. Hingga dapat berunding dengan perusahaan pesaing, saling bekerjasama dengan satu produk. Dapat memasarkan laptop yang terlanjur diproduksi mereka.
Tidak banyak mengeluarkan dana, namun semua masalah teratasi dengan mudah...
Sudah tiga hari dirinya tinggal bersama Amel di kantor FIG Group, karena kesibukannya. Bahkan tempat tidur lipat ada disana.
Amel menatap laptop milik Frans yang terbuka. Pria itu kini tengah keluar, membeli makanan untuk mereka bertiga. Sedangkan Kenzo terlihat serius memeriksa beberapa kontrak dan dokumen dengan cermat.
"Aku bosan..." gumamnya, duduk di sofa, mulai menatap data-data pembekuan dan perencanaan di dalam laptop milik Frans.
Jemari tangannya mengetik memeriksa, bahkan menambahkan beberapa hal dalam perencanaan. IPK rendah? Tapi IQ-nya tidak rendah. Amel hanya terlalu sibuk menjual makalah pada mahasiswa lainnya, untuk membeli makanan, mengisi perutnya dengan sosis bakar tiada henti.
Tidak menyadari seorang pemuda berdiri di belakangnya sedikit membungkuk, membaca apa yang dikerjakannya.
Pipinya tiba-tiba dicium dari samping,"Pintar, ini hadiah untukmu..." ucap Kenzo, tersenyum padanya.
"Aku tidak perlu hadiah!! Aku hanya bosan!!" bentak Amel kesal, mengusap pipinya, namun tidak dipungkiri bibir lembut dari pemuda itu benar-benar membuat hatinya berdebar.
Dia hanya playboy.... fikirnya meyakinkan dirinya sendiri.
Entah apa yang ada difikiran Kenzo, pemuda itu duduk di samping Amel. Kemudian menarik gadis itu dalam pangkuannya,"Aku akan mengajarimu. Bagaimana menjadi seorang pekerja profesional..."
Jemari tangannya nampak lincah, wajahnya terlihat serius. Berada dalam posisi sedekat ini? Rasannya napas Amel sesak, sulit bernapas, apalagi dengan bibir lembut itu berada di dekatnya.
"Ini... lebih cocok menjadi perencanaan baru kan? Aku akan mengajarimu lebih banyak..." Kenzo tersenyum, menunjukkan layar laptop di hadapan mereka.
Amel menghela napas kasar, hal yang mungkin hanya dapat difikirkan satu divisi dikerjakan seorang diri dalam beberapa menit? Benar-benar jenius. Wanita itu menatap kagum, sekaligus iri. Hidup di bawah bayang-bayang seorang pria jenius.
"Turunkan aku, aku berat..." Amel mencoba turun dari pangkuan Kenzo. Namun pemuda itu menahan pinggangnya.
"Tidak berat, kita lanjutkan saja..." pemuda itu tersenyum, dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Mengajari Amel sembari memangkunya dengan tenang.
Hal yang disembunyikannya? Pahanya benar-benar kesemutan, mulai mati rasa. Namun, hanya ini kesempatannya memangku Amel bukan? Dengan modus mengajari.
Senyuman menungging di wajahnya, permata yang ditemukannya. Gadis chuby, cantik, berhati baik dan cerdas, itulah Amel dimatanya. Benar-benar bersyukur Kinan meninggalkan sebuah keajaiban untuknya.
Wanita yang dihindari semua pria adalah wanita paling sempurna di mata seorang pangeran antagonis.
***
Pria itu masuk mengingat setiap langkahnya 7 tahun yang lalu untuk pertama kalinya memasuki kediaman tersebut, dengan status menantu. Cindy tersenyum padanya membimbingnya menemui sang ayah mertua yang menyambutnya. Masih berbalut busana pengantin.
Bahagia? George sangat bahagia kala itu, walaupun mengetahui bukan dirinya yang menyelamatkan nyawa Cindy. Namun gadis yang telah menjadi istrinya, telah perlahan mencintainya. Tugasnya hanya menjaga perasaan cintanya, hingga saat Cindy mengetahui kenyataannya nanti akan tetap mencintai dirinya.
George kembali melangkah, membuka pintu kamar utama yang dahulu penuh dengan tawa diawal pernikahan mereka. Kini kamar kosong tanpa satu barangpun yang berada di sana.
Mereka tersenyum bahagia, kala mengetahui kehamilan Cindy. George masih mencintainya kala itu. Bahkan memperlakukan istrinya dengan hati-hati membuatkan susu ibu hamil sendiri. Tidak membiarkan pelayan mengerjakannya.
Semua berubah, semua telah berubah kala perut itu semakin membesar. Dirinya selalu pulang larut, mencari kepuasan lain dengan Sera.
Pertengkaran selalu terjadi, George bahkan pernah mendorong Cindy yang tengah hamil. Wanita cantik yang menangis, terduduk di atas lantai yang dingin.
"Jelek? Kamu tidak jelek, akulah yang sudah buta ..." gumamannya menangis berlutut menitikan air matanya tiada henti, mengingat hal-hal buruk yang dilakukannya.
Menyesali semua...iya.... namun dirinya mungkin masih dapat memperbaikinya. Agam dan Agler tetaplah putranya. Cindy akan luluh jika mereka membujuk.
***
George menghapus air matanya, bangkit, melajukan mobilnya menuju sanatorium. Dengan cepat berjalan mencari informasi ruang rawat putranya.
Namun, pihak sanatorium menggelengkan kepalanya, Agam telah pergi ke Singapura menjalani operasi cangkok sumsum tulang belakang.
Tidak ada harapan yang tersisa untuknya, George diam tertunduk. Kehilangan dua orang putra yang manis dan istri yang baik. Dirinya cukup bodoh, mengecewakan Cindy, memberi rasa sakit selama lima tahun. Hingga bahkan kepergiannya pun tidak memberikan kabar sama sekali.
"Aku mencintainya..." gumamnya, masih tertunduk dengan air mata mengalir, mengakui segala perasaannya.
Entah cinta seperti apa yang disebutkan George, mungkin cinta bagaikan kawat berduri yang menjerat orang yang dicintainya. Cinta yang menyakitkan bagi Cindy...
***
Saat ini, salah satu rumah sakit di Singapura...
Masihkah Cindy mengingatnya? Masih, namun sebagai luka yang telah pulih.
Seorang pemuda berpakaian pasien ditariknya, pemuda yang baru beberapa minggu lalu usai mendonorkan sumsum tulang belakangnya.
"Aku tidak mau!!" Roy berteriak, memegang salah satu tiang penyangga.
"Aku akan bertanggung jawab, atas kulit pipimu..." Cindy menariknya, ke arah ruangan dokter spesialis kulit. Guna mencari cara memperbaiki keadaan kulit pipi, leher dan punggung Roy.
"Tidak mau!! Mereka akan membedahku seperti katak!!" teriaknya kembali.
Wanita itu mengenyitkan keningnya, "Jangan bilang kamu membiarkan bekas luka di pipi dan lehermu selama bertahun-tahun, karena takut pada meja operasi,"
Roy hanya diam mengalihkan pandangannya, bagaikan malu untuk membenarkan.
"Seorang dokter takut dioperasi?" Cindy mengenyitkan keningnya menahan tawanya.
"A...aku takut! Memangnya kenapa!? Aku biasa melihat operasi pengangkatan tumor. Tapi aku sendiri takut dioperasi!! Apa seseorang tidak boleh punya fobia!?" bentak Roy emosi berjalan menjauh.
"Kamu mau kemana!?" Cindy berjalan menyusulnya.
"Kembali ke Malaysia!!" jawabnya ketus.
"Tunggu, kalau kamu bersedia dioperasi, aku akan mencium bibirmu..." ucap Cindy penuh kesungguhan.
Roy membulatkan matanya, langkahnya berbalik menuju ruangan dokter kulit untuk berkonsultasi, mendahului Cindy.
"Dasar pemalu, lain kali aku akan membuatnya mabuk lagi..." niat jahat terlihat di wajah Cindy. Mengingat tingkah berbeda Roy ketika mabuk.
Pria dengan tatapan mata tajam, menggoda tubuhnya tiada henti. Bagaikan pemain cinta profesional yang memabukkan, membuatnya takluk dengan mudah, mengikuti semua kehendak Roy tanpa membantah. Sentuhan itu masih diingat Cindy setelah beberapa bulan berlalu.
Bersambung