My Kenzo

My Kenzo
Cemburu



Hari sudah semakin sore, entah apa saja yang dibicarakan Kenzo di lantai satu tidak diketahui olehnya. Amel hanya menjalankan tugasnya membersihkan gudang, setelah bermain bersama Agler.


Gadis itu melangkah keluar dengan wajah dipenuhi debu, berjalan menghela napas kasar. Seorang figuran yang hanya lewat? Itulah dirinya, pelayan pribadi seorang Kenzo.


Amel membasuh tubuhnya, mulai memakai handuk. Kemudian mengenakan jubah mandi, suara hair dryer terdengar, kala dirinya mengeringkan rambutnya,"Benar, dia hanya menggoda. Dia Casanova sejati, kaya, tampan dan pastinya punya banyak pacar..." gumamnya meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Kenzo pria brengsek yang harus dihindari.


Kaos pria berukuran XL dengan motif yang berbeda dikenakannya. "Sedikit longgar? Apa bahannya mudah melar ya?" gumamnya, menghela napas kasar, tidak menyadari perubahan bentuk tubuhnya perlahan.


Gadis itu mulai berjalan menuruni tangga, menatap Agler yang berada di samping Cindy. Siapa bilang Cindy tidak cantik? Bentuk tubuhnya memang berubah karena telah memiliki dua orang anak, namun tetaplah terlihat ideal. Dengan kulit putih, serta wajah keibuan yang elegan, benar-benar pesona kalangan atas. Terluka di bagian wajah pun masih terlihat cantik.


Berbeda dengan Amel dimana panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume penuh, dengan wajah kusam tanpa perawatan miliknya.


Kenzo terlihat tersenyum dengan wajah seriusnya, bahkan pemuda itu belum menggati jubah mandinya. Entah apa yang dibicarakannya dengan Cindy, pertunangan? Pernikahan? Entahlah, tapi ini benar-benar mengganggu perasaan Amel.


Tidak, Kenzo hanya seseorang yang aneh. Amel hanya mencemaskan Cindy. Dirinya tidak mengenal kata cemburu pada Kenzo, tipenya bukanlah sosok Kenzo yang penindas.


Tapi bibirnya... batin Amel menatap pemuda yang tengah meminum secangkir teh dengan bibir lembutnya yang terlihat basah. Bayangan ciuman panas di tengah kolam renang itu kembali bergulir.


Gila? Apa dirinya ketularan tidak waras? Namun sejenak kesadarannya kembali, menepuk-nepuk pipinya sendiri. Pemuda itu kembali tertawa, entah apa yang mereka bicarakan.


Apa yang mereka rencanakan? Sejatinya rencana busuk pengembangan bisnis W&G Company kedepannya. Setelah putranya pulih, Cindy mungkin akan kembali meniti karier dari awal. Tentunya perusahaan menjadi tempatnya berinvestasi akan menjadi pilihannya nanti, untuk mulai bekerja dari nol menjadi wanita karier yang mandiri.


Keluarga bahagia dalam pengelihatan Amel, calon ayah tiri, ibu dan anak. Sebenarnya, calon bos dan calon bawahannya dengan banyak rencana busuk mereka.


"Aku mau makan kue kering..." ucap Amel berlalu berjalan ke dapur, berharap Kenzo menghentikannya.


"Rak ujung, toples hijau. Low kalori, terbuat dari tepung gandum..." kata-kata yang keluar dari mulut Kenzo kemudian, kembali berdiskusi dengan Cindy.


Hingga akhirnya, Kenzo melirik ke arah jam dindingnya. "Sudah sore, jika ada keperluan lain, hubungi nomor ini," ucapnya memberikan kartu nama Frans.


"Baik, aku juga harus kembali ke sanatorium," Cindy sedikit mendekati Kenzo kemudian berbisik,"Teddy Bear-mu sedang cemburu.. "


Kenzo menghela napas kasar, melirik ke arah Amel yang makan kue kering dengan tenang.


Aku berharap dia cemburu. Tapi terlalu jauh dari kata cemburu, memandangku saja tidak... keluh Kenzo dalam hati.


"Aku pulang..." Cindy tersenyum, senyuman dengan berbagai makna, menggedong putranya yang tertidur karena kelelahan.


Pasangan yang manis, itulah yang terasa, bukan yang terlihat. Pria yang bagaikan antagonis menyukai wanita gemuk baik hati. Bukanlah perasaan Amel yang lebih dalam, namun seorang Kenzo. Pria rupawan itu hanya luarnya saja yang keras, bagian dalamnya telah luluh.


Arti cinta yang sebenarnya? Sesuatu yang tidak diketahui Cindy. Wanita yang kini tengah tersenyum, mengemudikan mobilnya meninggalkan villa milik Kenzo. Mengagumi pasangan dengan rupa yang tidak sesuai, namun hati yang bagaikan saling melengkapi.


***


Menu yang benar-benar menggoda untuk seorang Amel. Bukan makan malam yang mahal. Namun, khusus hari ini Kenzo menuruti keinginannya. Hanya hari ini...


Mie instan dengan sosis panggang, seporsi ayam goreng crispy, chase cake.


"Ini lumayan enak..." ucap Amel tersenyum, namun entah karena kebiasaan makan dalam porsi terbatas. Dirinya mulai merasa kekenyangan, walaupun belum makan begitu banyak.


"Hanya hari ini, besok sebelum berangkat kerja, cabuti rumput liar di taman..." komat-kamit mulut itu memberikan pekerjaan tidak lazim lagi.


Suara sendok dan garpu yang terjatuh, membentur meja kaca...


Sudah aku duga ada yang tidak beres, dia tidak akan membiarkan hidupku mereka. Dasar play boy cap cicak... Amel menahan emosinya dalam hati, mengambil sendok dan garpunya dari atas meja menusuk sosis bakar berukuran besar.


"Amel adikmu bilang, kamu sempat menyukai seseorang. Apa kamu masih menyukainya hingga sekarang?" tanya Kenzo, namun hanya jawaban ambigu yang didapatkannya.


"Aku menunggunya seperti dedaunan kering, lama kelamaan akan layu dan jatuh ke atas tanah..." Amel menghela napas kasar, tertunduk, terlihat berusaha tersenyum.


Aku sudah melupakannya, menganggap kami hanya sahabat selamanya. Tidak akan pernah berubah, setidaknya itulah yang ada dalam hatiku saat ini. Dia sudah bahagia, aku juga harus bahagia, bukan? Walaupun berakhir dengan kang ojek, kang cilok, atau kang parkir... batinnya, yang memang sudah benar-benar menghilangkan perasaannya dari Gilang, dua tahun sudah cukup untuknya, kini perlahan Amel sudah terbiasa, hidup tanpanya.


Pangeran baik hati yang hanya berteman dengan makhluk buruk rupa sepertinya. Tunas rasa kasih dalam hatinya yang tumbuh, telah mati, tinggal menunggu waktu untuk layu sepenuhnya. Hingga pada akhirnya menjadi tanaman mati yang mengering, digantikan oleh perasaan kasih yang lain, untuk tumbuh.


Ikhlas? Memang sesuatu yang sulit, namun jika sudah dijalani akan terasa lebih mudah. Merubah perasaan kembali menjadi sahabat sepenuhnya, Amel tengah menghapus perasaannya seiiring waktu. Hingga, dapat menganggap Gilang hanya sebagai kenalan baik atau sahabatnya, cukup sahabat, jika bertemu kembali.


Namun kata-kata ambigu dari mulut Amel, membuat Kenzo tertegun, menghela napas kasar...


Menunggunya seperti dedaunan kering? Dia pria bodoh yang beruntung... apa kamu masih menyukainya?


Apa jika dia membalas perasaanmu, kamu akan segera berlari ke pelukannya...Tidak, Amel hanya milikku dari awal, pria manapun tidak boleh merebutnya...


Kenzo bangkit dari sofa di kamar tempat mereka makan, membungkukkan tubuhnya,"Ini hukumnya karena memikirkan dan membicarakan pria lain,"


"Tapi kamu yang bertanya, jadi aku..." kata-kata Amel terpotong, pemuda itu menangkup pipinya, memejamkan matanya perlahan, menikmati bibir wanita di hadapannya.


Entah kenapa, Amel ikut memejamkan matanya. Menikmati hukuman yang diberikan Kenzo, walaupun fikirannya sebenarnya menolak. Tidak ingin terjerat dengan pria yang hanya sekedar menggodanya saja. Menyukai? Kenzo mungkin hanya senang menggagu dan menertawakan nya saja.


Namun, satu hal yang tidak disadari Amel setetes air mata pemuda itu keluar, kala kedua pasang mata mereka terpejam. Takut kehilangan? Mungkin itulah penyebabnya, pemuda yang tidak memiliki rumah. Telah menemukan rumahnya untuk pulang, wanita hangat yang hanya ingin dimilikinya.


Mungkin dirinya serakah, namun tidak ingin Amel melihat pada pria lain. Hanya boleh ada dirinya...


Hanya dua orang yang paling berarti di hidupnya, selain kedua orang tuanya dan Kinan yang telah tiada... Amel yang dicintainya... serta Gilang adik yang dikasihinya...


Bersambung


...Jika aku berusaha lebih keras, mungkin lambat laun hatimu akan berubah, melihat ketulusanku......


...Atau sebaliknya......


...Saat kita bersama, orang yang kamu cintai akan datang, menarik tanganmu dari sisiku......


...Saat itu, aku tidak akan melepaskanmu. Tapi jika jemari tanganmu terasa menyakitkan ketika aku menahanmu.......


...Saat itulah, aku akan melepasnya, mundur, menjatuhkan diriku dalam kegelapan, tidak dapat melanjutkan melihat dunia ini lagi......


...Karena terlalu menyakitkan, kehilangan satu-satunya tujuanku. Bertahan di dunia yang menyakitkan ini......


Kenzo...