My Kenzo

My Kenzo
Tiga Saudara



Angin malam menerpa rambutnya, seorang wanita gemuk, mendekap bayi mungil yang tengah tertidur. Pemandangan malam dari dalam sebuah kereta api yang melaju terlihat.


Entah kenapa lagi dan lagi air matanya menetes. Hatinya mungkin masih sulit melepaskan segalanya. Namun, itu adalah sebuah ketentuan. Dirinya hanya figuran yang lewat dalam kehidupan pemeran utama pria, seseorang yang dicintainya.


Berkacamata, memakai pome, setiap tersenyum memperlihatkan kawat giginya, kini menjadi pemuda rupawan yang didampingi wanita cantik.


Alasan Amel dapat mencintainya sedalam itu? Mungkin hatinya tergerak ketika pemuda itu tersenyum padanya, berbicara penuh ketulusan tanpa merasa risih padanya.


Rasa kasih yang benar-benar menjalar merasuki relung hatinya. Amel hanya dapat menitikkan air matanya, memeluk erat putri kecil yang tengah berusaha diadopsinya.


Melupakan Gilang perlahan, pemuda baik hati yang tidak pernah dapat mencintainya...


Tidak pernah dapat mencintainya? Salah, Gilang dari awal sudah mencintainya, pemuda itu kini tengah memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Air matanya mengalir tiada henti, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak...


"Kenapa kehilangan seorang teman rasanya sesakit ini..." gumamnya, menyenderkan tubuhnya pada kursi pengemudi.


Sejenak fatamorgana Amel yang sering menumpang di mobilnya terlihat. Gadis yang tidak menyukai tantangan, hidup datar dan terus mengunyah.


'Gilang, berhenti aku ingin beli bakso...'


'Biar aku yang terakhir...'


Amel hanya menggelengkan kepalanya, tersenyum menarik tangannya keluar dari mobil. Wanita yang jarang meminta apapun darinya. Persahabatan yang terasa tulus, namun diri Gilang belum menyadari betapa mengakarnya diri Amel dalam hatinya. Tertutup topeng persahabatan.


"Gendut bodoh!! Aggrrhh..." teriaknya dalam tangisan. Marah, entah kenapa dirinya marah saat ini. Marah pada siapa? Entahlah, mungkin rasa sakit ini akan menghilang perlahan...


***


Wanita gemuk itu sudah jauh lebih tenang, menyeret kopernya, berjalan memasuki sebuah gang gelap, mendekap putrinya yang tengah tertidur.


Hingga rumah itu terlihat juga pada akhirnya, rumah mewah? Bukan, hanya rumah biasa di pemukiman padat penduduk.


Amel memejamkan matanya sejenak, menghirup napas dalam-dalam, mengetuk pintu...


"Ibu..." panggilnya.


"Sebentar..." suara seorang pria terdengar.


Hingga akhirnya pintu terbuka,"Amel!!" pemuda itu membentak mengepalkan tangannya penuh kemarahan.


"Ini anak siapa!? Apa kamu dihamili pria br*ngsek dan dia tidak mau bertanggung jawab!?" bentak Glen (kakak tiri tidak sedarah Amel), mencengkram pundak adik kesayangannya.


Dihamili pria br*ngsek? Bahkan kang cilok saja mungkin ogah dekat denganku... gumamnya dalam hati sulit berkata-kata.


"Aku ..." belum sempat Amel menjelaskan.


Glen menggenggam jemari tangannya sembari menitikkan air matanya,"Siapa ayah dari anak ini? Kakak akan mencarinya, menyeretnya ke hadapanmu memaksanya menikahimu..."


Pemuda itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya, berubah fikiran, menatap tajam berusaha tegar,"Tidak!! Dia tidak pantas menikah denganmu! Pria pengecut akan menjadi ayah dan suami yang buruk!! Tenang saja, kita tidak memiliki hubungan darah, kakak akan menikahimu..."


Aku siapa? Aku dimana? Menikah? Kenapa arahnya menjadi menikah dengan Glen... Amel benar-benar tidak habis fikir.


Wanita gemuk itu menatap aneh, membeku dalam kebisuan tidak dapat berkata-kata. Hingga wajah Glen yang terlalu dekat, penuh kesungguhan dengan adiknya didorong Wina (ibu tiri yang membesarkan Amel) menyebabkannya terjatuh di lantai.


"Jangan berkata yang tidak-tidak, Amel akan mengadopsinya karena sahabatnya yang hamil di luar nikah, berniat bunuh diri," ucap Wina meraih bayi mungil yang tengah tertidur dalam dekapan Amel, setelah sebelumnya dihubungi oleh putri sambungnya itu.


"Sakit!!" Glen memegangi pinggangnya, kemudian bangkit,"Jadi ini bukan anakmu?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Amel.


"Nindy (adik tiri satu ayah dengan Amel) mana?" tanyanya mulai meletakkan kopernya.


"Sedang keluar, katanya ada khursus..." jawab Wina, mulai berjalan masuk ke dalam kamar Amel meletakkan sang bayi mungil perlahan di atas tempat tidur kapuk.


Amel menghela napas kasar, dirinya tiga bersaudara dengan hubungan yang rumit. Glen merupakan anak Wina dengan suami pertamanya yang sudah lama bercerai. Sedangkan Wina menikah untuk yang kedua kalinya dengan Fero (ayah kandung Amel) duda beranak satu.


Dari pernikahannya menghasilkan seorang putri bernama Nindy. Hingga akhirnya Fero meninggal dari sejak Amel berusia lima tahun, sedangkan Nindy berusia satu tahun saat itu.


Wina membesarkan ketiga anaknya dengan hidup yang pas-pasan. Mungkin karena itu juga Amel memandang ibu tirinya bagaikan pahlawan. Memilih merawat dirinya yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengan Wina.


"Ayah apa sudah pulang?" tanya Amel kembali.


Ayah? Bukankah Fero, ayah kandung Amel sudah meninggal? Benar, ayah kandungnya memang sudah meninggal.


Wina menikah dua tahun yang lalu dengan seorang duda. Hidup tenang berkecukupan? Tidak, Alwi begitulah nama suami dari pernikahan ketiganya. Pria kasar, sering mabuk, tidak jarang menyewa wanita malam, bahkan kerap mencuri uang Wina.


Memukuli Glen, jika membela ibunya. Bahkan Nindy yang masih menginjak bangku SMU sering menjadi bahan pelampiasan amarah sang ayah.


Wina sudah pernah menuntut untuk bercerai, hingga Alwi mengancam akan membunuhnya serta anak-anaknya jika mereka benar-benar berpisah. Dengan ketakutan, Wina hanya dapat menyetujui untuk rujuk.


"Sudah dua hari Alwi (suami Wina saat ini) belum pulang..." jawab Wina terlihat murung.


"Nindy sudah dapat ijazahnya?" Amel mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Sudah, dia ingin kuliah jurusan design katanya. Tapi mungkin akan ditunda, ibu belum punya uang..." Wina kembali menghela napasnya.


"Ibu tenang saja!! Aku punya ijazah S1!! Aku akan bekerja di kantoran, gedung pencakar langit yang besar!! Masalah uang tidak masalah, ibu hanya perlu menjaga putriku..." Amel tersenyum tanpa dosa. Penuh tekad, seakan jalan yang mulus akan ditempuhnya.


***


Satu bulan kemudian...


Jalan mulus? Tidak terasa sudah puluhan perusahaan dimasukinya. IPK yang rendah, wajah standar, penampilan tidak menarik, tanpa pengalaman kerja, menjadi biang keladi dirinya tidak diterima oleh perusahaan manapun.


Satu bulan telah berlalu, Amel hanya makan nasi dan garam, mengingat tabungannya yang tidak seberapa. Ditambah harus membeli susu formula untuk putrinya.


Kakaknya Glen hanya berkerja sebagai buruh menurunkan gas LPG, sedangkan Nindy sang adik hanya fokus belajar. Gadis yang benar-benar memiliki ambisi tinggi, berambisi dirinya akan memiliki segalanya suatu hari nanti.


Amel menghela napasnya, dirinya belum mendapatkan pekerjaan juga. Hanya menjadi beban, menatap ibunya memasukkan benang ke dalam jarum.


Hingga hari mengerikan itu tiba...


Hari dimana Alwi pulang ke rumah dalam keadaan mabuk berat, setelah satu bulan lebih tidak pulang.


Prang...


Pot depan rumah di senggolnya. "Wina!! Wina!! P*lacur!!" teriaknya, meracau dalam keadaan setengah sadar dari area depan rumah, menggedor-gedor pintu dengan kasar.


Perlahan Wina yang ketakutan membukakan pintu. Tidak ingin suaminya membuat kegaduhan yang akan menjadi bahan gunjingan tetangga.


"Bagus ya? Suami datang bukannya di sambut!?" bentaknya, tertawa keras dengan langkah gontai akibat pengaruh alkohol.


Sudah satu bulan lebih, Alwi tidak pulang, tepatnya setelah membawa kabur uang tabungan Wina, yang sebenarnya diperuntukkan untuk biaya masuk kuliah Nindy.


Bersambung