My Kenzo

My Kenzo
Cara Menghiburnya



Matanya mulai terbuka, terlihat landasan pacu dari jendela pesawat. Senyuman menyungging di wajahnya, menatap Amel yang tertidur lelap.


Perlahan Kenzo, meraih phoncellnya, mengambil beberapa gambar Amel yang tengah tertidur, serta gambar kebersamaan mereka, mendekati pipi kekasihnya, kemudian menciumnya.


"Emmgghhh..." gadis itu terbangun, merenggangkan otot-ototnya, menghapus liurnya yang sempat mengotori pipinya dan pakaian Kenzo.


"Kenapa mengambil fotoku!?" bentak Amel penuh kekesalan hendak merebut handphone kekasihnya, berniat untuk menghapus foto memalukan dirinya.


Memalukan? Sejatinya tidak, Kenzo hanya mengambil gambar kebersamaan mereka. Tidak banyak foto kebersamaan mereka, mengingat Amel yang selalu menolak jika difoto dalam keadaan kacau.


"Ini akan menjadi kenangan..." Kenzo tertawa, menyembunyikan phoncellnya.


***


Pemuda rupawan itu tersenyum, menarik kopernya di area kedatangan penumpang. "Amel!! Lama sekali!! Kita harus segera ke rumah orang tuamu!!" bentaknya, melangkah cepat dengan kaki panjangnya.


"Untuk apa?" Amel mengenyitkan keningnya, menghentikan langkahnya.


"Marry with you (Menikah denganmu)..." ucap seorang Kenzo tersenyum tanpa dosa. Berjalan dengan langkah cepat."Calon anak tiriku, sudah menungguku..."


"Siapa yang mau menikah dengan pria menyebalkan sepertimu!!" teriaknya, berlari berusaha menghentikan Kenzo. Masih kesal dengan ulah pemuda itu yang mengambil fotonya diam-diam.


"Tentu saja kamu!! Jika ini Prancis, aku sudah mencari tempat sepi untuk menciummu.." ucap Kenzo, yang kini melangkah bersama Amel. Hendak memulai kehidupan mereka yang baru.


"Aku pesan ojek online saja..." gumam Amel saat sudah sampai di depan bandara. Merogoh handphonenya, memasang kartu dengan kode negara Indonesia.


"Kenapa tidak memesan taksi?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


"Ingin naik motor. Selama kita pergi, hanya naik mobil perusahaan, sepeda, bus. Aku rindu rasanya naik motor..." jawab Amel penuh senyuman, memesan dua ojek di aplikasi.


Kenzo hanya dapat menghela napas kasar, mengingat dua buah koper besar yang harus mereka bawa.


***


Beberapa belas menit menunggu ojek online telah sampai. Dan tibalah saat perdebatan siapa yang akan membonceng Amel.


Gadis cantik dengan tubuh menggoda, walau pakaiannya tertutup sekalipun. Aura yang benar-benar kuat, penampilan stylish, rambut panjang yang indah, wajah rupawan mengalahkan artis idola remaja. Keajaiban Tuhan yang hidup, hanya memboncengnya siapa yang akan melepaskan kesempatan ini.


"Aku yang bonceng yang perempuan, kamu bonceng pacarnya saja..." kesal tukang ojek pertama, menyodorkan helmnya pada Amel.


"Jangan mau dek, motor saya lebih bagus. Biar naik motor saya..." kesal tukang ojek ke dua ikut menyodorkan helmnya pada Amel. Wajah yang terlihat benar-benar antusias.


Antusias? Dua tahun yang lalu, setiap menaiki ojek, ojek online atau ojek pangkalan pun. Kang ojek akan menatap antara rela dan tidak rela, Amel gemuk menaiki motornya. Tapi kali ini diperebutkan?


Amel menghela napas kasar, hingga pada akhirnya Kenzo meraih salah satu motor. Menyuruh pengemudinya turun, memberikan helm pada Amel.


"Aku yang membonceng pacarku!! Kalian boncengan berdua dengan koper kami!!" ucapnya komat-kamit menatap sinis.


"Ta... tapi..." salah satu tukang ojek, ingin menyela.


"Mau aku beri rate 1? Atau sekalian komplain!?" tanyanya menatap tajam, mengintimidasi.


Dengan cepat kedua Driver ojek online, saling berboncengan, dengan salah satu koper ada di bagian depan dan koper lainnya di peluk driver satunya di bagian belakang.


"Ayo kita berangkat..." ucap kedua driver penuh semangat. Mengingat rate 1 atau komplain sama dengan mendapatkan sangsi.


Amel tersenyum menahan tawanya mengenakan helmnya. Menaiki motor, memeluk erat kekasihnya. Sementara pengemudi ojek online, mengikuti mereka berdua dengan membawa koper, menatap penuh kekecewaan. Pinggangnya tidak dapat dipeluk oleh Dugong, salah model majalah dengan bentuk tubuh indah.


Motor masih melaju, Amel bersandar di punggung kokoh kekasihnya. Hal yang diyakininya? Cinta yang hampir punah, sesuatu yang menurutnya bagain mitos. Rasa kasih yang tidak memandang rupa atau kekayaan, itu sudah tidak ada.


Sebagian besar cinta sejati di dunia ini akan meniru beauty and the beast. Seberapa buruk rupa sang pria, asalkan kaya, wanita cantik akan mengitarinya bagaikan kupu-kupu mengerubuti bunga.


Bagaimana pun sifat, karakter wanita, tidak peduli apapun, semua pria akan melirik, memperebutkannya jika memiliki kecantikan fisik.


Amel mengeratkan pelukannya, rambut panjangnya tertiup angin dalam perjalanan mereka. Dirinya mencintai Kenzo bukan karena uang, bahagia dengan hal-hal sederhana yang diberikannya, tidak menginginkan kemewahan darinya. Malah Amel ingin menjadi wanita yang patut dibanggakan, pantas bersanding dengannya. Belajar berkembang sedikit demi sedikit.


Kenzo? Pemuda itu tidak mencintai rupa fisiknya. Bahkan mencium bibirnya dan memeluknya tanpa jijik, ketika semua pria menghindarinya, mencibirnya. Mengingat berat badan dan rupanya yang kusam.


Dugong? Sang Dugong telah ditarik dari dasar lautan dalam. Menjadikannya ratu jahat, ratu jahat yang hanya mencintai antagonis kejam. Satu-satunya pemuda yang mencintainya dengan tulus, melindunginya bagaikan payung.


"Aku mencintaimu..." Amel berteriak di atas motor yang melaju.


"Aku juga..." Kenzo tertawa lepas, ikut berteriak, membelah jalanan besar yang mereka lalui. Semilir angin yang menerpa bagaikan sebuah kebebasan.


***


Dari seminggu yang lalu, Glen yang di hubungi Nindy dan Amel telah menjemput Wina dan Sany dari desa. Tinggal di sebuah apartemen yang mereka beli dari uang yang dikirimkan Amel. Uang tabungan gadis itu dari memetik anggur dan gaji bulanan yang diberikan Frans melalui rekeningnya. Sebuah apartemen yang cukup besar dengan 4 kamar dan satu dapur serta ruang tamu.


Suara bel apartemen berbunyi beberapa kali, perlahan Wina membukanya."Kenzo?" ucapnya.


Tidak berubah? Apa Wina mengalami katarak? Entahlah, namun hanya dirinya yang dapat mengenali wajah putri sambungnya dengan baik.


"Kita masuk dulu, Glen sedang bermain bersama Sany..." lanjutnya, membimbing Amel dan Kenzo memasuki apartemen.


Tidak ada yang canggung diantara mereka, empat minuman dingin dibuatkan Amel. Dihidangkannya, kemudian meraih, memangku Sany."Ibu ...ayo katakan ibu..." ucap Amel tersenyum mengajari anaknya bicara.


"Bu...bu...ibu..." anak yang cerdas, tidak canggung bertemu orang asing.


"Biar aku yang memangkunya," Kenzo meraih Sany,"Ayah... katakan ayah..."


"Yah...yah..." Sany tertawa, menyumpal mulut Kenzo dengan wafer yang ada di tangannya.


"Jadi kalian akan menikah?" Wina menghela napas kasar, dijawab dengan anggukan oleh Amel


"Apa ibu merestui kami?" tanyanya.


Wina tersenyum kemudian mengangguk,"Apa kamu bahagia dengannya? Jika iya, ibu tidak bisa melarang..."


Kenzo menggengam erat jemari tangan Amel, menatapnya sembari tersenyum, kemudian beralih fokus ke arah Wina,"Maaf aku memintanya, aku meminta putri yang anda besarkan. Aku tidak memiliki kualifikasi apapun untuk menjanjikan akan membahagiakannya. Tapi aku akan berusaha menghormati, mempercayai, berkorban untuk kebahagiaannya dan anak kami kelak,"


Mata itu berucap penuh keseriusan, dirinya memang tidak dapat menjanjikan akan membuat Amel bahagia. Namun, Kenzo akan berusaha, melakukan apapun, meminta seorang anak gadis dari orang tua yang membesarkannya dengan susah payah. Tangannya menggenggam tangan Amel semakin erat, meyakinkan diri akan kesungguhannya untuk berusaha.


Bukan hanya janji biasa atau ucapan omong kosong, akan membahagiakan putrinya ketika meminta dari sang orang tua. Janji yang mudah dilanggar, dalam kehidupan nyata, berakhir dengan perceraian atau perselingkuhan.


Janji yang akan dipegang teguh olehnya, berusaha dengan segala upayanya. Walaupun tidak menjanjikan kebahagiaan mutlak, karena hati manusia tidak dapat ditebak, kapan akan merasa bahagia. Kapan akan menangis atau berduka, berusaha menenangkan dan membuatnya tersenyum.


Dukamu adalah dukaku... bahagiamu adalah bahagiaku... karena aku mencintaimu...


"Dasar tidak romantis! Aku menyetujui adik ipar sepertimu..." Glen tersenyum, menatap rona wajah Amel yang terlihat malu.


"Apa kalian sudah menemukan hari baik?" tanya Wina.


"Mungkin minggu depan. Maaf, karena pekerjaan, aku tidak bisa menyelenggarakan pesta besar yang dihadiri wartawan," ucap Kenzo mengingat hingga saat ini dirinya sendiri, harus menyembunyikan diri dari wartawan.


Glen mengenyitkan keningnya, insting reporternya tiba-tiba muncul,"Apa sebenarnya identitasmu...?"


"Pemilik W&G Company..." jawab Kenzo penuh senyuman.


"W...W&G Company? Pemiliknya kesasar kemari dan menikahi adikku yang bundar seperti tahu bulat digoreng 500an?" tanyanya tidak percaya.


"Tahu bulat? Sekarang aku cantik, seperti Sany," ucap Amel protes.


"Iya...iya kamu cantik," Glen tertawa lepas,"Kenzo tolong jaga adikku yang lemah ini,"


Kenzo mengangguk sembari tersenyum.


***


Malam menjelang, Sany telah tertidur di kamar Wina setelah seharian bermain dengan ayah dan ibunya. Perlahan Amel masuk ke bawah selimut setelah membersihkan dirinya. Menatap wajah Kenzo yang masih terjaga, terdiam, berbaring memunggunginya, matanya menatap ke jendela tepatnya ke arah bintang.


Hingga Amel memeluk tubuh kekasihnya dari belakang,"Ada apa?" tanyanya.


"Aku merindukan orang tuaku," jawabnya.


Amel menarik tubuh Kenzo agar terlentang, dengan sengaja berada di atas tubuh pemuda itu. Mendekatkan telinganya, mendengar degup jantungnya yang perlahan menjadi cepat. Darahnya berdesir, kenapa tidak? Amel kali ini benar-benar keterlaluan.


Gadis yang mengenakan setelan piamanya itu, mengusap lembut leher Kenzo, "A...aku..." untuk pertama kalinya Kenzo gugup.


Amel menatap matanya, perlahan terpejam menautkan bibirnya. Tidak menuntut, namun sapuan lembut saling membalas.


"Emmgghhh..." Kenzo mengerang kala tangan Amel semakin nakal saja, tangannya masuk pada kancing piamanya yang terbuka. Bermain di dadanya menimbulkan sensasi geli yang aneh.


Napas pemuda itu tidak teratur, menahan tangan Amel,"Hentikan..." ucapnya.


"Kenapa? Apa tidak menyenangkan? Jangan bersedih lagi, jangan merindukan kedua orang tuamu, karena mereka dapat melihatmu dari sisi-Nya. Dan jangan berfikir untuk meninggalkanku, untuk menyusul mereka..." bibir Kenzo kembali diserangnya, saling melahap bagaikan melepas dahaga.


Keinginan untuk menyatukan tubuh secara sempurna semakin besar. Hingga...


"Aku tidak ingin merusakmu sebelum berjanji hanya maut yang dapat memisahkan kita..." ucap Kenzo dengan napas yang benar-benar tidak teratur. Sulit menahan dirinya...


Posisi Amel yang saat ini seakan bagai godaan. Pria mana yang tidak frustasi...


"Jangan sedih lagi, maka aku akan bersedia turun. Tidak menggunakan tubuhku untuk menghiburmu..." senyuman menyungging di bibir Amel yang masih berada di atas tubuh Kenzo.


Bersambung