My Kenzo

My Kenzo
Kakak Ipar



Beberapa jam sebelumnya, area permainan biliar...


Bola menggelinding memasuki lubang, Frans tersenyum,"Aku memang lagi..." ucapnya.


"Katakan keberadaan Amel! Atau kamu berniat membohongiku?" tanya Gilang, menatap jenuh, sudah dini hari, tapi Frans seperti tidak ada niatan memberikan informasi padanya.


"Baik, sabar dulu..." pemuda itu tersenyum, menghela napas kasar,"Kenapa memilih tidak menghadiri pernikahan Kenzo?" tanyanya.


"Kenapa menanyakan tentang ini lagi!! Aku menanyakan keberadaan Amel!!" bentaknya, menarik kerah kemeja Frans.


"Tenang-tenang..." Frans tertawa kecil, menepis tangan Gilang."2 tahun yang lalu kakaknya, membunuh seseorang, adiknya memerlukan biaya pendidikan yang besar, karena itu..." kata-kata Frans tiba-tiba disela.


"Aku tidak tau! Tapi aku sudah berusaha mencarinya!! Dia menghilang dan..." kata-kata Gilang tiba-tiba terhenti, Frans menatap tajam padanya.


"Saat aku bicara, aku tidak suka untuk disela," ucapnya tersenyum acuh, mengepalkan tangannya.


Frans terdiam sejenak, menghela napas kasar berusaha menetralkan emosinya,"Amel pergi selama dua tahun, membantu seorang pria menyembuhkan gangguan kepribadiannya. Dengan imbalan membebaskan kakaknya dari penjara, serta membiayai pendidikan adiknya,"


"Setelah dua tahun, pria itu melamarnya. Mereka saling mencintai, menikah tepat pada hari ini..." lanjutnya.


Jemari tangan Gilang gemetar, gadis rupawan yang datang bersama Kenzo ke acara pertunangannya terbayang."Tidak mungkin, kakakku mengkhianati..." kata-kata Gilang disela.


"Jangan menyalahkan orang yang kamu sebut sebagai kakak!! Ini adalah perbuatanku!! Aku tidak memberitahu hubungan atau perasaanmu pada Amel!! Dengan cepat mengatur penerbangan Kenzo ke Paris agar kalian tidak bertemu!!" bentak Frans meninggikan intonasi suaranya.


Bug ...


Satu pukulan mendarat di pipi Frans, hingga mengeluarkan darah segar disudut bibirnya.


"Aku, aku akan meminta Amel darinya!! Kenzo hanya akan berakhir menghancurkannya!! Tidak mungkin Amel mencintai orang sepertinya!!" jemari tangan Gilang mengepal.


Kenzo menyayangi Gilang? Tentu saja, tapi kakaknya itu bukan orang yang hangat dimatanya. Pernah hampir menghancurkan Bold Company, mendanai seseorang yang hampir membunuhnya dan ayahnya.


Tidak, Amel tidak mungkin berakhir mencintai orang yang keji sepertinya.


"Kenapa Amel tidak mungkin mencintai Kenzo? Kenapa Kenzo dapat menghancurkan orang yang dicintainya?" tanya Frans tersenyum, mengusap darah di sudut bibirnya.


"Dia...dia dulu hampir menghancurkan Bold Company. Mendanai seseorang yang ingin membunuhku dan ayahku..." jawab Gilang meninggikan intonasi suaranya,"Di... dia pengidap bipolar," lanjutnya tertunduk dengan air mata mengalir.


"Mulutmu sangat lancar menceritakan kejelekan kakakmu. Tapi bagaimana dengan peluru yang menembus dadanya? Menjadikan tubuhnya perisai untuk melindungimu," Frans tersenyum kembali mendekati Gilang, memberikan secarik kertas padanya."Villa tempat kakakmu berbulan madu, sesuai janjiku. Setidaknya kakakmu mungkin telah memiliki kesempatan menanam janin di rahimnya,"


Air mata pemuda itu mengalir, menatap tajam pada Frans,"Aku tidak peduli, kalian hanya orang-orang keji yang melakukan segala macam cara picik, untuk mengendalikan dan mendapatkan seseorang. Amel tidak akan bahagia dengannya..."


Tangan Frans mengepal, namun wajahnya masih nampak tersenyum,"Kalianlah yang menciptakan monster seperti kami. Bipolar yang diidap kakakmu? Malaikat munafik seperti keluarga kalianlah salah satu penyebabnya..."


"Dia hampir membunuh ayahku!!" bentak Gilang.


"Kakekmu yang membunuh kedua orang tuanya!!" Frans berteriak tidak kalah sengit.


"Kakek, dia tidak sengaja dan..." Gilang menurunkan intonasi suaranya.


"Dan apa? kata-kata 'tidak sengaja' tidak dapat menghidupkan orang mati bukan? Apa dadamu yang tertembus peluru? Apa ayahmu sudah meninggal?" tanyanya, mencoba untuk bersabar.


Gilang tertunduk, tetap pada pendiriannya, tidak dapat membiarkan Amel bersama orang berhati dingin seperti Kenzo."Aku tidak peduli, Kenzo telah menikahi atau pun menidurinya. Karena aku juga melakukan hal yang sama, berciuman dengan wanita lain di hadapannya. Membiarkannya dipukuli, tidak percaya padanya. Tapi kali ini, aku sendiri yang akan menjaganya, menjauhkan dari psikopat seperti kalian!!"


Pemuda itu melangkah meninggalkan Frans, masih dengan alamat villa di genggaman tangannya.


"Jika Kenzo ada sedikit saja di hatimu yang dangkal itu. Jangan pernah meminta Amel darinya, rebut dia dengan usahamu sendiri..." ucap Frans, membuat Gilang menghentikan langkahnya.


"Aku akan merebutnya. Karena orang-orang seperti kalian hanya dapat menggunakan hutang budi dan uang untuk mendapatkan segalanya..." pintu tempat bermain biliar itu dibukanya, berjalan meninggalkan Frans seorang diri.


Prang...


***


Air matanya mengalir dalam perjalanan, diseka olehnya. Mengingat telah banyak hal yang dilakukan Amel untuknya. Satu-satunya wanita baik hati yang tidak memandang rupa fisiknya.


Tapi kenapa harus Kenzo, jemari tangan Gilang memegang stir dengan erat. Kebahagiaan yang dilihat dalam wajah kakaknya ternyata karena wanita yang dicintainya.


Hutang budi? Andai dirinya menemui Amel lebih cepat, menggatikan posisi Kenzo untuk menolongnya. Tidak akan ada hutang budi, yang membuat Amel menerima lamaran pemuda berhati dingin seperti kakaknya.


Villa yang cukup besar, sinar matahari hangat menembus pepohonan. Gilang tidak tidur sama sekali, wajahnya berusaha tersenyum, tidak ingin sang kakak menyadari segalanya. Tidak ingin pemuda yang sulit ditebak jalan fikirannya itu, membawa Amel ke negara lain.


Ini harus dilakukannya, mungkin suatu saat nanti ketika Kenzo telah jenuh, Amel akan disingkirkannya. Dilukai secara fisik karena gangguan kepribadiannya.


Tapi apa benar atas nama perasaan tulusnya? Bukan karena sebuah keegoisan? Bahkan dirinya sendiri yang menempatkan Amel disisi Keyla, tidak mempercayai tentang luka fisik yang dialaminya.


Dengan ragu, bel villa ditekannya berusaha bertindak sewajar mungkin di hadapan Kenzo.


Perlahan dirinya dipersilahkan masuk, akhirnya kata-kata itu terucap juga. Kenzo memperkenalkan istrinya dengan senyuman yang memuakkan.


Gadis cantik, dengan apron masih melekat di tubuhnya. Amel telah banyak berubah, Gilang tertegun sesaat, apa Kenzo memanjakannya? Tidak, tubuh itu walaupun terlihat indah, jauh lebih kurus.


Cantik... batinnya.


Bahkan jauh melebihi kecantikan Keyla atau Marina. Sesuatu yang kini dimiliki oleh kakaknya.


Menikah dengan monster laut? Monster? Gadis yang selalu dipanggilnya gendut, kini berubah menjadi bagaikan putri yang rupawan. Tidak memiliki kekurangan sedikit pun.


Mencintai apa adanya? Mereka saling mencintai bukan, seperti kata-kata Marina, Amel selalu memendam perasaan padanya bagaimanapun rupanya. Begitu pula dirinya, mencintai Amel tanpa disadarinya.


Hingga kini dirinya dapat bertemu kembali, bukan sebagai seseorang yang dicemooh dengan rupanya. Namun, dua protagonis yang memang harus bersama.


Meja makan yang hangat, Kenzo terkadang tersenyum, menyela pembicaraan mereka. Kenapa kakak yang melindunginya, harus berada di antaranya dan Amel?


Leher kakak iparnya ditatapnya, bekas keunguan berada disana. Tidaklah mengapa, mereka tidak saling merangkul atau berciuman di hadapannya. Pertanda Amel sejatinya masih memiliki perasaan padanya. Hanya saja rasa terimakasih membuatnya terjerat dalam pernikahan.


Hingga kata-kata itu terucap, kala Kenzo telah pergi ke lantai dua. Seorang adik yang mencintai kakak iparnya? Anggaplah dirinya tidak bermoral, tapi dengan dalil gangguan kepribadian Kenzo, dirinya dapat membenarkan semua tindakannya, melindungi Amel darinya.


"Tinggalkan Kenzo, jangan korbankan hidupmu hanya untuk rasa terimakasih," nada suaranya bergetar, menatap tanda keunguan di leher putih Amel,"Aku akan menerimamu kembali, maaf... mengabaikan perasaanmu sebelumnya,"


"Aku tidak akan meninggalkannya..." jawab Amel tanpa menoleh sedikitpun.


"Uang? Berapa yang Kenzo habiskan untukmu. Aku akan mengembalikan padanya. Aku mencintaimu," ucapnya melangkah lebih dekat.


Hingga akhirnya Amel menatap padanya, senyuman keji menyungging di bibirnya,"Inilah yang aku benci dari protagonis sepertimu. Tidak dapat sepenuhnya mempercayai, cinta? Jangan bercanda, bahkan sekarang kamu menganggapku sebagai wanita murahan yang hatinya dapat dibeli dengan uang,"


Gilang menggengam tangan Amel, menatapnya penuh kesungguhan.


"Aku tidak bermaksud begitu, hanya saja Kenzo..." kata-kata Gilang terpotong.


Sang kakak menuruni tangga, membawa tas laptop serta sebuah paperbag, oleh-oleh yang dipersiapkannya untuk sang adik.


"Kalian akrab dengan cepat," ucapnya tersenyum, menyodorkan sebuah paperbag untuk Gilang. Bersamaan dengan Amel menarik tangannya, berharap Kenzo tidak mendengar atau salah paham.


Tubuh Amel dirangkulnya, "Ini hadiah untukmu, semoga menemukan kekasihmu dengan cepat..." kata-kata tulus dari mulut Kenzo, memberikannya paperbag berisikan sepasang kalung dengan lambang sepasang bunga matahari.


"Terimakasih, aku akan menemukannya, tidak akan pernah melepaskannya..."


Senyuman terlihat di wajah Kenzo. Namun tidak ada yang menyadari jemari tangannya gemetar. Tertutup topeng menahan segalanya.


Bersambung