
Sambungan telepon tiba-tiba terputus, akibat phoncellnya yang terjatuh bersama tubuhnya ke dasar laut.
"Kenzo!! Kenzo!!" panggil Frans dengan air matanya yang mengalir tidak terkendali. Mencoba tenang, itu yang dilakukannya, menghubungi Phill, salah satu tangan kanan Kenzo yang lain.
"Br*ngsek!! Kenzo pergi!! Kenapa kamu tidak mencegahnya!!" bentak Frans tidak dapat menahan emosinya. Dapat menerka siapa yang membantu pergerakan majikannya.
"Ini keinginannya...aku sudah menghubungi kepolisian federal..." suara Phil terdengar bergetar, seolah sudah mengetahui apa yang terjadi pada majikannya.
"Sialan!!" Frans berteriak, membanting phoncellnya penuh amarah. Air mata pemuda itu mengalir tiada henti."Kamu tidak akan mati, tidak akan mati..." gumamnya berlutut tertunduk seorang diri.
***
Hal yang dilakukan Frans, mengikuti heli kepolisian federal. Farel dan Tomy dihubunginya, guna membantu menuntaskan segalanya, lebih awal. Farel berasal dari keluarga yang memiliki kekuasaan, tidak sulit baginya bergerak membantu kepolisian federal dengan bukti yang cukup lengkap.
Kelompok mafia yang dilumpuhkan dalam waktu singkat.
"Tim SAR sudah mencarinya mayatnya. Tenang saja..." ucap Farel penuh senyuman, menepuk bahu Frans. Dalam kapal expedisi yang telah mereka kuasai, sudah sekitar 8 jam dari waktu Kenzo terjatuh ke laut. Jarak tempat kapal expedisi yang hendak melarikan diri ke negara lain dari tempat Kenzo terjatuh juga sudah mencapai beberapa puluh kilometer.
Pengawal pribadi Kenzo yang menyamar, melakukan tugasnya dengan baik. Melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh majikannya yang terjatuh ke lautan yang gelap. Tetap terdiam berusaha menjalankan tugas terakhir dari sang majikan, mengirimkan titik koordinat keberadaan kapal expedisi berkali-kali.
Alasan Kenzo memilih menjatuhkan dirinya ke laut? Memiliki peluang hidup walaupun sangat tipis. Dengan kata lain, tertangkap oleh kelompok mafia, sama dengan mati. Terjatuh ke lautan, juga mati. Namun, jika ada suatu keberuntungan, mungkin dirinya dapat hidup, berenang hingga ada kapal yang melintas.
Tapi, diluar dugaan, kaki dan bahunya tertembak. Hanya sebuah keajaiban jika pemuda itu dapat bertahan.
"Mayat? Dia belum mati, selagi tubuhanya belum ditemukan!!" bentak Frans, menarik kerah kemeja Farel.
"Kalau belum mati, jangan menangisinya seolah-olah dia sudah mati. Farel hanya ingin menghiburmu..." Tomy menghela napas kasar, menatap ke arah laut.
Frans menghapus air matanya, terdiam sejenak. Berusaha menenangkan diri.
"Kecil kemungkinannya untuk selamat. Bicaralah baik-baik pada istrinya, jika memang Kenzo pada akhirnya ditemukan dalam keadaan tidak bernapas atau bahkan jika mayatnya tidak dapat ditemukan sama sekali. Tentang Gilang, biar aku yang memberi pelajaran padanya. Walau bagaimanapun dia sepupuku..." lanjutnya. Menatap matahari yang perlahan mulai terbit.
Keterlaluan? Mungkin Gilang kali ini sudah keterlaluan menurutnya. Bagi orang dengan kondisi normal, tidak masalah. Tapi bagi Kenzo yang mengidap bipolar?
Jika yang mengatakan kata-kata menghujat adalah orang lain, bukalah masalah. Tapi yang mengatakannya Gilang, satu-satunya orang yang dianggap keluarga olehnya.
"Dia akhirnya mati dengan cara seperti ini..." angin menerpa rambut Tomy, menatap matahari yang terbit perlahan.
Farel berjalan ke arah tralis tempat Kenzo terjatuh. Cukup tinggi untuk mencapai permukaan laut, namun wajah pemuda itu tersenyum,"Kamu akan hidup..." ucapnya ambigu.
Sedikit melirik ke arah para korban trafficking yang selamat. Mereka masih terlihat gemetar ketakutan, bahkan ada beberapa yang masih anak-anak.
"Antagonis menyebalkan, Tuhan tidak akan tega pada makhluk sepertimu," cibir Farel, tersenyum simpul.
***
Kabel charger dicabutnya, Amel tersenyum menatap nama salah satu panggilan tidak terjawab adalah suaminya. Serta beberapa panggilan dengan nama Frans.
Dari malam, wanita yang tidak sempat mengisi daya phoncellnya itu akibat memeriksakan dirinya secara total ke rumah sakit. Mengisi daya di ruang kerja. Meninggalkan phonecellnya, tertidur seorang diri di kamar.
Perut ratanya dielus olehnya, menghubungi Kenzo kembali. Memberi kabar pada suaminya yang tengah berada di Filipina tentang kehamilannya. Dua janin, yang belum berkembang, sepasang malaikat kecil yang baru perlahan menumbuhkan plasenta mereka.
Namun, nomor tersebut kini tidak aktif. Dihubungi berapa kalipun hasilnya tetap sama. Tapi satu hal yang ganjil ditatapnya, kode negara, tetap menggunakan nomor yang sama. Kenzo belum keluar dari negara ini.
"Tidak mungkin dia berbohong kan?" Amel bergumam sendiri. Melangkah dengan cepat ke kamarnya, menggeledah seisi lemari. Hingga akhirnya tiga paspor, visa, serta tiket ke Singapura atas nama dirinya, Kenzo, dan Sany ditemukannya di dalam laci samping tempat tidur. Dengan jadwal keberangkatan kemarin.
Air mata Amel mengalir entah kenapa, firasat? Mungkin itu baru terasa saat ini. Jemari tangannya gemetar, menghubungi Frans.
"Amel..." suara pemuda itu terdengar dari seberang sana.
"Ke... Kenzo di ...dia ada di Filipina kan?" tanyanya terisak, merasakan ada hal yang janggal.
"Aku tidak tau apa yang pernah Gilang katakan padanya. Tapi Kenzo..." kata-kata Frans terhenti sejenak, bagaikan menahan sesak di dadanya. Mengetahui kemungkinan satu-satunya sahabatnya, telah pergi."Tim SAR sedang mencarinya, dia akan hidup..." ucapnya sejatinya meyakinkan dirinya sendiri.
Amel terdiam, mimpi buruknya bagaikan menjadi kenyataan. Pria yang dicintainya menjatuhkan dirinya ke lautan lepas. Air matanya mengalir lebih deras lagi,"Tim SAR?" tanyanya bagaikan memastikan.
"Dia sengaja bersinggungan langsung dengan salah satu kelompok mafia. Jaringan tempat dirinya membeli lima orang anak angkat yang diselamatkannya. Mengantarkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan orang lain. Tim SAR masih berusaha, tinggallah di villa. Jangan kemana-mana..." kata-kata Frans terpotong. Amel menjatuhkan handphonenya. Duduk berlutut di lantai menangis terisak.
Amel mengepalkan tangannya, apa yang sudah dikatakan Gilang padanya? Apa yang membuat hati suaminya yang rapuh, pecah berkeping-keping.
"Kenzo kamu masih hidup kan? Sepasang anak kita menunggumu..." gumamnya seorang diri.
***
Dengan langkah cepat wanita yang tengah mengandung itu, menelusuri lorong rumah sakit, membawa dua buah paperbag besar. Tidak mengikuti Frans bersama tim SAR? Dirinya tengah mengandung, tidak ingin kehilangan satu-satunya harta berharga yang diharapkan olehnya dan suaminya, mengingat perjalanan laut yang harus ditempuh.
Menjaga kedua buah hati mereka menjadi prioritasnya saat ini. Air matanya terus mengalir, namun diseka berulang kali olehnya. Dengan meyakinkan diri... Suamiku si penindas gila, masih hidup. Dia hanya marah padaku. Bersembunyi di suatu tempat...
Hingga langkahnya terhenti, di depan ruangan tempat Gilang di rawat. Marina yang menjenguknya, kebetulan berada di sana.
"Amel?" Gilang tersenyum padanya, matanya menelisik menyadari ketidak beradaan Kenzo.
"Ini untukmu... kita tidak saling mengenal atau memiliki hutang lagi..." ucapnya berjalan mendekat, memberikan dua buah paperbag besar. Isinya? Makanan yang pernah ditraktir pemuda itu dahulu.
"A...apa maksudnya?" Gilang mengenyitkan keningnya.
"Kita adalah musuh mulai sekarang," Amel tersenyum, dengan air matanya yang mengalir. Membanting paperbag yang tidak kunjung di raih Gilang.
"Amel, ada apa? Apa kak Kenzo mengatakan hal buruk tentangku?" tanyanya, berusaha meraih tangan wanita di hadapannya.
"Kak Kenzo!? Dia bukan kakakmu mulai saat ini, aku juga bukan kakak iparmu..." Amel masih tersenyum ganjil dalam tangisannya, menepis tangan Gilang dengan kasar.
"Apa yang terjadi?" pemuda itu bangkit duduk di tepi tempat tidurnya.
"Apa yang kamu katakan pada Kenzo!?" tidak menjawab, Amel balik bertanya.
Marina menyela,"Aku mengatakan kenyataannya padanya. Apa dia ingin berpisah denganmu? Maaf, tapi aku tidak ingin Sany diasuh oleh..."
Plak...
Satu tamparan yang keras, membuat pipi Marina memerah.
"Amel ini juga demi kebaikanmu...aku..." kata-kata Marina terhenti, Amel mencengkram pipi Marina dengan kuat, kuku-kukunya yang tajam bagaikan membekas di pipi wanita itu.
"Karena suamiku memiliki gangguan kepribadian!? Dia bahkan memesankan tiket untuk Sany ke Singapura dengan kami. Menganggapnya seperti putrinya sendiri!!" Amel membentak Marina untuk pertama kalinya.
"Dengar, aku tidak memerlukan putrimu, jika dengan kehadirannya, ke lima anak angkat suamiku, yang berada di Singapura tidak memiliki ayah..." lanjutnya, dengan nada bicara lebih rendah, namun terdengar dingin menusuk.
"Kamu sudah mengadopsi Sany, aku hanya mengkhawatirkan hidup kalian!!" Marina menepis tangan Amel membentak tidak kalah sengit.
Amel tiba-tiba tersenyum,"Jika menghawatirkannya, rawatlah sendiri. Aku sudah tidak sanggup lagi, aku akan membawanya pada kedua orang tuamu. Jika mereka menolak, aku terpaksa menitipkannya di panti asuhan..."
"Amel!!" Marina berteriak, menatap wanita di hadapannya.
Air mata wanita yang tengah mengandung itu mengalir, tangannya mengepal,"7 orang anak, harus hidup tanpa ayahnya karena kalian. Lima orang anak asuh yang tinggal di Singapura, dan dua janin dalam perutku. Aku tidak akan membiarkan kalian hidup bahagia ..."
"A...apa maksudmu? Dimana Kenzo?" tanya Gilang, mendengar kata-kata yang terasa janggal dari mulut Amel.
"Kakakmu tenggelam di lautan. Kata-kata dan sifat egoismu yang mendorongnya..."
Gilang tertegun diam, air matanya mengalir, tangannya gemetar. Menebus dosa dengan kematian? Kata-kata yang memang sempat diucapkannya. Tapi Kenzo benar-benar melakukannya, apa ini kesalahannya?
Pemuda itu meraih phonecellnya, mencoba menghubungi Kenzo. Namun, nomor itu tidak tersambung.
"Bipolar? Kamu kira hanya emosional saja? Dia bertahan dengan obat-obatan selama bertahun-tahun. Mencoba mengakhiri hidupnya berkali-kali, saat dirinya tidak dapat mengendalikan perasaan depresinya. Puas sudah mendorong suamiku ke lautan?" Amel mengepalkan tangannya, menghirup napasnya dalam-dalam.
"Aku hamil tanpa seorang suami. Sany? Aku akan mengatakan kenyataannya pada orang tuamu. Kalian sudah berhasil menghancurkan hidupku..." lanjutnya.
"Ja...jangan! Amel, jika orang tuaku tau maka mereka akan mengusirku. Pernikahanku juga mungkin akan dibatalkan. Karierku..." kata-kata Marina disela.
Amel mendekat, tersenyum mengerikan, berbisik di telinga Marina,"Itulah intinya, aku ingin menghancurkan hidupmu..."
Bersambung