
Seorang pria di dorong menggunakan kursi roda. Hanya tiga orang yang berdiri di belakangnya.
"Jadi ini pemimpin baru Dark Wild?" tanya seorang pria berbadan besar dengan senapan laras panjang di tangannya. Tertawa nyaring, di hadapan ratusan orang orang bersenjata yang siap untuk membunuh Eden.
"Aku kemari untuk memastikan, tiga tembakan akan akurat mengenai tubuhmu..." cibirnya tersenyum.
"Ayahmu sekarang dalam keadaan koma. Situasimu saat ini empat melawan ratusan orang. Dark Wild sudah tidak dapat bertahan. Apalagi dipimpin oleh orang yang hanya duduk di kursi rodanya sepertimu," suara tawa pimpinan kelompok Dragon terdengar nyaring.
Eden mengeluarkan sebuah kartu remi dengan gambar AS hati, kemudian tersenyum,"Kamu salah paham dengan satu hal. Aku bukan pemimpin baru Dark Wild, pemimpin baru sudah berjanji akan membabat habis kalian yang berani melukai ayah kami,"
"Aku kemari hanya untuk berbaik hati, menawarkan ingin mati di tanganku atau mati di tangan pemimpin kami!? Karena dia akan mengeksposemu ke media, kemudian membuatmu mati dengan tembakan di kepala..." lanjutnya, terlihat tenang.
Pria itu kembali tertawa, "Dark Wild hampir hancur, karena bertentangan dengan kelompok kami. Mulutmu terlalu lancang, aku akan memotong lidah..." kata-katanya terhenti. Eden melempar kartu As hati yang dipegangnya, tepat tertancap di leher sang pria.
Pria berbadan besar itu memegangi lehernya dengan darah yang mulai mengalir.
"Adikku akan segera datang, untuk kakaknya ini..." ucap Eden tersenyum.
***
Seorang pemuda berambut putih kecoklatan berbicara menggunakan earphonenya menghubungi seseorang. Tangannya bergerak cepat diatas keyboard.
"Eden ada disana? Sialan!!" kesalnya, mulai mengenakan sarung tangan hitamnya. Kotak besar dibawanya, berisikan senjata laras panjang lengkap dengan pelurunya.
Mobil Jeep dikendarainya, melaju seorang diri, telah mengatur serangan balik.
Strategi yang benar-benar berubah karena kehadiran kakaknya. Menyelamatkannya adalah prioritas Steven saat ini.
Situasi tempat sang kakak berada benar-benar diamati olehnya. Tersenyum menatap ke arah atap.
***
"Br*ngsek tembak dia!!" teriaknya memegangi luka pada lehernya.
Namun penembak jitu yang ada diatas atap tidak merespon. Hal yang terjadi? Steven bergerak dengan cepat. Tas berisikan senjata laras panjang digunakannya sebagai senjata melawan belasan orang.
Atap? Menjadi satu keuntungan baginya untuk berkelahi. Kecepatan adalah kelebihannya bergerak tanpa banyak menimbulkan suara. Pemuda itu berjalan dengan orang-orang yang mulai menembakinya, mengalahkan beberapa orang, memelintir tangannya. memegang tubuhnya, berjalan mendekat. Menjadikannya seolah perlindungan perisai anti peluru.
Dor...dor... dor...
Suara tembakan terdengar, orang yang dijadikan perisai oleh Steven telah mati dengan puluhan luka tembakan dari temannya sendiri. Hingga pada jarak dekat dengan orang-orang yang menembaknya. Steven membuang tubuh tidak bernyawa yang dijadikannya sebagai perisai, kemudian mulai bergerak cepat. Menendang dan membenturkan tubuh orang-orang yang ada di atas atap hingga jatuh terpelanting ke bawah.
Salah satu senjata jarak dekat direbutnya, menatap dingin orang yang ada di bawah kakinya,"Jika aku tidak membunuhmu, maka ratusan orang akan mati karenamu..." ucapnya dengan rambut putih kecoklatan yang tertiup angin.
Dor...
Satu tembakan dilayangkannya tepat di kepala pada penjaga terakhir yang masih hidup di atap bangunan. Sementara pengawal yang lain hendak naik, dengan cepat Steven memasang senjata laras panjangnya. Melukai daerah vital mereka. Lengan dan kaki, melumpuhkan syaraf secara permanen.
Dari dalam gudang terdengar teriakan,"Kalian tidak dengar!? Tembak dia!!" bentaknya menunjuk pada Eden.
Pengawal yang ada di sana sudah menodongkan senjatanya pada Eden dan tiga penjaganya. Hingga tiba-tiba listrik padam.
"Kenapa gelap!? Hidupkan jenset!! Nyalakan listriknya!!" teriak sang pimpinan kelompok mafia Dragon itu.
Tiba-tiba lampu menyala, Eden yang sebelumnya ditodongkan senjata. Menghilang, berganti dengan pemuda berkulit putih pucat, dengan mata biru yang menatap tajam. Memakai pakaian serba hitam, rambut putih kecoklatan menjadi cirinya, mulai tersenyum.
"Ka... kamu si...siapa!? Dimana Eden!?" tanyanya.
"Aku? Aku adalah Ultraman," jawaban dari mulut Steven, bersamaan dengan suara helikopter FBI yang terdengar.
"Tangkap dia!!" perintah pimpinan kelompok Dragon, masih memegangi luka di lehernya.
Tidak satu tembakan pun mengenai Steven. Membenturkan tubuhnya di sekat jendela kaca, hingga pecah berkeping-keping.
Bibir tersenyum itu, ditatap sekilas pemimpin kelompok mafia Dragon. Steven? Pria yang mengerikan menurutnya pemimpin baru kelompok Dark Wild.
FBI datang mengepung menangkap satu persatu orang-orang dari kelompok mafia Dragon. Pemimpin kelompok Dragon yang tertunduk, tangannya gemetar hingga saat ini menatap mata biru yang telah melumpuhkan kelompoknya.
Sedangkan, dalam mobil Jeep yang melaju rambut putih kecoklatan itu kini tengah dijambak. "Sakit!!" teriaknya.
"Kenapa kamu terlambat datang!? Aku kira aku akan mati!!" bentak Eden pada adiknya.
"Kamu tidak mengatakan akan pergi!! Aku hanya tinggal memancing mereka berkumpul kemudian menghubungi FBI. Kita tinggal diam di rumah, ambil selimut dan susu coklat lalu tidur!!" ucap Steven tidak terima.
"Sebagai seorang adik, kamu harusnya tau, kakakmu ini emosional!! Masih tidak mengerti juga!? Kamu ingin aku membunuhmu!?" geram Eden, masih menjambak rambut adiknya yang tengah menyetir.
"Kakak maaf!! Sakit!! Aku ini Ultraman, kamu tidak lelah menganiayaku!!" teriakan dari mulutnya memekik.
***
Kelompok mafia Dark Wild hampir runtuh akibat pimpinannya yang terbaring koma. Karena tidak dapat melarikan diri kala markasnya diserang, mengalami cidera parah.
Dengan sangat menyesal, pewaris yang terkurung selama ini harus keluar untuk melihat dunia ditemani sang kakak yang kesulitan bergerak.
Pemimpin mafia dengan mata biru yang indah serta rambut putih kecoklatan. Itulah seorang Steven saat ini.
Pemuda yang tengah tersenyum sendiri membuka beberapa data di internet. Melawan seorang hacker wanita.
"Kamu sedang apa?" tanya Eden menjalankan kursi rodanya mendekat.
"Bertengkar dengan calon istriku, ini fotonya cantik kan!?" ucapnya memperlihatkan foto Febria kecil, yang masih disimpannya diam-diam.
"Pedofil," cibir Eden pergi meninggalkannya.
"Aku bukan pedofil!! Hanya brother complex!!" jawabnya.
Steven tersenyum, masih mengenakan earphonenya mengirimkan pesan pada wanita yang tengah beradu kemampuan dengannya.
'Kapan kita menikah? Aku ingin menciummu? Lalu melewatkan malam pertama kita yang tertunda,'
***
Sementara seorang gadis berusia 21 tahun mengenyitkan keningnya kesal. Merasa gagal melawan hacker yang lebih hebat darinya. Membaca pesan tidak senonoh yang dikirimkannya.
'Aku akan menendang pisang-mu!!'
Sang pria yang berani menentangnya, mengirimkan balasan.
'Tidak akan bisa, aku lebih dapat menghindar sekarang. Bagaimana jika setelah kita bertukar cincin, kita bermain lebih dari sekedar ciuman. Aku tidak akan membiarkanmu melawan, hanya membuatmu menjerit hingga puas,'
"Mesum!! Br*ngsek!! Aku akan membobol jaringan datamu!! Pasti ada celah," gumam sang gadis dengan kemarahan di ubun-ubun, menatap komputer di hadapannya..
Jemari tangannya bergerak cepat diatas keyboard. Hingga salah satu folder berhasil di bobolnya.
Dengan penuh senyuman antusias Febria membukanya.
'Will you marry me?'
Hanya itu kalimat yang ada di dalam folder."Aaaghhh... orang sialan ini membuatku frustasi!!" ucapnya mengacak-acak rambutnya sendiri, menyenderkan kepalanya diatas keyboard seakan pasrah telah kalah telak.
Bersambung