My Kenzo

My Kenzo
Serupa



Bebauan sup daging hangat tercium, sedari pagi seorang pemuda sibuk menyiapkannya. Jemari tangannya masih diperban, perban yang entah kenapa membuatnya tersenyum setiap kali menatapnya.


Suara bel terdengar,"Amel!!" panggil seseorang dari luar sana, dengan sengaja sembari menahan tawanya.


Kenzo mengenyitkan keningnya, mengenali suara yang memanggil, perlahan pintu depan digeser nya.


Aura membunuh yang kuat, penuh senyuman namun mengeluarkan aura dingin,"Ada apa pagi-pagi kemari? Memanggil Amel..." tanyanya.


Dia terlihat menahan diri akan memenggal kepalaku... Frans masih setia menipiskan bibir menahan tawanya.


"Memastikan Amel masih hidup, kamu tidak membunuhnya karena cemburu kan?" tanya Frans, dengan mata menelisik kedalam rumah.


Kenzo mengenyitkan keningnya,"Aku memang keji, tapi tidak pernah membunuh orang," ucapnya kembali melangkah ke dalam, menata meja.


"Memprovokasi orang untuk membunuh, pernah kan?" Frans duduk tanpa dipersilahkan pada zabuton (bantal duduk khas Jepang) yang berada di atas lantai, dengan meja makan pendek di hadapannya.


"Aku tidak akan melakukannya lagi," senyuman terlihat di wajah Kenzo.


"Tuan, menjadi orang baik?" tanyanya penasaran.


"Tidak, kita bekerja seperti biasanya. Mengambil alih perusahaan yang tidak memperhatikan karyawan terbawah," jawab Kenzo ikut duduk.


"Omong-ngomong, bagaimana kamu menghukum Amel semalam?" tanya Frans memasang pendengarannya baik-baik.


"Aku menciumnya..." Kenzo berucap sembari melepaskan celemeknya.


Orang ini hobby berciuman tanpa status ya? Wanita butuh kepastian, kalau sudah cocok harga dan kwalitas langsung deal bayar... Jangan sampai keduluan... komat-kamit ingin rasanya Frans memberi saran, agar kedua orang idiot itu segera menikah. Menangani gangguan kepribadian Kenzo sejatinya tidaklah mudah. Jika ada Amel, pemuda di hadapannya, tidak terlihat terlalu menakutkan lagi.


Sosok Kenzo bagaikan orang lugu dengan namanya cinta. Namun memberanikan diri menikmatinya.


***


Amel membuka matanya, mencium aroma khas sup daging sapi."Aku lapar..." gumamnya, menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal.


Perlahan memperhatikan yukata putih yang dipakainya,"Kapan aku menggantinya?" gumamannya berusaha bangkit terhuyung akibat sakit kepala yang menderu nya. Menatap pantulan dirinya di cermin.


Satu? Tidak, Kenzo lumayan bringas, belasan tanda merah keunguan bertengger di leher putih Amel. Profokasi suara racauan mendamba lebih, terdengar dari bibir Amel-lah penyebabnya. Lenguhan indah yang sulit ditahan pria manapun.


"I...ini kenapa!?" gumam Amel penuh kepanikan, meraba lehernya sendiri.


Dengan cepat dirinya keluar penuh kecemasan, menggeser pintu kamarnya. Kenzo dan Frans terlihat makan dengan tenang, sedangkan satu porsi tidak tersentuh lainnya, milik Amel yang baru bangun dari tidurnya.


"Ke ... Kenzo siapa yang mengganti pakaianku?" tanyanya curiga pasalnya Amel tidak dapat mengingat apapun.


"Kamu yang menggantinya," jawab Kenzo tanpa ekspresi masih makan dengan tenang.


Sedangkan Frans menatap mereka berdua bergantian, menyadari ada hal yang aneh.


"Syukurlah..."Amel menghela napas kasar."Omong-ngomong, kamu tau apa yang terjadi pada leherku?" tanya Amel lebih curiga lagi, pasalnya dia pernah melihat tanda serupa pada leher Marina walaupun tidak sebanyak di lehernya.


Perbedaan jumlah yang cukup besar satu atau dua di leher Marina berbanding belasan yang ada di leher Amel kini. Fikiran positif Amel, ini bukan bekas tanda bercocok tanam karena jumlahnya terlalu banyak.


Kenzo menghentikan kunyahannya, membulatkan matanya, otaknya yang cerdas berfikir cepat,"Alergi Sake, nanti akan menghilang dengan sendirinya..." alasannya kembali makan dengan tenang.


Frans menaikan sebelah alisnya, menatap tingkah aneh majikannya. Pembohong keji yang menggerayangi wanita polos.


"Tapi, apa kamu..." kata-kata Amel terhenti, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung bagaimana bertanya tentang kejadian kemarin.


"Kamu ke kamar, mengganti pakaianmu, kemudian tertidur karena mabuk, itulah kenyataannya!! Kamu fikir ini novel atau film dimana keperawananmu direbut secara paksa ketika mabuk!?" tanya Kenzo mengintimidasi, menatap tajam. Menutup-nutupi kesalahannya.


Orang paling bersalah, malah yang paling galak. Tidak ingin Amel menjauhinya, karena peristiwa kemarin malam. Berharap gadis itu percaya dengan kata-katanya.


"A...aku ..." Amel tertunduk, masih bimbang.


Wajah Kenzo terlihat tidak bersalah, mengintimidasi agar tidak mencurigainya.


"Iya, maaf sudah salah sangka. Aku akan mandi dulu..." gadis itu tersenyum, terlihat canggung, berjalan keluar menuju kamar mandi halaman belakang dengan cepat.


Kenzo kembali melanjutkan aktivitas makannya, sedangkan Frans masih menatap sinis ke arahnya.


"Tuan yang melakukannya kan? Sampai sejauh mana kamu melakukannya?" tanyanya masih tidak percaya dengan alasan Kenzo.


"Yukata birunya sudah lepas, tinggal sepasang pakaian dalam atas dan bawah. Kemejaku juga sudah lepas, hanya tinggal celana panjang dan boxer. Sudah dalam posisi di atasnya, lalu berhenti sampai disana...." jelasnya kembali makan tanpa dosa.


"Hampir gol..." gumam Frans dengan suara kecil.


"Kamu bilang apa?" Kenzo mengenyitkan keningnya.


"Tidak aku ingat pertandingan sepak bola semalam. Ada gawang tanpa penjagaan kiper tapi gelandang tim lawan bisa gagal mencetak gol ..."alasan yang terlontar dari mulut Frans tertawa kecil penuh senyuman.


***


Sedangkan di tempat lain Amel berjalan memegangi kepalanya. Tidak ingat kejadian apapun sama sekali. Hingga langkahnya terhenti di taman dekat kamar mandi halaman belakang.


Bayangan, kembang api berputar dengan pemuda rupawan menatap sinarnya. Wajah yang benar-benar rupawan. Dengan tidak tau malunya dirinya memeluk sang pemuda dari belakang, bergelayut menggoda.


"Kemudian..." Amel mengenyitkan keningnya masih mencoba mengingat segalanya.


Ciuman panas dirinya didepan kamar, pernyataan cinta, melepaskan kemeja Kenzo dengan agresif. Bahkan dirinya sendiri yang melepaskan yukata biru yang tebal.


Melenguh saat Kenzo, menurunkan ciumannya. Tubuh pemuda itu benar-benar sempurna, dada bidang dengan tekstur kenyal berisi, bagaikan iklan majalah pria yang memamerkan otot perut dan dada yang tidak begitu besar. Namun, terlihat pas untuk meningkatkan hasratnya.


Jemari tangan Amel gemetaran masih mengingat sedikit, dirinya mengelus, meraba, tubuh itu tampa henti bagaikan wanita murahan. Bahkan menggeram menikmati sentuhan bibir dingin pemuda gila itu.


"Ti... tidak mungkin!!" ucapnya mencoba mengingat lagi. Tubuhnya dibaringkan di atas lantai kayu yang dingin dengan Kenzo berada di atasnya, mencium bibirnya tanpa henti. Kemudian... kemudian... kemudian... sialnya Amel tidak ingat lagi kejadian selanjutnya.


Amel tertawa kecil,"Tidak mungkin," ucapnya kembali memeriksa caranya berjalan. Tidak perih atau sakit samasekali.


"Tadi hanya imajinasiku atau mungkin mimpi, a...aku masih perawan. Jadi, tadi malam aku ganti baju dan tidur seperti kata Kenzo..." teriaknya tidak yakin, menggaruk-garuk rambutnya frustasi.


"Benar itu hanya mimpi mesumku ..." Amel mulai yakin 100%, itu hanya mimpi. Pasalnya pangkal pahanya memang tidak sakit samasekali.


Berjalan, masih meyakinkan dirinya sendiri ke kamar mandi.


Tidak memiliki deduksi bahwa kejadian semalam adalah pertandingan sepakbola dimana sang pencetak gol melarikan diri dari lapangan dengan badan panas-dingin.


***


Sebuah rumah di daerah perkotaan, seorang pria menitikan air matanya. Menatap foto dirinya semasa SMU, seorang gadis cantik mengenakan syal, berfoto dengannya di hari natal. Mengecup pipinya.


"Seina, kamu kembali hidup, aku tidak akan melepaskanmu seperti dulu..." Tatewaki, melepaskan kacamata, menghapus air matanya.


Foto? Seorang gadis Jepang memiliki mata layaknya orang Asia tenggara, mata jernih yang indah, hidungnya mancung tidak terlalu besar, kulit seputih susu, rambut ikal berwarna coklat.


Menyerupai Amel, namun usianya jauh lebih muda, serta model rambut yang berbeda.


Jika dirimu kembali hidup, aku akan menjagamu dengan baik...


Menghadapi siapapun yang mencoba menghalangi kita bersama. Dulu aku terlalu pengecut, hingga kamu pergi meninggalkanku...


Namun Seina-ku kini telah kembali, aku akan mempertaruhkan segalanya untuk dapat bersama denganmu...


Bersambung