My Kenzo

My Kenzo
Jangan Mati



Dor...


Suara tembakan terdengar, air mata Hiasi mengalir, pria paruh baya itu masih berdiri tegak. Bukan karena rasa sakit jemari tangannya yang menggenggam ujung senjata api, kala membelokkan arahnya.


Namun rasa hatinya lebih sakit, menatap wajah putrinya kini. Gadis kecil polos yang selalu menyambutnya dengan buku gambar dan krayon ketika menghapus rasa lelahnya pulang dari bekerja. Naik ke pangkuannya, mengecup pipinya, kini membunuh? Bahkan membunuh sahabatnya sendiri.


'Ayah, aku ingin krayon baru...' ucapnya yang masih berpakaian seragam taman kanak-kanak. Tersenyum dengan giginya yang jarang-jarang.


Kenangan indah sebelum perceraiannya dengan mantan istrinya, wanita yang berjalan melewati mereka tanpa menyapa sedikitpun.


Hiasi masih menatap mata memerah dengan air menggenang di pelupuknya.


Telapak tangannya yang tertembus peluru gemetar, darah mengalir deras tidak dihiraukannya. Aiko tertunduk berlutut di lantai setelah dilumpuhkan polisi, tangisannya terdengar lirih. Hiasi berjongkok, tangannya yang berselimut darah merah meraba pipi putih pucat putrinya.


Aiko menonggakkan kepalanya, seakan tidak percaya sang ayah tidak jijik atau menghakiminya. "A...apa yang menyakitimu?" tanya Hiasi terbata-bata, menatap mata putrinya lebih dalam.


Anak manis yang bahagia hanya dengan krayon baru, menjadi pembunuh keji? Itu bukanlah sosok Aiko yang sebenarnya.


"Ayah..." teriak Aiko lirih, air matanya mengalir tidak terkendali. Hiasi memeluknya ikut terisak. Menepuk pelan punggung putrinya, pakaian putih Aiko kini berlumuran darah dari telapak tangan Hiasi seakan tidak mereka pedulikan.


"Apa yang terjadi? Putriku Aiko..." tanyanya, dengan mulut bergetar, memeluk putrinya lebih erat.


"Sa... sakit... aaaanggg..." satu kata yang keluar dari mulutnya, berteriak menumpahkan betapa kejam dunia padanya. Anak 8 tahun yang harus dihukum berkali-kali tanpa mengerti apa kesalahannya. Anak yang hanya dicibir sebagai anak manja merepotkan oleh ayah tiri dan ibu kandungnya sendiri.


Seorang putri kecil harus bersaing memperebutkan kasih sayang dari dua orang kakak yang jauh lebih dewasa. Merepotkan? Sejatinya Aiko kecil tidak merepotkan, hanya saja dirinya selalu dianggap anak manja.


Ibu kandung yang hanya memuji kedua saudara tirinya. Ayah tiri yang terlalu keras pada Aiko, merubah pandangannya pada dunia.


Hanya Hiasi tempatnya kembali, menyembunyikan lukanya pada sang ayah, luka hati bertahun-tahun membuat semua yang ada dalam dirinya membusuk.


Tapi kali ini tidak, Aiko menjerit menumpahkan semua rasa sakitnya dalam pelukan sang ayah. Menitikan air mata tiada henti.


***


Senyuman menyungging di wajah Kenzo, membalas pelukan Amel yang tiba-tiba berlari ke arahnya. "Amel kepalaku tertembak...aaaa..." ucapnya.


Amel yang ketakutan menitikkan air matanya, mengeratkan pelukannya, antara berani dan tidak berani melihat keadaan Kenzo. Amel menyesal, dirinya menyesal, kenapa tubuhnya lebih pendek dari Kenzo. Lebih baik kepalanya saja yang tertembak dari pada kepala Kenzo. Setidaknya mungkin itulah yang ada di fikiran Romeo-Julietnya.


Kepalanya perlahan menonggak, bersiap menatap wajah Kenzo yang berlumuran darah, jemari tangannya gemetar. "Ke... Kenzo..." ucapnya perlahan.


Namun semua kesedihan itu sirna, mendengar kata-kata dari seorang pemuda yang tersenyum tanpa terluka sedikitpun,"Apa Amel sangat mencintaiku hingga rela mati untukku?" tanyanya.


Mati untuk pemuda penindas, tengik sepertinya? Amel merasa dirinya mungkin sudah gila. Kenapa tubuhnya refleks menjadi perisai untuk Kenzo? Aneh, benar-benar aneh...


Sejatinya Amel adalah pengecut yang selalu mencari jalan aman. Dipukuli teman-teman Keyla, dirinya pura-pura mati. Uang tabungannya di rebut Alwi hanya bisa pasrah, yang penting selamat dan masih hidup. Tapi Amel mengorbankan dirinya untuk Kenzo?


Gadis itu tertegun, melepaskan pelukannya, mundur beberapa langkah, "Ka...kamu menggunakan mantra apa sehingga aku bisa menjadi perisai untuk melindungimu!!" teriaknya menuduh Kenzo.


"A...aku menyayangi nyawaku!! Tidak mungkin aku berkorban untuk penindas sepertimu..."sangkalnya akan perasaan dalam hatinya, menyesali dirinya yang tidak ingin kehilangan Kenzo.


"Lalu kenapa memelukku?" Kenzo menahan tawanya, berusaha sedingin mungkin.


"Ka... karena kamu..." kata-kata Amel terhenti dirinya tidak dapat menyangkal.


"Kamu mulai menyukaiku? Memiliki perasaan yang dalam hingga rela berkorban untukku?" tanyanya mendekat selangkah, sedangkan Amel mundur selangkah ketakutan dan canggung.


"Tidak, aku..." kata-kata gadis itu terhenti kembali, dirinya benar-benar gugup kali ini. Bagaikan kelinci yang dengan sukarela masuk ke dalam mulut singa. Tapi tidak ingin dirinya dimakan.


Keringat dingin Amel keluar, kembali mundur, menghirup napas dalam-dalam,"Aku hanya kebetulan lewat!! Anggaplah aku hantu yang tidak ada!!" teriaknya berlari ke arah tangga darurat, melarikan diri dengan cepat.


Kenzo menghela napas kasar, tersenyum, menatap kepergian gadis pemalu yang dicintainya...


...Jangan mencoba melindungiku menggunakan nyawamu lagi......


...Karena saat kamu tidak ada di dunia ini, hidupku akan lebih buruk daripada kematian....


...Tidak pernah dapat melihat wajahmu...Tidak pernah dapat tertawa bersamamu... Tidak pernah dapat menangis dalam pelukanmu......


...Jika pada akhirnya aku yang harus mati mendahuluimu. Relakan saja, tetaplah tersenyum...aku akan menjagamu walaupun tidak terlihat lagi......


...Karena aku mencintaimu......


...Jangan mati mendahuluiku, jika itu terjadi aku tidak dapat melanjutkan hidup......


Kenzo...


***


Angin dingin menerpa wajahnya, kini gadis cantik itu mengenakan baju tahanan. Beberapa kali Hiasi mendatangkan psikiater untuknya. Menggenggam jemari tangannya, tidak melepaskan sedikitpun.


Bahkan ada waktu dimana dirinya ditanyakan, tindakan kriminal apa saja yang pernah dilakukannya? Aiko mengakui segalanya, bahkan dengan sengaja membakar kediaman milik ayah tirinya.


Air matanya mengalir, bukan hanya karena tindakannya. Tapi menatap sang ayah yang masih tetap memeluknya. Andai waktu dapat diputar, dirinya tidak ingin pura-pura baik-baik saja. Ingin mengadu, kekejaman dunia untuk anak berusia 8 tahun pada sang ayah, seperti saat ini.


Walau mengetahui sifat buruk Aiko, Hiasi meninggalkan Aika di rumah sakit, memilih untuk menemaninya pelan-pelan menyembuhkan luka hati putri bungsunya.


Korban? Aiko adalah korban yang haus akan kasih sayang. Perlahan menjadi pembunuh keji, menginginkan kematian orang lain.


Derai air matanya tidak dapat menghapus segalanya. Namun, rasanya lebih nyaman, mendapatkan cinta yang cukup dari sang ayah tanpa takut kehilangannya.


Aiko kecil yang selalu menghabiskan satu set krayon setiap minggu. Perlahan kembali hidup dalam tangisan dan pelukan ayahnya. Di hadapan psikiater yang setia mendengarkannya.


Hari demi hari berlalu...


Proses persidangan belum usai, Aiko dipidana karena tindakannya menghilangkan nyawa Seina dengan sengaja. Sedangkan untuk kasus kebakaran ketika usianya 8 tahun tidak dapat dilanjutkan. Sebab Aiko kala itu masih di bawah umur, dan dalam kondisi psikologis yang buruk.


Gadis itu terdiam, tidak membela dirinya sama sekali. Melirik ke arah Tatewaki yang tertunduk kecewa mendengar semua pernyataan yang dipaparkan jaksa. Bagaimana kekasihnya harus mati, mengalami pukulan bertubi-tubi.


Entah apa yang difikiran Tatewaki, pemuda itu keluar dari ruang sidang. Melajukan mobilnya, menuju ke makam Seina, kembali meletakkan bunga lavender di sana.


Berucap tertunduk dalam doanya bagaikan berharap malaikat akan mendengar dan menyampaikan kata-katanya.


Seina, hari ini aku mengetahui bagaimana hatimu yang sebenarnya. Tidak ingin orang lain terluka karenamu. Memilih melukai durimu sendiri dan diriku. Lelaki lain? Tidak pernah ada di hatimu atau diantara kita.


Seperti anak kucing kecil yang kamu lindungi, memberikan payung milik kita...Hatimu terlalu baik, karena itulah Tuhan terlalu menyayangimu...


Menyimpan dirimu dalam dekapannya...


Jika bisa, aku ingin menemukanmu lagi, dalam kehidupan ini ... Bolehkah kamu meminta pada-Nya...


Tatewaki membuka matanya, meninggalkan makam kekasihnya berusaha tersenyum dengan air mata terurai.


Bersambung