My Kenzo

My Kenzo
Pinjaman



Tidak mendengar semuanya? Tidak sepenuhnya benar. Kenzo yang berjalan terburu-buru masih dapat tersenyum tidak mengetahui apapun, hingga langkahnya terhenti.


Balas budi? Apa karena itu Amel menerimanya? Dirinya terdiam, mendengar semua yang mereka katakan dari tangga.


Hingga kedua tangan orang yang dikasihinya saling menggenggam. Air matanya ingin mengalir namun wajahnya tertahan dalam senyuman.


Apa dirinya memang tidak pantas bahagia? Mungkin iya, setelah tidak terhitung berapa orang yang kehidupannya hancur karenanya. Namun Amel? Bolehkah dirinya egois tidak melepaskannya? Memiliki raga tanpa hati mungkin lebih baik.


Amel segera menarik tangannya yang digenggam Gilang. Menyadari keberadaan Kenzo, dua orang yang kembali bungkam.


Mereka memang sudah saling mengenal. Apa dirinya yang ada diantara mereka? Amel menolak Gilang? Tapi air mata gadis itu menetes kala pertunangan Gilang terjadi.


Keraguan mulai ada....Benar, dirinyalah yang ada diantara mereka.


Maaf, bolehkah aku egois? Aku juga ingin bahagia... Beri aku sedikit waktu lagi untuk merubah rasa terimakasihmu, menjadi hati yang tulus padaku... mungkin itulah yang ada dihatinya kala merangkul bahu wanita yang dikasihinya di hadapan Gilang.


Kata-kata tulus memang keluar dari bibirnya, berawal dari mengharapkan Gilang menemukan cinta yang dicarinya. Keinginan yang berubah menjadi mengharapkan adiknya menemukan cinta yang lain.


Egois bukan? Tapi itulah dirinya, memilih mengetahui segalanya berusaha tersenyum. Walaupun terasa menyakitkan, kala mengetahui satu celah kemungkinan istrinya tidak mencintainya. Balas budi dua kata, yang tidak pernah dibayangkannya.


"Kakak aku ingin..." kata-kata Gilang disela.


"Pulanglah, aku dan Amel harus bekerja. Gurunya Lorenzo, menghubunginya, kemudian beberapa e-mail juga harus aku balas. Jadi, terimakasih..." kata terakhir dibibir Kenzo terdengar ambigu. Terimakasih? Untuk apa? Gilang tidak memberikan apapun padanya.


Terimakasih, dulu sudah membuangnya. Hingga aku memiliki kesempatan untuk memungut nya. Balas budi? Mungkin kamu benar, tapi aku ingin tetap egois untuk memilikinya... satu-satunya tempat untukku pulang...


Senyuman menyungging di bibirnya menahan segalanya. Berada diantara dua orang yang dicintainya. Menjadi ayah yang baik? Dirinya menginginkannya. Tinggal hidup hingga tua bersama wanita yang dicintainya dan cucu-cucu kecil mereka kelak.


Tapi apa bisa?


"Aku akan sering-sering berkunjung selama kakak berada di sini..." ucap Gilang, membawa paperbag pemberian kakaknya pergi."Aku pulang..."


Pintu utama villa itu tertutup, bersamaan dengan tubuh Amel yang ditarik Kenzo. Bibir itu dibungkamnya. Bergerak menyapu perlahan, saling membelit. Entah kenapa, air mata mengalir di pipi pemuda itu tiada henti.


Balas budi tidak ada di hatimu bukan? Tolong cintai aku...


"Kamu masih merindukan keluargamu?" tanya Amel tidak mengerti, menatap air mata di pipi suaminya.


Kenzo menggeleng,"Tolong, jadilah keluargaku..." ucapnya merasa menjadi makhluk paling egois.


Tubuh Amel diangkatnya tiba-tiba, menapaki anak tangga.


"Kenzo aku bisa sendiri..." Amel berusaha untuk turun.


Namun pemuda itu tetap tersenyum, dalam usahanya membuktikan semua anggapan Gilang tidak benar.


Aku dicintainya...Aku dicintainya...


"Aku akan berusaha lebih romantis, seperti yang ada dalam drama atau novel. Tolong katakan kamu mencintaiku..." ucapnya berusaha untuk tetap tersenyum.


Amel tertawa kecil,"Aku mencintaimu, bagaimana pun si tuan penindas," sementara mata itu saling menatap mencari kesungguhan.


"Aku percaya padamu..." hanya itu kata-kata yang terucap dari bibirnya, penuh senyuman. Kata-kata yang mulai ragu.


Berpura-pura saling tidak mengenal? Amel mengikuti kebohongan Gilang.


Apa kamu hanya ragu untuk menyakitiku? Tidak, aku adalah antagonis bukan? Aku boleh untuk egois padamu. Tolong cintailah aku... harapan dari seorang pemuda yang memiliki banyak luka di hatinya.


***


Kamar mereka telah dimasuki cahaya matahari. Laptop? Tidak ada e-mail yang dibuka mereka hari ini, selimut dan seprei putih yang telah mereka ganti pagi tadi, kembali tidak beraturan. Selimut putih masih menutupi kedua tubuh itu saat ini.


Kala beradu dalam penyatuan. Perasaan berdebar kala menyentuh tubuh istrinya nyata... Apa Amel juga merasakannya, saat tubuh mereka saling menyentuh?


"Aku mencintaimu...aku mencintaimu...aku mencintaimu..." ucapnya berkali-kali putus asa, meyakinkan dirinya sendiri, perasaannya berbalas. Sebagai seorang suami yang telah memiliki istrinya.


"Aku juga...Ke... Kenzo.." suara racauan berulang ulang, tubuh mereka masih berpacu.


Menyakitkan? Tidak, mereka melakukannya perlahan. Hingga lelah pada akhirnya menyapa.


"Iya, mungkin karena kami memiliki banyak hoby yang sama..." Amel mengeratkan pelukannya.


Maaf berbohong, tapi aku tidak ingin kamu terluka, atau melukai dirimu sendiri. Jangan pernah menitikan air mata lagi ... karena kamulah suamiku saat ini. Payung tempatku berteduh, menemani kala dinginnya air hujan, hendak menerpa tubuhku...


"Mungkin, tapi aku mencintaimu..." pernyataan cinta yang kembali terucap. Berharap Amel membalas kata-katanya lagi dan lagi.


Namun, mata itu terpejam akibat terlalu lelah. Kata-kata balasan yang tidak didengarnya kali ini. "Tidurlah..." Kenzo mengecup keningnya.


Matanya menatap langit-langit kamar, masih mendekap tubuh istrinya. Berbalut selimut putih, dengan cahaya yang mulai berubah menjadi jingga. Namun, matanya tidak juga dapat terpejam. Pakaiannya dan Amel masih berserakan di lantai, bahkan terdapat pakaian dalam disana.


Terdiam seorang diri membiarkan phonecellnya terus berbunyi. Entah apa yang ada di fikirannya.


Mungkin janji yang harus ditepatinya. Janji seorang anak yang putus asa akan hidupnya.


Tidak semua berjalan mulus dalam hidupnya, terkadang bebatuan besar menyandung jalannya. Terutama kala Kinan sudah tidak ada, kala Suki tengah berada di negara lain.


Ingin mati? Hal itu pernah ada dalam fikirannya. Namun hanya sejenak, kala Nila yang membencinya tidak memberinya makan, kala tubuhnya dipukuli, kala teman-teman sekolahnya mengatakan dirinya hanya anak angkat yang menumpang hidup pada orang kaya.


Itu benar, lalu kenapa. Dirinya memang hanya anak angkat bukan? Anak itu berjalan di area jembatan, menahan rasa laparnya, putus asa menatap ke arah aliran air sungai yang deras. Tidak ingin pulang, tidak ingin dipukuli, terlalu lelah untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya.


Hingga meringkuk seorang diri, menunggu malam. Ketika pulang juga sama, tidak ada makanan di atas meja, seluruh keluarga itu makan malam di luar, mungkin restauran berkelas. Meninggalkannya seorang diri, seorang anak yang menahan lapar dengan segelas teh hangat.


Pakaian tidak digantinya, tubuhnya direbahkan di atas tempat tidur. Masih lengkap mengenakan seragam merah putih. Matanya perlahan terpejam.


"Kakak..." seseorang membangunkannya, membawanya sebungkus nasi.


"Gilang..." ucapnya tersenyum membuka matanya.


"Kami makan di restauran tadi. Ini sisa makananku, porsinya terlalu banyak. Jadi aku minta bungkus saja..." ucapnya tersenyum.


"Terimakasih..." Kenzo meraihnya, tersenyum dengan wajah pucatnya.


Lapar, dirinya benar-benar kelaparan saat ini, memakan-makanan sisa dengan lahap. Semenjak kematian Harnum, Nila menjadi satu-satunya nyonya di rumah itu.


Menyingkirkan Kenzo satu-satunya tujuannya, anak yang dianggapnya mengetahui perbuatan buruknya pada kematian Harnum.


Kabur dari rumah? Nila sudah cukup senang mengetahui Kenzo tidak pulang dari siang, tapi kenapa anak itu kembali lagi.


Brak...


Nasi yang diberikan Gilang jatuh berantakan di lantai. "Anak angkat sialan!! Pergi dari rumah seharian!!" bentaknya, menarik rambut pendek Kenzo.


Air dalam bathtub diisinya penuh, wajah itu ditenggelamkan tidak dibiarkan bernapas. Seragam merah putihnya basah.


Putus asa? Benar, seharusnya dirinya melompat saja dari jembatan. Bukankah akan sama saja mati dalam air? Namun suara tamparan terdengar nyaring, kala dirinya hampir kehabisan napas.


Hidung dan mata Kenzo memerah, menengok ke arah asal suara. Agra, suami dari Nila berada disana, Gilang yang mengadu pamannya.


"Kalau dia mati bagaimana? Kamu mau dijebloskan ke penjara sebagai pembunuh. Ayah tidak akan memberikan jabatannya padaku jika dia mengetahui kamu menganiaya anak angkatnya..." bentaknya berjalan pergi, dikejar dengan cepat oleh Nila. Tujuannya? Meminta maaf pada Agra, tanpa merasa bersalah sedikitpun pada Kenzo.


Anak yang tengah terbatuk-batuk dengan deru napas tidak teratur,"Kakak..." Gilang mendekatinya.


"Terimakasih," Kenzo tersenyum padanya, dirinya masih ketakutan menghirup napas sebanyak-banyaknya, dijawab dengan anggukan oleh Gilang.


"Aku adalah kakakmu, jangan pernah sungkan meminta apapun padaku. Hutang nyawa ini, akan aku kembalikan suatu saat nanti..."


***


Betapa pun Gilang tumbuh menjadi egois, menganggapnya kakak atau tidak. Kenzo akan tetap menyayanginya. Karena apa? Nyawanya hanya pinjaman, seharusnya dirinya mati saat itu.


Namun melepaskan Amel? Tidak, dialah ibu dari anak-anaknya. Kenzo tidak dapat melepaskannya. Mendekap tubuh polos istrinya erat,"Apa yang harus aku lakukan?" gumamnya, mengecup kening Amel yang tengah tertidur berkali-kali. Tidak akan melepaskannya, kecuali ada saat terlemah dalam dirinya, kala tidak memiliki keinginan melanjutkan hidup ini lagi.


Bersambung


...Bahagia? Kamu dan anak kita akan bahagia, aku berjanji dengan nyawaku......


Kenzo...