
Suasana yang cukup menegangkan baginya, jemari tangannya gemetar, menatap ibunya yang duduk di hadapannya. Ruangan Rektor itulah tempat mereka berada saat ini.
Amel memijit pelipisnya sendiri, menghilangkan rasa stressnya. Menghadapi anak-anaknya yang telah mulai dewasa.
"Mama, tolong jangan katakan pada papa..." pintanya memelas, tidak ingin menerima amukan dari Kenzo.
Senyuman menyinggung di wajah Suwardi,"Sudahlah Amel, dia sudah dewasa. Lagipula anakmu juga sudah pernah kemari, mengutarakan maksud kedatangannya untuk merebut Selly dari Praba," mulut tidak terkoneksi itu kembali berucap.
Biksu Tong!! Itu karena kamu yang narsis! Mengira semua pria yang memanggil pak, berharap menjadi menantumu. Dasar botak... komat-kamit Scott memendam kemarahannya dalam hati.
"Mama?" Scott memelas.
"Selly, sebenarnya seperti apa hubungan kalian?" tanya Amel yang sudah tidak mungkin 100% percaya pada kata-kata Scott.
"A...apa? A...a...aku juga bingung, kami berciuman dua kali. Se... sedangkan Praba saja hanya pernah menciumku sekali. Jadi..." kata-kata gugup dari mulut Selly terhenti sejenak, dengan wajah berseri-seri.
"Jadi?" Amel mengenyitkan keningnya.
"Jadi, ibu mertua aku tau selisih umur kita tidak terlalu jauh. Karena itu, karena itu aku akan berusaha menjadi menantu yang baik untukmu," ucap Selly dengan cepat, menggenggam jemari tangan Amel yang hampir seumuran dengannya.
Scott kehabisan kata-kata, mengira Selly akan membelanya ternyata sama saja. Hingga satu hal yang harus dilakukannya... berlutut...
"Mama!! Percayalah padaku, aku tidak bersalah bahkan aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya..." ucapnya, menunduk putus asa.
"Ibu mertua, Scott mengatakannya saat di gudang, dia mencintaiku. Aku bersumpah, aku tidak bohong..." kata-kata jujur dari mulut Selly.
"Itu karena aku ingin membuktikan, bahwa perasaanmu pada Praba sebab dia pria pertama yang menyentuh dan merayumu!! Jika rasannya sama, berarti perasaanmu padanya hanya omong-kosong" kekesalan dari mulut Scott.
Dengan wajah berseri-seri, seakan malu-malu Selly berucap,"Rasanya berbeda, denganmu aku merasa...aaa..." wanita dewasa itu menjerit sendiri, menutup wajahnya dengan tangannya.
Like father...like daughter, ayah dan putrinya sama saja, aku kira berbeda... gumamnya dalam hati, masih duduk di lantai.
"Apa lagi yang kalian lakukan?" tanya Amel tidak ingin kecolongan. Mungkin mereka baru saja selesai membuat anak? Siapa yang tahu.
"Scott mengatakan aku cantik, mencium jari dan telapak tanganku. Kemudian mencium bibirku, memegang pinggangku. Lalu...lalu aku balas menciumnya," jawaban jujur dari mulut Selly.
"Benar begitu Scott?" tanyanya.
"I...iya, tapi itu semua untuk mengajari dia yang terlalu polos. Di menganggap perasaannya pada Praba yang baru dikenalnya selama sebulan, tidak peduli pada sifat asli dan keluarganya adalah cinta..."
"Jadi aku ingin membuktikan dengan melakukan hal yang Praba lakukan padanya. Apa akan terasa sama atau tidak," lanjutnya.
"Jika Praba memeluknya, kamu juga memeluknya?" tanya Amel, dijawab dengan anggukan oleh Scott.
"Jika Praba mencium pipinya, kamu juga akan mencoba mencium pipinya?" ibu dari 8 orang anak itu kembali bertanya, Scott kembali mengangguk.
"Jika Praba mencium bibirnya, kamu juga mencium bibirnya?" Amel menghela napas kasar, meminum air dingin diatas meja. Sama seperti sebelumnya, Scott mengangguk.
Membuahi? Aku masih perjaka, untuk mengajari harus melepaskan keperjakaanku? Tidak akan... gumamnya dalam hati.
Suwardi tiba-tiba bangkit, duduk di sebelah Amel, membisikkan sesuatu padanya entah apa.
Amel menghela napas kasar,"Pak Suwardi ingin kamu menikahi anaknya..."
Bagaikan disambar petir rasanya, kehidupan damai seorang Scott yang baru berusia 24 tahun akan terganggu dengan adanya wanita dewasa di sampingnya.
"Sebenarnya bapak tidak begitu setuju padamu mengingat usiamu yang masih terlalu muda. Pastinya tidak memiliki tabungan, rumah, mobil atau tunjangan hidup. Tapi, mengingat Selly..." kata-kata sang rektor disela.
"Saya memang pemuda miskin, hanya anak angkat, kuliah melalui universitas terbuka, tidak memiliki rumah, pekerjaan, maupun mobil," ucapnya cepat ingin tidak disetujui oleh Suwardi.
"Dia memang tidak mempunyai rumah dan mobil, tapi masalah pekerjaan. Scott membantuku mengelola perusahaan suamiku. Gaji dan uang tabungannya cukup untuk memberikan kehidupan yang layak untuk Selly dan anaknya nanti," jelas Amel pada sang rektor.
"Mama mengawasi tabunganmu, sekaligus sahammu di perusahaan lain. Sekitar 5 juta dolar (72 miliar) kan?" Amel mengenyitkan keningnya.
Scott tertunduk sembari mengangguk, itulah hasil yang didapatkannya dari mengikuti ibunya selama 7 tahun ini, serta menanam saham di beberapa perusahaan luar negeri.
Ekspresi wajah Suwardi berubah, pemuda yang disangkanya hanya dapat bersenang-senang ternyata malah pria mapan. Seseorang yang pantas untuk mendampingi Selly putrinya yang sempurna, dapat menjamin kehidupan cucu-cucunya kelak. "Jadi kapan tanggal pernikahannya? Tenang saja, ayah berjanji tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian..."
"Selly, ayah harap setelah ini kamu mengikuti suamimu. Tetaplah setia padanya dalam susah maupun senang. Hormati dia walaupun usianya lebih muda darimu..." Suwardi menitikkan air matanya memeluk putri tunggalnya.
"Ja... jadi akhirnya aku akan menikah?" tanya Scott pada ibunya.
Amel menghela napas kasar," Mama setuju juga untuk kebaikanmu, kamu tau kan pergaulan di negara lain? Berciuman sesama teman, berhubungan layaknya suami-istri sudah merupakan hal biasa. Mungkin suatu saat nanti mama harus mengurus bisnis di negara yang berbeda denganmu,"
"Bagaimana jika kamu bertemu dengan wanita yang salah, berhubungan badan dengannya? Jika memiliki istri yang selalu ada disanpingmu. Setidaknya kamu akan memiliki tujuan hidup, dan batasan untuk tidak keluar dari jalur pertemanan yang salah," lanjutnya.
Scott hanya tertunduk mendengarkan semua kata-kata ibunya. Hingga satu kalimat keluar dari mulutnya, "Tapi aku tidak mencintainya..."
Amel menghela napas kasar, menatap putranya,"Kamu tidak jijik padanya hingga dapat menciumnya. Memperhatikannya hingga tidak ingin dia terluka oleh Praba. Cukup untuk menjadi bibit, menumbuhkan rasa suka setelah pernikahan,"
Scott terdiam, melirik ke arah Selly. Meyakini ibunya yang akan berfikir dahulu sebelum bertindak.
Tidak mencintai? Kata-kata yang membuat Selly tertunduk sejenak. Hingga Scott menghirup napas dalam-dalam, anggap saja dirinya dan Selly memang dijodohkan oleh kedua orang gila ini.
Pemuda itu berjalan mendekati wanita yang lebih dewasa darinya. Memegang jemari tangannya yang halus. Wanita dewasa yang tertunduk diam, masih duduk di atas sofa.
Sang pemuda berlutut di hadapannya, mensejajarkan tubuh mereka."Ini trik licik mereka untuk menjodohkan kita dari awal. Aku memang belum mencintaimu, tapi aku akan mengikuti kata-kata ibuku untuk menjadi suami yang baik. Berjanji setia untuk mencintaimu perlahan..."
Selly tertegun, pemuda di hadapannya benar-benar mengalahkan pemeran utama drama romantis. "Aku akan menjadi istri dan menantu yang baik!!" ucapnya cepat.
Bersambung