My Kenzo

My Kenzo
Aku Menyerah



Tangannya gemetar mulai memasang headset dengan ragu. Hingga, suara itu terdengar, suaminya menikmati segalanya. Kala, dirinya berusaha untuk menjadi istri yang baik, kala sang anak berjuang antara hidup dan mati.


"George..." gumamnya lirih, tidak sanggup melanjutkan mendengarkannya lagi. Alat itu dilemparkannya asal di lantai rumah sakit.


7 tahun...7 tahun dirinya mengabdi, seorang nona muda yang belajar memasak untuk suaminya. Mencintai pria yang bersetatus lebih rendah dari dirinya. Bahkan membantunya, menyelesaikan masalah sebagai imigran ilegal.


Namun, semua sia-sia...


Ugly? Apakah dirinya jelek? Cindy mengorbankan bentuk tubuhnya yang sempurna untuk menghadirkan dua orang malaikat dalam rumah tangga mereka. Apa yang kurang? Apa sebenarnya yang tidak baik dari dirinya?


Cindy perlahan menghapus air matanya, mulai berdiri, melangkah mendekati ruang rawat putranya. Apa yang sebenarnya di lihat oleh Agam? Apa....


"Agler, ikut ibu pulang sebentar ya? Tapi jangan turun dari mobil, apapun yang terjadi..." ucapnya pada putranya yang tengah memakan kripik kentang.


Agler menjawab dengan anggukan, anak yang benar-benar penurut. Rewel? Tidak, Agler bersifat lebih dewasa dibandingkan Agam. Anak itu hanya akan marah, jika ada yang membuat saudara kembarnya sedih.


***


Hari hampir pagi, Agler tertidur di dalam mobil, sementara Cindy masih konsentrasi menyetir.


Air matanya tertahan, harapannya? Dirinya hanya berharap semua tidak sesuai dugaannya. Agam tidak melihat perbuatan ayah yang tidak pernah menjenguknya.


Namun, apakah benar?


Mobil mulai terparkir di area depan kediaman besar tersebut. Agler membuka matanya, baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ibu..." ucapnya.


"Sudah sampai, Agler tetap diam di mobil. Nanti ibu akan kembali, ingat jangan turun..." mata Cindy berkaca-kaca, menahan tangisannya.


Agler hanya mengangguk, membuka air minum rasa buah yang dibelikan ibunya.


Kakinya gemetar, mulai turun dari mobil, melangkah masuk. Seonggok gaun hitam masih berada di lantai ruang tamu. Pada akhirnya air mata itu keluar juga, tidak dapat dibendung nya. Agam menang menyaksikan segalanya.


Seorang anak yang berjuang antara hidup dan mati harus mengetahui dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sang ayah memilih tidak bertemu dengannya. Hanya untuk bersama wanita lain di kamar ibunya.


Perlahan Cindy melangkah, "Honey, kamu lihat hair dryer-nya?" suara seorang wanita terdengar dari dalam kamar.


Emosi? Tentu saja, dengan cepat Cindy melangkah, membuka pintu kamar.


"Bu Cindy, maaf sebenarnya saya menginap disini karena..." Sera gelagapan, hanya mengenakan jubah mandinya saja, dengan rambut yang basah.


Plak...


Suara tamparan terdengar,"Lima tahun... selama lima tahun dia tidak menyentuhku. Dengan alasan sibuk bekerja hingga kelelahan, rupanya ada wanita lain yang menghangatkan ranjangnya!!" isakannya terdengar.


"Kamu juga wanita!! Lahir dari rahim seorang wanita!! Apa kamu tidak punya hati!? Bagaimana jika ayahmu yang berselingkuh!!" bentak Cindy menatap tajam dengan air mata terurai.


"Ini kesalahanmu, sebagai seorang istri seharusnya kamu lebih bisa menjaga penampilan. Memanjakan suamimu, ini bukan kesalahanku, rasa cinta kami nyata, tumbuh perlahan dan kamu hanya nona muda penghalang hubungan kami..." Sera meninggikan intonasi suaranya, berucap penuh keangkuhan.


"Kedua anakmu yang manja, aku curiga Agam sebenarnya pura-pura sakit. Agar kamu dapat menghabiskan hasil kerja keras suamimu..." lanjutnya.


Cindy sudah berada di ambang batas kesabarannya. Mengangkat tangannya hendak kembali menampar Sera. Namun...


Bug...


Jemari tangannya dipegangi, bukan sebuah tamparan. Namun, kepalan tangan, George meninju pipi istrinya hingga tersungkur di lantai.


"Berani-beraninya kamu menampar Sera!!" bentak George.


"Dia mengatakan Agam berpura-pura sakit, ibu mana yang dapat menerimanya..." teriakan keluar dari mulut Cindy.


"Agam memang berpura-pura sakit bukan? Aku juga mencurigainya. Kalian bersekongkol untuk menghabiskan uang-ku, sudah dua tahun, mana ada penyakit yang tidak akan sembuh-sembuh..." ucapnya membenarkan semua kata-kata Sera.


Peduli pada putranya? George memang tidak pernah peduli. Uang hanya itu yang disediakannya, tidak pernah melihat sendiri kondisi Agam. Tidak pernah melihat sendiri kala putranya menangis harus menjalani berbagai pengobatan yang menyakitkan.


Cindy tertunduk, mulai tertawa, "Agam dan Agler bukan putramu. Mereka hanyalah putraku, uang-mu? Perusahaan, rumah, mobil, semua dari warisan almarhum ayahku. Jadi kedua putraku hidup dari warisan kakeknya. Jangan pernah mengakui mereka lagi..."


"Wanita keji!!" George hendak menendang tubuh istrinya. Namun, suara seorang anak menghentikannya.


"Ibu..." tangisan Agler lirih, melanggar perintah ibunya untuk tidak keluar dari mobil. Mungkin karena ikatan batin, anak yang terlalu mencintai sang ibu.


Anak itu berlari, membantu sang ibu bangkit,"Ayo kita kembali ke sanatorium," ucapnya.


"Agler..." George tertegun memanggil nama putranya.


"Seperti kata ibuku, aku hidup dari warisan kakekku, kamu tidak pernah menghidupiku. Jangan memanggil namaku lagi..." sang anak tertunduk, menitikan air matanya, menatap ibunya dengan wajah yang lebam, serta darah di ujung bibirnya.


"Jika ingin perusahaan, ambillah... Aku menyerah. Semua saham akan aku jual, kita berpisah saja..." Cindy mulai bangkit, mungkin inilah keputusan terbaik, bagi psikis kedua putranya.


Cinta? Sesuatu yang telah lama kering, tidak pernah dipupuk dan disirami selama lima tahun. Dan kini dibabat habis, dicabut hingga ke akar-akarnya oleh pria yang dicintainya.


George terdiam, ada perasaan mengganjal tiba-tiba, wanita bodoh yang mencintainya sudah memilih untuk melepaskannya. Sang anak yang menyusahkan, ikut pergi dengan sang wanita benalu. Itu bagus bukan? Namun, sesuatu dalam dirinya merasakan sakit tidak tertahankan.


Setetes air matanya mengalir, mungkin sosok George imigran ilegal yang baik hati masih berada di sana. Namun, sosok pemuda yang tersembunyi di ruang hati paling gelap itu kembali menghilang, "Pergilah!! Kalian hanya benalu!!" ucapnya, membiarkan kepergian istri dan putranya, seiring setetes air mata yang mengalir di pipinya jatuh ke lantai meninggalkan wajahnya.


Pada akhirnya, kedua orang itu melangkah pergi, tanpa dapat digapainya. Wanita yang menunduk untuknya, tersenyum dalam kebahagiaan pada awal pernikahan mereka. Kini terluka karenanya...


Ini kesalahannya sendiri...Ini bukan kesalahanku...dia yang tidak dapat mengurusku dengan baik, hanya mengurus kedua putra kami... batinnya, membenarkan perbuatannya.


Kedua putra kami? Bahkan saat hari persalinan, George hanya menjenguknya beberapa jam. Putra kami? Mungkin sosok George sang imigran gelap yang dahulu dicintai Cindy benar-benar masih berada disana. Tertutup rasa tamak dan dengki.


"Ibu tidak apa-apa?" Agler terus menangis, berjalan bersama Cindy ke dalam mobil.


"Ibu tidak akan apa-apa, kamu tau? Kemuliaan seorang wanita bukan dari suaminya. Tapi dari anak-anak yang dicintainya. Selama Agler dan Agam baik-baik saja. Ibu akan bertahan penuh semangat..." ucapnya tersenyum dengan sudut bibir yang terluka.


Cindy mulai memasuki mobil bersama putranya, meraih phonecellnya. Menghubungi seseorang...


"Pagi Amel, aku ingin bicara dengan pacarmu. Apa dia ada?" tanyanya.


"Pacar?" suara Amel terdengar dari seberang sana.


"Kenzo, pacarmu..." ucap Cindy masih duduk di kursi pengemudi.


"Dia bukan pacarku!" bentak Amel kesal.


"Emmgghhh, siapa..." suara Kenzo yang baru terbangun terdengar.


"Sepertinya kalian tidur bersama, maaf aku menggangu, buatlah anak yang banyak. Nanti aku hubungi lagi..." Cindy tertawa, menyembunyikan luka hatinya.


"Cindy!!" bentak Amel kembali dengan level kekesalan bertambah tinggi.


Bersambung