My Kenzo

My Kenzo
Tinggalkan Dia



Venus, merupakan planet yang diberi julukan bintang fajar. Tahu kenapa? Karena sebelum fajar, planet itu akan terlihat menghiasi langit, memantulkan cahaya matahari. Bagaikan bintang, namun sejatinya bukan, dia hanyalah planet.


Kini sinar kecil planet yang bagaikan bintang terlihat, pertanda fajar belum menyapa. Udara masih terasa dingin, Amel mengeratkan pelukannya, merasakan ada keanehan.


Perlahan matanya terbuka, menyadari tubuh mereka bersentuhan tanpa sehelai benangpun yang menutupi, hanya berbalut selimut putih tebal, melindungi dua tubuh itu dari dinginnya udara pagi.


Kepalanya menonggak wajah rupawan terlihat tidur dengan tenang. Pemuda yang tidak banyak bicara, menyerangnya tiada henti. Tidak dipungkiri Amel hanya dapat diam terpaku, mengingat segalanya.


Bagaimana Kenzo yang dahulu dibencinya, dicibirnya sebagai makhluk penindas. Kini menjadi pria yang menjamahnya, merelakan dirinya diterkam oleh singa, bahkan melompat dengan sukarela ke mulutnya.


Sekali? Yang pasti lebih dari sekali, menyalurkan perasaan mereka yang tertahan.


"Aku melakukannya..." wanita itu tersenyum, mengeratkan pelukannya, dada bidang suaminya benar-benar membuatnya gila. Otot-otot perut yang tidak begitu besar seperti binaraga. Namun, lebih seperti model majalah, atau iklan pakaian dalam pria.


Berbalut kulit putih menjadi tempatnya bersandar saat ini. Bermanja-manja disana, mencium, merabanya tanpa henti.


"Berhentilah bergerak..." suara Kenzo terdengar, Amel mulai menonggakkan kepalanya.


"Ka...kamu sudah bangun?" tanyanya, tersenyum, sungguh merasa malu saat ini.


"Nakal, keinginan seorang pria lebih besar pada pagi hari. Jadi jangan menggodaku, jika tidak ingin aku memberimu kecebong lagi..." ucapnya, mendekap Amel erat, guna menghangatkan tubuh mereka.


"Emm..." Amel mengangguk sembari tersenyum.


Dirinya sudah tidak perawan lagi, diserahkan pada pemuda yang kini mendekapnya erat, tubuh putih mereka menjadi tanda. Betapa sulit melakukan penyatuan, betapa mereka menikmati setiap tahapnya, entah ada berapa bekas cakaran di punggung Kenzo atau tanda keunguan di tubuh Amel yang ditinggalkannya. Seakan saling menggoda, tidak dapat menahan, tidak pernah merasa puas.


"Kenzo aku ..." kata-kata Amel terhenti.


Pemuda itu mengelus rambutnya,"Apa aku menyakitimu? Apa menyakitkan? Apa masih terasa perih?" tanyanya cemas.


"Masih sedikit, kenapa baru bertanya? Tadi malam saat menanam kecebong tidak peduli apapun, melakukannya tanpa henti..." Amel menipiskan bibir menahan tawanya.


"Karena suaramu...aku ingin berhenti, tapi racauan dari mulutmu, membuatku semakin menggila..." ucap Kenzo, masih mendekap tubuh polos istrinya.


Sial!! Mulutku kenapa refleks berucap...tapi... rasanya memang... wajah Amel memerah karena malu, tidak dipungkiri, suara racauannya lebih keras dari suara Kenzo. Terutama di bagian akhir.


Baru pertama kali? Tentu saja, namun bukan tehniknya, tapi cara memanjakan dan mendamba tubuh Amel-lah yang membuat semuanya lebih terasa memabukkan.


Perlahan membuatnya terhanyut, membuat gadis yang kini telah kehilangan mahkotanya itu, terbuai. Melupakan rasa sakitnya dengan sentuhan bibir dan mulutnya di sekujur tubuhnya.


Benar-benar bagaikan Casanova, dapat membuat gadis senyaman mungkin kala menyerahkan segalanya. Perjaka? Pemuda itu kini bukan perjaka lagi, kejadian malam ini, membuatnya kesulitan mengendalikan diri di hadapan istrinya.


"Kamu ingin lagi?" tanya Amel merasakan sesuatu, di bagian bawah tubuh suaminya yang berbalut selimut.


"Tidurlah...kamu pasti kelelahan..." ucapnya menahan diri.


Amel mengenyitkan keningnya, tangannya merayap ke bawah selimut. Kelinci putih ini benar-benar tidak dapat diam, melompat-lompat menggoda sang singa agar kembali menerkamnya.


"A...Amel... emmgghhh..." racaunya, merasakan kenakalan istrinya.


"Jika ingin, lakukan lah, jangan menahan diri..." ucap Amel, tersenyum menggigit bagian bawah bibirnya sendiri, menatap wajah suaminya.


"Sesuai keinginanmu," bisik Kenzo. Bibir mereka kembali bertaut, saling menyapu memilin tiada henti, rasa hangat menjalar di sekujur tubuh mereka. Berpelukan dengan tangan, saling menjamah.


Perlahan bibir dingin itu turun, kembali memanjakan istrinya. Tangan Amel menjambak pelan rambut Kenzo, tidak dapat menahan diri dalam lenguhannya. Hingga tanpa disadari, tubuh itu menyatu lagi dan lagi.


Menyalurkan keinginan tubuh dan hati, hingga perasaan hangat dan nyaman tiba. Mengantarkan benih-benih yang menghangat menuju penyatuan, mengantarkan malaikat kecil yang akan tumbuh di rahim wanita yang dicintainya.


Nyaman, benar-benar nyaman tidak ingin ini segera berakhir.


***


Aroma harum berbagai masakan tercium, memenuhi seluruh ruangan. Tidak ada ciuman panas atau adegan makanan gosong, akibat sang pengantin baru, menjadi ahli botani (bercocok tanam) di dapur.


Perlahan satu-persatu hidangan tersaji di atas meja makan. Pie apel, kue kering, olahan daging, nasi putih hangat dan sayuran semua tertata sempurna.


Mengingat mereka yang tidak makan terlalu banyak saat resepsi pernikahan. Serta aktifitas melelahkan yang mereka lakukan. Melelahkan? Menanam kecebong memang melelahkan bukan? Sekaligus memabukkan.


Hingga suara bel terdengar, pertanda ada orang yang datang.


"Mungkin Frans, biar aku buka ..." Kenzo tersenyum masih memakai celemeknya.


"Aku akan meneruskan membersihkan dapur..." jawab Amel, meletakkan satu-persatu alat masak yang telah bersih di tempatnya.


Perlahan pintu di utama villa dibuka Kenzo, seorang pemuda berdiri di sana.


"Kakak, boleh aku sarapan bersamamu?" tanyanya.


Kenzo tersenyum sembari mengangguk,"Kebetulan kami baru akan sarapan..."


Gilang perlahan melangkah masuk, matanya menelisik mengamati villa luas dengan banyak kamar. Sedangkan seorang wanita cantik, tengah membersihkan meja dapur.


"Kenzo, apa Frans..." kata-kata Amel terhenti menatap Gilang berdiri di belakang suaminya.


"Amel, perkenalkan ini Gilang adikku. Aku pernah mengajakmu ke acara pertunangannya di Singapura,"


"Gilang, ini Amel anak dari mama Kinan yang aku ceritakan..." lanjutnya.


Amel menghela napas kasar, dirinya merasa cemas saat ini. Namun tanpa diduga pemuda di belakang suaminya tersenyum,"Gilang..." ucapnya mengulurkan tangan, seolah baru pertama kali bertemu.


"Amel..." jawab Amel tertegun, sekaligus merasa sedikit lega.


Tidak ada yang terjadi, mereka menikmati sarapan mereka. Berbicara dan bercanda seolah-olah memang kakak ipar dan adik ipar yang baru saling mengenal.


"Amel, apa hobymu?" Gilang tersenyum, sembari meminum orang juice di hadapannya.


"Kamu tidak akan percaya, dia bahkan berguru, katanya ingin menjadi heaker..." Kenzo yang menjawab, memakan potongan kentang di piringnya.


"Benar begitu? Amel Anggraini?" tanya Gilang, pertanyaan seakan menginginkan untuk Amel yang menjawabnya.


"Iya...aku ingin bergabung di W&G Company, suatu saat nanti..." Amel menjawab setenang mungkin. Dirinya merasa tidak nyaman dengan apapun kata yang diucapkan Gilang saat ini.


Jika sudah mengenal, katakan mengenal, berprilaku seperti sahabat, seperti dulu.


Tapi Gilang berpura-pura tidak mengenal? Walaupun Amel merasa lega perasaan sukanya yang dahulu ada dan kini telah menghilang, tidak diketahui Kenzo. Namun dirinya benar-benar tidak nyaman dengan perubahan sikap Gilang.


"Maaf, aku lupa memindahkan udang dan kerang ke kulkas. Aku ke dapur dulu ..." ucap Amel mulai beranjak.


"Em, nanti kita bereskan yang lain bersama," Kenzo tersenyum, senyuman yang terlihat tulus, menatap wajah wanita yang kini bersetatus istrinya.


Kebahagiaan yang akhirnya ditemukan seorang antagonis dengan banyak luka di hatinya.


Handphone Kenzo tiba-tiba berbunyi, seseorang menghubunginya, menggunakan bahasa asing. Entah siapa, pemuda itu segera beranjak dari meja makan.


"Aku ke atas dulu, harus mengirim e-mail. Ingat jangan pulang dulu! Aku akan mengajakmu berkeliling villa..." ucapnya pada Gilang, yang tengah mengunyah makanannya.


"Iya..." Gilang tersenyum. Segera setelahnya, Kenzo beranjak naik ke lantai dua, guna mengambil laptop mengirim e-mail pada bawahannya.


Pemuda itu menghela napas kasar, entah apa yang ada difikirkannya. Perlahan mendekati wanita yang tengah memasukkan beberapa benda ke dalam lemari es.


"Tinggalkan Kenzo, jangan korbankan hidupmu hanya untuk rasa terimakasih," nada suaranya bergetar, menatap tanda keunguan di leher putih wanita itu,"Aku akan menerimamu kembali, maaf... mengabaikan perasaanmu sebelumnya,"


Bersambung