My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Bimbingan



🍀🍀🍀🍀Bocil skip!! Area 21+!! Jika dalam keadaan tengah berpuasa. Mohon lewatkan untuk membaca bab ini. Meskipun tidak begitu fulgar...🍀🍀🍀🍀


Glen tersenyum, sedangkan seorang wanita lengkap dengan gaun pengantinnya tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Kakak selingkuh?" tanyanya menatap curiga.


"Kalau aku selingkuh kamu mau apa? Mengadu?" Glen balik bertanya sembari tersenyum.


"Iya!! Aku akan mengadu!!" Nindy menatap tajam pada sang kakak.


"Coba saja, kami sudah sama-sama dewasa. Selain itu dia juga sudah bergerak lebih dulu daripada durimu..." Glen kembali tertawa,"Sayang!! Jangan bersembunyi di semak-semak nanti ada serangga..."


Dan akhirnya orang itu ketahuan juga, wanita dengan rambut digulung ke atas. Memakai pakaian pegawai butik, dengan name tag melekat di pakaiannya.


Berlari dengan cepat menghampiri Nindy,"Maaf, buk Nindy!! Sa...saya bolos kerja..." ucapnya tertunduk penuh rasa bersalah, dengan ranting kecil dan daun kering berada di rambutnya.


Nindy memijit pelipisnya sendiri,"Kamu tidak marah dia selingkuh dengan wanita berpakaian kurang bahan !?" tanyanya memastikan menatap pegawainya.


Gadis itu menggeleng dengan cepat."Aku tidak marah..."


Glen yang duduk di samping Marina yang tengah tertidur akibat mabuk, hanya dapat menipiskan bibir menahan tawanya.


"Mereka berpelukan!! Berciuman!! Dalam akan menyewa kamar hotel... kemudian mengguncang tempat tidur..." ucap Nindy bertambah emosi pada Puput, karyawan butik sekaligus kekasih kakaknya.


"Mereka melakukannya? Tapi saya disini, dari sore mengikutinya. Kapan mereka..." kata-kata Puput dipotong Nindy yang bertambah murka.


"Mereka akan melakukannya jika kita tidak ada disini!!" bentaknya.


"Jadi mereka belum melakukannya. Jika begitu mereka belum berselingkuh. Aku tidak bisa marah pada Glen..." ucapnya tertunduk, mengetahui dirinya akan dibentak oleh Nindy lagi.


"Mereka akan berselingkuh!! Mabuk, kemudian tidur bersama!! Kamu tidak marah!? Sebagai pacar yang baik, seharusnya kamu marah!!" bentak wanita yang masih mengenakan gaun panjang itu emosi.


"Se... sebagai pacar yang baik, jika pacarku berselingkuh aku marah. Ta...tapi Glen ha... hanya minum dan..." kata-kata sang calon kakak ipar terpotong kembali oleh Nindy. Dengan kadar emosi sudah diubun-ubun. Entah kenapa pasangan kekasih itu memilki karakter serupa.


Menyebalkan ... kekesalan Nindy tertahan.


Wanita yang tengah melangsungkan resepsi pernikahannya itu menghela napas dalam-dalam. "Sekali lagi aku tanya, kamu tidak marah?"


Dengan cepat Puput menggeleng,"Tidak, butuh ikatan kuat, antara pasangan yaitu kepercayaan. Glen selalu mempercayaiku yang sering mengukur pakaian pelanggan pria di butik. Aku ingin juga mempercayainya agar hubungan kami lebih kuat lagi..."


Nindy tertegun sejenak, dirinya terharu kata-kata yang menusuk. Karena ketidak percayaan, hubungannya dan Brandon sempat berakhir. Glen sudah menemukan wanita yang benar-benar bersikap dewasa.


Namun...


"Nindy, kamu membiarkannya mengukur pakaian pelanggan pria!! Kamu menjual kakak iparmu!?" bentak Glen, menarik telinga sang adik. Entah kenapa jika menyangkut kekasihnya pemuda yang baru memulai kariernya sebagai reporter itu, menjadi posesif.


"Sakit!!" gumamnya menepis jemari tangan sang kakak. "Glen, kenapa kamu mau menjadikannya pacar!?"


"Tentu saja, karena dia hanya percaya padaku saja. Lebih baik memiliki pacar bucin dari paca menjadi bucin karena cinta..." ucapnya tersenyum, merangkul pinggang kekasihnya.


"Sudahlah!! Brandon-ku, sudah menunggu di dalam..." kesalnya, kembali mengangkat gaun panjangnya agar lebih mudah bergerak. Guna kembali masuk ke dalam ballroom.


"Kamu mempercayaiku?" Glen tersenyum, mengecup kening Puput, kekasinya.


"Iya...aku mempercayaimu!!" ucapnya sebagai bucin yang tersihir dengan satu ciuman.


"Bagus..." Glen, mulai membungkam sejenak bibir kekasihnya dalam ciuman singkat. Hingga... "Kita berhenti sampai disini dulu, jangan sampai aku membawamu ke hotel dan menghamilimu..." bisiknya tersenyum.


Gadis itu mengangguk, sebagai kaum yang tunduk pada sebuah kata, mencintai. Bucin? Itulah istilahnya.


"Bantu aku mencarikan kamar untuk wanita ini. Setelahnya kita bisa naik motor ke pantai bersama..." ucapnya.


Dengan cepat si pengidap virus bucin bergerak mendekati Marina. "Aku yang mengangkat kepala atau kakinya!?" tanyanya antusias.


"Cukup mengangkat lidahmu ketika kita berciuman..." jawab Glen tersenyum menatap kekasihnya.


"Aku mencintaimu..." ucap Puput, menghela napas kasar.


"Aku juga, wanita bodoh..." gemasnya, pada sang kekasih, yang diam-diam mengikutinya dari sore.


Tujuan Glen? Mungkin membantu Marina menyelesaikan masalahnya. Pemuda yang bernama Andreas, sejatinya telah di tangkap di daerah lain dengan kasus yang sama, penipuan.


Asalkan mereka bertemu, entah Sany akan memiliki orang tua yang lengkap atau tetap berakhir tinggal dengan Wina nantinya.


Namun jauh dalam hatinya Glen ingin anak yang dibesarkan Wina memiliki orang tua yang lengkap. Tapi, semua keputusan tetap ada pada Andreas penipu dengan wajah yang rupawan dan Marina yang terlalu mencintainya hingga rela menampung benih pemuda itu dahulu, sebagai cikal bakal terlahirnya Sany.


***


Beberapa jam berlalu...


Brandon yang telah usai membersihkan diri tidak tau apa yang harus dilakukannya sekarang.


"Malam pertama?" gumamnya mengacak-acak rambutnya frustasi. Menunggu Nindy yang sudah hampir 30 menit membersihkan diri. Membersihkan diri? Tidak, sejatinya dalam bathtub Nindy tengah mencari video mesum mana, yang cocok untuk menjadi bahan referensi.


Hingga beberapa video membuatnya merinding."A...aku harus melakukan ini? Apa ini akan berhasil..." gumamnya bingung.


***


Pesta yang melelahkan, setelah mengikat janji suci pagi tadi, dilanjutkan dengan resepsi. Mata Brandon mulai terpejam, tenggelam dalam tidur lelapnya.


Hingga tidak terasa, ada tangan yang memegang sesuatu yang hanya pernah disentuh olehnya. Perasaan yang aneh, namun ini membuatnya menggila, bahkan bibir dingin seseorang bagaikan mendarat di tubuhnya. Bergerak menggodanya.


"Emmghh..." lenguhnya terdengar. Matanya perlahan terbuka, menatap tali jubah mandinya yang terlepas. Tubuhnya terekspos sempurna, dengan seorang gadis merayapkan bibirnya menggodanya.


"Ni... Nindy... hen...hentikan..." racaunya kala bibir itu telah sampai area perut, kembali merayap turun.


Dengan cepat, Brandon mengumpulkan tenaganya. Menarik Nindy, membalik posisi mereka, dengan dirinya yang berada di atas tubuh istrinya.


"Apa akan bisa masuk nanti?" tanya Nindy ragu, telah menyentuhnya beberapa saat kala Brandon tertidur.


"Entah... tapi aku tidak akan berhenti hingga istriku puas..." gumamnya, mulai mengikuti nalurinya membungkam bibir Nindy. Ciuman yang terasa dalam, menyapu setiap sudut mulutnya.


Jemarinya bergerak lincah bagaikan mengikuti nalurinya. Hingga pekikan indah terdengar, kala kedua tubuh itu mulai menyatu.


"Sa... sakit..." lirihnya.


Napas Brandon terdengar berat tidak teratur, memaksakan penyatuan sempurna. Bibirnya kembali membungkam bibir istrinya.


Apa begini rasanya, aku menginginkannya lagi dan lagi... batinnya mendekap tubuh Nindy, membungkam bibirnya.


"Ugh ...Ni... Nindy... Nindy..." racaunya, terus bergerak.


Nindy memejamkan matanya menikmati semua sensasi yang diberikan. Apa ini nyata? Iya, sialnya ini nyata. Punggung sang suami dekapannya bahkan menggigit bahunya. Ini sangat indah, sedikit menyakitkan namun kini sepadan.


"Brandon...!!"


Lama dan melelahkan...


Hingga guncangan itu berakhir, mengantar benih-benih dari seorang pemuda. "Apa masih sakit?" tanyanya.


Sebenarnya masih sedikit perih tapi aku menginginkannya lagi... batinnya, akhirnya Nindy menjawab dengan gelengan kepala.


"Mau melanjutkannya?" tanya Brandon bangkit dari tubuh Nindy. Dengan cepat wanita mesum itu mengangguk.


Dan benar saja, dua pasang kaki kembali saling membelit di bawah selimut putih hotel tersebut.


Jelly nata de coco akhirnya dapat menunjukkan dirinya adalah pisang berkualitas.


Bersambung