
Ujian nasional akan segera diadakan, sudah banyak materi yang dipelajarinya. Berjalan melambaikan tangan meninggalkan ibunya. Gadis itu menghela napas kasar, kemudian tersenyum. Tidak tegang sama sekali, dengan bekal uang 5000 rupiah yang diberikan ibunya.
Tegang tentu saja, beberapa minggu ini yang ada di fikirannya hanya Ken. Gadis itu berjalan menuju sekolahnya lebih awal. Kali ini semua siswa duduk sendiri sesuai nomor urut, termasuk Ken yang duduk di kursi paling belakang.
Pemuda yang terlihat konsentrasi mengerjakan soalnya beberapa belas menit. Selebihnya, tertidur, seakan acuh tentang apa saja yang dijawabnya.
Acuh? Sejatinya tidak, semua soal sudah dikerjakan olehnya. Pemilik gelar bachelor harus mengikuti ujian akhir anak SMU? Inilah hasilnya 75% waktu dimanfaatkannya untuk tidur. Matanya melirik kearah Grisella, yang tengah membuka gulungan kertas, entah apa isinya. Namun, sepertinya Grisella bahkan hampir tidak membaca soal, dan ajaibnya menjawab dengan lancar.
Glory hanya dapat kembali menghela napasnya, mengerjakan satu persatu soal memanfaatkan waktu dengan baik. Menjadi pengacara? Itulah impiannya, bekerja di LBH (Lembaga Bantuan Hukum) membantu orang-orang tidak mampu agar dapat membela dirinya di hadapan hukum.
Memilih klien? Mungkin dirinya juga ingin menjadi pengacara yang lebih jujur. Tapi apa dapat menjadi pengacara yang jujur? Entahlah...
Namun satu yang pasti... Semoga saja Ken terbangun dari tidurnya, dan menjawab soal ujian dengan serius. Hingga kami dapat lulus bersama-sama... batinnya.
***
Waktu ujian telah usai, semua siswa mulai berkemas akan pulang. Ken terlihat disana, ingin rasanya dirinya menghampirinya. Namun, senyuman memudar di wajahnya, pemuda itu berjalan pulang bersama Lily menarik paksa tangan gadis itu entah kemana.
"Naik..." Gin tersenyum padanya, masih menyodorkan helm. Dengan ragu dirinya memakai helm, mulai naik, membiarkan angin lembut membelai wajahnya.
Banyak hal yang ada di fikirannya. Apa Ken mulai jenuh padanya? Tapi itulah kenyataannya, dirinya memang tidak sepopuler Lily yang berasal dari keluarga berada. Tidak dapat sering bertemu dengannya karena Kamila yang tidak menyukainya. Namun, dirinya mencoba untuk bertahan. Mengapa Ken tidak sama? Kenapa kekasih juga tidak mencoba untuk bertahan?
Setetes air matanya mengalir, diam? Seharian ini mereka memang tidak bertemu. Semalam, seperti kata-kata ayahnya, Glory patuh. Tidak memperbolehkan Ken mencium bibirnya. Namun pemuda itu hanya tersenyum, mengatakan akan segera melamarnya.
Air mata yang dengan cepat diseka olehnya, tidak membiarkan Gin dan Kamila mengetahui hubungannya yang tiba-tiba merenggang.
Namun, jarak rumah yang tidak jauh, membuat dirinya segera sampai."Terimakasih..." ucapnya pada Gin berusaha tersenyum mengembalikan helmnya.
"Jangan sungkan, setelah umurmu cukup, aku akan datang kemari untuk memintamu pada kedua orang tuamu." Gin tersenyum, mengendarai motornya pergi.
Glory terdiam tertunduk tidak menjawab, membiarkan motor itu melaju. Hingga berakhir memasuki kamarnya, barulah air matanya mengalir tidak terkendali. Berusaha tenang, menghapus air matanya. Mengirim beberapa pesan pada Ken namun tidak mendapatkan balasan sama sekali. Menghubunginya pun phoncellnya tidak aktif.
***
Menunggu hari esok apa akan masih tetap sama? Hari ini dirinya berinisiatif untuk berbicara dengan Ken sebelum ujian di mulai."Ken..." panggilnya, namun Lily menghampirinya terlebih dahulu. Entah apa yang mereka bicarakan, langkahnya seperti enggan untuk mendekat.
Ken melihat padanya, kemudian tersenyum, perlahan dirinya berusaha membalas senyumannya. Tidak ada yang terjadi setelahnya, kekasihnya bahkan enggan untuk menghampirinya. Lebih memilih berbicara dengan Lily.
Pulang pun sama, mereka kembali pergi berdua entah kemana. Dan dirinya? Hanya dapat tersenyum pahit, menahan rasa sesak, meraih helm yang disodorkan Gin, pemuda pilihan ibunya.
Hubungan yang semakin merenggang menurutnya. Tidak ada komunikasi dan kejujuran lagi.
Hingga pada hari terakhir ujian, Gin tidak dapat menjemputnya, karena jadwal kuliah dan pekerjaan barunya sebagai House Keeping bagian public area yang bertugas membersihkan kolam renang.
Glory memasukkan alat-alat ujiannya, sedikit melirik ke arah Ken yang tertidur. Perlahan berjalan hendak mendekatinya, namun seperti biasanya langkahnya terhenti.
"Ken bangun!!" Lily lebih dulu menghampirinya.
"Ada apa?" ucapnya membuka matanya.
"Glory aku pinjam pacarmu ya..." Lily tersenyum pada sahabatnya. Menarik tangan Ken yang terlihat baru saja terbangun.
Kedua orang yang melangkah ke area belakang sekolah. Glory hanya tertunduk, mengikuti langkah mereka tanpa disadari kedua orang itu.
Suara tawa dan tangis terdengar, Lily memeluk tubuh Ken. Ken sendiri perlahan mengusap punggung Lily. Sebuah pelukan yang berbalas, banyak hal yang ada dibenaknya saat itu. Ken melepaskan pelukan Lily mengacak-acak rambutnya, terlihat tersenyum bersamanya.
Tidak berlari, hanya berjalan pergi, berharap langkahnya akan dihentikan. Tertunduk tersenyum miris, cinta pertama? Ibunya benar, ini hanyalah perasaan semu masa SMU. Ayahnya juga benar, untuk mencari pasangan yang mencintainya dan bertanggung jawab. Hanya karena tidak mendapatkan sebuah ciuman, dapat beralih pada wanita lain?
Seorang gadis yang menonggakkan kepalanya, menatap dedaunan kecil yang berguguran seiiring perjalanan pulangnya. Menahan air matanya yang hendak mengalir kembali, mata memerah yang untuk pertama kalinya merasakan jatuh cinta, dan sebuah pengkhianatan.
Pengkhianatan? Dirinya bahkan lebih buruk, dengan tidak tahu malunya menjalin hubungan dengan Ken. Sedangkan tidak dapat menolak perjodohan dari ibunya. Ini salahnya dari awal...ini adalah kesalahannya, menyangka sebuah cinta akan tegar menghadapi apapun...
Rumah kecil miliknya terlihat, Glory menunduk terdiam memasuki kamarnya. Kemuliaan? Itulah arti namanya, namun dirinya tidak cukup tegar dan mulia. Mungkin inilah keputusan terbaik yang diambilnya. Keputusan yang tidak akan menyakiti siapapun kecuali dirinya sendiri...
Ken akan bahagia, tanpa ada dirinya yang menggantungkan hubungan mereka. Mungkin menyakitkan baginya melihat setiap siang Gin datang menjemputnya. Hingga memutuskan untuk menerima Lily.
Lily juga sudah lama menyukai Ken bukan? Karena itu dia pindah ke bangku sampingnya dulu. Mungkin dengan begini dirinya dapat mundur dengan baik.
Pesan yang dikirimkannya, kembali ditatapnya. Hanya tanda centang satu yang terlihat, sama dengan pesan-pesannya beberapa hari ini. Merindukan kekasihnya, ingin mengetahui kabarnya, hingga pesan terakhir dikirimkannya untuk mengakhiri hubungan ini.
Kartu phoncell dilepaskannya, berserta kartu memori. Tidak ingin kembali mengenang masa SMU yang akan ditinggalkannya. Tidak ada tempatnya bercerita atau mengeluh lagi.
Budi dan Ira, mulai menjalin hubungan, tidak mungkin dirinya menyela. Sedangkan Caca menghindarinya, masih tidak dapat menerima dirinya menolak Ferrell. Dan Lily? Mungkin saat ini sedang bersama dengan Ken.
Hanya...
"Kamu menangis?" tanya Kamila di ambang pintu.
Glory hanya terdiam di tempat tidurnya, masih lengkap mengenakan seragamnya dengan air mata mengalir tidak diseka olehnya."Ibu?"
Dengan cepat Kamila memeluknya."Kamu putus?" tanyanya, dijawab dengan anggukan oleh Glory. Diamnya Ken memperjelas segalanya, hubungan yang telah berakhir.
Kamila menghela napas kasar."Jangan menangis, ini menang menyakitkan tapi perlahan kamu akan lebih dewasa karenanya."
Glory mengangguk, bersembunyi di tempat ternyaman baginya, pelukan sang ibu. Setelah ini liburan sekolah, menunggu pengumuman kelulusan dan acara perpisahan. Tidak akan ada kesempatan lagi bertemu dengannya.
Ken bahkan lebih memilih bersama Lily di hari terakhir ini. Karena itulah, remaja labil ini yang telah menunggu kekasihnya berhari-hari tanpa penjelasan, membenarkan segala prasangkanya untuk mengakhiri segalanya.
"Omong-omong kamu masih perawan kan? Jangan sampai mengecewakan calon perawat saat malam pertama nanti," cibirnya, ingin membuat putrinya tersenyum.
"Bibirku sudah tidak perawan lagi, sudah dicium Ferrell berkali-kali. Sedangkan Ken hanya sekali..." jawaban dari putrinya, melonggarkan pelukannya.
"Masih saja berkhayal tentang Ferrell!" bentak Kamila memukul kepala putrinya pelan.
"Sakit!!" pekiknya.
Kamila menghela napas kasar."Lagipula bukan bertunangan, sebentar lagi Ferrell akan menjadi menantu Ratna,"
"Kenapa?" tanya Glory mengusap-usap kepalanya yang kebas.
"Ibu tidak enak menceritakan ini pada Ratna. Jadi jangan katakan pada orang lain..." ucapnya, bagaikan TV yang tengah menyiarkan acara gosip terkini.
"Apa? Apa?" Glory semakin penasaran.
"Grisella membuang tes pack, hasilnya positif. Pembantu di rumahnya yang mengatakan pada ibu, agar ibu tidak mempercayai mentah-mentah tentang cerita Ratna mengenai putrinya," jawabnya.
Ibu (Kamila) dan anak (Glory) yang dapat membayangkan, mungkin Ferrell lah yang memiliki kemungkinan terbesar menghamili Grisella.
Glory yang mengingat prilaku mesum seorang Ferrell...
Dan Kamila yang mengingat tentang gosip Ferrell berhenti di depan gang rumahnya pukul 3 pagi. Mungkin Ferrell diam-diam menemui calon istrinya, mengantarnya pulang setelah berhubungan layaknya suami-istri. Begitulah fikiran seorang Kamila...
Bersambung