My Kenzo

My Kenzo
Bonus Chapter Musim Pertama 2



Tidak ada perubahan setelah kejadian itu, Brenda kembali memakai pakaian wanita dengan wig panjang melekat pada kepalanya.


Nindy menghela napasnya, menatap foto yang yang dikirimkan Amel. Foto sebuah bunga Hydragea yang mengapung terombang-ambing tersapu ombak. Dengan sebuah pesan yang mengikuti.


'Kakak akan pergi ke negara lain mengurus perusahaan. Tolong carikan orang untuk mengurus villa, selama Kenzo belum kembali. Dia akan pulang, semua akan baik-baik saja ...'


Itulah isi pesan yang dikirimkan Amel. Yang mungkin berusaha tegar di tengah kondisinya yang sedang hamil.


Nindy terdiam sejenak, kembali memasukkan phoncell ke dalam tasnya. Dirinya mulai belajar lebih banyak untuk membuat design lagi.


"Kak Brenda, aku minta maaf sudah memotong rambut dan menggati pakaianmu. Jika memang kakak lebih menyukai penampilanmu saat ini, aku akan menghormatinya. Delapan bulan lagi, aku akan melampaui kakak, agar janjiku untuk menjadikanmu suamiku tidak perlu terlaksana..." ucapnya tertunduk minta maaf, atas kejadian beberapa minggu yang lalu.


"Ba... baguslah kalau kamu mengerti!! Aku ti... tidak menyukai wanita centil sepertimu," Brenda yang mengucapkannya namun hatinya sendiri yang terasa sakit. Melepaskan Nindy? Haruskah? Tapi dirinya memang tidak akan mampu membahagiakannya, bukan?


"Aku mengerti, bagaimana jika kita ke mall bersama. Kita cari referensi..." bujuk Nindy penuh senyuman.


Brenda mengangguk sembari tersenyum, memendam semua perasaannya yang sejatinya telah tumbuh.


***


Hal yang mereka lakukan? Seorang gadis kecil yang cantik, menariknya menuju semua area permainan. Melempar bola basket, bermain simulasi menyetir, bahkan menari bersama memenangkan skor tertinggi.


Hingga pada akhirnya menonton film di bioskop. Film berjudul Titanic, beberapa orang terlihat menangis disana kecuali dua orang. Brenda yang menahan rasa jijiknya, serta Nindy yang mengunyah popcorn tiada henti.


"Kamu tidak menangis?" tanya Brenda mengenyitkan keningnya.


"Tidak, aku tidak begitu menyukai filmnya. Dari tadi aku hanya mengunyah dan makan..." jawab Nindy masih mengunyah.


"Kenapa bisa?" Brenda mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


"Rasa tidak peduli dan jangan mengingat hal yang tidak penting. Sulit dilakukan, tapi untuk beberapa orang itu mudah. Seperti saat aku mengingat hampir dilecehkan, aku akan menangis jika mengingatnya. Tapi jika hanya mengingat hal yang menyenangkan, aku akan kembali tersenyum," jawabnya penuh senyuman.


Brenda terdiam sejenak, apa dirinya dapat melupakan trauma masa kecilnya? Kala sang pengasuh berciuman, kala sang pengasuh tidak mengenakan busananya, mulutnya memasukkan...


Pemuda berpakaian wanita itu tidak dapat membayangkannya. Dirinya bertambah mual saja...


Hingga tepat pada pukul 10 malam dua orang itu memutuskan untuk kembali. Brenda menyetir mobil, sedikit melirik Nindy yang duduk di sampingnya.


"Apa kamu suatu hari nanti akan menikah?" tanyanya ragu.


"Iya, aku akan menikah dengan pria yang mencintaiku," jawab Nindy, sembari menonton video pendek di sosial media.


"A...apa sudah ada?" Brenda mengepalkan tangannya, memegang stir dengan erat.


"Belum, tapi akan ada pria yang mencintaiku seperti kakak ipar yang mencintai kakakku," jawab Nindy masih menonton video yang entah apa isinya.


Apa kamu menyerah untuk mengejarku? Apa akan ada orang lain yang mengisi hatimu? Pemuda yang dapat menciummu tanpa mual, orang yang dapat memuaskanmu di ranjang... tanpa disadari matanya memerah pandangannya sedikit buram tertutup air mata yang bagaikan embun.


Mobil perlahan terparkir di area parkir bawah tanah apartemen. Nindy segera turun, berjalan beberapa langkah. "Terimakasih, kak Brenda..." ucapnya tersenyum berjalan dengan cepat hendak meninggalkan mobil.


Brenda memundurkan mobilnya, namun mobilnya tiba-tiba dihentikannya. Seorang pemuda rupawan berada di sana memeluk Nindy penuh senyuman. Tertawa dan bercanda bersamanya saling merangkul.


Air mata Brenda mengalir, segera diusap olehnya. "Kenapa aku menjadi cengeng begini?" gerutunya. Menyetir hendak meninggalkan gedung apartemen.


Namun hanya beberapa ratus meter, mobil itu berbalik, Brandon, eh salah maksudnya Brenda tidak dapat menahan emosinya lagi. Membayangkan tubuh gadis itu disentuh tanpa penghalang. Membayangkan pemuda yang memeluknya di parkiran mencumbui tubuhnya perlahan. Kali ini bukan jijik, namun kemarahan.


Pedal gas diinjaknya dalam-dalam. Dengan tidak sabaran tombol lift ditekannya. Mencoba mengingat alamat Nindy, dan unit apartemen tempat gadis itu tinggal.


Wajah bak bunga Peony mendayu-dayu itu tidak terlihat lagi. Yang ada wajah dingin Brandon, hendak memergoki istrinya yang berselingkuh.


Istri? Tapi kenyataannya ekspresinya memang seperti itu. Bagaikan istri yang dicintainya, dinikahinya, tengah bercocok tanam dengan orang lain. Akan direbut karena kepuasan ranjang.


Logikanya hilang? Dirinya sendiri kini termakan ucapannya. Tetap akan mencintai istrinya walaupun ditiduri pria lain. Hanya akan menghajar pria itu bagaikan sansak latihan karate. Yang latihannya diam-diam masih dilakukannya walaupun hanya seminggu dua kali.


Berulang kali menekan bel apartemen hingga seorang pemuda yang terlihat seumuran dengannya muncul membukakan pintu penuh senyuman.


"Kamu siapa? Apa temannya Nindy?" tanya sang pemuda mengenyitkan keningnya.


"Glen, siapa yang datang...?" Nindy yang tengah memakai celemek ikut keluar.


"A...aku temannya Nindy," Brenda membuka wingnya,"Brandon..." ucapnya dengan suara bariton. Aura dingin mendominasi, seakan bersiap untuk menghadapi Glen yang berdiri di hadapannya.


Radar Nindy bagaikan terdeteksi, mendengar suara bariton itu. Dia cemburu!! Biarlah menjadi semakin cemburu...


"Aku..." Glen tersenyum, hendak memperkenalkan diri.


"Sayang..." Nindy merangkul kakak tirinya, bahkan mencium pipinya sedikit berbisik,"Kak Glen, tolong aku, pura-puralah jadi pacarku..." pintanya.


"Aku Glen pacarnya Nindy, masuklah..." ucapnya, merangkul pinggang Nindy.


Suasana yang mendukung, kala Wina tengah membawa Sany menginap di rumah saudaranya. Jadilah mereka bagaikan pasangan kumpul kebo. Padahal sejatinya tidak, hanya kakak beradik yang saling menjaga.


"Lepas... kalian belum menikah..." Brenda melintas diantara mereka, memisahkan kedua tangan mereka yang saling merangkul. Tatapan menghunus yang mengerikan pada Glen.


"Kami sudah tinggal bersama, tentunya dapat berbuat apa saja nanti malam..." Glen tersenyum menghela napas kasar, berjalan menuju dapur guna mematikan kompor.


"Aku akan membuatkan minuman, kak Brenda sebaiknya duduk dulu..." Nindy menutup pintu depan apartemen, setelah Brenda masuk. Kemudian berjalan dengan cepat menuju dapur.


Mata Brenda menelisik, mengenyitkan keningnya. Hatinya bagaikan terbakar saat ini, tubuh Nindy sudah dimiliki orang lain? Tidak apa, tapi tidak boleh terjadi lagi! Nindy tidak boleh disentuh lagi.


Sedangkan di dapur...


Glen mulai tersenyum penuh maksud,"Kamu menyukai puding warna warni? Kenapa tidak cari pisang saja..." sindirnya, sembari meminum air.


"Kakak, aku tidak bercanda saat bilang, ukuran bagian dalamnya saat tegak, membuatku terkejut..." ucap Nindy mengingat ketika dirinya menggati pakaian dalam Brenda.


Glen menyemburkan air di mulutnya terbatuk-batuk,"Ka... kamu?"


"Aku tidak melakukannya, hanya tidak sengaja melihatnya..." Nindy beralasan, padahal karena dirinya sendirilah jiwa pria dalam diri Brenda bangkit.


"Owh ... aku hanya memiliki satu pesan, menyukai, pacaran, boleh, tapi jangan melewati batas. Jangan melakukannya di luar ikatan pernikahan," pesan Glen, meletakkan kembali air yang baru diminumnya dalam lemari pendingin.


"Pelukan? Ciuman?" tanya Nindy penuh harap.


Glen mengenyitkan keningnya,"Bibirmu sudah tidak perawan, hanya bagian bawahmu saja yang masih perawan. Aku yakin otak mesum sepertimu, sudah memberikan ciuman pertamamu pada puding warna-warni di depan sana,"


"Kakak memang paling mengerti tentangku..." Nindy terkekeh.


"Keluarlah bicara denganya! Aku mau tidur, besok ada kuliah pagi. Bicara di ruang tamu, jangan pernah memasukkan puding warna-warni itu ke kamarmu," ucap Glen berjalan memasuki kamarnya.


Nindy mulai melangkah, membawa dua cangkir teh hangat, beserta cemilan. Meletakkannya di atas meja ruang tamu.


"Kak Brenda, ada apa datang malam-malam?" tanyanya.


"Apa dia pacarmu?" tanyanya dengan nada suara pria mengintimidasi.


"Iya, kami baru..." kata-kata Nindy terpotong.


"Dimana toiletnya?" Brenda kembali bertanya.


"Disana..." Nindy mengenyitkan keningnya tidak mengerti, menunjuk pintu di samping dapur.


Entah apa yang ada di fikiran Brenda, tangannya mencengkram pergelangan tangan Nindy erat.


"Kak Brenda..." ucapnya.


Namun perasaan posesif, mematikan semua logikanya. Menarik Nindy ke dalam toilet, menguncinya dari dalam.


Tubuh gadis kecil itu dipojokkannya. "Hanya berciuman saja kan? Hanya perlu melihat matamu? Panggil aku Brandon," tanyanya yang dengan hati yang benar-benar panas.


"Brandon?" Nindy mengenyitkan keningnya tidak mengerti.


Mata itu ditatap oleh pandangan menghunus tajam oleh sang pemuda, bibirnya didekatkan tanpa rasa jijik kali ini. Memejamkan matanya, bagaikan melupakan segalanya, membiarkan bibirnya bergerak sendiri semaunya. Menuntut dengan deru napas tidak teratur.


Sensasi yang baru pertama kali dirasakannya. Hatinya berdebar, menginginkan lebih dan lebih, mengingat mata jernih sang gadis mesum pembuat masalah. Tangan Nindy mencengkram erat pakaian wanita yang dipakai Brandon. Ikut menggerakkan bibirnya, seakan membalas dan membimbing pemuda itu.


Tangannya mengalung, debaran jantung yang senada. Hingga mereka benar-benar menjadi keterlaluan, hormon sebagai seorang prianya yang bergerak dari menggapai pinggang hingga naik ke dua benda bagian depan yang menonjol, berbalut kaos putih berbahan katun.


Mengerakkan tangannya, tanpa melepaskan pangutan bibirnya. Nindy memegang Brandon semakin erat saja, merasakan sensasi darahnya berdesir, menginginkan lebih dari sekedar pijatan tangan.


"Emmghh..." lenguhnya di sela ciuman.


Membuat pemuda itu semakin menggila, kini giliran tangan Nindy yang menjalar ke bawah.


Tok ...tok... tok...


"Nindy kamu yang di dalam ya!? Apa temanmu si puding warna-warni sudah pulang!?" tanya Glen menggedor pintu toilet, membuyarkan aksi gila dari dua orang yang mulai melepaskan tangan dan bibirnya dengan perasaan canggung.


Glen br*ngsek... kesal Nindy dalam hatinya. Yang tengah mengajari jelly nata de coco.


Bersambung