My Kenzo

My Kenzo
Musim Kedua : Tembikar Bagian 3



...Aku tau ini salahku, menyentuh tembikar yang terlanjur pecah. Hingga jemari ini mengalirkan darah......


...Namun, pria yang membesarkanku, ibu yang melahirkanku tidak boleh terluka karena menginjaknya......


...Biarlah semua orang menganggapku bodoh, membaringkan tubuhku di atas pecahannya. Agar kaki renta orang tuaku tidak terluka......


Dava...


Bertanya dan mengusir Kiki? Tidak akan ada yang berubah setelahnya. Seseorang tetap ingin menghancurkan keluarganya agar tidak bisa bangkit.


Membeberkan pada kepolisian? Dirinya tidak memiliki bukti yang cukup? Hal yang dapat dilakukannya? Hanya diam, menyembuhkan dirinya. Dengan perasaan takut, ayah dan ibunya akan dihabisi seseorang.


Tidak ada yang berubah dari perasaannya pada Kiki. Tetap saja sama, mencintainya... namun juga membencinya...


Hingga untuk pertama kalinya dirinya ke rumah sakit diam-diam. Alasannya? Kiki selalu menghalanginya berobat ke rumah sakit, tidak ingin gejala kecanduannya di ketahui olehnya. Merahasiakan dari Vanya? Tentu saja, tidak ingin sang ibu cemas.


Namun kenyataan pahit di dapatkannya. Konsumsi narkotika selama bertahun-tahun telah merusak jantung dan hatinya. Komplikasi... sewaktu-waktu nyawanya dapat melayang.


Menjalani pengobatan? Sama dengan biaya yang lebih besar, dengan kemungkinan hidup yang juga tipis. Dirinya akan mati, lalu siapa yang akan menjaga kedua orang tuanya?


Membunuh? Karena harta ada yang ingin membunuh kedua orang tuanya? Jika begitu, semua akan dihabiskannya untuk melamar Kiki, mati dengan tenang.


Keputusan gegabah yang diambilnya, terkadang dirinya muntah darah. Sesuatu yang disembunyikannya, berpura-pura tersenyum.


"Ibu aku minta uang!!" ucapnya.


"Tapi..." kata-kata Vanya disela, Dava berjalan cepat menerobos kamar kedua orang tuanya.


Maaf, jika harta ini hilang, perusahaan tidak selamat. Tidak akan ada yang berniat membunuh kalian... ini salah anakmu yang durhaka ini... gumamnya dalam hati menahan air matanya yang hendak mengalir.


"Dava ini untuk menyelamatkan perusahaan ayahmu..." Vanya mencoba menghentikan putranya yang mulai mengambil surat-surat berharga.


"Biarkan perusahaan itu bangkrut, aku tidak peduli..." ucapnya tidak berani menatap mata ibunya.


"Dava untuk apa? Untuk apa semuanya?" tanyanya, memegang lengan pakaian sang anak.


"Aku ingin berlibur bersama Kiki. Agar dia tidak meninggalkanku..." jawabnya masih tidak mau menoleh.


Aku ingin harta ini lenyap. Berlibur dengan Kiki? Jika dia memiliki sedikit saja perasaan padaku, aku ingin dia kali ini... menerima lamaranku, sebelum aku mati, agar ada menantu yang merawat kalian... anggapan bodoh darinya, tidak memiliki tempat bersandar lagi. Kiki? Dirinya masih mencintainya, namun juga yakin lamarannya akan ditolak. Ayah dan ibunya akan berakhir menghabiskan masa tua sendiri.


Tapi, ini cara tercepat menghabiskan semua uang. Sebelum seseorang yang tidak diketahuinya membunuh kedua orang tuanya. Biarlah dirinya dianggap pendosa yang durhaka. Karena memang begitulah adanya.


Anak durhaka yang memasukkan Kiki ke dalam rumahnya. Anak durhaka yang lebih memilih membuat tembikar dari pada bekerja di perusahaan ayahnya.


Anak durhaka yang kini melarikan uang orang tuanya. Demi hidup mereka, berharap Tuhan akan mengirimkan seseorang untuk menjaga kedua orang tuanya nanti.


***


Masa-masa yang menyakitkan menahan sesak di dadanya terus melangkah mengikuti Kiki yang membeli banyak barang. Pura-pura tersenyum kala wanita itu bercanda dengannya, berpura-pura baik-baik saja tidak mengetahui apapun.


Berhubungan? Mereka tidak begitu intens melakukannya. Dava membencinya, sekaligus mencintainya, sakit yang dialaminya mungkin telah menjalar ke organ lainnya selama perjalanan panjangnya tiga minggu ini...


Sebuah kamar di kapal Ferry yang berlayar, samar-samar terdengar percakapan Kiki dengan seseorang melalui phoncell.


"Membunuhnya? Kamu sudah gila!? Seberapapun besar bayarannya aku tidak akan..." kata-kata Kiki terhenti, entah apa yang dikatakan seseorang di seberang sana, Dava yang berpura-pura tertidur tidak dapat mendengarnya.


Wanita itu akhirnya menjawab,"Baik, tapi cara kematiannya aku yang tentukan..." hingga panggilan itu berakhir.


Jemari tangan Kiki bergerak, membuka bungkus obat tidur, memasukkannya ke dalam wine.


Dava mengetahui segalanya? Jemari tangannya mengepal. Memberi kesempatan terakhir untuk Kiki, itulah pilihannya. Lagipula hidupnya sudah tidak lama lagi.


"Dava..." akhirnya Kiki membangunkannya."Kamu minum winenya, cuacanya terlalu dingin, aku akan pergi ke geladak kapal dulu. Jangan lupa kirim uang ke rekeningku. Nanti susul lah aku ..." ucapnya tersenyum.


Dava mengangguk, mulai duduk, menatap Kiki yang meninggalkannya. Seorang diri di kapal.


"Uuueeekk..." darah tiba-tiba dimuntahkannya lagi, dadanya terasa sesak. Segera meraih tissue, menghapus noda darahnya.


Sepucuk surat ditulisnya dengan tangan gemetar akibat menahan rasa sakit dan syarafnya yang telah terganggu.


Lipatan berbentuk bunga, diletakkan di dalam koper milik Kiki. Tersenyum mengingat trik sulap lama yang sering di munculkannya pada Kiki.


Pada akhirnya wine itu benar-benar diminumnya. Berjalan menemui Kiki di geladak kapal, menunggu keputusan yang menyakitkan darinya...


Pemuda itu kini memakai sweater tebal berwarna putih, berjalan seorang diri di geladak kapal dalam kondisi mabuk. "Kiki..." panggilnya lirih.


"Kenapa belum ada uang yang masuk ke rekeningku?" tanya kekasihnya menatap tajam.


"Uangnya habis, semua sudah aku berikan padamu..." Dava tersenyum.


Aku menghabiskannya dengan sengaja, agar mereka yang tidak dapat aku jaga, tetap hidup... gumamnya dalam hati.


"Minta lagi pada ayahmu!!" bentak Kiki meninggikan intonasi suaranya.


"Sayang, perusahaan keluargaku pailit. Semua aset yang tersisa sudah aku jual untuk liburan kita, membelikan semua keinginanmu. Ayo kita menikah..." ucapnya, memegang jemari tangan Kiki.


Menikah denganku? Apa kamu mau? Menghabiskan hidupmu dengan menjagaku di sisa umurku yang tidak panjang... batinnya. Tetap berusaha tersenyum, dalam wajahnya yang putih pucat.


Seperti itukah aku di matamu? Aku bekerja, membuat tembikar, barang pecah belah yang dijual murah...Aku memang anak durhaka yang membelikanmu segalanya menggunakan uang kedua orang tuaku. Aku memang begitu... cibirnya dalam hati, menyesali segalanya.


"Kiki..." Dava memegang lengannya, sebagai harapan terakhirnya. Namun dengan cepat Kiki menarik kembali. Mendorong tubuh anak pengusaha yang dahulu selalu memanjakannya.


Dalam kondisi mabuk dan pengaruh obat tidur, keseimbangan yang tidak terlalu baik. Tubuh itu mundur, terjatuh dari kapal Ferry, menuju lautan gelap yang dingin.


Air mata pemuda itu mengalir, mungkin diakhir hidupnya dirinya baru menyadari. Teringat akan semua dosa yang dilakukannya. Tidak pernah menjadi anak yang baik, benalu bagi kedua orang tua yang menyayanginya. Kini, kekasih yang dicintainya lah yang menyebabkan kematiannya. Wanita yang dibela dengan hidupnya.


Aku tau tidak akan mendapatkan surga-Mu, tapi tolong kirimkan seseorang untuk menjaga kedua orang tuaku. Kiriman seseorang untuk membalas Kiki yang bahkan pernah meludahi ibuku...ini doa terakhirku pada-Mu yang sempat aku lupakan. Tidak akan ada surga untukku aku menyadarinya...


Dava tersenyum, tubuhnya yang mulai tenggelam, terkoyak terkena baling-baling kapal Ferry. Tubuh yang rusak, napas yang telah menghilang.


Selamat tinggal Kiki...aku berharap kamu mengetahui bagaimana hatiku...


***


Tangan Kiki gemetar, memastikan tidak ada yang melihatnya. Dengan segera mengemasi barang-barangnya, setelah mengkonfirmasi Dava menghilang, menjadi orang yang tidak tertuduh untuk mendorongnya.


Hingga dirinya berhasil menjadi seseorang yang tidak bersalah. Telah beberapa minggu setelah kejadian itu, koper liburannya belum juga dibongkar olehnya. Seperti yang diduga perusahaan milik Damian dinyatakan pailit. Tidak banyak harta yang tersisa. Hingga Praba dan Virgo mengurungkan niatnya untuk membunuh pasangan renta tersebut.


Tidak banyak yang terjadi, kariernya sebagai fotomodel majalah dewasa semakin melejit. Bayaran yang didapatkannya dari Praba dan Virgo juga tidak sedikit.


Seperti janjinya, Praba mengenalkannya pada Baron kekasihnya kini. Namun, terasa berbeda rasa bersalah? Tidak, bayangan Dava yang tersenyum tulus padanya tiba-tiba dirindukannya.


Air matanya mengalir, seharusnya dirinya bahagia bukan? Namun 7 tahun bukan waktu yang singkat. Kiki terjebak dalam permainannya sendiri.


Koper yang digunakannya pada akhirnya mulai dibukanya. Meletakkan satu persatu barang, hingga bunga kertas itu terlihat. Tulisan yang tidak tapi dengan tangan gemetar.


Wanita itu mulai duduk membacanya...


'Aku mengetahui segalanya, tapi aku masih ingin menunggu keputusanmu. Aku bodoh bukan...'


'Kiki, aku menghargai segalanya. Karena itu perasaan dalam diriku juga akan aku hargai. Aku memaafkanmu... masih mencintaimu...'


'Tapi seperti pecahan gerabah, tidak bisa disatukan kembali. Ada kalanya, dimana satu pilihan tidak akan menemukan jalan kembali...'


'Karena itu, jika aku sudah tidak ada, karena keputusanmu. Tetaplah tersenyum...'


'Yang kini membenci dan mencintaimu...'


'Dava...'


Membenci? Pria bodoh yang mencintainya kini membencinya. Air mata Kiki mengalir dengan deras, memukul-mukul dadanya yang terasa sesak. Tubuh itu tiba-tiba dirindukannya, tubuh yang didorong dengan tangannya sendiri, menuju dalamnya lautan.


Lama dirinya terisak, hingga jemarinya dengan cepat mencari informasi.


"Dava masih hidup?" gumamnya, menatap chat salah satu alumni kampusnya yang pernah menjenguk Dava.


Tujuannya? Ingin bertemu, hanya itu belum mengakui kerinduan yang dirasakannya. Hingga mobilnya terparkir dengan cepat berjalan menuju ruangan Dava, menurut petunjuk nomor ruangan yang diberikan temannya.


Namun, hal yang berbeda di tatapnya, Damian berada di sana menyuapi seorang pemuda penuh tawa."Ayah dia siapa?" tanyanya.


"Dia Kiki, mantan tunanganmu..." Damian menghela napas kasar.


"Kamu Dava? Tapi wajah dan suaramu? Kenapa tidak mengingatku?" tanya Kiki mulai mendekat.


"Dia kehilangan semua memorinya, wajahnya juga harus melalui beberapa operasi, jadi tidak sama seperti dulu... karena itu, kami sudah jatuh miskin, jangan ganggu kehidupan Dava lagi..." jawab Damian, namun Kiki tetap mendekat ingin meraba wajahnya.


"Pergi!! Aku tidak menyukaimu..." ucap sang pemuda.


Prilaku yang berubah sifat yang berbeda, terlihat bagaikan pria dingin yang berbahaya, membuat jantungnya berdegup cepat, hanya dengan tatapan tajam matanya.


Dia Dava? Tapi seperti sosok yang lain. Jantung yang berdegup cepat, mungkin karena pemuda dingin yang akan sulit didapatkannya. Namun, tidak terasa hangat, berbeda dengan Dava...


Perasaan yang berbeda, namun orang yang sama? Dirinya akan mengembalikan rasa kasih dava yang dulu. Sekaligus, memiliki Dava yang sekarang.


***


Sekarang, rumah milik Damian...


Kenzo tersenyum, berjalan dengan pakaian petugas pemeliharaan gedung.


"Tunggu, bekalnya..." Amel berlari menyusulnya, menyodorkan kantong berisikan dua buah kotak.


"Terimakasih," dengan hati yang berdebar Kenzo membuka kotak pertama. Berbagai peralatan elektronik kecil berada disana, termasuk diantaranya kamera kecil dan alat perekam suara.


"Aku tidak seharusnya berharap banyak," keluhnya, kecewa.


Hingga Amel melihat keadaan sekitar, tiba-tiba mencium bibirnya cepat,"Kotak yang kedua, jangan menertawakanku" ucapnya berlari pergi menyembunyikan perasaan malunya.


Perlahan Kenzo membuka kotak bekal kedua, bentuk hati terlihat dimana-mana bahkan pada nasinya. "Bagaimana aku memakannya?" gumamnya gemas.


Bersambung