
Amel berusaha tersenyum,"Di villa sudah ada tukang kebun!!" ucapnya geram, berjalan cepat meninggalkan Kenzo yang masih mendorong troli.
Kedua orang itu bertugas membersihkan ruang rapat. Amel mulai mengelap jendela, sementara Kenzo membersihkan meja, serta menyiapkan sarana rapat, berupa air mineral, serta gelas.
OHP dan proyektor telah tersedia disana. Lengkap dengan laptop yang belum menyala, Kenzo mulai mengenakan sarung tangannya. Mengcopy data, kemudian mengirimkan secara cuma-cuma pada perusahaan pesaing.
"Beres..." ucapnya tersenyum. Kembali melakukan tugasnya layaknya seorang office boy.
Menggunakan vakum cleaner, membersihkan beberapa sudut ruangan.
Hal yang dilakukannya? Meruntuhkan dinasti perusahaan besar yang bagian dalamnya hanya menyengsarakan karyawan kelas bawah. Beberapa cabang pabrik FIG Group terdapat di negara lain, menggunakan zat kimia berbahaya. Tidak menjaga keamanan dengan membiarkan pekerja menyentuh zat kimia secara langsung.
Karyawan digaji dengan pendapatan minum, namun tanpa tunjangan kesehatan, memiliki resiko yang besar. Jika karyawan kelas bawah sudah tidak berguna, tinggal diputuskan kontrak kerjanya. Merekrut karyawan baru yang masih sehat.
Tidak heran Kenzo memutuskan untuk menyerang kantor pusat secara langsung. Salah? Perbuatan Kenzo memang salah, meruntuhkan perusahaan dari dalam kemudian menguasainya. Namun, itulah sosok Antagonis, seorang pangeran kejam yang selalu bersembunyi di belakang layar.
Pipi Amel yang tengah membersihkan jendela tiba-tiba dikecupnya. Jangan kira hanya ada kisah cinta romantis antara pangeran tampan baik hati dengan putri nan cantik jelita saja.
Pangeran jahat, sang antagonis juga berhak jatuh cinta bukan? Walaupun dengan Dugong yang selalu bersembunyi di dasar laut.
"Sudah aku bilang!! Jangan menciumku sembarangan!!" bentak Amel, berjalan cepat ke jendela lain menjauhi Kenzo, menahan rasa kesal dan malunya.
Kenzo hanya tersenyum, kembali mengenakan headsetnya yang terhubung langsung dengan alat penyadap di ruangan komisaris, mendengarkan semua percakapan disana.
***
Aktivitas itu telah usai, tidak terdengar apapun kecuali, suara ikat pinggang yang berbenturan tanda George tengah memungut pakaiannya.
Mengancingkan kemejanya, mengenakan boxer serta celana panjangnya. Sedangkan sang sekertaris, melakukan hal serupa, merapikan penampilannya.
Tidak lupa, beberapa tissue diraih mereka membersihkan cairan yang berada di beberapa tempat.
Tok... tok...tok...
Suara ketukan pintu terdengar, Cindy (istri George) datang membawakan makan siang untuk suaminya. Masuk tanpa permisi...
"Sayang..." ucapnya berjalan cepat meletakkan paperbag yang berisikan beberapa jenis makan siang diatas meja suaminya yang berantakan. Menatanya satu persatu, tanpa menyadari, tempat itulah sang sekertaris duduk sebelumnya, dengan tubuhnya dinikmati George.
"Kenapa mejanya berantakan?" tanyanya, memunguti satu-persatu benda yang terjatuh meletakkannya di atas meja.
"Tadi ada klien yang tidak puas menjatuhkan beberapa benda," ucap George berusaha setenang mungkin.
"Saya permisi," sang sekertaris menunduk memberi hormat, sedikit melirik ke arah George, mengedipkan sebelah matanya.
"Jadi, karena ini dasimu berantakan?" wanita itu mendekati suaminya, merapikan dasinya. Benar-benar wanita bodoh, bukan karena bodoh tidak menyadari segalanya. Namun, bodoh karena mencintai pria yang salah.
Cantik? Dahulu Cindy memang cantik, sebelum meninggalkan segalanya termasuk kariernya. Demi mengurus kedua putranya dengan tangannya sendiri. Tubuhnya sedikit berisi, pasca melahirkan dahulu, tidak sesempurna tubuhnya saat mengikat janji suci pernikahan.
Hanya demi George, sang suami baik hati serta penyayang, orang yang mengurus perusahaan milik almarhum kedua orang tuanya. Apakah sekarang Cindy jelek? Tidak, wanita itu terlihat elegan dengan wajah keibuannya, namun tidak semenggoda dahulu kala masih menyandang status singgel.
Pria bodoh br*ngsek yang akan menyia-nyiakan istrinya. Setelah memiliki seluruh sahamnya, itulah sosok George saat ini yang menganggap tubuh sang sekretaris lebih nikmat. Tubuh yang menjadi candu baginya saat ini.
"Ayo kita makan..." ucapnya, menarik jemari tangan suaminya.
Sejenak perhatiannya teralih menatap cairan putih di bawah meja.
"Tadi aku minum yogurt tidak sengaja sedikit terjatuh. Aku akan menelfon cleaning service untuk membersihkannya..." ucapnya menyadari sesuatu tempat yang luput dari pembersihannya.
"Sayang, jangan terlalu sering lembur, anak-anak bilang ingin bermain sekali-kali denganmu..." ucapnya tersenyum, mengamati suaminya yang mulai makan.
"Anak-anak atau kamu yang manja tidak bisa mengurus mereka dengan benar!?" bentaknya meletakkan kembali sendok makannya.
"Agam dan Agler sudah berumur lima tahun. Semenjak mereka lahir kamu jarang ada di rumah. Mereka terus memintaku agar dapat menghabiskan liburan satu hari saja denganmu..." ucap Cindy penuh harap.
"Aku sibuk!! Ini juga demi masa depan mereka dan perusahaan..." George meninggikan intonasi suaranya.
Cindy menitikan air matanya, sudah tidak tahan lagi rasanya menanggung semuanya sendiri,"Agam menderita leukimia, stadium 3 akhir!! Kamu bahkan tidak pernah menjenguknya di sanatorium!! Dimana letak hatimu sebagai ayahnya!!" bentaknya.
Plak...
Satu tamparan dilayangkan George, menatap dingin ke arah istrinya yang terdiam dengan pipi memerah."Aku bekerja siang dan malam untuk kalian, ini balasanmu!? Mengatakan aku seorang ayah yang tidak memiliki hati!!"
"A...aku hanya memintamu menemaninya sehari saja. Agam akan bahagia, anak seusia lima tahun harus menjalani kemoterapi berkali-kali, kamu tau betapa itu menyakitkan baginya. Tolong, temani dia menginap di sanatorium. Sehari saja..." mohonnya kembali.
Seorang ibu yang tidak tega menatap keadaan salah satu putranya yang sudah tidak memiliki rambut lagi. Mainan? Makanan kesukaan? Semua telah disediakan olehnya.
Namun, anak itu hanya dapat menangis, menginginkan berlari bermain di luar dengan teman-temannya namun fisiknya terlalu lemah.
Makanan kesukaan? Semua dimuntahkan olehnya, bibirnya selalu terasa pahit.
Hanya satu keinginan sang anak yang ingin dikabulkan ibunya. Bermain berempat dan mengambil foto keluarga bersama.
Ibu, saudara kembar yang selalu menemaninya, serta sang ayah yang selalu menampik tangannya mengatakan sibuk bekerja untuk mereka. Anak yang selalu tersenyum dengan wajah pucatnya berusaha meminum obat berukuran besar. Menjalani kemoterapi yang semakin menyakiti tubuh kecilnya.
George menghela napas kasar,"Nanti malam aku akan tidur bersamanya di sanatorium..." ucapnya tidak ingin berdebat lebih banyak.
Namun, apakah sang ayah akan menepati kata-katanya? Dirinya pun tidak begitu yakin, hari ini adalah ulang tahun sang sekretaris. Mereka berencana merayakannya bersama.
Putra yang tidak pernah mendapatkan cinta dari ayahnya, tidak dapat disandingkan dengan cinta sang bos besar pada sekretarisnya.
Itulah kenyataan kejam dalam hati George. Mungkin baginya sang anak yang tengah berjuang antara hidup dan mati tidak memerlukan apapun, hanya uang untuk biaya pengobatannya.
Anak yang sejatinya juga memerlukan dorongan kasih sayang. Menjadi bekal penyemangatnya untuk tetap hidup. George sendirilah yang mungkin akan membuat sang anak menyerah akan hidupnya...
***
Situasi yang sibuk, akibat klien dari luar negeri akan tiba membuat berbagai depertemen kekurangan orang.
Seorang office boy melewati ruangan rapat, menatap Amel dan Kenzo yang hampir usai melakukan tugasnya.
"Amel, tolong ke ruangan pak George di lantai 5, ada tumpahan yogurt disana..." ucapnya.
"Baik!!" Amel menyanggupi. Namun wajah Kenzo pucat pasi, dirinya cukup mengetahui apa yang dimaksud dengan tumpahan yogurt.
"Kenzo, aku harus ke ruangan komisaris, kamu lanjutkan yang disini..." lanjutnya, meraih troli
"Tunggu, aku tidak mau pengantin wanitaku terkontaminasi..." kesalnya.
"Pengantin wanita? Kamu sudah punya pacar?"
Bersambung