
Dua anak yang menghela napas kasar, sejatinya kue dan makan malam bersama serta hadiah sudah cukup untuk mereka. Namun, ibu mereka bagaikan tidak ingin anak-anaknya kehilangan keceriaan masa kecil.
Febria dipakaikan baju pink, didandani layaknya putri lengkap dengan mahkotanya, sedangkan Ferrell dipakaikan setelan tuxedo anak. Dua anak yang menghela napas kasar menatap Steven dan ibu mereka yang memasang balon serta pernak-pernik.
Tamu undangan? Tidak ada, hanya mereka berlima, mengingat nenek mereka yang tidak bisa hadir karena Sany yang alergi udang, memakannya tadi siang, hingga kulitnya mengalami ruam.
Jadi semua dekorasi ini untuk siapa? Hidangan satu meja penuh ini juga untuk siapa? Dua anak yang benar-benar tidak habis fikir.
"Kalian mau?" Scott menawari sebungkus kripik singkong kemasan.
"Terimakasih..." Ferrell meraihnya, memakan satu potong,"Mereka sedang apa? Berbuat berlebihan lagi," tanyanya.
"Jangan begitu, mereka hanya tidak ingin kalian kehilangan masa kecil yang bahagia. Karena itu juga, mama tidak mengijinkan kalian mengikuti percepatan. Belajar skill dan pengetahuan di rumah boleh, tapi jangan sampai kehilangan masa anak-anak yang menyenangkan..." jelas Scott.
Ferrell mengepalkan tangannya, matanya memerah bagaikan menahan tangis,"Ada alasan kami tidak ingin masuk ke taman kanak-kanak atau sekolah dasar lebih memilih homeschooling di rumah,"
Air mata anak itu akhirnya mengalir juga, terisak berusaha agar tangisannya tidak didengarkan oleh sang ibu,"Anak-anak lain akan dijemput ayah mereka sekali atau dua kali. A ... aku tidak tau apa yang harus aku katakan jika mereka bertanya 'apa pekerjaan ayahmu?' Atau ketika aku usil pada mereka, mereka akan berkata 'aku akan mengadu pada ayahku.' Aku juga ingin mengadu pada papa jika ada yang menjahiliku di sekolah. Berkata dengan bangga tentang papa...tapi...tapi..."
Ferrell tidak dapat berkata-kata lagi terdiam dalam tangisannya. Hingga tangan Febrian menggengam jemarinya,"Aku juga mengalami hal yang sama!! Mereka membanggakan ayahnya yang hanya memiliki toko kecil..." gadis kecil itu ikut merengek.
"Ka... kalian jangan menangis ya nanti mama tau..." Scott mencoba menenangkan, sepintar apapun kedua adiknya, mereka tetap saja anak-anak. Berpura-pura tegar di depan Amel, tempatnya berpura-pura bersikap dewasa.
Hingga Amel menyadari isakan tangis kedua anaknya. Perlahan berjalan menghampirinya, merentangkan kedua tangannya,"Ferrell!! Febria!!" panggilnya, hendak menyambut kedua anaknya yang menangis dalam pelukannya.
"Mama..." ucap kedua anak bersamaan, berlari ke arah ibu mereka. Memeluknya erat, dalam tangisan terisak.
"Kenapa menangis?" tanya Amel berlutut memeluk kedua anaknya.
Kedua anak saling menoleh di belakang punggung ibu mereka. Tidak ingin sang ibu mengetahui mereka tidak baik-baik saja dengan ketidak beradaan Kenzo.
"Kak Scott!! Dia bilang aku jelek!!" dusta Febria.
"Kak Scott juga mengatakan rambutku seperti sarang burung..." Ferrell ikut-ikutan berbohong.
Kenapa jadi aku... Scott mengenyitkan keningnya, merasa dijadikan tumbal oleh kedua adiknya.
Amel yang masih memeluk kedua anaknya menatap ke arah Scott putra angkatnya yang kini berusia 21 tahun. Scott melambaikan tangannya dengan cepat, memberi isyarat jika bukan dirinya yang menyebabkan kedua anak itu menangis.
Amel hanya tersenyum lembut, mengelus punggung mereka yang masih menangis terisak,"Papa akan pulang..." ucapnya meyakinkan dirinya sendiri dan kedua anaknya.
"Aaaaa....aaaa..." kedua anak kembar itu menangis semakin kencang dalam pelukan ibunya. Seakan menumpahkan semua perasaan yang selama ini tertahan.
Kenzo, bukan hanya aku, ada Elina, Scott, Joe, Elisha, Steven mereka memerlukanmu, mencintaimu....Dan sekarang ditambah dengan kerinduan yang besar dari dua orang anak yang kamu nantikan. Pulanglah...kamu tidak sendiri lagi...aku mohon....
"Jika papa kalian pulang, dia pasti akan senang melihat dua kecebongnya sudah tumbuh dewasa..." ucap Amel tertawa kecil dengan air mata mengalir, menghibur dirinya sendiri.
***
Event cosplayer sudah berakhir, dua orang pemuda itu mulai menaiki taksi online menuju alamat villa yang diberikan. Masih memakai atribut dan tata rias pinjaman.
Hingga pada akhirnya mobil berhenti di depan sebuah villa yang cukup jauh dari pusat kota. Villa yang cukup besar.
"Kita akan mendapatkan banyak uang..." Tata yang memakai kostum Uchiha Sakuke, merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Yang penting kerja dulu, buat anak-anak itu tertawa dan kagum..." Dava kembali memakai maskernya, melengkapi penampilan cosplayer ala Hatake Kakashi.
"Tapi aku kagum dengan satu hal, ibu mereka cantik tanpa celah. Bagian depannya 36D, badannya pas untuk diangkat ala bridal style. Tidak terlalu kurus, tapi tidak juga terlalu berisi, wajahnya juga seputih susu, seperti selebriti Asia Timur..." gumam Tata terlihat kagum.
"Jika bisa, sekali saja walaupun hanya berciuman dan berpelukan dengannya, gajiku 6 bulan akan aku relakan..." lanjutnya.
Entah kenapa hati Dava terasa panas, ada orang yang mengelu-elukan tentang kecantikan wanita yang baru pertama kali ditemuinya. Namun semua perasaan itu ditepisnya, dengan dalih.
"Itu istri orang..." ucapnya berjalan masuk terlebih dahulu telah menggunakan maskernya.
"Kalian sudah datang? Terimakasih mama..." Steven segera berlari mengambil phoncellnya berfoto bersama Tata. Melakukan berbagai pose, seperti di animasi.
Sedangkan Dava hanya tersenyum melihat mereka. Tidak menyadari seorang anak menatap kagum padanya. "Hatake Kakashi, anggota Anbu..." gumam Ferrell.
"Iya... mau berfoto seperti mereka?" tanyanya meraih Ferrell, menggedong memeluk anak itu bagaikan koala.
"Aku mau!!" sang anak mengangguk penuh senyuman.
Beberapa foto diambil mereka, hingga Amel yang memakai dress datang. Dress hitam yang tertutup, namun lekuk tubuhnya terlihat, mengingat dari atas dadanya hingga bagian leher hanya tertutup kain brokat. Terlihat menggoda mengingat warna kulit putih itu yang kontras dengan dressnya.
Gila!! ini benar-benar gila!! Untuk pertama kalinya pria itu memiliki perasaan ini. Jantungnya berdegup kencang, bibir itu ditatapnya dari jauh. Cantik, benar-benar cantik, dan menyenangkan untuk menggodanya, kala tengah berdebat.
Hingga entah kenapa pecahan memorinya sedikit terbayang kala mencium bibir seorang wanita gemuk di kolam renang. Orang yang sama? Tapi tidak mungkin, perasaan berdebar yang sama, kala mengingat potongan memory. Dan menatap ibu dari dua anak itu walaupun dari jauh.
Hingga pada akhirnya, lilin mulai dinyalakan semua orang mulai bernyanyi termasuk dirinya. Matanya tidak lepas menatap sosok Amel, bukan karena 36D nya. Tapi karena ada perasaan nyaman yang aneh saat menatapnya tersenyum.
Aku ingin papa pulang malam ini, sebagai hadiah untuk kami... harapan yang sama dari dua orang anak kembar, sebelum meniup lilin.
Huh...
Lilin ditiup bersamaan...
Dava tersenyum di balik masker yang dipakainya.
"Dava..." panggil temannya, hingga perhatiannya sedikit teralih.
Prang...
Pajangan keramik bernilai tinggi pecah karena tersangkut aksesoris pedangnya.
"Aku baru membelinya dari pelelangan..." Amel berjalan mendekati gucinya yang pecah.
"Maaf aku tidak sengaja. A... akan aku ganti..." ucap Dava gelagapan.
"Kamu tau harganya? Rencananya ini akan menjadi hadiah untuk suamiku saat dia pulang..." komat-kamit mulut Amel geram, memunguti guci tua langka. Berlukiskan bunga Hydragea, sebagai permintaan maafnya pada Kenzo. Guci cina kuno yang harganya ratusan ribu dolar.
"Akan aku ganti!! Paling di pasar barang antik ada!! Harganya cuma 500.000 an!!" kesalnya, tidak merasa bersalah.
"800.000 belum ongkos kirimnya..." Amel menghela napas kasar.
"Hanya 800.000, setelah mendapatkan bayaran darimu aku akan menggantinya!!" Dava menghela napas kasar.
"800.000 dolar (sekitar 11 miliar rupiah). Kamu menjual tubuhmu juga masih kurang!! Motif bunga Hydragea yang ditemukan cuma ada satu..." geram Amel benar-benar berusaha memendam kekesalannya.
"Dolar?" Dava mengenyitkan keningnya, melepaskan maskernya.
Raut wajah wanita di hadapannya berubah pias. Dua anak kembar yang merayakan ulang tahun, mereka juga tertegun.
Termasuk Scott yang menjatuhkan kameranya.
"Di...dia... papa?" Steven yang duduk di samping Febria tertegun, dengan tangan gemetar.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu!? Aku akan berusaha menggantinya!" Dava berucap penuh keseriusan.
Air mata Amel mengalir, berjinjit, memeluk tubuh Dava erat. Tidak perlu menggantinya, ini hadiah pertanda permintaan maafku padamu.... Terimakasih sudah pulang...
Kedua orang anak itu juga ikut menangis, baru menyadari segalanya memeluk tubuh kedua orang tua mereka.
Papa sudah pulang... mungkin itulah yang ada dalam hati mereka dalam tangisan tidak tertahankan.
Bersambung