
Kehidupan Diah saat ini? Telah beberapa bulan pasca berpisah dengan Virgo. Harta yang dibagi menjadi dua, memang cukup banyak. Namun, tidak pernah bekerja sedikitpun, membuka usaha pun tidak memiliki pengalaman.
Apa yang bisa diharapkan dari harta miliknya? Sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan akan sulit di hilangkan. Rumah besar itu tetap menjadi miliknya, beserta deposit di salah satu bank.
"Hanya hari ini, besok aku akan mencari pekerjaan. Atau bekerja sama dengan teman arisan, menjual tas branded murah..." gumamannya, usai datang dari bank, menarik sisa uang deposit terakhirnya.
Mendatangi acara berkedok arisan sosialita kembali, apa tujuan seorang Diah kesana? Entah, mereka hanya tertawa, minum dan bersenang-senang.
Hingga pada akhirnya, berbaring di ranjang dengan seorang pria muda. Kali ini pemuda berkulit putih yang benar-benar memuaskannya. Membuatnya lupa akan dosa, mencakar punggungnya menikmati segalanya.
Tapi menghabiskan uang bukanlah sesuatu yang sulit, mencarinya-lah yang sulit. Kala semua deposit telah habis, barang-barang dijual, ART? Dirinya tidak menyewa ART lagi.
Terbiasa menjalani hidup yang mudah, pakaian dilaundry, makanan tinggal delivery. Kala uang itu habis, pakaian dibiarkan menumpuk, hingga mengeluarkan bau tidak sedap. Rumah indah yang jarang dibersihkan.
Ada kalanya, seseorang kehilangan logikanya, terlanjur hanyut dalam kesenangan hidup."Sekali lagi, hanya satu kali arisan lagi, sambil mencari pekerjaan, setengah uang penjualan rumah dapat aku gunakan untuk membuka usaha..." gumamnya turun dari ojek online, di depan villa milik Kenzo. Membawa sertifikat rumahnya.
Dua orang security membukakan gerbang, rasa kesal, iri dan dengki masih ada. Kala dirinya mengetahui dari siaran langsung salah satu stasiun televisi. Dava yang tinggal selama 7 tahun ini bersama Vanya, sejatinya seorang pengusaha multinasional yang tidak memiliki ingatan. Suami dari Amel Anggraini yang menghilang 7 tahun lalu.
Bagaimana Vanya bisa seberuntung itu!? Setelah kehilangan Dava yang hanya dapat menjadi benalu. Kini memiliki putra angkat yang membawa mereka ke status sosial lebih tinggi.
Namun, inilah kenyataannya,"Praba memang tidak bisa diandalkan. Andai dia tidak menyerahkan diri dan kembali pada Selly setelah mengetahui identitas Kenzo, hidupku tidak akan begini..." gumamnya tidak pernah puas akan hal yang dilakukan putranya.
Pintu utama yang besar akhirnya terlihat mengetuk-ngetuknya, mulai dibukakan oleh Vanya. Mengenyitkan keningnya tidak mengerti dengan kedatangan Diah di waktu yang hampir larut. Hampir larut? Tentu saja Diah sengaja agar dapat bertemu dengan Kenzo dan Amel secara langsung.
"Ada apa?" tanya Vanya menatap sinis.
"Aku ingin bertemu dengan Amel..." jawabnya, tersenyum.
"Masuk, Amel ada di ruang keluarga," ucapnya memberi jalan, kemudian membimbing Diah untuk berjalan mengikutinya.
Pojok sebelah tangga lantai satu, terdapat ruangan besar disana. Dengan jendela-jendela kaca besar, yang menghadap langsung ke kolam samping bangunan. Diah menghela napas kasar, dirinya mengetahui villa ini cukup besar. Tapi tidak semua ruangan diketahui olehnya.
Termasuk ruangan ini salah satunya, matanya menelisik mengamati perabotan bernilai tinggi.
Amel ada disana baru saja datang dari dapur kecil ruang keluarga. Membawa beberapa jenis minuman,"Untuk ayah susu low sugar, untuk Ferrell watermelon juice, untuk suamiku sekaleng soda..." ucapnya meletakkan satu-persatu minuman yang ada di nampannya.
"Kakek, yang ini seharusnya begini," gerutu Ferrell yang tengah mengerjakan sesuatu di laptopnya, dalam pangkuan Damian. Mengajari sang kakek beberapa program terbaru, mengingat sudah 7 tahun Damian hanya menjadi kuli bangunan.
"Iya...iya," Damian tersenyum, gemas pada cucunya yang cerdas.
Sedangkan Kenzo juga terlihat masih sibuk mengubungi seseorang menggunakan bahasa asing.
Amel, berjalan mendekat, Diah merentangkan tangannya, bersiap memeluk dan mencium pipi kanan, dan kiri Amel, sama seperti sebelumnya, ala kalangan atas.
Namun tidak ada yang terjadi, Amel malah berjalan mendekati Vanya,"Ibu, rotinya baru matang mau mencobanya?" tanyanya tersenyum.
"Boleh, apa makanan buatanmu yang tidak enak? Kamu memang selalu pandai dalam segala hal," pujinya, merangkul menantunya.
"A... Amel kamu bisa memasak?" tanya Diah pada wanita di hadapannya.
"Bisa, dulu aku mahasiswi miskin yang harus bekerja sepulang kuliah. Sebelum menikah dengan Kenzo..." jawaban dari mulutnya.
Diah berjalan mendekat, mengikuti langkah kedua orang wanita. Kemudian duduk di sofa tanpa sungkan.
Tidak ada yang memperhatikannya, semua sibuk pada aktivitas masing-masing. Bahkan Amel yang sebelumnya acuh pada Vanya, membuatkan teh jahe untuknya. Sedangkan dirinya hanya disuguhkan segelas air putih dingin oleh pelayan yang datang dari luar ruang keluarga.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa sikap Amel berubah padanya? Dirinya tidak mengerti.
Hingga roti hangat dibawakan Amel dari dapur. Semua orang menghentikan aktivitasnya sejenak, mulai mengambil roti yang masih hangat.
Barulah saat itu Diah yang sama sekali tidak disapa, memberanikan dirinya bicara,"Amel tante kebetulan ingin menjual rumah. Tante dan paman Virgo sudah bercerai jadi rumah juga terlalu besar untuk ditempati sendiri jadi ..."
Amel menghela napas kasar,"Berapa? Aku akan membelinya, untuk ibu dan ayah mertuaku,"
"8,5 miliar..." jawaban dari mulutnya.
"7,3 miliar, itu sudah harga pasaran jika tante mau uangnya sekarang. Jika menjual melalui perumahan, akan mendapatkan harga jual yang sama dan harus menunggu pembeli dulu," ucap Amel tersenyum, tegas. Mulai mengambil pisau mengupas buah apel di hadapannya.
"Omong-ngomong Kenzo, apa ingatanmu sudah kembali? Kita ulangi dari awal aku Diah saudara jauh Vanya. Aku minta maaf jika pernah menyinggungmu. Sebagai keluarga kita harus saling membantu di masa depan bukan?" ucapnya tersenyum menatap orang yang mungkin dapat mengangkat derajatnya suatu hari nanti.
"Kita ulangi dari silsilah keluarga, kerabat Vanya adalah Virgo. Mantan suami anda, jadi setelah bercerai tidak akan ada hubungan kekerabatan lagi..." Kenzo tersenyum, kemudian menarik Amel dalam dekapannya."Kamu membelikannya untuk ayah dan ibu?" tanyanya.
Amel mengangguk,"Disana ada banyak kenangan mereka dari masa muda, hingga memiliki Dava..."
"Ayah dan ibu menyukainya?" tanya Kenzo kembali.
Diah mengepalkan tangannya, memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum. Damian dan Vanya kembali memiliki segalanya. Kenapa tidak dirinya saja? Kenapa tidak dirinya saja yang menemukan Kenzo di tengah lautan.
"Banyak barang peninggalan Dava yang masih ada di sana. Ayah akan bekerja mencicil menggati uangmu nanti..." Damian menghela napas kasar.
"Tidak perlu, jika ayah tidak ada, aku tidak akan pernah bertemu dengan istri dan anakku lagi. Amel ambilkan cek..." ucapnya mengecup pipi istri yang ada di pangkuannya.
Amel yang tersipu segera bangkit, berjalan cepat meninggalkan ruangan keluarga, menuju lantai dua.
***
Hanya selebar cek yang telah di tanda tangani yang didapatkannya. Pengganti sertifikat rumahnya.
"Amel kenapa kamu tidak pernah datang ke acara arisan?" tanyanya penasaran.
"Aku bukan anggota arisan, selain itu aku sarankan satu hal. Jika ada yang mengajak join berjualan tas branded atau berlian. Sebaiknya jika tidak memiliki pengalaman bisnis jangan mengikutinya..."
"Jika ingin hidup tenang, keluar dari grup arisan," lanjutnya memberi saran kala mengantar kepergian Diah, hingga pintu depan villa.
"Coba sesekali kamu ikut acara arisan sampai akhir. Pasti akan menyenangkan, apa lagi..." kata-kata dari Diah terpotong.
"Aku adalah istri yang menunggu suaminya selama 7 tahun tanpa ada niatan untuk menikah lagi. Mengikuti arisan untuk bersenang-senang?" gumamnya tertawa, "Hanya wanita tidak berkelas yang membeli tubuh pria untuk tidur dengannya,"
"A...apa maksudmu?" Diah mengepalkan tangannya memendam amarah.
"Bukan apa-apa," hanya itu kata yang diucapkan Amel sebelum menutup pintu depan villa.
Diah yang kesal, meludahi pintu depan villa. Berjalan cepat, dengan langkah kesal, membawa selembar cek.
Bisnis baru yang akan dirintisnya? Bagaikan tidak mempedulikan saran Amel, Diah mengikuti kerja sama dengan teman sesama sosialitanya memperjual belikan tas branded murah.
"Lihat saja!! Suatu hari nanti, kamu yang akan mengemis meminta pertolonganku!!"
***
Sudah beberapa minggu Steven pergi ke Singapura. Tanpa kabar dari Elina dan Joe, yang kebingungan mencari adik mereka. Tidak mengabarkan Steven menghilang di bandara pada Kenzo, menjadi pilihan mereka. Selagi masih dapat mencari seorang diri.
Steven? Anak itu menggedong ransel besar, menghela napas kasar terdiam diatas jembatan.
Beberapa mobil berhenti di dekatnya, dengan seorang pria berkebangsaan Eropa yang turun dari dalam mobil.
"Steven!!" suara itu terdengar pada akhirnya setelah sekian tahun.
"Ayah, maaf..." sang anak berlutut menitikkan air matanya.
"Bawa dia ke mobil!!" perintah dari sang pria.
Beberapa pria bersenjata membawa seorang anak berusia 14 tahun. Remaja yang tertunduk dengan air mata yang mengalir.
Febria, apa kamu merindukanku... aku ingin menyuapimu, bermain bersamamu lagi, hingga kita tumbuh besar bersama. Hidup dengan tenang seperti mama (Amel) dan papa (Kenzo), memiliki banyak anak. Tapi apa setelah ini aku akan tetap hidup....
***
Sedangkan, di villa milik Kenzo Febria terdiam, menangis memeluk Teddy bear raksasa, seukuran Steven. "Aku akan menendang pisang-mu!! Jika tidak pulang!!" bentaknya, menendang s*langkangan boneka Teddy bear raksasa, hingga sang Teddy bear terpental.
Bersambung