
"Hati!! Hati!!" Amel tersenyum, melambaikan tangannya ke arah dua orang sahabat barunya, yang pergi pulang bersama suami mereka.
Dua buah paperbag dibawanya, menghela napas kasar.
"Ayo pulang..." Kenzo menggengam jemari tangannya tanpa ragu. Menariknya ke dalam mobil perusahaan. Jangan lupa, pemuda itu tidak tinggal menetap dalam jangka waktu lama, jadi tidak pernah memiliki mobil.
Entah kenapa Amel tersenyum, menahan debaran di hatinya yang tidak dapat dikondisikan. Jemari tangannya yang masih saling menggenggam diliriknya, menghela napas berkali-kali.
"Ini untukmu..." Kenzo memberikan paperbag yang dibawanya.
Amel membuka sebuah kotak dalam paperbag, isinya menyerupai gaun yang sempat dicobanya. Tapi tidak mungkin, gaun tersebut telah dibawa oleh Keyla. Tidak mungkin Kenzo...mata Amel melirik ke arahnya. Tapi semua pemikiran anehnya kembali ditepis.
"Kamu membelinya?" Amel mengenyitkan keningnya.
"Tidak, ini hadiah dari salah satu kenalanku..." jawabnya ambigu, tersenyum, mengecup singkat pipi Amel.
Kali ini Amel meraba pipinya, tidak mengusap lagi, sedikit tertunduk, menahan malunya. Tidak ingin menyangkal perasaannya lagi, tidak dipungkiri, pemuda dingin berhati hangat ini meluluhkan tembok pertahanannya.
"Ini untukmu!!" Amel menyodorkan salah satu paperbag yang dibawanya. Isinya? Setelan jas pria. Murah? Tidak, tapi setelah mendapatkan diskon gila-gilaan dari Rambo, maaf salah Rara. Isi dompet Amel cukup untuk membelinya.
Sebenarnya pemilik butik ingin memberikan cuma-cuma. Tapi Amel bersikeras, berniat memberikan hadiah untuk pemuda yang selama ini menjaganya.
Mendapatkan uang darimana? Gaji dari tempat pemetikan anggur. Satu lagi setiap bulan, uang masuk ke dalam rekening pribadinya sesuai perjanjian kesepakatan mereka. Amel memiliki tabungan yang cukup banyak, bahkan lebih banyak daripada yang selama ini dikumpulkannya dari menjaga toko dan mengerjakan makalah mahasiswa.
"Untukku? Kamu membelinya?" tanya Kenzo membuka isi kotak dalam paperbag, mengenyitkan keningnya. Dijawab dengan anggukan oleh Amel.
Ukuran yang benar-benar sesuai tanpa mengukur secara langsung sama sekali. Kenapa bisa? Satu setengah tahun lebih tidur sambil memeluk Kenzo, membuat ukuran tubuhnya diketahui Amel dengan sempurna.
"Terimakasih, aku tidak punya uang untuk membalasnya..." Kenzo mendekat, berbisik di telinga Amel. "Bagaimana jika aku membalasnya dengan tubuhku saja? Menjadi milikmu kapanpun kamu menginginkannya..." nada yang benar-benar sensual, sekujur tubuh Amel merinding, detak jantungnya benar-benar terasa.
"Ti... tidak perlu membalasnya!!" bentak gadis itu gelagapan.
Sedangkan sang supir perusahaan, menghela napas. Bersyukur? Tentu saja, mereka bagaikan baru pertama kali pacaran. Jika pemain cinta profesional, mungkin tubuh sang supir akan panas dingin, mendengar suara-suara erangan yang tidak lazim, dari kursi penumpang bagian belakang.
Hubungan tanpa status? Tidaklah mengapa, Kenzo menunggunya dengan sabar. Memeluk tubuh Amel kala, mulai menutup matanya menyambut mimpi. Menatap wajah tenangnya, berbaring di sampingnya, jika matahari mulai terbit.
***
Rencananya, hanya tiga hari mereka berada Singapura, entah apa yang terjadi. Frans menyusun jadwalnya lumayan ketat kali ini. Segera melarikan diri, salah maksudnya segera ke France untuk urusan bisnis dan menemani Nindy, mengingat program percepatan yang ditempuhnya. Sang adik akan segera mengikuti wisuda.
Mereka harus segera pergi setelahnya, sebelum mampus, salah lagi maksudnya sebelum terlambat untuk kemajuan W&G Company.
Cemas? Tentu saja, Frans bergerak tidak tentu arah. Menunggu di lobby, memainkan handphonenya, bahkan setelah menghabiskan satu botol besar air mineral. Hatinya belum tenang juga. Jemari tangannya gemetar membayangkan, pertemuan dua orang yang saling mencintai.
'Aku tidak peduli pada apapun, aku sudah menemukanmu. Menikahlah denganku...' Gilang, menggenggam jemari tangan Amel, meninggalkan tunangannya di atas panggung.
'Aku juga mencintaimu...' Dua sejoli yang berpelukan, menyisakan sang kakak yang membalikkan tubuhnya. Memejamkan matanya, dengan air mata mengalir tiada henti.
Melangkah pergi, tertunduk seorang diri...
Begitu adegan yang akan terjadi, dalam imajinasi Frans. Masih menunggu dengan sabar di lobby hotel. Hingga pasangan dengan warna pakaian hitam senada itu terlihat.
Anggun dan cantik, terlihat tidak mudah ditindas bagaikan bunga mawar hitam. Menggandeng sang antagonis, pemuda rupawan, memiliki senyuman dingin, terlihat cerdas memiliki banyak rencana busuk, bahkan tidak segan bertindak keji. Itulah yang sekilas yang terlihat, bukanlah aura putri dan pangeran yang cerah.
Tapi aura kejahatan, dari pasangan tersebut, benar-benar konsep pakaian yang sesuai. Rambo, salah maksudnya Rara memang tidak dapat dianggap sebagai desainer kelas teri.
"Tuan..." ucapnya pada Kenzo.
"Kita hampir terlambat, ayo pergi..." senyuman menyungging di wajah Kenzo, melangkah bersama Amel.
***
Alunan suara biola terdengar, pesta kalangan atas yang diliput berbagai media asing. Beberapa pengusaha ternama diwawancarai wartawan.
"Amel, beradaptasilah pelan-pelan, Frans akan menjagamu. Aku harus ke suatu tempat..." ucapnya di jawab dengan anggukan oleh Amel.
Gadis itu menatap kepergian Kenzo menembus keramaian orang-orang yang berada di sana. Menghela napas kasar mulai meraih cup cake yang tersedia.
"Amel, aku ingin bicara berdua denganmu..." Entah kenapa, Frans menarik tangannya keluar. Guna, mencari tempat yang lebih sepi, untuk bicara.
***
Sementara itu di tempat lain, Kenzo menyender pada pintu yang terbuka. Berjalan mendekati adiknya.
"Bertunangan untuk mencari investor? Kenapa tidak meminta bantuanku saja?" tanyanya, kini berada di belakang Gilang yang tengah dirias.
"Kakak..." Gilang bangkit, memeluk tubuh Kenzo. Merindukan? Tentu saja, sudah dua tahun tidak bertemu dengan kakaknya setelah insiden penembakan terakhir.
"Dasar!! Masih saja..." ucapnya, mengacak-acak rambut Gilang, bagaikan mengulangi masa kecil mereka."Jangan bertunangan! Bagaimana jika wanita yang kamu sukai mengetahuinya? Aku akan mencarikan investor untukmu..."
"Tidak perlu, aku sudah dewasa... Tidak seperti kakak yang tidak pernah memiliki pacar," cibirnya menatap sinis.
"Aku sudah punya pacar sekarang," kali ini Kenzo kembali berbohong, mengumbar hubungan tanpa status yang dijalaninya.
"Boleh aku minta pacarmu?" tanya Gilang bergurau, namun Kenzo terdiam, raut wajahnya berubah cemas.
"A...aku..." untuk pertama kalinya, antagonis itu gugup.
"Aku hanya bercanda!! Sudah ada wanita yang aku sukai. Aku tidak akan pernah melepaskannya kali ini, jika kami kembali bertemu..." ucap Gilang tersenyum, membuat wajah pucat sang kakak kembali tersenyum cerah."Pacar pertama, kakak jadi terlihat sesitif..." lanjutnya.
"Yang pertama? dialah yang terakhir. Jika tidak mendapatkannya, aku tidak memiliki rumah dan tujuan lagi untuk pulang...." jawab Kenzo mulai duduk di ruang rias, menatap sang adik yang mengenakan tuxedo putih, membenahi penampilannya.
Apa aku bisa mengenakan tuxedo putih? Menggenggam jemari tangannya menuju altar? Atau tidak akan pernah, memakai pakaian itu...
Aku ingin melihatnya memakai gaun, menunggunya di hadapan pendeta. Pengantin yang cantik, berjalan perlahan, menemuiku...
Apa bisa...
Jika tidak, aku tidak tau harus bagaimana lagi...
"Tuxedo putih, aku ingin memakainya..." Kenzo tersenyum, menghela napas kasar.
"Tinggal pakai saja, apa sulitnya?" Gilang mengenyitkan keningnya.
"Tidak, aku ingin memakainya saat pernikahanku atau saat pemakamanku..." pemuda itu tersenyum pada Gilang.
"Antagonis sepertimu tidak akan pernah mati..." cibir adiknya, membalas senyumannya.
Bersambung