My Kenzo

My Kenzo
Musim Keempat : Pangeran Berkuda Poni



Tiga orang wanita berjalan memakai pakaian minim. Memasuki area club'malam...


"KTP," pinta sang security berbadan tegap menadahkan tangannya.


Satu orang diantara mereka mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya."Ini cukup?" tanyanya.


"Iya, silahkan masuk," sang security tersenyum, sudah terbiasa menerima sogokan untuk mengijinkan remaja dibawah umur memasuki club'malam.


Bau alkohol dan rokok yang tercium, diselingi dentuman suara musik. Merokok? Benar, mereka merokok, bahkan tersenyum kala tubuh mereka yang indah dipuji dan dipuja. Remaja yang ingin tau, terlalu awam dengan jalannya dunia.


Lily, Meka, dan Grisella, ketiga remaja dengan tubuh matang itulah mereka. Sedangkan satu remaja lainnya melihat dari jauh, setelah menghabiskan semua uang tabungannya untuk menyuap security. Datang untuk pertama kalinya ke club'malam.


Cantik? Kita anggap saja...iya... maaf tidak...


Mengikuti tutorial makeup di YouTube, dirinya membeli peralatan murah. Menggunakan gantungan baju untuk membentuk alis, kekurangan uang untuk membeli perona bibir? Tidak masalah masih dapat menggunakan lipstik yang ditipiskan. Tinggal pewarna yang ada di atas matanya, pilihan warna kesukaannya, warna yang paling cerah, biru. Sempurna, jadilah wanita yang bagaikan habis dipukuli.


Warna bedak yang benar-benar terlalu cerah, bagaikan tepung.


Hal yang dilakukannya, bersaing dengan wanita tercantik di sekolahnya. Tepatnya tetangganya sendiri. Mereka bertetangga, namun memiliki kehidupan yang berbeda.


Grisella anak seorang pengusaha terkemuka, selalu peringkat umum pertama, karena uang suap. Cantik, memiliki banyak teman, ketua OSIS saat ini. Bahkan, dirinya menyombongkan kepada semua orang ayahnya yang bekerja sama dengan anak cabang W&G Company. Sejatinya tengah merencanakan perjodohannya dengan Ferrell, salah satu putra dari pemilik perusahaan yang berbasis di luar negeri tersebut, seorang penyanyi yang cukup populer. Genius muda, bahkan menjadi dokter bedah di usia muda memiliki rumah sakit sendiri.


Sedangkan dirinya? Jangan ditanyakan lagi, dirinya membantu sang ayah menjual tahu bulat digoreng 500 an. Peringkat kedua umum, bukan anak populer, tidak menjadi anggota OSIS. Bahkan di jauhi semua siswa karena Grisella, sang primadona tidak menyukainya.


Mereka memang musuh bebuyutan bukan? Grisella dan Glory.


Tidak mau kalah, Glory juga ikut turun ke lantai dansa. Memakai dress dengan harga 55.000 yang dibelinya secara online. Dress yang hanya indah di fotonya saja namun aneh pada kenyataannya.


Memakai pakaian ketat namun melambai ala daster ibu-ibu. Menunjukkan tarian yang dipelajarinya di YouTube.


Semua orang memberi ruang, bukan untuk memuji namun menertawakannya. Hingga Glory menghentikan tariannya.


Semua orang mulai bersorak padanya, baru saja sadar dirinya dirinya menjadi bahan tertawaan. Menunduk malu, berjalan pergi, namun kaki Grisella menjegalnya hingga terjatuh.


Wanita yang masih saja menertawakannya...


Glory mulai menangis, bukankah disaat seperti ini pangeran tampan berkuda poni harusnya datang? Tapi tidak ada istilah pangeran tampan berkuda poni, karena jadwalnya terlalu padat...


***


Tit...tit...tit...


"Pendarahan terjadi, arteri utama terpotong..." salah seorang perawat berucap.


Keringat keluar dari wajah dengan mata tajam, bibir dan hidungnya ditutupi masker, memakai pakaian operasi, sarung tangan karet menutupi jemarinya yang masih memegang pisau bedah sambil sesekali melirik ke arah monitor.


Srash...


Percikan darah mengenai sedikit wajahnya, suara alarm panjang terdengar...


"Pendarahan lebih besar terjadi, sebaiknya kita hentikan operasi, detak jantung saat ini..." kata-kata dokter senior lainnya terhenti.


"Tambah transfusi!! Hisap!! Penjepit!" perintahnya menadahkan tangan masih memegang pisau bedah. Gumpalan merah itu diangkat olehnya.


"Hisap!" perintahnya, mulai berusaha menyatukan pembuluh yang terpotong saat operasi pengangkatan kanker.


Dokter yang mulai tersenyum di balik maskernya yang berlumuran darah segar.


Ferrel itulah namanya, seseorang yang bahkan tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


***


"Ferrel bagaimana jika setelah ini kita merayakannya, makan di restauran berkelas," ucap salah seorang dokter.


"Aku sibuk ribuan orang menungguku," senyuman terlihat di wajah rupawannya kala masker itu dibuka.


Dengan cepat melepaskan baju operasinya, hendak membersihkan diri. Ini benar-benar gila, dia manusia bukan robot, tapi tingkahnya bagaikan robot. Tidak pernah menunjukkan sisi hangatnya kecuali pada keluarganya, dan orang-orang yang membuatnya nyaman.


Berjalan keluar dengan rumah sakit dengan gitar tas besar berisikan gitar akustik di punggungnya.


Tit ...tit...


Kunci alarm mobil sportnya terbuka, memasuki mobil meletakkan gitarnya di kursi penumpang di sampingnya. Earphone mulai terpasang di telinganya, mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kamu manusia atau sampah hah!? Kerja sama proyek yang kakekku pegang, kenapa seenaknya saja menggati bahannya!? Aku tidak sengaja melihat laporannya di meja kerja kakekku. Jika aku yang memimpin aku pastikan manusia rendahan sepertimu sudah membusuk di penjara!!" itulah potongan percakapannya kala mobil melaju.


Orang yang gila kerja, apa dia memiliki teman? Tentu saja punya, gitar dan pisau bedah. Aneh bukan?


Hingga akhirnya mobil sampai di area konser belakang panggung, barulah dirinya dirias, penampilan yang benar-benar berubah aura hangat seorang dokter menghilang. Berubah menjadi pria muda idola para remaja, memakai setelan hitam dengan aura mematikan.


Berjalan ke atas panggung suara teriakan terdengar.


"My Prince (Pangeranku)...!!"


"Ferrel!!" teriak mereka, pada pemuda yang mulai duduk memainkan gitar akustiknya diiringi beberapa rangkaian instrumen. Bernyanyi dengan nada yang begitu dalam, sejenak alunan musik berubah menjadi lebih ceria. Suasana yang berubah drastis, para penggemarnya berteriak histeris lebih histeris lagi.


Prinsip hidupnya hanya satu tidak senang menunggu, dan tidak senang membuat orang lain menunggu.


***


Ada kalanya sesuatu dapat terjadi secara acak, suatu takdir yang sulit dihindari. Namun ditemukan tanpa sengaja. Mungkin itu yang akan dialaminya...


Grisella berjalan ke area belakang panggung, mencari kehadiran Ferrell, pacar dalam imajinasi liarnya. Namun satu persatu ruangan ditelusurinya usai kembali menyuap petugas belakang panggung.


Hanya selebriti lain yang terlihat, namun Ferrell tidak ada dalam satu ruangan pun. Hingga dirinya melewati salah satu lorong buntu belakang panggung.


"Ada yang berciuman di tempat umum..." gumamnya menatap sekilas punggung seorang pria, merengkuh tubuh seorang wanita. Berjalan berlalu tidak menyadari sesuatu, sang idolanya berada di sana...


"Ingin menentangku? Buka mulutmu, atau aku akan memanggil security..." ucapnya tersenyum, menatap gadis muda yang baru dikenalnya mulai sedikit membuka mulutnya ketakutan.


Mama!! Aku hanya ingin mengikuti Grisella!! Kenapa jadi dilecehkan pacarnya... batin Glory, ingin rasanya menagis menyerahkan ciuman pertamanya.


Hal yang sebenarnya terjadi? Hanya perbuatan iseng dari Ferrell, memberi pelajaran pada fans yang berani menggeledah barang-barangnya. Menciumnya? Ini karena saudara-saudaranya yang lain bahkan telah menikah. Tidak ada salahnya mencoba bagaimana rasanya berciuman bukan? Rasanya, manis...


Saat dua bibir yang sama-sama kaku bergerak, saling membelit.


Hal selengkapnya, ini dimulai dari beberapa puluh menit yang lalu...


Bersambung