
Rumah yang tidak besar, dengan dua kamar, ruang tamu yang lumayan sempit. Ferrell menghela napas kamar, bahkan kamarnya sendiri lebih luas dibandingkan dengan keseluruhan rumah Glory.
Tanpa permisi Ferrell mulai duduk di kursi rotan ruang tamu, meraih buku tulis dalam tasnya. Menggunakannya sebagai kipas, mengingat tempat itu cukup pengap.
"Jangan belajar disini, ibu sering membuat kue bolu pesanan tetangga! Masih belum matang, jika sudah matang harus didinginkan disini," ucap Glory menarik tangan Ferrell.
"Lalu kita belajar dimana?" tanyanya, menghela napas kasar.
"Di kamarku," jawaban dari bibir remaja itu.
Kamar? Kamar? Dia ingin membawa Ferrell ke kamarnya untuk belajar pelajaran biologi bersama? Ferrell tersenyum, apa sudah saatnya belajar bersama bocah ini, tentang bagaimana cara kerja organ reproduksi manusia.
Hingga pintu kamar itu terbuka, Ferrell membulatkan matanya, menatap setelan pakaian dalam wanita di atas tempat tidur, serta beberapa barang yang acak-acakan.
"Tunggu sebentar!!" dengan cepat Glory yang melupakan kamarnya berantakan, segera menggulung pakaian asal di atas tempat tidur. Meletakkan ke dalam lemarinya.
Salah satu pakaian dalam diatas lantai berbentuk segitiga, ditendangnya asal ke bawah tempat tidur. Malu, dirinya benar-benar malu pada murid pindahan yang baru dikenalnya.
Sementara Ferrell hanya diam, menahan tawanya, entah kenapa setiap gerak-gerik bocah aneh ini, selalu membuatnya melupakan masalah dan beban pekerjaannya.
"Kamu tunggu disini dulu, bi...biar aku ambilkan minuman. Sekalian fotocopy materi di tempat fotocopy di depan. Jangan pergi!! Aku tidak akan lama," ucapnya gelagapan, merapikan rambutnya, dengan sengaja menyelipkan di telinganya sendiri, di depan Ken. Siswa baru yang mungkin menjadi pemeran utama dalam hidupnya. Berlari dengan cepat meninggalkan kamar, sebagai remaja yang jatuh cinta dengan bebas. Tanpa memikirkan statusnya lagi, yang sama-sama dari orang-orang tidak penting.
"Dasar centil! Tapi kenapa dia tidak pernah centil di hadapanku ya?" gumam Ferrell menatap kepergian Glory, kemudian berjalan mendekati kipas angin, menyalakannya.
Pemuda itu bercermin, tidak tampan dan tidak jelek bisa dibilang wajahnya saat ini standar. Tapi Glory lebih mudah didekati dibandingkan dengan dirinya yang memiliki status selebriti, tapi kenapa? Apa Glory lebih menyukai siswa SMU biasa?
Entahlah, perlahan Ferrell meraih handuk, mengingat peluhnya yang terlalu banyak keluar di tempat panas tersebut, berjalan ke area belakang rumah, mencari kamar mandi.
"Bibi, boleh aku pinjam kamar mandinya?" tanyanya menatap Kamila tengah membuat adonan kue bolu.
"Kamar mandinya ada di belakang dapur," jawaban dari Kamila, masih konsentrasi pada adonannya, sedikit melihat wajah kusam dari teman putrinya.
Ferrell menghela napas kasar, memasuki kamar mandi yang cukup bersih, namun hanya dilengkapi bak mandi, gayung dan sabun batangan, serta kloset jongkok.
Membersihkan dirinya tanpa ragu, tubuh putihnya yang tertutup riasan mulai terlihat. Rambut ala superman yang dilumuri pome basah oleh air bersih dan shampo sachet.
Mengeringkan tubuh proporsionalnya menggunakan handuk, celana panjang abu-abu mulai digunakannya, serta kemeja putihnya. Hingga telah sempurna kembali memakai seragam SMU-nya. Menatap pantulan wajahnya di cermin tua,"Aku tampan, tapi kenapa dia lebih mudah didekati sebagai Ken?" gumamnya tidak mengerti.
Hingga pemuda yang telah merasa segar itu, kembali dengan warna kulit dan penampilan aslinya berjalan melewati dapur,"Terimakasih bibi, sudah meminjamkan kamar mandinya," ucapnya.
Kamila masih memasukkan adonannya, membentuknya dengan motif batik, sedikit melirik,"Iya..." hanya itu yang diucapkannya.
Sedangkan Ferrell kembali melangkah ke dalam kamar Glory, dengan wajah dan penampilan aslinya.
Satu menit berlalu akhirnya kelima adonan bolu telah dibentuknya dengan motif batik. Hingga barulah dirinya menyadari sesuatu,"Itu Ferrell kan!?" gumam Kamila dengan wajah pucat.
***
Jatuh cinta pada pertemuan pertama? Itulah yang dirasakannya, jantungnya berdegup cepat kala memakan kotak bekal bersama Ken.
Glory berfikiran lebih realistis kali ini, tidak mungkin untuk mencintai dan berakhir bersama bintang idola. Jadi tidak apa-apa jika dirinya punya pacar, jikapun bertemu lagi dengan Ferrell, tinggal menolak dengan tegas untuk mendapatkan uang jajan darinya.
Perasaan berdebar yang serupa, tapi satu lagi cinta yang sulit diraihnya. Satu lagi cinta yang lebih mudah untuk diraih.
Tidak menyadari perasaan yang terbagi itu tertuju pada orang yang sama. Dengan membeli beberapa cemilan, membawa nampan minuman. Dan beberapa lembar kertas materi pelajaran, Glory membuka pintu kamarnya. Sudah sekitar 30 menit kepergiannya, karena tempat fotocopy cukup ramai untuk mengantri.
Hal yang dilihatnya pertama kali adalah Ken yang tersenyum padanya. Hebat bukan? Ferrell merias dirinya secara sempurna dalam waktu 15 menit.
Duduk manis di tepi tempat tidur seolah tengah belajar.
"Minum dulu, nanti kita mulai belajar..." ucapnya gugup untuk pertama kalinya ada seorang pria di kamarnya. Masa bodoh Grisella punya pacar yang lebih tampan dan kaya.
Memiliki Ken adalah satu anugerah untuknya, jatuh cinta pada sifat lembut dan malu-malunya.
Ferrell mulai meminumnya, menghela napas kasar menatap pintu yang tertutup namun tidak terkunci. Pertanda dirinya berada di sini, bukan untuk belajar bersama tentang praktek biologi, bagaimana cara manusia bereproduksi.
Mereka duduk bersama di tempat tidur mengingat penerangan lampu yang terlalu redup. Sedangkan lantai terlalu sempit, terkena bayangan dari tempat tidur.
Seolah mempelajari materi sebagai modus dari sepasang remaja. "Yang ini bagaimana caranya?" tanya Ferrell lembut.
"Begini, tinggal ganti dengan penyesuaian..." kata-katanya terhenti sejenak, jemari tangannya digenggam tiba-tiba oleh remaja yang memperkenalkan dirinya dengan nama Ken.
Kedua orang yang saling menatap bersama-sama tersenyum malu-malu, tapi enggan melepaskan genggaman tangan mereka.
"Glory kamu cantik..." kata-kata dari bibir Ferrell, tersenyum menggigit bagian bawah bibirnya sendiri gemas. Namun, tidak membawa uang jajan untuk Glory, tidak mungkin dirinya nekat menciumnya tanpa memberikan uang jajan kan?
"Terimakasih..." ucapnya malu-malu, ingin rasanya melompat kegirangan. Padahal baru berkenalan dengan murid baru ini satu hari saja namun, sudah seperti ini. Hanya dengan kata-kata cantik.
Tidak ada yang terjadi setelahnya, mereka hanya belajar, tepatnya pura-pura belajar, saling melirik, sebagai modus untuk terus dekat bersama.
Hingga hampir sore, sudah saatnya Ferrell untuk pulang. Dengan statusnya sebagai pelajar bernama Ken. Glory mengantar kepergiannya, melambaikan tangan tiada henti pada remaja yang berjalan pergi.
"Hatiku mau meledak..." ucap si bocah centil, menatap punggung pemuda yang masih memakai seragam putih abu-abu
Sedangkan, Kamila tiba-tiba datang menatap kepergian Ferrell dari jauh."Dia benar-benar temanmu, ternyata. Ibu harus berhenti membanding-bandingkanmu dengan Grisella, sebelum ibu menjadi gila..." gumam Kamila dengan sepasang koyo melekat di pelipisnya, menatap kepergian teman putrinya yang mengaku bernama Ken. Masih mengira dirinya berhalusinasi, tentang sosok Ferrell yang keluar dari kamar mandi dengan seragam putih abu-abu.
Bersambung