My Kenzo

My Kenzo
Bonus Chapter Musim Kedua 5



"Br*ngsek!! Kamu membunuh putraku?" tangan Keyla gemetar meraih tubuh kecil membiru dengan bercak darah sedikit mengalir di kepalanya.


"A...aku tidak sengaja!! Dia terus saja menangis! Aku kemari ingin dihibur olehmu, bukannya menjaga anak, sementara kamu berendam di bathtub!!" kesalnya, mengepalkan tangannya.


Kekasih? Itulah status mereka, Keyla tidak bisa terus-menerus terpuruk hidup sendiri. Karena itu beberapa bulan ini dirinya menjalin hubungan dengan putra ketiga seorang pengusaha resort.


Hidup bersenang-senang dengannya, namun ada hari dimana pria itu terlalu lelah, meminum-minuman keras dalam jumlah banyak. Meninggalkan pemuda yang tengah mabuk dengan seorang balita? Itu adalah kesalahan terbesar yang dilakukannya.


"Tenang... kita hanya harus tenang, buang mayatnya sebelum ada yang mengetahui," kata-kata dari sang pemuda.


Keyla menjambak rambutnya sendiri frustasi, panik mungkin itulah yang ada di dirinya. Hingga hanya sekali saja memeriksa napas putranya, tidak menyadari tubuh kecil yang kesulitan bernapas itu masih hidup, mulai dapat sedikit demi sedikit menghirup oksigen.


Anak yang tidak menangis, terdiam dengan wajah membiru. Hujan gerimis melanda saat itu. Sang bayi mungil dengan kepala sedikit terluka di letakkannya dekat tempat pembuangan sampah.


Dengan panik segera melarikan diri dengan kekasihnya, tidak ingin ada yang mengetahui.


Kardus yang basah perlahan, terjatuh oleh gerakan sang bayi yang sempat beberapa detik mengalami henti napas. Suara tangisan yang nyaring membangunkan seorang pemulung yang tidur di tempat penimbangan barang bekas.


Seorang pemuda yang menggaruk-garuk kepalanya. Berjalan mencari arah asal suara, hingga bayi putih mungil, tubuh membirunya perlahan sudah kembali membaik, dengan luka kecil di kepalanya itu terlihat.


Dengan cepat sang pemulung mengambilnya, melihat keadaan sekitar."Ada yang membuangmu?" tanyanya mendekap sang anak yang terus menangis.


"Sabar, di dekat sini ada bidan, kita obati kepalamu dulu ya...cilup...ba..." candaannya membuat sang bayi tersenyum.


Wajah kusam yang ikut tersenyum, mendapatkan benda termahal yang dibuang seseorang. Dirinya tidak memiliki keluarga sama seperti sang anak.


***


Tidak jauh dari sana, bayi mungil itu mulai diobati oleh bidan, mengamati di lehernya seperti ada bekas cekikan. "Ini anak siapa?" tanyanya pada sang pemulung.


"Tidak tau, aku menemukannya di tempat pembuangan sampah," jawabnya dengan jari yang dipegang sang bayi mungil.


Bayi yang telah dibersihkan dan diganti pakaian oleh sang bidan."Kamu sudah lapor ke pak RT?"


Sang pemuda menggeleng,"Dia dibuang, dari lukanya dia tidak diinginkan orang tuanya. Karena itu, dia akan menjadi adikku. Aku ingin mengadopsinya. Bisa membantuku mengurus surat-surat adopsinya?"


Sang bidan menghela napas kasar,"Kita bisa melapor dulu, nanti jika tidak ada yang merasa kehilangan, aku bantu mengurusnya..."


Seorang pemulung yang tersenyum, menemukan anak yang sama-sama dibuang dari kecil. "Dia menangis..." ucapnya panik.


"Ini..." sang bidan menyodorkan sebotol susu formula."Belajarlah merawatnya, jika ingin menjadi kakak yang baik,"


"Iya...iya..." gumamnya, bermain sembari memberi susu formula. Anak menggemaskan yang minum dengan cepat.


Tidak bersama sang ibu? Mungkin itulah takdir sang anak. Ibu yang lebih memilih membuangnya dari pada melaporkan pada kepolisian. Lebih mencintai kekasih yang baru dikenalnya beberapa bulan, dari pada anak yang dikandungnya 9 bulan.


Apa tangan pemuda ini akan lebih dapat menyayanginya? Entahlah, namun wajah sang anak dan sang pemuda yang sama-sama tersenyum.


***


Hujan semakin deras saja, takut dirinya kini benar-benar ketakutan. Kepolisian akan segera menangkap mereka. Namun tubuhnya didekap sang kekasihnya, usai pergulatan panas mereka di tempat bayi mungil itu dicekik sebelumnya. "Tidak apa-apa, tidak akan ada yang tau. Lagipula kita dapat lebih banyak menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan...iya kan?" ucapnya mengecup leher Keyla.


Keyla mengangguk,"Tapi..."


"Kamu ingin anak? Kita dapat membuat anak yang lebih sempurna darinya. Kita dapat membuat penggantinya, anakmu dan anakku..." sang pemuda kembali berada di atas tubuh Keyla, membuainya dengan kecupan-kecupan di sekujur tubuhnya. Menggodanya untuk kembali melakukan penyatuan.


Sebuah kesalahan besar yang dilakukannya, tidak menyadari sang pemuda yang telah memiliki tunangan. Tidak akan memilih seorang janda? Tentu saja, Keyla hanya mainan ranjangnya.


***


Hari berganti hari perusahaan yang dipimpin Airin mengalami kerugian besar. Tidak bertanggung jawab? Tentu saja, sang pemimpin perusahaan hanya lulusan SMU? Bukan itulah masalah mendasarnya, banyak pemilik perusahaan yang hanya lulusan SMU, tapi memiliki perusahaan yang maju.


Masalah terbesar ada pada perilakunya yang kerapkali tidak kekantor. Menyetujui proyek tanpa membaca kontrak, hanya memikirkan keuntungannya saja. Banyak terjadi pelanggaran kontrak yang merugikan perusahaan.


Airin pulang dalam keadaan mabuk, sempoyongan, dipapah supir pribadinya. Melewati sang ibu yang mengepalkan tangannya. Tidak tahan lagi dengan tingkah putri tunggalnya.


"Airin!! Perusahaan ayahmu hampir pailit!! Sekretarismu bilang perusahaan akan dijual. Kita dapat penghasilan dari mana, nanti!?" bentaknya.


"Ini semua salah Kristin! Dia menikah dengan orang kaya, sementara aku harus berjuang, untuk bekerja..." kata-katanya terhenti.


Plak...


Sebuah tamparan dilayangkan Elvira, tangannya gemetar untuk pertama kalinya menampar putri tunggalnya.


"Ayo tampar lagi!! Ini semua warisan ayahku!! Ibu pergi dari rumah ini!!" suara itu benar-benar terdengar, anak pemberontak yang mengusir ibunya sendiri.


"Kamu yang pergi, rumah ini atas nama ibu, ayahmu yang membelikannya sebagai syarat pernikahan kami..." ucapnya mengepalkan tangannya menangis lirih.


Plak...


Wajah Elvira di tampar balik oleh putrinya, "Baik!! Kita tidak ada hubungan lagi!! Kamu bukan ibuku lagi!! Aku meminta hakku, setengah dari rumah ini merupakan milikku!! Aku tidak memerlukan perusahaan bobrok itu lagi..." ucapnya berjalan ke kamar dengan langkah kaki sempoyongan, mengemasi barang-barangnya.


"Airin..." Elvira mencoba menghentikannya.


"Aku pergi!! Kita bukan ibu dan anak lagi! Aku akan menikahi pria kaya seperti Kristin, saat itu ibu hanya akan mengemis meminta uang dariku..." ucapnya penuh ego yang tinggi.


Berjalan meninggalkan rumah, meninggalkan ibunya seorang diri. Elvira mengepalkan tangannya, menatap kepergian mobil putrinya.


Inikah karma? Merebut Antoni untuk dirinya sendiri. Sekarang semua milik Antoni didapatkannya, ditinggalkan oleh Mika yang telah menyerah untuk berebut kasih sayang.


Mika yang menangis kala mengetahui perselingkuhan suaminya. Mika yang tidak pernah diperhatikan Antoni. Kristin benar, Mika yang berakhir bahagia pada akhirnya. Pergi tanpa membawa harta, hanya dapat tersenyum menatap putrinya Kristin, bahagia dari sisi-Nya.


***


Semua hidup memiliki jalannya masing-masing, bukan Kristin atau Amel yang pada akhirnya menghancurkan hidup Keyla. Tapi dirinya sendiri, menatap pernikahan sang kekasih yang diyakininya telah membunuh putranya. Hal yang dilakukannya? Terdiam seorang diri di kamar putranya. Membenturkan kepalanya ke tembok berkali-kali sembari menangis tiada henti.


Hingga berakhir di rumah sakit jiwa pun, tetap berakhir sama. Membenturkan kepalanya, menangisi nyawa putra yang dikandungnya selama 9 bulan berakhir sia-sia hanya untuk melindungi kekasih yang bahkan berakhir menikahi wanita lain.


"Ibu menyayangimu...ibu menyayangimu... jangan mati..." ucapnya dengan pakaian putih, mata tanpa semangat hidup, membenturkan kepalanya sendiri.


***


Kembali ke lima tahun kemudian, Singapura...


"Jika Gilang tidak ada, mungkin aku akan menghancurkan hidupku sendiri. Menikahi pria yang tidak aku cintai, dan mempertaruhkan hidupku untuk balas dendam. Membunuh Keyla, kemudian mati bersamanya..." ucap Kristin masih mengelus perutnya, dengan janin yang bergerak aktif.


"Terkadang dendam tidak membawa apapun, jika tidak membalasnya tidaklah mengapa. Karena akan ada tangan lain yang akan membalasnya. Itulah karma..." Amel tersenyum pada Kristin.


🍀🍀🍀🍀 Akhir Musim Kedua 🍀🍀🍀🍀