
Benjamin, itulah nama pria yang berprofesi sebagai pramugara. Pria yang sempat menjadi kekasih Febria. Menghela napas kasar, menatap daftar pencaharian teratas di media sosial.
Febria selama ini tidak pernah membicarakan tentang keluarganya. Wanita yang berprofesi sebagai musisi hanya itulah yang diketahui tentang mantan kekasihnya. Namun ini? Anak dari keluarga konglomerat? Bahkan keluarganya memiliki banyak aset serta perusahaan multinasional.
Dirinya selama ini, hanya mengetahui status Febria sebagai gadis cantik, seorang musisi terkemuka. Namun ternyata Febria adalah wanita impian yang tidak terjangkau.
Benjamin mencari informasi lebih banyak lagi, hanya ada foto Febria ketika kecil. Sedangkan foto dewasanya yang tertangkap media, hanya foto ketika di panggung bersama Hitoshi.
Foto anak yang memang pernah dilihatnya berada di apartemen milik Febria.
Matanya sedikit melirik pada kekasihnya saat ini. Juwita, anak dari seorang pemilik pabrik tekstil, mudah dirayu untuk berhubungan tubuh sebelum menikah. Alasannya, tentu saja dirinya bukan menjadi yang pertama bagi seorang Juwita.
Wanita yang tidak begitu cantik. Dirinya memutuskan hubungan dengan Febria hanya untuk Juwita? Benar-benar suatu kebodohan bukan?
Hingga pria yang tengah hanya memakai boxer itu mengetikkan pesan pada mantan kekasihnya. Isinya? Dirinya ingin bertemu dengannya di sebuah restauran ternama, ingin membicarakan hal penting entah apa.
Senyuman terlihat di wajah rupawannya, memiliki hubungan dengan Febria yang lebih cantik seorang musisi, wanita yang diimpikannya dulu. Tapi siapa sangka gadis itu tidak bisa disentuh. Perlahan hatinya berubah pada Juwita yang lebih kaya, tidak begitu cantik, namun tubuhnya dapat dinikmati tanpa ikatan pernikahan.
Dan kini? Dirinya menginginkan keduanya Febria dan Juwita. Juwita sebagai tempat penghangat ranjangnya kala menunggu pernikahannya dengan Febria. Saat pernikahan terlaksana, segera memutuskan hubungan dengan Juwita. Itulah rencana indah yang terukir di kepalanya. Rencana yang sangat sempurna.
Wanita yang hanya memakai sehelai handuk menutupi bagian dada hingga pahanya itu, keluar dari kamar mandi. Lekuk tubuh yang indah, tapi sayangnya hidung yang berbentuk bagaikan buah jambu, bibir kering terlalu tebal, flek hitam di pipi akibat salah menggunakan krim pemutih.
Tapi sungguh, yang terpenting keinginan dari jiwa kelaki-lakiannya terpenuhi sementara. Tubuh itu direngkuhnya, handuk dijatuhkan dalam sebuah kecupan di bibir tebal tersebut. Perlahan boxer yang dikenakannya teronggok di lantai.
"Kamu mengetahui tentang keluarga Febria?" tanyanya mencumbui leher Juwita.
Tangan Juwita mengepal, kenapa harus bertanya tentang nona muda itu lagi. Sejatinya dirinya sudah mengetahui dari awal, status sosial Febria dari ayahnya.
Mencoba mendekati mencari keuntungan dengan status sahabat. Tapi sayangnya, setelah tiga tahun berteman dirinya tidak mendapatkan apapun dari gadis yang hidup sendirian di sebuah apartemen. Hanya rasa iri yang didapatkannya, menginginkan semua yang dimiliki Febria menjadi miliknya. Termasuk pemuda di hadapannya ini.
Perlahan, wanita yang tubuhnya hendak akan dimanjakan itu menggelengkan kepalanya, berdusta agar Benjamin tidak kembali pada Febria yang memiliki status sosial lebih tinggi.
"Jadi sayang... kamu tidak mengetahuinya..." gumamnya mulai memojokkan wanita itu di dinding. Melakukan penyatuan, mencari kenikmatan sesaat. Tidak mengenal tempat dan situasi.
Suara racauan terdengar memenuhi ruang tamu dalam rumah mewah yang dimiliki Juwita. ART yang bertugas, baru keluar dari dapur, dengan cepat menunduk kembali masuk ke dalam dapur dengan perasaan yang benar-benar malu.
"Ya Tuhan, kapan aku bisa keluar dari dapur, cuciannya belum diangkat hujan sudah mau turun, mudah-mudahan cuciannya masih kering. Biar non Juwita saja yang kebasahan..." kesalnya hampir setiap hari melihat kelakuan majikannya kala kedua orang tuannya tidak di rumah.
***
Restauran kelas atas menjadi tempat pertemuannya dengan Febria. Jujur Benjamin menyukai kecantikan gadis itu, serta bakat bermain harpa yang dapat menenangkan hatinya kala mendengarnya dahulu.
Tapi, sekarang berbeda ditambah dengan berasal dari keluarga konglomerat? Dapat dipastikan bukan hanya kediaman yang akan disediakan keluarga Febria jika menikah nanti. Namun, pastinya juga aset bernilai tinggi.
Jemari tangan Benjamin mengepal dirinya harus menekan harga diri kali ini. "Febria, aku menyukaimu dari pertama kali bertemu denganmu dulu. Lama dari kita menjalin hubungan persahabatan hingga menjadi kekasih namun kandas dalam waktu yang singkat. Karena itu..."
Kata-kata Benjamin tiba-tiba disela, gadis itu menatap tajam padanya,"Jangan bertele-tele, langsung pada intinya saja," ucapnya kesal.
"Bagaimana dengan Juwita?" tanya Febria dengan raut wajah yang tenang.
"Aku menjadi kekasihnya karena dia mengancam akan bunuh diri jika aku menolaknya. Selain itu status sosial ayahnya yang merupakan teman dari pemilik maskapai tempatku bekerja, membuatku tidak memiliki kekuasaan untuk menolaknya..."
"Aku hanya mencintaimu..." lanjutnya, menggenggam jemari tangan Febria erat.
Seorang pria yang baru melakukan transaksi bisnis di restauran yang sama dengan Febria berjabat tangan. Menyetujui kesepakatan, dengan salah satu pegawai pemerintah yang ingin ikut serta menjadi investor.
Bersamaan dengan perginya sang investor, pandangan mata pemuda itu mulai teralih pada meja di dekatnya. Jemari tangannya merogoh saku menghubungi pemimpinnya. Mengingat wajah wanita yang beberapa hari lalu dilemparkan ke ranjang pimpinannya.
Mengawasi wanita yang mungkin sedang mengandung anak dari pimpinannya menjadi prioritasnya saat ini. Tidak akan membiarkan wanita itu memiliki hubungan dengan pria lain. Dialah bawahan Eden yang paling setia. Hanya mengetahui Steven pernah tidur dengan Febria, memiliki harapan untuk penerus keturunan pimpinan mereka yang mungkin kini tengah berkembang di rahim wanita itu.
***
Kesal? Tentu saja, bahkan pernah berciuman dengan Juwita di hadapannya. Apa itu yang dikatakan mencintai?
"Aku tidak bisa kembali..." kata-kata Febria terhenti, kala Juwita yang membuntuti Benjamin tiba.
Byur...
Dengan cepat Febria di siram menggunakan air mineral."Dasar pelakor!!" teriak Juwita dengan kemarahan di ubun-ubun.
Febria meraih napkin menyeka air yang membasahi rambut hingga wajahnya."Pelakor?" cibirnya, tertawa kecil menghina.
"Iya pelakor!" ucapnya dengan nada tinggi, seketika perhatian semua orang beralih pada Febria, berbisik-bisik membicarakannya.
"Kamu tidak ingat, atau pura-pura tidak ingat? Aku dan Benjamin menjalin hubungan selama 1 tahun, lalu putus. Kemudian kamu sendiri yang melemparkan diri ke tempat tidurnya. Wanita murahan, tetap saja wanita murahan. Ambil dia! Aku menolak untuk kembali padanya," ucap Febria tetap tersenyum anggun.
"Memang kamu selaku apa? Bahkan tidak pernah sekalipun bersedia di cium olehnya. Pria mana yang tidak jenuh. Kamu mencari pacar atau pelayan!?" sindirnya tersenyum, merasa menang dalam berdebat.
"Aku laku..." ucap Febria tidak mau kalah.
"Kamu ditakdirkan menjadi perawan tua, karena ego nona mudamu..." Juwita berucap penuh penekanan.
"Juwita hentikan," Benjamin bangkit, hendak menghentikan kekasihnya.
Febria menggigit bibirnya sendiri kehabisan kata-kata, hingga satu kalimat umpatan dilayangkannya."Wanita malam lebih terhormat darimu,"
Juwita yang emosi mengangkat tangannya hendak menampar Febria. Tapi gerakannya tiba terhenti mendengar suara pelatuk senjata api di kepalanya.
Tangan Juwita gemetar, takut berikutnya pemicu yang akan ditarik. Pertanda nyawanya akan melayang.
"Jangan berani melukainya. Janin pemimpin kami ada di rahimnya..." ucap orang kepercayaan Eden yang sebelumnya membawa Febria ke dalam kamar Steven.
Bersambung