
Sesuai janji, hanya sekitar satu jam pertemuan mereka, bagaikan menyewa komputer di warnet."Aku mencintaimu," ucapnya mengecup kening kekasihnya.
"A...aku juga," ingin rasanya Glory melompat kegirangan. Sama-sama mengalihkan pandangannya memendam rasa malunya.
Pasangan yang mulai berjalan bersinggungan tangan, berakhir bergandengan tangan menuju mobil pickup yang terparkir di pinggir jalan.
Tidak rela rasanya, ingin tetap bersama. Tapi mendapatkan ijin untuk bertemu di luar sekolah saja sudah bagus bukan? Mendapatkan restu dari ayah mertua, tinggal ibu mertua saja.
Hingga mobil pickup itu terlihat, tangan Glory digandengnya semakin erat."Paman aku menepati janji, Glory kembali dalam keadaan utuh tidak tersentuh," ucap Ferrell.
Kecuali bibir dan keningnya... batinnya, melanjutkan kata-katanya.
Hasan menghela napas kasar."Setidaknya jangan berbohong, diam-diam menginap, atau bertemu tengah malam tanpa seijin paman," kata-kata yang keluar dari mulutnya. Membiarkan putrinya bertemu, namun dalam pengawasannya mungkin lebih baik, daripada menemuinya diam-diam.
Penyebabnya? Tentu saja, anak muda semakin dilarang semakin nekat. Tidak diijinkan untuk bertemu, maka akan bertemu diam-diam, diusir saat bertemu, maka akan kabur dari rumah, dipaksa menikah dengan pria lain, maka akan hamil di luar nikah agar orang tua sang gadis mengijinkan pernikahan.
"Maaf paman, beberapa hari yang lalu aku pergi ke rumah paman tengah malam. Tapi kami tidak berbuat macam-macam..." jawaban dari Ferrell penuh kejujuran.
"Tidak apa-apa, lain kali jangan lakukan lagi, bertemulah disini atau di rumah saat paman tidak bekerja." Hasan menghela napas kasar.
"Baik paman..." jawaban darinya tersenyum, melepaskan gandengan tangannya dari Glory."Aku mencintaimu, sampai ketemu besok,"
"Aku juga..." Glory melambaikan tangannya tidak rela.
Sepasang muda-mudi yang sama-sama saling menatap, seakan tidak rela untuk berpisah.
Hingga Hasan menghentikan aktivitasnya sejenak."Apa saja yang kalian lakukan?"
"Ciuman pipi?" tanyanya. Dengan cepat Glory menggeleng.
"Kening?" tanyanya lagi, kali ini putrinya mengangguk.
Hasan memijit pelipisnya sendiri."Bibir?"
"Ayah, jangan begitu, aku kan jadi malu..." jawaban dari sang remaja, tersenyum-senyum sendiri.
Hasan lagi-lagi menghela napasnya, turun dari mobil pick up."Glory, ayah bukannya melarang hubunganmu. Tapi jangan dengan mudah terkena bujuk rayu pria, sekarang ciuman bibir, bagaimana jika dia tiba-tiba meraba badanmu. Lagipula memberikan ciuman pertamamu padanya..." kata-kata Hasan terhenti, menatap putrinya yang menggeleng.
"Bukan Ken yang mengambil ciuman pertamaku. Tapi aku terjerat pesugihan ..." jawaban ambigu darinya tertunduk.
Hasan kembali memijit pelipisnya, putrinya tipikal orang yang sulit untuk berbohong. Bukan tidak dapat berbohong namun lebih menyukai kejujuran. Entah pria mana lagi kali ini."Kamu pernah berhubungan?"
Glory mengangguk dengan polosnya."Ayah kan lihat aku pacaran dengan Ken. Jadi hubungan kami pacaran..."
Hasan menghirup napasnya dalam-dalam berusaha bersabar, mengahadapi putrinya yang memang kritis menyikapi satu pernyataan."Maksud ayah berhubungan layaknya suami-istri, berkembang biak, ketika sel telur berusaha untuk dibuahi untuk menghasilkan janin?" tanyanya panjang lebar sejelas-jelasnya.
Glory menggeleng."Tidak pernah lebih dari ciuman bibir, meraba tubuh juga tidak pernah,"
"Jadi selain Ken, dengan siapa lagi kamu sempat pacaran?" tanya ayahnya kembali.
"Bukan pacaran, lebih tepatnya pesugihan," jawaban dari mulutnya, mengeluarkan phonecellnya dengan wallpaper foto Ferrell, mengingat rasa terimakasihnya. Karena Ferrell-lah dirinya dapat membeli phonecell android second.
Hasan segera meraih phonecell putrinya, menatap foto selebriti terkenal ada di wallpapernya."Ini?"
Glory mengangguk."Namanya Ferrell, phoncell ini aku beli dari uang pertama yang diberikan olehnya. Selanjutnya dibeberapa pertemuan berikutnya dia juga memberiku uang. Semuanya sudah aku masukkan kedalam tabungan, aku harus menuruti permintaannya. Jika tidak aku akan dilaporkan pada kepolisian karena menggeledah barang-barangnya."
"Sampai aku mulai memutuskan untuk berhenti melakukan pesugihan. Lalu sebagai syarat, aku boleh berhenti, dia meminta ciuman terakhir. Tanpa aku sadari Ferrell memasukkan uang dalam tasku," jelasnya, mengambil dompetnya yang hanya berisi beberapa puluh ribu rupiah, dan sebuah kartu ATM.
"Berapa?" Hasan menghela napas kasar, bagi orang lain mungkin tidak akan mudah percaya atau menanggapinya dengan bercanda. Tapi tidak dengan sang ayah, phoncell yang tidak pernah dilihatnya dan kartu ATM? Putrinya tidak mungkin memilikinya jika bukan pemberian orang lain.
"Satu juta, lalu setelahnya aku kurang ingat, tapi semuanya aku masukkan ke dalam celengan merah berbentuk kelinci paling pojok lemari. Dan uang terakhir aku masukkan ke dalam deposito berjangka, sisanya 100 juta ada di kartu ATM..." jawaban dari putrinya sejujur-jujurnya.
Hasan tiba-tiba duduk pinggir trotoar, ini sungguh fakta buruk yang ditemukannya."Berapa jumlah uang terakhir yang diberikannya?"
Entah berapa kali Hasan menghela napasnya, berusaha tersenyum menatap wajah putrinya yang cantik. Mengusap rambutnya."Glory, wanita itu harus dapat menjaga kehormatannya, menerima uang cuma-cuma dari pria walaupun dengan imbalan berciuman, itu juga sama dengan menjual harga diri,"
"Tapi karena sudah terlanjur terjadi, ayah tidak akan marah. Gunakan uangnya untuk biaya pendidikanmu jangan untuk yang lain. Setelah lulus kuliah nanti, bekerjalah! Anggap uang yang diberikan Ferrell adalah hutang. Kembalikan uang padanya, mengerti?" nasehatnya.
Glory mengangguk, mengiyakan dengan cepat. Terlalu takut untuk bercerita pada ayahnya, namun jika bercerita pada ibunya selalu dianggap halusinasi atau lelucon. Tapi, tidak disangka ayahnya yang berkulit sawo matang, kurus kerempeng tidak marah, bersikap lebih bijak.
"Jangan pernah bersedia tubuhmu disentuh demi uang berapapun! Satu lagi, jangan mau berciuman sebelum Ken melamarmu nanti. Kalian boleh bertemu, mencium kening dan pipi tidak apa-apa, tapi bibir jangan!!" tegasnya.
"Kenapa?" Glory mengenyitkan keningnya, memegang lengan pakaian ayahnya.
"Itu selalu menjadi awal dari berhubungan badan. Kamu merasakannya kan? Tubuhmu gelisah seperti cacing kepanasan..." jawaban Hasan menatap sinis.
"Jangan melihatku begitu, membicarakan itu. Aku kan jadi malu..." jawaban anak gadisnya, membuat Hasan geleng-geleng kepala. Matanya sedikit melirik bunga cempaka (kantil) yang dibawa putrinya.
"Pemberian Ken?" tanyanya.
Glory mengangguk."Dia berasal dari keluarga sederhana seperti kita. Tidak punya uang untuk membeli mawar,"
"Tidak apa-apa, yang penting dia orang baik dan bertanggung jawab..." ucap Hasan tersenyum, mengingat masa mudanya, yang diam-diam sering menyelinap ke dalam kamar Kamila, memberikan bunga apapun yang dapat ditemukannya dalam perjalanan.
Berciuman? Tentu saja, mereka berpelukan dan berciuman bibir, walau tidak berhubungan sebelum pernikahan. Cukup sulit menahan diri saat itu, bagaikan kecanduan akan bibirnya, bahkan ada kalanya Hasan hampir berhubungan dengan Kamila di luar nikah. Namun, syukurlah dirinya segera sadar.
Karena itu Hasan tidak memperbolehkan putrinya berciuman bibir lagi. Membiarkan Ken bertemu dalam pengawasannya, tidak ingin sepasang bocah labil itu berbuat lebih nekat.
"Lain kali mungkin yang akan datang bunga kenanga atau melati..." cibirnya menatap bunga cempaka (kantil) yang terus diendus putrinya.
***
Tidak menyadari sang dokter muda saat ini berjalan mendekati rumah tua. Menatap ada beberapa tanaman bunga lagi di sana, melati dan kenanga.
"Besok aku akan parkir disini lagi..." ucapnya tersenyum, berjalan kembali dalam mobilnya.
Perlahan mesin mobil kembali dinyalakannya, menatap ke arah spion bagian dalam mobil. Sebuah boneka kecil berbentuk manusia terlihat di kursi penumpang bagian belakang."Siapa yang meletakkannya?" gumamnya.
Ferrell menghela napas kasar mengambil senter, kemudian, keluar dari mobilnya. Boneka berbentuk anak perempuan seukuran bayi itu diraihnya.
Senternya tertuju pada pintu rumah yang sedikit terbuka. Berjalan mendekatinya...
Kriet...
Pintu terbuka, ruangan berdebu terlihat, semua barang masih berada di sana. Bercak darah di dinding juga ada. Boneka itu diletakkan di sudut ruangan dekat lemari kaca besar.
"Aku dengar disini bekas tempat pembantaian masal satu keluarga. Karena semua anggota keluarga sudah tidak ada, pasti tidak ada yang mendoakan kalian,"
"Karena itu, kakek, nenek, paman, bibi, kakak, atau dik. Aku akan sering kemari, aku cuma dapat berdoa agar Tuhan menempatkan kalian dengan tenang di sisi-Nya,"
"Jangan sedih karena kematian kalian, karena umur manusia tidak ada yang tau. Aku seorang dokter jadi aku sering melihat kematian. Bahkan menangisi pasien yang tidak aku kenal, pasien yang tidak dapat aku selamatkan di meja operasi,"
"Kalian tidak seharusnya ditakuti, tapi seharusnya didoakan. Semoga Tuhan menempatkan kalian di tempat yang terbaik," ucapnya menunduk, memejamkan matanya sejenak, di hadapan ruang tamu yang kosong, masih lengkap dengan banyak perabotan berdebu.
Perlahan Ferrell berjalan menatap foto bersama sebuah keluarga. Kemudian meletakkannya kembali, melangkah keluar dari rumah melalui pintu utama."Aku pulang..." ucapnya menutup pintu.
Memundurkan mobilnya, kemudian melajukan mobilnya pergi, meninggalkan rumah tua kosong.
Pintu yang telah ditutupnya kembali terbuka sendiri, sebuah boneka anak perempuan kecil masih berada di sana, di pojok ruangan dengan mata indah yang seakan-akan hidup.
Tempat yang seharusnya ditakuti semua orang, sering dijadikan tempat untuk konten video paranormal atau uji nyali. Namun, mereka tidak menyadari atau iba pada pemilik dan penghuni rumah.
Hantu itu ada atau tidak? Entahlah, namun yang pasti dimanapun orang-orang yang telah tiada, di sisi-Nya, di surga atau neraka, bahkan jika masih di dunia ini. Mereka akan bahagia dengan satu doa untuk mereka yang telah tiada...
Bersambung